“Gie, itu si X loe apain? Kok nggak kedengeran lagi kabarnya?”

“Nggak gue apa-apain kok, Cuma gue kitik-kitik aja pake kata-kata..”

“Kitik-kitik pake kata-kata! Ngeri banget sih loe!”

“Sungguhlah gue pecinta damai! Tapi dia menggangguku..Belom aja dia gue jadiin pembantu seumur idup!”
“Giee..untung gue temen loe ya?”

Seperti yang sudah terlihat dari percakapan di atas, sudah jelas sifat gue. Gue pendendam, tidak pemaaf dan tidak pengasih. Seandainya gue masih SMA, tentulah diterima bergabung di Gank Nero yang suka menggencet anak baru.

 

Singa bermulut besar yang jahat, demikianlah julukan yang gue terima dari teman sekitar, atas kemahiran gue sebagai atlet bela diri dengan senjata balas dendam yang runcing, traumatis dan menimbulkan luka dalam: Silat Lidah.

 

Gue pertama kali berlatih cabang olahraga tersebut saat masih ABG. Ketika dalam tekanan hidung penuh ingus dan mata yang kabur gara-gara air mata, mengetik sebuah artikel yang ternyata diterbitkan. Ceritanya ringan dan dianggap lucu, kecuali oleh satu orang: yang membuat gue menangis semalam tersebut. Lelaki yang namanya gue ambil versi perempuan-nya untuk tokoh antagonis gue yang perilakunya tercela di mata agama.

 

Masih belum terpuaskan balas dendam, gue ketagihan menyelipkan nama sang lelaki malang di setiap tulisan yang gue buat, tanpa orang lain menyadarinya. Dan the sweetest revenge datang, saat beliau memohon agar  namanya tak lagi dicatut untuk segala nama figuran, tokoh utama antagonis, sebagai banci dan perempuan. Saat gue bisa tersenyum manis dan menjawab: “How can I stop? You’re my inspiration...You will ALWAYS be...”

 

Now, I gotta be honest, blog ini punya awal yang mirip. Tidak dalam hal tokoh yang ditulis, tapi tujuan penulisan: Mengalihkan energi mencela dan menyakiti orang lain lewat tulisan. Jika akhirnya gue bisa menyebut satu ambisi gue: adalah menerbitkan buku supaya bisa menuliskan di halaman pertama, dedikasi penuh dendam yang selamanya akan tercantum dan dipajang di rak.

 

Selama dua tahun gue terobsesi memikirkan satu kalimat yang akan tercantum di halaman depan. Satu baris yang mewakili segala kebencian dan akan menusuk secara tepat satu orang yang dimaksud. Kata-kata membunuh yang jika dirangkum lebih singkat lagi akan berbunyi: NIH! MAKAN TUH! Dan gue akan memuntahkan segala dendam dan moving on. Lepas. Bebas.

 

Lalu kesempatan menuliskan kalimat tersebut datang. Blog ini, ya, blog yang sedang dibaca, yang jadi alat pelatih balas dendam, akan dibukukan. Dan gue duduk terdiam di depan laptop, menyadari, gue sudah tidak ingin lagi menuliskan kalimat itu.

 

Seorang oom pernah main adu kebut dengan mobil sebelah saat perjalanan ke Puncak. Tujuannya supaya tidak mengantuk dan memacu agar lebih cepat sampai tujuan. Tapi si Oom keasyikan main salib-salib-an hingga tak menyadari bahwa jalur ke Puncak telah terlewati. Saat melihat papan penunjuk jalan berjudul SUBANG, barulah ia menyadari bahwa ia telah sampai LEMBANG...

 

Manusia suka menciptakan patok-patok tujuan dalam hidup. Membuat target yang dijadikan pedoman apakah mereka sudah meraih sukses, atau berharap patok itu bisa jadi alat meraih tujuan. Tapi terkadang terlupakan, patok itu hanya parameter, bukan tujuan itu sendiri. Dan sanking fokusnya sama si patok, manusia justru tak bisa melihat tujuan yang dicari...atau bahkan tidak menyadari kalau tujuan itu telah tercapai meski tak melewati patok.

 

Sering terjadi juga, patok yang ditancap letaknya cukup jauh. Dalam perjalanan meraih patok, apa yang sebenarnya jadi prioritas hidup telah bergeser. Namun karena sudah kadung mematok, pergeseran ini tidak dirasakan. Sadar pun, sebisa mungkin diabaikan, karena merusak rencana yang telah berjalan.

 

Barulah saat patok itu dicabut dari letak awalnya, terasa, patok tetaplah patok, bukan yang jadi arti hidup. Sukur-sukur belum terlambat untuk putar balik dan meraih patok yang lain. Kadang patok itu memang sangat jauh sekali, dan seseorang tidak pernah sempat memaknai tujuan hidupnya.

 

Tulisan balas dendam di halaman pertama itu adalah patok yang gue buat. Bukti bahwa gue sudah lepas-bebas. Blog ini adalah sarana untuk meraih si patok. Tapi selama dua tahun, blog ini sudah bukan lagi sekadar sarana meraih patok. Bahkan patoknya, bak marka kuburan, sudah bergeser sekian meter.

 

Apa yang tadinya hanya pengisi waktu bengong guna menutup bolong rutinitas besar yang terpaksa hilang kini telah menjadi rutinitas itu sendiri. Sebuah kebiasaan yang jika dibuang, akan menciptakan geroak yang sama tak tertutupinya.

 

Sudah lama sekali blog ini tak lagi menyinggung  satu orang target dendam Nyi Blorong tersebut. Bahkan mungkin tak pernah berkisah tentang satu orang itu dari awal. Dan gue baru menyadarinya sekarang, bahwa entah dari kapan, gue sudah meraih apa yang gue inginkan.

 

 I have moved on, far before I knew I am freed to move. Gue tidak pernah ingin balas dendam. Yang gue inginkan adalah moving on. Berhasil balas dendam tentunya membantu proses maju kedepan itu, tapi tanpa disadari, gue telah bebas lepas tanpa perlu balas dendam

 

Blog ini sudah bukan lagi tentang satu orang yang memaksa gue mengawalinya. Blog ini adalah tentang lima pelacur Filipina yang pernah berbagi rumah dengan gue. Tentang  TKW yang duduk di sebelah dalam pesawat ValuAir Singapura-Jakarta. Tentang Oknum R, tentang Hansip Udin, tentang sahabat-sahabat perempuanku, tentang orang kota yang numpang lewat dalam hidup.

 

Blog ini juga tentang orang-orang yang telah dibawanya dalam hidup gue. Orang-orang yang kemudian memberi gue tujuan dan patok baru dalam hidup. Gara-gara si blog gue bisa makan kenyang dengan hidangan Jepang luarr biasa istimewa di resto Hanabi di Singapura plus tiramisu maknyus dari Helen’s cake, mendapat buku 5cm dengan tanda tangan penulis, cover plus foto profile yang keren karya Ade dan dibagi cerita-cerita tentang pacaran beda agama yang fantastis, kisah anak rantau...

 

Dan karena blog ini adalah tentang mereka dan loe semua, yang rela hati membaca hingga paragraf ini, gue bermaksud untuk mengundang kalian ke acara launch si buku blog itu. Acaranya bakal diadakan tanggal 8 November 2009, jam 5 sore, Di acara Indonesian Book Fair di Jakarta Convention Centre. Melihat posting ini berlaku sebagai undangan... J jangan lupa juga gabung di facebook event untuk launch ini

 

Biarkan gue memperuntukkan buku itu untuk kalian dan supaya terbongkarlah apa yang akhirnya gue tulis di  halaman terdepan. Sejambret kutipan yang karena salah fokus, cuma bisa gue pikirkan sehari sambil terkecut-kecut. Padahal butuh dua tahun merancang kata-kata penuh ranjau yang kini jadi sia-sia!

 

Gue berharap kutipan itu lebih mewakili patok hidup gue sekarang: membuktikan bahwa berpikir adalah hak setiap orang, dengan latar belakang apapun mereka dilahirkan. Karena buku ini adalah tentang untuk setiap penghuni kota besar, yang seumur hidupnya berjuang membuktikan bahwa, kami itu punya otak dan hati lho! Meskipun sedikit organ tubuh itu memang lebih banyak digunakan untuk merancang plot balas dendam daripada merenung... Tapi setidaknya kami adalah singa bermulut besar yang jika mengigit memberi vitamin...I'll see you there!!


Blog EntryTuhan yang suka menghukumOct 27, '09 10:55 AM
for everyone

Sungguhlah orang sombong akan direndahkan. Prestasi di bidang gosip yang amat gue bangga-banggakan ternyata kalah dengan hanya seorang hansip. Zaenudin, atau Udin-lah yang dapat mengetahui dan punya pengaruh untuk menyebarkan siapa yang berselingkuh, berpacaran diam-diam, kawin siri, pulang pagi, atau beli kulkas baru di RT 010/ RW 002 yang termasyur.

 

Seperti pagi ini, Hansip Udin mendekati gue guna memberi update tentang gossip seputar rumah tangga orang.

 “Bu, tau nggak, si Pak Imun sekarang buta,” Hansip Udin bicara bisik-bisik ala tetangga bawel.

“Oh ya? Kok bisa?” Gue menghentikan kegiatan membuka pagar.
“Dikutuk istri !”

“Masa sih?” gue semakin tertarik.

“Iya! Dia mengabaikan istri pertamanya! Ibu tahu sendiri, mulut perempuan itu tajam!”
“Emang butanya gimana?”
“Katarak”
“YEEEE..katarak mah bukan kutukan istri, atuh!” gue protes.
Tapi Udin terus berusaha meyakinkan, bahwa kebutaan Pak Imun adalah akibat dihukum Tuhan setelah melalaikan istri pertamanya.

 

Di masa yang lain, giliran rekan Hansip Roberto yang jadi korban gossip pagi hari Hansip Udin.

“Ibu tahu, Roberto kalau meninggal nggak bakal diterima kubur!”
“Emang kenapa, Din?”

“Karena dia suka ngutang!” Emang Udin ga suka ngutang? Gue bertanya dalam hati. Tapi belum sempat menanggapi, Udin sudah kembali menjelaskan teorinya.

“Jadi gini bu, kalau orang suka ngutang itu, nanti kuburannya kan uda digali 2 meter, itu nggak muat! Digali lagi 3 meter, ga muat lagi! Pokoknya teruuuussss sampai puluhan meter, nggak akan bisa masuk kubur kalau belum bayar hutang!” Jelasnya sambil menggerak-gerakkan tangan menggambarkan kuburan seluas-luasnya.

“Yee..itu mah sekalian aja dijadiin kuburan masal!” Gue melengos pergi sambil membayangkan satu kelapa gading dikeruk untuk kuburan penunggak hutang.

 

Kadang, mendengar gossip pagi hari Udin memang membuat gue prihatin. Jika diperhatikan, gossip Udin selalu punya petuah moril sedikit mistis mirip sinetron seperti religi yang sempat marak di TV. Membuat gue gregetan dengan siapa lagi yang sok pintar melakukan pembodohan masyarakat. Tau nggak hansip kesayangan gue jadi korban!

 

Gue sempat merasa lega ketika sinetron  “Menantu Jahat Dimakan Belatung”, “Mertua menjual menantu”, “Azab Sang Pelacur”, “Kisah Ibu Kejam” hingga “Anak Durhaka Ditolak Kubur” ratingnya turun hingga tak lagi tayang. Berharap para pembantu dan gue tak lagi dibodoh-bodohi dan disiksa. Habis menontonnya saja membuat gue merasa seperti sedang dihukum Tuhan.

 

Tapi bahkan setelah dua tahun film macam itu tak lagi diputar di layar kaca, dampaknya masih bisa dirasakan di lingkungan tempat tinggal gue sendiri! Metode mengajar agama di bawah ancaman belatung rupanya masih dianggap paling efektif, sehingga banyak tokoh dan publikasi yang menerapkan kurikulum sedemikian.

 

Coba aja melirik trend ceramah masa kini. Gempa sebagai hukuman Tuhan. Gunung meletus karena Tuhan marah. Kiamat karena manusia jahat. Gedung runtuh karena takabur. Tentunya tidak mungkin semua itu terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan. Tapi siapa yang bisa menebak maksudnya yang Empunya jagad? Mengapa segala tindakan Tuhan seolah cuma terbagi berdasarkan dua kategori saja: Hukuman dan Hadiah?

 

Bukan gue meragukan kemanjuran taktik sedemikian. Bikin takut emang paling bisa membuat orang taat. Akibat percaya bahwa Pak Imun buta karena dikutuk istri, Hansip Udin menjadi suami yang lurus dan tidak macem-macem. Dia takut karena percaya istrinya istri punya kekuatan menghukum jika dizholimi.

 

Gue pun harus mengakui pernah bersumpah menjadi anak yang baik selamanya di usia 5 tahun setelah membaca sebuah komik yang dibagikan perkumpulan doa seorang kawan. Dalam buku saku berukuran 10x 5cm itu digambarkan hidup seorang anak nakal.

 

Lalu...di halaman terakhir... tergambar anak tersebut dilempar ke dalam lautan api neraka yang menyala-nyala. Di dalam lidah api yang menjilat-jilat itu ada berbagai orang yang berjuang melawan derita, sambil menjerit... Panas..sakiiiit...AMPUUUnnn... Diakhiri petuah: “KINI, TAK ADA YANG DAPAT MENOLONGMU KELUAR DARI SINI!”

 

Ilustrasi panasnya api neraka itu terus menerus menghantui setiap mimpi buruk gue hingga masuk usia pubertas. Itu adalah persumpahan menjadi orang yang lebih baik terlama yang pernah gue lakukan. Hingga kini, tak ada lagi yang bisa membuat gue begitu bersungguh-sungguh.

 

Tapi, belasan tahun setelah gambaran api neraka itu padam gue jadi bertanya-tanya apakah sungguh persumpahan itu membawa gue menjadi anak yang lebih baik. Gue baik karena gue takut, bukan karena gue sadar bahwa dengan berbuat baik gue menyenangkan orang di sekitar gue, thus, the Lord.

 

Macamnya kata rekan kerja, membeli software asli karena takut disidak di bandara, bukan karena sadar bahwa software asli punya kualitas dan servis yang lebih baik dari yang bajakan. Jika kemudian angka pembajakan menurun, tidak bisa jadi tolak ukur meningkatnya kesadaran hukum masyarakat. Mereka cuma takut saja...

 

Mengajar agama dengan shock terapy itu memang mudah. Mertua jahat dimakan belatung. Orang ngemplang ngutang ditolak kubur. Rentenir bakal dibungkus perut sapi. Jahat-dihukum. Mudah diingat dan dipahami. Tapi, sejak kapan belajar agama itu harus instan, ada kelas akselerasinya? Jangan-jangan, karena mencari gampangnya, hal mendasar tentang agama itu jadi terlewatkan. Bahkan tentang siapa Tuhan itu jadi rancu.

 

Bukankah dengan cara mengajar instan tersebut citra Tuhan jadi tercoreng? Tuhan dalam film dan pengajaran itu menjadi Tuhan yang kejam. Tuhan yang suka menghukum. Kesabaran-Nya terbatas dan begitu dilanggar, Ia akan memberi penderitaan tiada tara.  

 

Padahal, sebagai orang berdosa, gue tentunya kurang suka pencitraan macam ini. Kalau memang benar Tuhan semacam itu, tentunya gue sudah ditumbuhi bisul-bisul bernanah sekujur tubuh. Untungnya Tuhan, di jaman modern ini, yang bukan manifestasi dewa-dewi kuno, ternyata baik. Ia pemaaf dan suara-Nya lembut. Ia menegur dengan cara yang halus. Selalu ada kesempatan untuk kembali. Never is too late.

 

Gue khawatir, seperti Hansip Udin, dengan pengajaran system ancaman, gue menjadi taat, tapi karena takut. Padahal, siapa yang suka sama tirani? Jangan-jangan sanking takutnya, Tuhan jadi seperti diktator, pemimpin yang ditakuti tapi tidak dicintai.

 

Tapi siapalah gue ngomongin Tuhan. Mungkin setelah ini, gue berakhir menulis “Kisah Rumah Saudagar Kaya Dimakan Rayap” atau “Jeritan Kubur Wanita Murahan”. Atau lebih ngeri lagi, Tuhan justru sedang menyiapkan hukuman untuk mulut nyinyir gue ini. Lalu Hansip Udin langsung sibuk menyebarkannya ke segenap warga, anak Pak RT dihukum Tuhan karena suka ngomongin hansip....


Blog EntryMenulis seperti MiyabiOct 18, '09 9:51 AM
for everyone

“De, kamu tuh kalau nulis yang kaya Miyabi gitu!”

Emang Miyabi penulis?

“Nulis bokep maksudnya?”

Gue berkerut-kerut mendengar saran si mamih di pagi yang cerah. Beberapa hari lalu ia bertanya siapa Miyabi. Ketika dijelaskan bahwa Miyabi adalah bintang porno Jepang, si Mamih berkomentar heran, “Kok FPI bisa tau ya dia main film apa? Mami aja nggak tau...” ujarnya sambil lalu.

 

Tapi tanpa contoh konkret, mungkin si Mamih belum sadar akan profesi Miyabi senyata-nyatanya. Mungkin beliau mengira Miyabi itu adalah penulis Jepang favorit gue. Enggak mam, itu namanya Murakami...Atau mungkin si Mamih mengira Miyabi adalah penulis lirik sekaligus penyanyi? Enggak mam, itu namanya Hikaru. Atau...jangan-jangan penulis undang-undang alias perdana menteri Jepang yang baru? Enggak mam, itu namanya Hayotama..lebih jauh lagi...

Gue percaya tidak ada seorangpun ibu di dunia ini yang ingin anaknya menjadi bintang bokep. Atau menjadi pengarang stensilan. Atau didemo FPI dan dicekal Menbudpar. Lantas...mengapa aku disuruh mengikuti suri tauladan seorang Miyabi? MENGAPAAA....

 

Seolah lekat hari ini dengan kisah kain yang minim, hari itu adalah waktu rutin pedagang G-String di gym gue untuk beraksi. Memang sudah beberapa saat beliau menekuni bisnis ini dengan berapi-api.

“SAYANG SUAMI SAYANG PACAR!”

Para wanita di ruang ganti klub fitness ini langsung berhamburan menuju sumber suara, dalam berbagai kondisi ketelanjangan. Mereka langsung asik menggaruk-garuk karung berisi berbagai G-string yang dibawa sumber suara.

 

“Yang ini aja, say, seksi,” sang penjual menyodorkan T-string pink berenda di segala tempat.

             “Nggak ah, kinky...” ujar calon konsumen menggeleng. Lalu memilih sebuah G-string hitam transparan dengan jalinan pita merah dikepang di bagian belakang. Speaking of being kinky...

Gue berdecak mengagumi jiwa dagang sang saudagar g-string. Fitness centre ini penuh dengan orang-orang yang ingin bertubuh lebih indah. Guna menunjang tujuan itu, susu pelangsing, vitamin dan majalah kebugaran jadi barang dagangan normal disini. Tapi tidakkah terpikir bahwa beberapa orang tersebut telah berhasil bertubuh lebih indah. Apalagi yang mereka inginkan selain memamerkan hasil nge-gym itu dalam balutan pakaian dalam seksi pada orang-orang terkasih?

 

Dan saudagar G-string telah berhasil menangkap kebutuhan yang terlihat remeh ini! Sesaat setelah mandi gue melihat sang saudagar sedang sibuk menghitung gepokan uang tunai yang langsung menarik iri. Cuma dari jualan kain 5 cm persegi doang! Kain 5 cm2 yang dengan fokus dan semangat, bisa diubah jadi bisnis yang beromzet tinggi.

 

Tiba-tiba gue sadar gue sedang berhadapan dengan contoh nyata filosofi Miyabi emakku. Si saudagar G-string ini telah berdagang seperti Miyabi. 

 

Miyabi bisa saja jadi model lurus-lurus. Tapi kritik ala American Next Top Model akan bilang, badannya terlalu pendek dan mukanya kelewat innocent. Tidak memenuhi standard tatapan membunuh model kebanyakan yang dipajang di baliho.

 

Di industri lain, on the other hand, kecantikan mutlak dan wajah tak berdosa itu menjadi aset yang tak ternilai! Berapa banyak artis bokep berwajah polos dan berdarah Jepang-Perancis? Miyabi akhirnya fokus pada pekerjaan ini, dan melakukannya dengan penuh...err..gairah..

 

Konon orang tua Miyabi sempet tak mengaku anak ketika putri cantiknya pulang membawa 20 hasil karyanya. Punya profesi dan kegemaran main bokep, juga bukan sebuah hal yang membanggakan tercantum di KTP. Tapi Miyabi kekeuh menuju puncak prestasi di bidang perbokepan. Dan hasilnya? Satu juta penggemar di Negara sejauh Indonesia saja. Tentunya bukan pencapaian biasa-biasa saja dari seorang aktris.  Cuma sekadar dari bokepan!!

 

When you do something, do it really good. Gak peduli seberapa remehnya. Ga peduli seberapa ga pentingnya. Ga peduli seberapa banyak orang yang menganggapnya adalah buang-buang waktu. Put in all your soul and love and belief, and focus, and..everything!

Miyabi itu cuma main bokep. Sebuah tindakan yang seringkali menghancurkan karir anggota DPR,  mencoreng nama baik artis dan mensirnakan masa depan remaja SMA. Film bokep pasti kategorinya B, nggak pernah jadi A. Tapi lepas dari norma dan moralitas, kita harus mengakui, (sigh!) she does it really well...dan ia mendapat ganjaran yang layak untuk fokus dan keterampilannya itu.

 

Ga ada sesuatu yang jika dilakukan dengan penuh cinta akan berakhir sia-sia. Pengangguran yang seharian kerjanya main facebook aja bisa dapet kerja mengurus account perusahaan besar, karena kemahirannya menggunakan berbagai fitur dan mengepost wall.

 

Sahabat tercinta, Oknum R punya minat besar pada makanan dan menjadi SuperModel. Meski belum terlihat kesuksesan pada yang terakhir, ia sudah sangat fokus makan dan mencari tempat makan yang baru. Karena kegemarannya mengambil potret makanan, foto-fotonya dipakai untuk MSN Indonesia saat membuat games edisi ‘hidangan tradisional’.

 

Oknum R tetap pesimis dan marah-marah. Buat eloe jadi punya foto! Lha buat gue apa gunanya? Selain jadi gendut doang? Tapi teringat editor Vogue Amerika, Anna Wintour, yang seumur hidupnya Cuma suka hal remeh yang disebut pakaian. Mungkin buat dia fashion bet, buat loe...babi...Siapa tahu, sahabatku yang kontroversial akan menjadi pemandu acara wisata kuliner yang sukses!

 

Jadi ibuku sungguh kenal Miyabi. Dan ingin aku menuruti hidayah dari kisah sang bintang porno dalam semua yang gue kerjakan. Kebetulan gue sedang menulis, maka diharapkannyalah gue menulis seperti Miyabi. Menulis dengan tidak ‘tanggung’. Memilih untuk menulis tanpa ragu-ragu seperti Miyabi memilih bokep.

 

Menulis, karena suka, karena memang seluruh perhatian cuma bisa diberikan untuk profesi yang tak menjanjikan ini.  Bahkan jika mendapat cacian dan cercaan seluruh khalayak layaknya Miyabi dan FPI. Bahkan meski artikelku hanyalah tentang daily life, sepatu, festival perhiasan, sex and relationship, as if aku tidak menghabiskan puluhan tahun di belakang menjomblo.

 

Aku belum tanya tapinya, kalau ternyata fokusku menulis roman picisan, masih bolehkah aku berguru pada Miyabi?


Blog EntryOverheard in SingaporeOct 11, '09 4:52 AM
for everyone

Gue pernah tinggal selama 4 tahun di Singapur, dan setelah itu masih mengakrabi negeri tersebut beberapa bulan sekali. Tapi gue masih sering terkejut-kejut kaget mendengar percakapan dengan asumsi Uniquely Indonesian. Kaget-kagetan itu membuat gue tidak bisa merespon secara tepat saat itu. Sebagai penebusan rasa bersalah karena gagal menjadi duta bangsa yang menjelaskan lebih jauh tentang Negara junjungan kita semua ini, maka gue pun bermaksud menjelaskannya, disini saja...

  1. Semua WNI bernama belakang Bin Laden, atau M Top.

Man in the club: So you used to live here, but prefer to stay in Jakarta?

Margie: Ya, kind of...

Man in the club: But Indonesia got terrorist!

Margie: I am one.

Ketika teroris kawakan Singapura, Mas Selamat Kastari kabur dari penjara, seluruh warga Singapura dikirimi SMS yang mengumumkan berita tersebut, sekaligus himbauan agar lebih waspada. Kecuali gue. Padahal sebagai penduduk yang punya nomor telpon +65, gue pun harus diajak membantu pengamanan Negara. The joke was: Keluarga dan istri ga perlu dikasi tahu...

Gue sebenarnya mahfum dan terbiasa menerima remark semcam itu, mengingat  sebanyak itu jumlah bom meledak di Indonesia. Seandainya gue disuru ke Afganistan-pun gue langsung mengkeret, membayangkan hukum cambuk dan rudal dan ranjau darat yang meledak sepanjang jalan dari Airport. Padahal mungkin itu karena gue penonton sejati media saja. Memang tidak pernah diceritakan tentang keelokan gurun Afganistan yang penuh hewan eksotis.

Tapi coba menalar lebih lanjut soal kebangsaan di era globalisasi ini. Di negara seperti Singapura, warga dari berbagai daerah lain juga berkumpul dan mencari nafkah. Tapi bukan berarti semua yang tinggal jadi satu keluarga besar yang harmonis. Jadi, bukan karena Bin Laden dan M Top sempat bekerja di Indonesia, mereka kemudian menjadi bersaudara dengan 210 juta warga Indonesia lainnya. Tolong jangan ajarkan gue bahwa tindakan teroris itu adalah bodoh dan merugikan. Of all the people, we, Indonesians, should know it better!

  1. Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia, beragama satu agama...

Ah lian: Offer her or not? Offer her or not?

Ah beng: Don’t lah! Cannot eat what?

Margie: What can’t I eat?

Ah lian: Ah, Margie, sorry ah,we want to give you this, but you cannot eat leh, it has yah, that meat inside, not  allowed, right?

Margie: I can eat, what...

Ah Beng: Eh, we thought you’re...

Margie: What?
Ah beng: Never mind! Never mind! Always thought all Indonesians are..well..

Margie: Which desk were you before? Political?

Ah Beng: I KNOW! I KNOW!

Kulit gue kuning. Mata gue sipit. Di Bali, tukang pijat memakai bahasa Inggris jika berbicara karena mengira gue orang SINGAPURA. Jadi nampaknya bukan faktor rasial yang diperhitungkan saat mengambil asumsi tentang agama gue, melainkan paspor hijau bergambar burung garuda.

Sebenarnya ini tak terlalu mengganggu hidup gue selama empat tahun dan lebih itu. Tidak banyak diskriminasi yang terjadi karena salah cetak detail KTP. (kecuali bahwa gue kehilangan kesempatan makan kue bulan buatan Raffles Hotel secara gratis dan dikucilkan dari pesta babi panggang). Tapi lebih karena tokoh dalam percakapan adalah wartawan politik koran nasional, yang, jika dia tak tahu apa-apa sekalipun, minimal harus paham kondisi sosial politik Negara tetangga: Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Jadi sangat ganggu, bahwa bahkan sekadar fakta bahwa Indonesia adalah Negara beragama bukan Negara agama, dan mengakui 6 agama, tak dipahami oleh seseorang yang bekerja sebagai informan masyarakat. Atau bahwa informan masyarakat itu tidak memahami geografis Negara bisa dibentuk oleh batas wilayah usai penjajahan, oleh sekelompok orang yang berlatar belakang sejarah serupa. Oleh karena itu, keragaman budaya bisa saja terjadi dalam satu teritori!

  1. Your English is not bad, for an INDONESIAN

Kenalan baru: You are the first Indonesian girl that I befriend with.

Margie: Because you’re afraid that we’ll bomb you?

Kenalan baru: Not like that, it’s just that i might not understand them

Margie: Why not?

Kenalan baru: Well, I speak English

Margie: Are you sure it’s English?

Mereka menyebutnya Les Inggris, dimana kami diajar berbagai grammar, memperkaya vocabulary dan melakukan conversation. Lagian di Indonesia, Dawson’s Creek dan New Kids on The Block tidak dilarang. Di tambah, gue sekolah jurnalisme dalam bahasa tersebut di Negara Anda. Jika Anda berbicara pada lebih banyak orang, rasanya nggak akan terlalu aneh menemukan orang Indonesia yang ternyata bisa bahasa Inggris. Or maybe you just always meet the wrong person...

  1. Peta Indonesia di mata dunia (daerah lain dihilangkan karena jarang masuk berita. Kutub Selatan lebih sering diasosiasikan dengan Indonesia karena terkesan jauh dan isolated)

 

Mbak Editor: Margie, is your family all alright after the quake in PADANG?

Margie: No, I’m from Jakarta.

Teman-teman begitu prihatin ketika melihat asap kebakaran hutan Riau menyumbat hidung Merlion yang malang. Mereka membayangkan nasib gue di Jakarta; pasti hitam legam dan langsung TBC.  Gue diam saja meski itu adalah pertama kalinya gue merasakan dampak kebakaran hutan di INDONESIA.  Daripada terkesan mengekspor polusi udara tanpa terkena imbas!  Meski dalam hati terkikik menyadari fakta  pergerakan arah angin dan bahwa Riau lebih dekat ke Singapura daripada ke Jakarta. (Dan berarti, Indonesia sangat luas.)

Tapi tetap saja gue prihatin dengan peta buta rekan se-benua. Mbak editor yang bertanya tahu benar seluruh keluarga gue tinggal di Jakarta.  Kalau kurang lengkap, ia tahu benar darah Sungai Musi tak pernah mengalir dalam tubuh gue. Tapi memang dalam petanya, Padang terletak di Tangerang, 45 menit dari Jakarta kalau nggak macet. Padahal kalau sungguh gempa yang berpusat di Sumatera terasa kencang di Jakarta, mungkin Singapura sudah tercabut dari peta...

So let’s get the facts right: Indonesia adalah sebuah Negara kepulauan yang membentang dari 6 derajat Lintang Utara hingga 11 derajat Lintang Selatan, 95 derajat Bujur Timur hingga 141 derajat Bujur Timur. Ada sekitar 17.500 pulau yang berjejer dari Sabang sampai Merauke, yang dibagi menjadi 3 daerah waktu. Apa yang terjadi di satu daerah, belum tentu dirasakan oleh daerah lain!

Sebagai seseorang yang bangga menjadi sombong, reaksi gue ketika mendengar pernyataan kaum ignorant itu lebih banyak ketawa. Mengasihani pengetahuan umum bangsa yang secara ekonomi lebih maju dari bangsa tempe. Tinggi hati karena mampu mengusai pelajaran geografi dalam kurikulum dengan sempurna. Gue bahkan masih paham bahwa Afrika itu benua, bukan Negara.

Tapi sebagai yang sombong, gue sebenarnya masih kurang PEDE. Tak ada asap tanpa api, kata orang. Indonesia dikenal sarang teroris, karena memang banyak teroris yang dibiarkan berkawin-kawin dan beranak pinak disini, literally.

Dan memangnya salah jika aspek multikulturalisme tak pernah didengar negri tetangga? Kenyataannya, memang selain Bali, budaya, tradisi, dan nilai toleransi memang masih jarang dibangga-banggakan bangsa ini. Jangankan tradisinya, daerah mana yang berkembang merata dan masuk brosur pariwisata? Nggak pernah kedengeran tuh!

Semakin memprihatinkan, karena gue tidak mendengar hal ini di Amerika atau Antartika. Ini Singapura, Negara mungil yang sangat bergantung pada kerjasama dengan Negara lain. Kalau orang Singapur aja, si little red dot, tetangga terdekat, tidak mengenal Indonesia, siapa dong yang sebenarnya kenal? Mungkin emang nggak ada ya?


Blog EntryA Proud BitchSep 30, '09 12:59 PM
for everyone

It’s just another day in the city, dimana setiap orang yang menggunjingkan yang lainnya, dan dimana setiap orang merasa dirinya lebih baik dari yang digunjingkan atas standard moralnya masing-masing.

Dan sebagai bagian dari hari yang biasa itu, seorang kenalan dengan gaya biasa menyarankan agar gue tidak terlalu dekat dengan kenalan yang lain, perempuan murahan bahkan gratisan ga punya harga diri yang  menggunakan kewanitaannya untuk mendapat kemudahan dalam hidup.

Sambil memasang topeng dan senyum ‘karir’, gue menjawab halus, “Woman, I lived with hookers before, I think I should be able to handle a bitch.” Gue mengangkat gelas kopi stirofoam gue dan meninggalkan lawan bicara ternganga.

Gue tersenyum geli saat itu, sambil menyusun daftar ‘prestasi’ dalam hal per-bitching-an, yang mungkin akan membuat gue menerima sanksi sosial sama beratnya dengan kenalan yang dijauhi itu:

  •  Seringkali tidak diminta bayaran saat naik taksi di Singapura, hanya karena ia tersenyum dan mengajak ngobrol hingga sang supir lupa menyalakan argo. Atau argo-nya nyala, namun digratiskan setelah menyatakan alasannya bergaya pakaian yang mungkin dihadiahi hukum cambuk di beberapa Negara adalah karena ia mau ikut casting atau baru pulang syuting.
  • Menabrak mobil dan berkata, yess! Cowo lagi!. Hal itu berarti ia tidak perlu membayar ganti rugi dan jika beruntung, justru tidak perlu menanggung biaya membetulkan mobilnya sendiri.
  • “Get me a guestlist in the club, and I’ll do the rest to ensure there will be freeflow drinks too...”
  • Pernah berjalan-jalan di mall tanpa uang, kartu ATM, hp dan kartu identitas, tapi somehow berhasil masuk ke klub fitness, makan enak, dan pulang dengan mobil.

Ohhh! Seandainya dia tahu, gue pasti akan langsung dimasukkan dalam DPO alias Daftar Pengucilan Orang!

 

Gue berpikir heran: Bagaimana mungkin seorang perempuan bisa berpikir sebegitu rendahnya pada perempuan lain yang mengeksplorasi keperempuanannya, sebuah kelebihan unik setiap perempuan. Lawan jenis saja tidak keberatan tuh!

 

Dan lebih prihatin lagi, mengapa lantas perempuan yang mendapat dianugerahi sedemikian oleh Tuhan jadi harus malu dan menyangkal kelebihannya itu. Bukannya sama aja dengan salesman yang tampangnya ‘enak dilihat’ dan mahir berbicara sehingga mudah dapat client dan ordernya laris? Tapi ketika itu terjadi pada perempuan, mengapa menjadi hina untuk jadi menarik?

 

Bagi kaum salesman, kemampuan verbal dan penampilan dianggap sebagai modal berusaha. Sedangkan jika oknumnya perempuan, kami makhluk gratisan, yang malas berusaha tapi banyak maunya. Padahal, hukum alam berlaku bagi siapapun: Ga ada yang gratis dalam hidup ini. Dan perempuan pun ber'modal', untuk mendapatkan mau yang banyak itu.

 

Sama seperti warga dunia lainnya, setiap perempuan pun wajib membayar dengan menggunakan alat pembayaran yang sah. Hanya valuta yang kami gunakan memang bukan mata uang kesayangan kita semua, Rupiah.

 

Memangnya iuran gym untuk membentuk perut kotak-kotak yang bisa dipakein baju ngatung itu ga pake duit? Memangnya pump shoes 12 senti yang membuat kaki selalu berada dalam posisi orgasme itu ga pake duit? Memangnya sekolah di perguruan tinggi bergengsi sehingga kami bisa mengutip filsuf-filsuf kuno itu ga pake duit? Memangnya untuk mendapatkan segala sesuatu secara gratis dengan penampilan dan omongan itu ga pake duit?

 

Tentu tidak! Ada biaya operasional yang kami catat dalam buku akuntansi kami, yang nilai gunanya akan berkurang seiring dengan waktu dan penggunaan. Sekarang, bagaimana supaya modal tetap itu menunjang upaya mendapatkan ‘untung’?

 

Meskipun sebenarnya neraca ini sudah imbang sejak awal. Tujuan utama investasi ini adalah untuk diri sendiri, berupa rasa percaya diri dan senang melihat diri di kaca. Kami tidak berdandan untuk menyenangkan orang lain. Objek pertama yang diuntungkan dengan penampilan prima adalah diri sendiri.

 

Tapi tanpa dimaksudkanpun, apa yang ada di tempat umum dapat dinikmati semua orang. Jadi mengapa tidak sekalian mengambil retribusi? Itulah sebabnya kami semakin menolak disebut perempuan gratisan. Biar kata modal yang ditanam cukup besar, untung yang didapat bukan mata pencaharian utama sebagian besar perempuan yang disebut ‘bitch’ itu.

 

Kalau masalah mahal-murahnya, semua kembali tergantung pada harga yang ditetapkan serta kemampuan menawar. Sebuah barang menjadi mahal dan uang jadi murah jika membayar lebih tinggi dari nilai barang/jasa tersebut. Kita jelas tidak tidur dengan supir taksi. Sebuah senyum sumringah untuk harga perjalanan selama 20 menit di Singapura, rasanya masih reasonable...

 

Lagipula perlu diingat, produk yang dibarter disini adalah feminitas, bukan tubuh perempuan itu sendiri. Gue pernah terlibat pembuatan film dokumenter tentang pelacuran di Batam yang diberi judul ‘innocence for sale’. Kenaifan dan kepolosan tubuh yang diperjualbelikan.

 

Perempuan yang terlibat belum tentu rela menggadaikan diri. Mungkin ditipu, mungkin kepalang basah, mungkin terpaksa keadaan. Saat men-transcribe interview, gue pun ikut terenyuh miris melihat nasib para wanita ini. Mereka bahkan tak punya kuasa mengatur penjualan paksa tubuh yang ditawar begitu murah.

 

Sedangkan dalam hal bitching, gue lebih suka menyebutnya feminity for sale. Jika hanya fakta fisik yang dilihat, gue sudah pasti out dari permainan ini dari jauh-jauh hari. Cantik pun tidak, feminin banget pun tidak.

 

Tapi memang bukan fisik semata yang dieksplotasi, melainkan fakta bahwa kami perempuan: Rupa sebagai seorang perempuan, cara berpikir sebagai perempuan, cara bersikap dan sisi feminitas yang tak bisa tersangkalkan muncul sejak dilahirkan sebagai perempuan.

 

Lagian , bentuk eksploitasi terjadi atas kesadaran penuh si pemilik diri. Lebih dari melihatnya sebagai bentuk perendahan harkat wanita dengan mengeliminasi nilai tubuh yang tak ternilai, gue malah merasa kaum ini memberi ‘nilai tambah’ bagi sisi keperempuanan seseorang.

 

It’s about claiming ownership of your own body. Menyadari apa yang ada dalam diri seseorang, dan mengembangkannya secara maksimal untuk keuntungan sang empunya tubuh. Daripada sebaliknya, memasrahkan diri digunakan sekehendak hati oleh orang lain demi kesenangan orang lain pula.

 

Dan jika seluruh potensi bisa dikerahkan secara maksimal, Anda akan terkejut dengan kekuatan yang ada pada diri seorang perempuan: Mendapat ganti rugi dari pengedar yang memberi paket shroom kurang manjur hingga ngemplang bayar ganti rugi menabrak mobil. Jika dikehendaki, apa sih yang nggak bisa didapatkan perempuan yang menginginkan sesuatu?

 

Tapi gue juga tak mau memaksa semua perempuan mengikuti jejak langkah ini. Akan selalu ada orang-orang semacam kenalan gue, yang bakal melongo ngeri dengan metode ‘jual diri ’yang baru dipaparkan.

 

Lagipula, prinsip ekonomi berlaku di aspek hidup apapun. Semakin banyak penawaran saat permintaan tetap akan berakibat turunnya harga. Harga gula saja merosot pasca panen karena banyak yang numpuk di gudang Bulog. Terlalu banyak stok bakal merusak pasaran. Bisa-bisa harga diri benar-benar merosot tajam!


Kredibilitas dan citra Persatuan Tukang Gosip Profesional Tanah Air (PTGPTA) tercoreng. Seorang kader senior, Oknum R, baru saja dilabrak akibat salah langkah dalam beraksi. Hal ini tentu saja mencoreng nama baik para pegosip sejati yang tergabung dalam PTGPTA, yang terkenal santun dan objektif dalam bergosip.

 

Guna menghindari insiden sedemikian di masa mendatang, kami bermaksud menjelaskan Undang-undang Darurat Gosip (UUDG) yang telah disepakati dalam kongres tahunan PTGPTA. UUDG ini sebenarnya merupakan artikel yang off the record, namun akan disebarluaskan untuk membimbing para pecinta gossip amatir yang ingin merintis karir secara profesional.

 

Pasal 1

Materi gosip yang bisa disebarluaskan

Bahan berita yang digosipkan haruslah objektif dan bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Penjelasan: Dalam memilih materi gossip yang bisa digunakan, penggosip hendaklah bersikap bijaksana dan menerapkan logika, terutama menghadapi gossip murahan yang tidak membantu perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat. Hal ini termasuk mencek dan ricek setiap berita yang terdengar terlalu tidak masuk akal atau terasa biased.

 

Penggosip bisa menggunakan kaidah jurnalisme untuk menuntun keputusan memilih gossip. Nilai kebenaran dan objektivitas memang sulit diraih dalam bergosip (namanya juga gossip, bukan fakta!) Tapi hal ini bisa dikurangi dengan menganalisa nara sumber gossip. Sangat penting untuk mengetahui latar belakang penyebaran gossip (apakah dilandasi rasa benci dan iri?), dan memonitor   awal mata rantai pergosipan, sehingga gossip menjadi jelas asalnya dan bisa ditelurusi penyebabnya.

 

Penggosip juga berkewajiban, sebisa mungkin, mengklarifikasikan gossip tersebut pada objek gossip. Dalam hal ini, alat bantu seperti mesin penyadap dan teropong pengintai macamnya sedang melakukan investigative journalism boleh digunakan. Jika tidak dimungkinkan, penggosip tetap berkewajiban setidaknya mencari sisi lain dari sebuah gosip sehingga terbentuklah gossip yang adil.

 

Objektif disini juga berarti pengemasan gossip harus dilakukan tanpa rasa dengki, sirik hati dan dendam kesumat yang dapat mencemari kemurnian gossip serta menurunkan nilainya setaraf dengan fitnah belaka. Diambil contoh disini adalah gossip tentang seorang anak baru yang berpakaian terlalu seksi dalam organisasi.

 

Sebelum menyebarkan gossip, perlulah memeriksa batin, apakah gossip ini berlandaskan kedengkian karena tidak bertubuh seseksi si anak baru? Jika tidak, langkah selanjutnya adalah mengukur keseksian dan kepantasan berpakaian sesuai dengan aturan yang berlaku secara umum (tidak dijelaskan disini).

 

Pasal 2

Aturan Penyebaran Gosip

Ayat 1: Menyebarluaskan gossip harus dilakukan sesuai dengan Peta Persebaran Gosip, serta pelaksanaannya dibimbing oleh kepekaan sosial dan hati nurani.

Penjelasan: Penggosip hendaknya ekstra hati-hati dan selektif dalam menyebarkan gossip yang telah dipilih. Penggosip haruslah memastikan bahwa objek yang digosipkan berjarak setidaknya 4 degree of separation dari pihak penerima gossip (Lihat diagram). Hal ini untuk memastikan bahwa pihak yang digosipi dan yang menggosipi tidak saling mengenal (atau saling mempengaruhi) sehingga gossip kembali pada pihak yang digosipi. Kelalaian memeriksa hubungan antar pihak yang terkait bisa mengakibatkan pelabrakan, seperti yang terjadi pada Oknum R.

 

Maka dalam hal ini, SANGAT TIDAK DIBENARKAN UNTUK MENYEBARKAN GOSIP PADA OBJEK GOSIP ITU SENDIRI. Penggosip sejati perlu punya empati mendalam dan dengan begitu bisa merasakan bagaimana perasaan objek gossip jika sadar dirinya digosipi. Juga bagaimana terkhianatinya seorang penyebar gossip saat dilabrak karena temannya bocor.

 

Aturan persebaran gossip ini bisa diganti, JIKA dan HANYA JIKA penerima gossip selanjutnya adalah anggota dari PTGPTA, yang setelah diperiksa secara mendalam, terbukti secara sah dan meyakinkan dapat dipercaya dan bertanggung jawab dalam penyebaran gossip sesuai Undang-Undang.

 

Sehubungan hal ini, sangat diperlukan kepekaan dalam bergosip. Jika dicurigai bahwa teman bergosip tidak setuju dengan gossip, atau, jika ada kemungkinan teman bergosip menjadi BOCOR, kegiatan pergosipan hendaknya dihentikan, atau dilanjutkan dengan memilah-milah materi gossip yang lebih tidak sensitif.

 

Ayat 2: Dalam penyebarannya, penggosip berkewajiban melindungi kerahasiaan nara sumber gossip dan menjamin keamanan objek gossip.

Penjelasan: Memang, harus diakui, tukang gossip itu bocor dan memang harus bocor untuk bisa jadi penggosip yang dikenal masyarakat. Tapi itu bukan berarti tukang gossip boleh menyalahi kepercayaan sumber gossip. Tukang gossip harus menghargai konfidensialitas nara sumber (atau objek gossip itu sendiri), jika minta sebuah berita JANGAN DIBERITAHUKAN DULU. Anggap saja seperti press release yang ada ‘release date’-nya. Saat sudah boleh disebarluaskan, penggosip harus mengerahkan tenaga untuk mengejar gossip yang ketinggalan.

 

Hal ini penting guna menjaga relasi dengan sumber gossip, yang pada jangka panjang akan membantu kami mendapatkan gossip lebih banyak lagi. Jangan sampai terjadi ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga, karena bocor sedikit tak dibagi gossip selamanya!’

 

Jika mengikuti peta persebaran gossip, sebisa mungkin identitas objek gossip dirahasiakan (menggunakan: “Gue punya temen yang...”) Tanpa menjelaskan terlalu banyak latar belakang dan menyebut nama. Jika tidak memungkinkan (atau jika nama sangat signifikan dalam cerita), bolehlah disebut, selama penerima gossip bisa melakukan SUMPAH POCONG GOSIP “Janji dulu ye! Loe kagak bakal ngebocorin ke...(siapa-siapa/ Ke orangnya/Ke temen deketnya? *pilih salah satu).

 

Ayat 3

Penggunaan Gosip

Gosip yang diterima TIDAK BOLEH digunakan sebagai dasar pembuat keputusan atau bersikap pada objek gossip.

Penjelasan: Ini mungkin merupakan ayat terpenting, yang membedakan penggosip professional dengan penggosip amatir. Tukang gossip sejati yang telah malang melintang di dunia gossip selama bertahun-tahun, akan memperlakukan gossip sebagai gossip semata, sebuah hiburan, bukan fakta.

 

Maka itu, penggosip professional haruslah bisa memisahkan gossip dari pengambilan keputusan atau sikap. Tips yang bisa diterapkan adalah AKAL SEHAT. Apakah gossip yang didengar (baik atau buruk) punya efek langsung terhadap keputusan yang diambil?

 

Studi kasus demikian: Seorang wanita digosipkan hamil diluar nikah. Seorang penggosip amatir akan mencampuradukkan nilai-nilai moral lalu memutuskan untuk mengucilkan beliau di kantor, meskipun beliau adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Lebih buruk lagi, mengajak orang-orang lain, bukan cuma sekadar mendengar gosipnya, tapi ikutan memusuhi sang wanita malang.

 

Hal ini, jelas mencoreng nama baik persatuan gossip yang kita cintai ini. Gosip yang sejatinya tidak berbahaya (kecuali jika didengar oleh sang objek gossip), bisa menjadi hal yang sangat negatif, menimbulkan korban (si wanita) dan menunjukkan ketidakprofesional-an (mencampuradukkan nilai moral dengan pekerjaan).

 

Bukan berarti seorang ‘pro’, dilarang bergosip (tentunya, karena kami mungkin tak tahan jika hanya berdiam diri). Kita tetap diizinkan menyebarluaskan, menimpali, memberi komentar, dengan syarat, apa yang kami dengar dan sebarkan tidak mempengaruhi sikap kita terhadap objek gossip.

 

Balik ke studi kasus, sekali lagi, AKAL SEHAT. Mengapa kita harus keberatan dengan seseorang yang hamil diluar nikah? Yang dihamili aja nggak keberatan tuh! Dan apa hubungannya hamil di luar nikah dengan bersahabat? Memangnya yang menghamili suami kita?

 

Sesuai dengan nafas pasal ketiga, guna perkembangan PTGPTA, sangat dianjurkan bagi penggosip untuk tidak membeda-bedakan dan memilih-milih teman. Semakin luas lingkup pergaulan, semakin banyak gossip yang bisa diraih, semakin kuat organisasi kita!

 

Demikianlah tiga ayat utama penuntun gossip secara professional. Dengan kaidah ini diharapkan citra dan martabat gossip di mata masyarakat akan meningkat. Tukang gossip sungguhlah profesi yang luhur, membantu penyebaran informasi pada masyarakat dan  memberi warna serta gairah pada kehidupan urban yang monoton.

 

Semoga tingkat kepercayaan berbagi gossip pada PTGPTA akan meningkat!

                                                                                                                       

Jakarta, 17 September 2009

                                                                                                                       

        Tertanda:

Self Proclaim Ketua Persatuan Tukang Gosip Profesional Tanah Air


Blog EntryIf you DON’T have it, DON’T flaunt itSep 11, '09 12:43 PM
for everyone

Momment Alz-Vous

Kok gue ga ngerti ya? Gue melongo sambil meneliti croissant dengan deskripsi demikian di sebuah gerai roti ternama di Jakarta. Sembari membayar gue terus memikir-mikir. Kedengerannya Perancis, tapi kok gue ga pernah denger? Klo Inggris, lebih ga pernah denger lagi...

 

Kalimat broken English-broken French itu terus menerus menghantui gue bahkan setelah croissantnya tak lagi di mata. Naluri membawa gue untuk ingin sekali kembali ke toko roti tersebut dengan spidol merah, mencoret-coret dan melingkari serta meralat. Genjes!

 

Seolah menjadi ‘English-day’, di hari yang sama gue terpaksa menguping (habis mereka ngomongnya dengan semangat berbagi sama satu cafe), sekelompok remaja yang dengan riuh menggunjingkan Mercy, Jack Daniel’s, dan soundsystem dengan Bahasa yang nampaknya mendekati Bahasa Inggris. Setiap kali mereka bicara, gue menggumam meralat dalam hati.

 

Sumpah. Jangankan bahasa Perancis, Bahasa Inggris gue pun jelek. Gue cukup bernafas lega berhasil lolos dari fakultas jurnalisme di luar negeri tepat waktu. Bagi gue, semua itu adalah kombinasi taktik mencari pelajaran yang memungkinkan kelulusan, teknik menghindari guru-guru yang kritis grammar, dan keberuntungan, lots of it.  Kalau waktu berulang, gue tidak akan mengambil jurnalisme dalam bahasa Inggris.  Gue tidak yakin akan beruntung kali ini...

 

Jadi bukan, sungguh bukan kemampuan berbahasa Inggris (atau Perancis) warga Indonesia yang tidak merata yang membuat gue merasa terganggu. Gue paham dan menghargai, tidak semua orang mempunyai akses ke kursus Bahasa Inggris serta program pertukaran pelajar ke Amerika. Juga tidak semua orang tinggal di Kuta Bali.

 

Tapi yang mengusik hati gue adalah: Kenapa sih, jika memang tidak tinggal di Kuta Bali, jika memang tidak menguasai secara baik, dan jika tujuannya berkomunikasi dengan rekan sebangsa agar dimengerti, kenapa sih harus tetap maksa memakai bahasa tersebut? Emang jelek banget ya pakai Bahasa Indonesia aja? Emang nulis pake broken English jauh lebih keren daripada nulis pake EYD ya?

                                                                                                                                                   

Ini bukan masalah nasionalisme. Gue pun pernah merutuki lahir dan besar di Indonesia, sehingga mengalami kesulitan ganda ketika memasuki kancah persaingan global. Menyesali mengapa orang tua gue tidak berpikiran selangkah lebih maju dengan menyekolahkan Margie kecil yang tak berdosa ke sekolah internasional.

 

Tapi mungkin gue sudah cape menolak nasib. Ternyata, tidak ada seorangpun manusia yang bisa menguasai dua bahasa secara sama baiknya, termasuk gue. Sepandai-pandainya kemampuan bilingual seseorang, pasti akan ada satu bahasa yang lebih dipilihnya dari yang lain. Bahasa yang digunakan ketika ia ingin berekspresi secara penuh. Bahasa dalam mimpi dan mengigau. Kebanyakan adalah mother tongue, atau kadang bahasa pergaulan sehari-hari.

 

Dan kalau ternyata bahasa itu cuma Bahasa Indonesia, si bangsa tempe yang kurang eksis ini, bisakah gue mengubah keadaan? Lebih jauh lagi, perlukah gue mengubah keadaan? Lebih penting mana? Dimengerti oleh mereka atau kita?

 

Setelah melihat nasib anak kecil tak berdosa lainnya yang dulu disekolahkan di TK Internasional, gue merasa, untuk seseorang yang tinggal di Indonesia, gue lebih beruntung. Gue tidak pernah mengalami pusing-pusing saat membaca soal cerita berhitung (meski tetap pusing saat menjawabnya). Tidak ada yang berani mem-bully gue dengan kata-kata karena gue akan cepat membalas dengan pantun-puisi yang lebih pedes. Juga tidak ada pedagang kaki lima yang berani mengetok gue karena tergagap saat tawar-menawar.

 

Lagian bahasa ini gak jelek-jelek amat kok. Jika ditilik, perbendaharaan diksinya luar biasa luas, juga terus berkembang seiring jaman. Coba lihat khazanah sastra dalam negeri. Haruslah diakui gue sangat menikmati tulisan Dewi Lestari, dan dalam hati menghina Cinta Laura yang tidak bisa  menikmatinya seperti gue.

 

Dan jangan lupa, dengan kemampuan bereproduksi yang sangat menakjubkan dari rakyat Indonesia, Bahasa kita termasuk salah satu yang paling banyak digunakan di dunia. Memang tidak pernah masuk survey karena londo di luar sana yakin bahwa orang Jawa hanya bicara bahasa Jawa dan tidak Indonesia. Tapi orang suku Tengger tetep paham kok pas gue nanya jalan.

 

Coba juga tempatkan diri kita di posisi bangsa lain. Kita aja benci idup mati mendengar Cinta Laura dengan Broken Indonesian-nya. ? Bayangkan betapa dendamnya para bule karena bahasanya disalahgunakan habis-habisan? Apa kita nggak kasihan sama orang Inggris?

 

Setiap bahasa adalah warisan budaya. Di dalamnya ada tradisi dan jendela akan kehidupan sebuah masyarakat. Makanya, jika menggunakan bahasa orang, alangkah baiknya jika diterapkan dengan benar, sebagai penghormatan terhadap identitas bangsa tersebut.

 

Gue paham, sebagai warga dunia, kita hendaknya saling berkomunikasi dalam bahasa universal, yang kini statusnya dipegang Bahasa Inggris. Dan dalam berlatih, Ga ada noda ga belajar. Semakin banyak menggunakan, semakin banyak salah, semakin cepat bisa.  Para turis bule, sahabat dekat dan guru bahasa Inggris memang tidak keberatan kita latihan bersama mereka.

 

Tapi rasanya seorang manusia akan bisa lebih berkontribusi lebih pada dunia jika ia dipahami oleh ratusan juta orang daripada tidak sama sekali. Dan gue rasa kita paling bisa dipahami jika berekspresi dengan bahasa yang paling nyaman kita gunakan, bahkan jika ternyata bahasa yang nyaman itu cuma bahasa Indonesia.

 

Jika ratusan juta orang itu sudah paham, ratusan juta yang lain dapat dengan mudah disentuh. Haruki Murakami tidak pusing-pusing menulis dengan bahasa asing. Ia menuliskan semuanya dengan bahasa Jepang dan membiarkan para penerjemah bekerja keras menyadur karyanya.

 

Tentunya disini tetaplah berlaku aturan, If you have it, flaunt it!  khalauw thernyatha khitha phaling nyaman pakhai bhahasya Inggries, or...Pranchies, gue akan senang-senang  saja ditanya kabarnya dengan berkata: Comment allez-vous?


Blog EntryDon't Cha!Sep 1, '09 10:50 AM
for everyone

Seolah-olah mencari pria Katolik yang mampu mencintai dan dicintai untuk diri sendiri di Jakarta belum sesulit mencari jarum di antara tumpukan jerami, kami berusaha mencari jodoh tersebut bagi guru yoga kami. Setelah menawarkan berbagai instruktor yang ternyata gay, kami menemukan target: lelaki berdarah Brazil yang lewat mata batin para wanita, cukup berpotensi.

        “IYAA..tapi dia udah punya pacar!” Sang Guru protes.

        “Bisa dibuat single! Selama janur kuning belum berkibar, masih ada kesempatan!” seorang murid mengompori

        “Enak aja! Emang kita perempuan apaan!”

        “Halah! Masa sih kita harus mengorbankan kebahagiaan sendiri untuk orang lain?” murid lain membujuk.

        “HUSH! Kalian ini! Sibuk-sibuk ngurusin gue, justru yang harusnya cemas itu kalian, yang punya pasangan. Karena ingat, jomblo-jomblo seperti kami, mengajak para single di kelas bersekutu, cih, sebal,  berkeliaran bebas di luar sana dan kami suka menggoda seperti...sambil menekan tombol kaset lalu berjoged...DON’T CHA WISH YOUR GIRLFRIEND WAS FUN LIKE ME!”

 

Senormalnya gue setuju pada pandangan Maha Guru: Ketika satu pasangan (dua pihak) tiba-tiba bersinggungan dalam hubungan bersinergi romantis dengan pihak ketiga, beban moralitas dan kecemasan terbesar ditanggung oleh pihak pertama dan kedua yang telah lebih dulu ada dalam hubungan bersinergi romantis tersebut.

 

Pihak pertama, yang selanjutnya akan disebut sebagai TERGODA akan mengalami pertanyaan etis apakah akan mengikuti hasrat hati atau tetap setia dalam status quo yang nyaman. Pihak kedua, yang selanjutnya akan disebut sebagai TERANCAM, tentunya cemas bukan kepalang dan dengan tetap mengikuti kaidah etis yang berlaku, berusaha mengusir pihak ketiga, yang selanjutnya akan disebut sebagai PENGGODA.

 

Sebaliknya PENGGODA tidak perlu cemas dan memikirkan moralitas. Namanya juga PENGGODA, maka peranannya adalah menggoda sehabis-habisnya untuk menggeser status hubungan bersinergi, menggeser peran TERANCAM sehingga tidak lagi disebut dalam kontrak dengan TERGODA.

 

Pendapat gue tersebut diambil saat gue menjadi pihak keempat atau PENGAMAT yang kurang bisa mendalami kasus. Ketika gue membaca kontrak hubungan sinergi romantis ini lebih teliti, gue baru menyadari: pengambilan keputusan terberat justu berada di pihak ketiga.

Coba perhatikan lewat studi banding milik seorang kawan berikut ini: Pemuda A sudah berpacaran seumur hidupnya dengan Pemudi B. Tidak ada yang salah dalam hubungan mereka. Semua berjalan lancar, keduanya sepadan untuk yang lain. Tidak ada yang salah, sampai Pemudi C muncul dalam cerita, sambil berkata DON’T CHA! Dan A.B.C tiba-tiba berada di sudut sebuah segitiga yang dihubungkan dengan garis berenergi romantis.

 

Menilik lagi klausa yang ada, lebih sering, meskipun tidak bisa digeneralisir, jika pihak pertama telah disebut sebagai TERGODA, maka sekitar 90% dari keputusan sebenarnya telah terbentuk. Cinta bisa datang kapan saja, namun tidak setiap saat. Dan sesuai aturan hidup bahagia, tak seharusnya Pemuda A menyia-nyiakan kesempatan dan bertahan di hubungan yang tak lagi membahagiakan.

 

Bagi TERANCAM, sebenarnya sikap yang tepat juga sudah jelas. Sebagai seorang korban, TERANCAM sudah tidak lagi harus bergelut dengan persoalan moral. Ia hanya perlu menimbang akan bersikap bodoh atau pintar. Jika memutuskan untuk menjadi rasional, maka sudah ada guidelines dalam bertindak: he’s an ass-hole. Leave him. Find someone better. Besides, why do you want to be with someone who doesn’t want to be with you?

 

Sekarang semuanya jadi tergantung pada PENGGODA. Apakah Pemudi C sebaiknya mengorbankan perasaan untuk kebahagiaan dan harkat sesama wanita? Jika ya, apakah dengan demikian Pemudi C juga telah mengorbankan Pemuda A? Jika tidak, apakah Pemudi C sanggup menyakiti wanita lain dan menanggung stigma negatif masyarakat? Lalu pun demikian, apakah Pemudi C memang benar akan bahagia jika bersama dengan pria yang pernah berlaku sedemikian pada Pemudi B?

 

Ternyata ada begitu banyak pertimbangan serta tanggung jawab yang harus ditanggung oleh seorang PENGGODA. Macamnya reality show perjodohan, kunci keputusan ada pada tangan perempuan yang bisa mematikan atau menyalakan lampu bagi pria di tengah panggung. So, are you going to take him out? 

 

Sebagai seseorang yang punya standard moral yang kurang tinggi, kebahagiaan orang lain dan pandangan masyarakat jarang jadi pertimbangan dalam bertindak. Pemikiran ‘Emang gue cewe apaan?’ jarang mengusik mata batinku.

 

Gue ga percaya adanya norma yang berlaku umum dimana perempuan harus sopan, halus baik hati penuh perasaan bak Ibu Kita Kartini. Tidak sebaiknya ada aturan yang membatasi baik buruknya satu gender. Setiap tindakan haruslah dilihat latar belakang dan kondisi yang melingkupi.

 

Gue beruntung dilahirkan bukan sebagai tokoh agama atau panutan masyarakat. Gue bisa egois. Gue tidak perlu harus mengorbankan perasaannya HANYA-SUPAYA manusia lain bahagia. Berjuang sendiri dong demi kebahagiaan masing-masing! Masa harus gue yang usaha? Siape loe?! Dan gue akan tetap menyalakan lampu gue untuk tanda I am going to take him out.

 

Tapi justru karena gue adalah orang yang egois, gue akan semakin prihatin akan kebahagiaan gue sendiri. Roda hidup berputar. Karma berjalan. Persis saat gue berhasil menggeser TERANCAM, maka akan timbul kontrak baru dimana gue akan menggantikan posisi TERANCAM tersebut, membiarkan posisi PENGGODA kosong hingga saat yang tak ditentukan.

 

Menilik sejarah TERGODA yang pernah sukses digoda, adalah sangat masuk akal jika suatu saat adalah giliran gue yang tergusur. Apalagi jika TERGODA meninggalkan TERANCAM karena semata melihat karakteristik positif lebih yang ada pada diri PENGGODA.

 

Perempuan suka menjadi the exception. Suka menganggap dirinya lain dari yang lain dan tak tertandingi. Sayangnya, di atas langit masih ada langit. Di atas pussycat-dolls-wannabe, ada lagi wannabe lainnya yang lebih fun, lebih freak, lebih hot. Dan di atas wannabe yang berlebih itu, masih ada...Pussycat-Dolls yang asli. Bukan tidak mungkin TERGODA akan segera berpindah hati jika ada yang karakteristik positifnya lebih banyak dari gue.

 

Meskipun saat giliran tiba gue sudah tidak perlu lagi bingung akan opsi yang harus diambil, bukan berarti itu akan jadi keputusan yang mudah. Mengapa gue harus mengambil risiko tidak bahagia HANYA-SUPAYA pihak pertama menjadi senang secara konstan dan gue secara sesaat?

 

Masih untung jika memang posisi PENGGODA didapat karena karakteristik positif. Mungkin saja hubungan TERGODA-TERANCAM sebenarnya adalah hubungan paling membosankan di muka bumi. Kambing di-pita-in pun bisa jadi katalis yang mengakhiri kisah yang memang dekat tanda tamat itu. Karena gue egois, tentunya gue enggan disamakan sama kambing berpita.

 

Inilah mungkin saatnya gue mematikan lampu gue. Dan dengan begitu mendapat bonus tepok tangan serta doa syukur dari TERANCAM.

 

Tapi sekali lagi, ini adalah versi PENGAMAT. Akhir cerita bervariasi, seturut pihak yang bersangkutan. Balik ke studi banding, Pemuda A ternyata memutuskan hubungan dengan Pemudi C dan menikahi Pemudi B. Pemudi B memutuskan untuk bertingkah bodoh dan menerima lamaran Pemuda A. Namun cinta Pemuda A hanya untuk Pemudi C, demikian sebaliknya. Sesaat setelah menikah, Pemuda A kemudian berselingkuh dengan Pemudi C  untuk sepanjang pernikahannya.

 

Pemuda A selalu bersama wanita yang dicintainya, yang membawa petualangan dalam hidupnya. Namun ia juga mendapat jaminan seorang wanita yang akan selalu setia dan menemaninya hingga tua.

 

Pemudi B berhasil mempertahankan pria yang dicintainya, dan seperti wanita kebanyakan, she doesn’t really want to know the truth. Sedangkan Pemudi C, tetap dapat hadiah hiburan dan bisa mempertahankan kebebasannya dari status yang menghambat pencarian pria yang sungguh-sungguh untuknya. Win-win solution...meski semua melenceng dari kontrak.

 

Kalau dipikir, kisah ini lebih cantik dari kisah Jennifer Aniston yang dicerai gara-gara Angelina Jolie. Mungkin Pemuda A memang pantas dipertahankan. Ia jelas lebih cerdas daripada Brad Pitt...


Blog EntryDasar anak kota!Aug 26, '09 10:39 AM
for everyone

Kemane aje loe?! Sudah hampir tiga minggu gue lebih sering absen dari kegiatan per-online-an. Maklum, gue sedang memikirkan chicklit khusus cowo yang ternyata jadi (excuse). Ditambah gue mendapat tambahan kerja jadi lifestyle editor untuk MSN Singapore (excuse). Si blog ini mau dibukukan (excuse). Dan gue sakit 3minggu penuh (excuse). Okeh, gue harus berhenti membuat alasan. Kalau tidak, the whole post is going to be made up from my excuse and once I stop making excuse, the whole blog is gone.

 

Kenyataannya, gue cuma sedang menjadi anak kota sesuai stereotype pengamat budaya dan sosial lainnya saja. Anak kota yang mengutamakan sosialisasi, sehingga dalam 3 minggu diserang 3 virus flu yang berbeda. Anak kota yang hidup untuk senang-senang, sehingga setelah dipotong waktu istirahat flu dan kerja, sudah tak ada lagi waktu untuk merenung dan berefleksi.

 

Kenyataannya, daripada memanfaatkan liburan long-weekend untuk pemulihan kesehatan dan merawat diri, gue malah ngotot berwisata ke Batu Karas dengan kuartet macan (empat sahabat perempuanku), mengakibatkan sakit berlipat ganda dan semakin sedikitnya waktu dihabiskan secara positif.

 

Tapi tetep ada hikmah yang bisa diambil kok dari Petualangan Batu Karas, selain hikmah kenikmatan (excuse lagi). Berada di dua jam lepas Pangandaran (atau 9 jam lepas Jakarta) memberi kesempatan mengkonfrontasi stereotype tentang perempuan kota sekaligus mengukuhkan jati diri gue.

 

Setiap kali gue mendapatkan pandangan dasar anak kota.. gue menemukan satu lagi stereotype sekaligus ciri-ciri kami, yaitu bahwa anak perempuan kota itu...

 

1.       Tidak peka terhadap norma sekitar

Entah apa yang ada kami pikirkan. Mungkin kami memang tidak peduli dengan tata karma yang berlaku di tempat lain. Jika kami PEKA, mungkin kami tidak akan hanya membawa BIKINI untuk berenang di KALI. Tiba di Sungai dan Air Terjun Citumang dengan celana pendek, tanktop, kaca mata hitam besar dan topi ala Jackie O saja gue sudah langsung mendapat tatapan heran warga sekitar yang sedang berendam di kali tersebut. Apalagi terjun ke dalam sungai dengan pakaian murah hati  bagian dada, paha, dan anything in between tersebut.

 

Bidadari saja pas mandi cuma berani lepas selendang...Kami berpikir saat mengamati sekelompok wanita turun ke air dengan baju lengkap hingga kerudung sedangkan kaum pria-nya berendam di sisi lain sungai. Terpaksa bagi yang bawa baju ganti, berendam dengan baju gantinya sekaligus, yang nggak bawa, harus percaya diri. Selalu lihat sisi positif, kami jadi benar-benar bisa menjelajah daerah aliran sungai tersebut; Mamang yang mengantar kami nampaknya cukup senang menjadi tour guide tanpa bayaran sekalipun...

 

2.       Nekad, tidak pemalu, tidak alus-alus

Di daerah manapun di Indonesia, memang tetaplah setiap anak perempuan diajarkan untuk bersikap santun dan agak sedikit pasrah. Namun nilai emansipasi dan kejamnya ibukota mungkin telah menggerus nilai-nilai tersebut. Guna membela nilai keadilan dan kebahagiaan, kami tanpa basa-basi akan bersikap nekad, meninggalkan nilai kelembutan, bahkan kalau harus berhadapan dengan pengedar sekalipun.

 

Sudah menjadi rahasia umum, daya tarik Batu Karas selain pantai pasir hitam dan Citumang, adalah  ‘jamur gembira’, menjadikannya salah satu agenda penting liburan kami. Alangkah kecewanya kami saat jamur campur fanta yang dibeli ternyata cuma membuat kami ketawa-ketawa. Meski lepas tengah malam, berbondong-bondong kami menyantroni markas Bang Jabrik (pengedar mushroom berambut gondrong) di pinggir pantai yang telah gelap gulita.

 

“MANAA yang katanya jamurnya bagus!! Nih!!Kita kagak kenapa-napa!” Botol jus jamur yang sudah kosong diacungkan ke muka Bang Jabrik yang sudah agak mabuk. Hasilnya, kami menyetir pulang dengan paket jamur baru hasil menuntut ganti rugi. Dipikir-pikir, harga yang kami dapat malah jadi sangat menguntungkan, bahkan lebih murah dari harga jamur di musim hujan. Mungkin lain kali saat menggertak kami bisa sekalian menuntut banana boat dan ongkos pulang ke Jakarta.

 

3.       Citra dan pembuktian diri itu penting...pengalaman juga deh.

“Ada tempat foto bagus apa lagi?” Begitu pertanyaan, baik diutarakan maupun dalam hati, dalam setiap kepergian. Seolah-olah travelling adalah untuk berfoto, bukan untuk jalan-jalan. Maksudnya, toh dengan mengunjungi tempat baru kita pasti dapat pengalaman, sekarang, bagaimana caranya supaya pengalaman baru itu diketahui khalayak ramai? Bahwa kita pernah kesitu lho..Tak heran, sesi foto adalah acara utama kunjungan ke tempat manapun.

 

Guna menangkap suasanya petualangan dan crossroad ala film Britney Spears, berhentilah mobil kami di tengah pematang sawah yang cuma bisa dilewati satu mobil dan rusak total, meski untungnya, tidak sampai menimbulkan kemacetan logistik desa.

 

Foto itu nantinya akan mewarnai facebook, display picture laptop, dan jangan lupa, blog ini, pembuktian diri bahwa gue pernah been there done that. Maklum, gue kan juga anak kota...

 

Ingin melihat batu karas cadas? http://margarittta.multiply.com/photos/album/16/Batu_Karas_Cadas


Gue punya sebuah rahasia. Gue telah memendamnya setahun setelah kejadian berlalu dan gue akan membongkarnya secara umum sekarang:

                Gue benci Batman

Cuma Batman doang, kok baru berani ngomong sekarang...Tapi dalam paragraf pertama pun gue yakin ada yang mulai kurang seneng. Coba bayangkan sanksi sosial yang bakal gue terima jika gue menyatakan ini tahun lalu, ketika film ini baru pertama kali rilis.

 

Editor MSN Singapura waktu itu bahkan pernah mengatakan, cuma orang yang gak ngerti film saja yang akan bilang film The Dark Knight itu jelek. Macamnya cuma orang pintar yang minum jamu tertentu. Gengsi dibilang buta film, gue terpaksa setuju membuat review bintang 5 untuk Batman.

 

Suer. Pada awalnya gue pun bersemangat tanpa pesimisme sedikitpun menyambut film Batman yang dipuja-puja bangsa itu. Gue ingat bersusah payah mendapatkan tiket di hari pertama pemutaran, berhasil menemukannya hanya di sebuah bioskop tua dengan toilet berlampu berdengung di sudut Singapura, karena bioskop top sudah fully booked dari dua minggu sebelumnya. Gue melihat seluruh bioskop juga muncul dengan wajah penuh harap, dan berkata pada diri sendiri, Kayaknya oke nih!

 

Dua jam 32 menit berlalu. Dan gue melihat bioskop kini dipenuhi oleh wajah orang-orang yang lemas dan bingung. Bukan lemas karena habis begitu tegang nonton. Bingung bukan karena sedang memikirkan arti film yang dalam. Tapi semacam lemas karena ngantuk dan bingung hilang arah, tak mengerti, tak menikmati.

 

Tapi begitu keesokan harinya film tersebut dibahas di koran nasional, cuma ada sanjungan dan pujian. Film ini ga seperti film superhero dangkal pada umumnya. Karakter Batmannya dapet banget. Jokernya bikin gue ga bisa tidur. Efeknya ga murahan.... Dan segenap dukungan lain, baik dari insan film maupun bukan, yang sudah nonton maupun belum. Bahkan orang-orang dalam bioskop yang berwajah bingung tadi kini berbalik mendukung film tersebut.

 

Ini adalah pertama kalinya selera gue bertentangan dengan selera pasar. Sungguhlah gue orang yang mudah dibodoh-bodohi. Gue suka semua film box-office. Gemar menyanyi-nyanyi lagu-lagu top 40. Nekad bolos pramuka saat ABG supaya tidak ketinggalan MTV Asia Hit List.

 

Sebagai bagian dari masyarakat banyak dan umum ini, gue selalu percaya bahwa lagu, film, mode disebut bagus karena memang semua orang menyukainya dan dilegitimasi oleh mereka yang memang ‘ahli’ pada bidangnya. Barulah di saat gue harus melawan opini massa, timbul pertanyaan, memangnya siapa yang punya hak untuk  menentukan sebuah hasil kebudayaan sebagai bagus dan tidak, buat gue?

 

Tentunya ada orang film senior, sutradara ngetop dan ahli sinematografis yang mendasarkan pendapatnya atas pengetahuan yang didapat dari pengalaman yang mendalam. Kolom review mereka, cuplikan pendapat mereka atas sebuah film,  pastinya merupakan sebuah sumber pembentuk opini yang valid.

 

Tapi para tokoh film yang sangat gue hormati itu hanyalah beberapa persen dari materi pembentuk selera gue dan kebanyakan orang lain. Dari sebuah ide tercetus di kepala hingga dikonsumsi masyakarat, hingga direview hingga direproduksi, ada banyak ‘penjaga gawang’ lain yang terlibat.

 

Pekerja film menentukan ide yang ingin dibuat film. Penyandang dana memilih film yang ingin disponsori. Organisasi media menentukan film yang tayang, yang direview, yang didukung dan tidak. Kekuatan iklan plus promosi menentukan jangkauan film dan bagaimana orang menerimanya.

 

Serta pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu sehingga ketika sampai ke gue, budaya pop bukanlah sesuatu yang objektif. Ada berbagai kepentingan dan cara pandang serta definisi pengetahuan subjektif yang diselipkan dalam setiap produknya.

 

Tapi saat itu, gue tidak pernah mempertanyakan keabsahan penilaian sistem ini. Dan jadilah film yang ‘kata orang’ bagus menjadi bagus. Biarpun gue ga tahu siapa ‘orang’ yang berkata demikian, atau yang pertama menyebutnya sebagai bagus. Biarpun gue lupa bertanya kenapa disebut bagus. Biarpun biar gue sudah membaca resensinya dan mereka bilang film itu bagus karena lightingnya keren, gue pun tidak pernah belajar lighting untuk memahami lighting yang bagus. Pokoknya kelihatan bagus.

 

Begitu juga jika ditanya apakah film Batman bagus, gue akan menjawab iya, karena semua bilang bagus. Bahkan meskipun menurut gue alurnya lambat. Bahkan meskipun menurut gue banyak latar belakang yang bertele-tele dan tidak diperlukan. Bahkan meskipun menurut gue fokus film jadi kurang berasa dengan kemunculan dua antagonis sekaligus. Bahkan meskipun menurut gue Heath Ledger main bagus tapi ga akan menang Oscar kalau tidak secara posthumous. Bahkan meskipun gue hampir tertidur saat nonton.

 

Sebaliknya teman gue yang nge-fans Batman-pun tak bisa secara pasti menjelaskan mengapa menurutnya Batman bagus.

“Batman bagusnya dimana sih?”

“Hmm..Jokernya keren.”

“Iya, kerennya dimana?”

“Yaa..aktingnya keren aja,”

“Coba, bagian mana yang paling keren?”

“HEATH LEDGER MATI GARA-GARA JADI JOKER TAU GA SIH LOE?!”

Secara rasional, meninggal, bukan jaminan film yang bagus. Lagipula masih jadi spekulasi apakah benar Heath meninggal karena terinspirasi Joker. Tapi teman gue begitu yakin pendapatnya masuk akal dan sah. Seolah-olah dalam dirinya telah terbentuk ingatan buatan yang melahirkan pemikiran, membentuk selera tertentu atas dasar rasio dan identitas yang jelas. Padahal mungkin identitas bukanlah hasil pemikiran pribadi, tapi pendapat media sosial sekitar yang kemudian diadopsi jadi opini pribadi.

 

Sebuah identitas dan pemikiran yang menjadikannya (dan gue) bagian dari kerumunan besar, mass culture.. Menjadi berbeda adalah salah dan tidak berpengetahuan. Makanya tak ada satu pun teman gue yang jika ditanya akan menjawab Batman jelek. Barulah jika gue buka kartu bahwa gue sebenarnya tidak mengerti makna dibalik film, beberapa akan ikut mengaku, sebenarnya gue juga kurang ngerti...

 

Padahal, seperti kata para filsuf postmodic yang sering meninggal tragis, tidak mungkin untuk memaksakan satu ideologi sebagai kebenaran dalam masyakarat. Lingkup sosial kita tersusun oleh berbagai jenis identitas dan karakter yang semuanya valid.

 

Setiap orang punya sistem nilai dan pola pikir yang berbeda, yang tidak bisa dieliminasi seenaknya hanya karena sebagian besar tidak berpikir sedemikian adanya. Maka sah-sah saja kalau gue bilang Batman jelek. Gue memang tak mampu menangkap makna film yang dalam itu!

 

Entah mengapa gue tiba-tiba berhasrat buka mulut sekarang. Bagaimanapun juga, di luar Batman, gue suka semua hal yang orang lain bilang bagus. Ibaratnya, biarpun top 40 selalu dikutuk-kutuk karena disebut sebagai hasil manipulasi perusahaan rekaman, mempersulit anak indie untuk didengar, danlainsebagainya, top 40 tetaplah top 40. Lagu-lagu di tangga top 40 tetaplah lagu yang enak dan paling digemari.

 

Kultur pop atau kultur massa atau low culture atau apapun orang menyebutnya ada dan akan selalu ada. Karena memang sesuai dengan selera kebanyakan orang. Atau karena memang mayoritas orang telah dibentuk seleranya sehingga selalu menyukainya.

 

Banyak orang yang suka Batman dengan alasan yang sah dan menyakinkan. Hanya saja, mungkin ada juga segelintir orang norak ga ngerti film seperti gue yang ga suka, ga sehati, dan ga bisa mengidentifikasikan diri dengan film yang dianggap bagus tersebut. Dan kami-pun adalah kisah-kisah yang sama aslinya sama benarnya dan sama bagusnya seperti film Batman.


Berapa kali seseorang bisa jatuh cinta dalam hidupnya?

 

Teman gue menjawab empat kali, karena dia bisa punya empat istri. Sex and the City dalam satu episodenya bilang dua, membuat khawatir tokoh utama, Carrie. Jika setiap wanita cuma akan bertemu dua orang pria yang berarti besar bagi hidup mereka, maka Carrie sudah  melewatkan dua kesempatan itu dan berarti harus menghabiskan sisa hidup dalam kesendirian. Dalam versi bioskop, Carrie akhirnya menikah dengan pria yang kedua.

 

Sedangkan cerpen Haruki Murakami, the Kidney Shapes Stone that Moves Everyday bilang tiga. Dan si tokoh utama sudah jatuh cinta sekali. Itu berarti dia harus berhati-hati dan irit perasaan dalam menggunakan dua kesempatan yang dipunya, padahal ia sedang merasa jatuh cinta lagi. Haruskah yang ini dihitung?

 

Mirip dengan yang terakhir, gue juga memilih jawaban tiga kali, seperti Nicole Kidman dan banyak orang lain. Tiga terkesan magis, seperti tiga permintaan, tiga pilihan, tiga saudara, thus, tiga cinta. Tapi akhir-akhir ini gue malah merasa cemas jika jumlah yang gue pilih itu terlalu sedikit.

 

Empat tahun yang lalu gue merasa telah jatuh cinta pada tiga orang pria, membuat gue sangat sedih karena tiga-tiganya terjadi di saat gue bahkan belum menginjak usia kepala dua. Tapi kemudian gue jatuh cinta lagi, sehingga gue akhirnya mulai membanding-bandingkan perasaan gue dan mengeliminasi pria kedua. Mungkin waktu itu gue tidak benar-benar jatuh cinta. Maka kembali genap sudah tiga kali gue jatuh cinta.

 

Setelah yang terakhir kandas, gue mulai merevisi lagi perasaan gue. Mungkin yang pertama kali gue rasakan bukan cinta, supaya gue masih punya satu kesempatan lagi. Tapi gue harus berhati-hati kali ini, karena cuma tersisa satu kesempatan.

 

Dua tahun berlalu dan entah karena terlalu waspada, entah karena memang kesempatannya sudah habis terpakai, diluar segala janji manis dan  malam-malam penuh bintang, memang belum pernah gue jatuh cinta lagi. Dan gue mempertanyakan apakah itu tandanya gue akan memulai hidup hampa cinta, di usia 23 tahun.

 

Manusia suka membuat teori-teori kecil guna menjelaskan hidup yang kompleks dalam bentuk angka yang sederhana, meski buntutnya teori kecil itu malah bikin perhitungan susah. Membuat klasifikasi ras, tapi akhirnya malah berantem sendiri. Membuat patok wilayah, malah rebutan bandara. Dan kini, membuat perhitungan teori cinta, yang malah membuat khawatir dan cemas saat merasakannya.

 

Atau mungkin bukan masalah jatuh hatinya yang harus dihitung, tapi dampak negatif yang seringkali mengikuti si jatuh cinta? Naksir-naksiran tentunya menyenangkan. Tapi semua stuju bahwa putus dan mencari yang lain bukanlah proses favorit kita semua...Bagi yang perempuan, akan cuma ada satu, jika bukan nol, cinta yang berakhir happily ever after. Berarti semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak juga kesempatan hancur digulung ombak selatan.

 

Itu mungkin jadi alasan mengapa tanpa sadar, teori-teori jatuh cinta Cuma beberapa kali itu muncul. Bukan karena takut kehabisan cinta, tapi takut kehabisan hati yang dipatah-patah...Sayang rasanya kalau perasaan itu kita sia-siakan untuk orang yang kurang berarti, atau yang sudah pasti bikin hati susah suatu hari nanti.

 

Seperti tulisan Murakami lainnya, cerpen the Kidney Shapes Stone that Moves Everyday punya alur yang gelap, absurd, magis, ngaco, yaitu lewat cerpen-dalam-cerpen tentang batu ginjal.

 

Batu berbentuk dan berukuran seperti ginjal yang akhirnya menjadi obsesi seorang dokter wanita. Batu ginjal yang terus bergerak dan berpindah tempat. Batu yang balik lagi...balik lagi ke hadapan sang dokter. Batu yang membuat sang dokter melupakan selingkuhannya. Batu yang memberi rutinitas baru baginya: menemukan dan mengembalikan si batu jadi penjaga kertas.

 

Sungguh aneh memang menceritakan cinta lewat batu ginjal. Tapi lewat contoh ekstrim ini gue jadi manggut-manggut dipaksa lebih bijak. Everything in the world has its reason to do what it does. Apa yang hal lain itu lakukan akan bersinggungan dengan hidup kita tanpa teori yang bisa dijelaskan..

 

Jika sudah waktunya seseorang singgah dalam hidup, maka muncullah sang orang baru tersebut di hadapan. Bahkan jika yang muncul adalah sebuah batu tak berperasaan yang ganggu dan terus eksis dalam jalur kehidupan meski diminta pergi.

 

Pergerakannya, suka tidak suka menggoncang hidup si perempuan dokter, betapa tidak rasionalnya, memberikannya rutinitas baru, obsesi baru. Tapi yang sebenarnya menggerakkan si batu adalah perasaan dalam sang perempuan. Caranya melihat dan memperhatikan batu serta perubahan yang ia lakukan, adalah sesuatu yang mungkin merupakan kehendaknya, dengan batu sebagai katalis. Dan semua itu tak bisa muncul jika perasaan sang dokter terbatasi.

 

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Ia mungkin memberi rasa tak nyaman, memberi obsesi baru, atau menjadi bagian dari rutinitas secara natural. Tapi seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri, justru tergantung dari kesanggupan kita menerimanya sebagai bagian dari hidup secara utuh.

 

Dan untuk menerima batu-batu baru, tidak akan pernah ada hitungannya. Menjadi takut untuk jatuh cinta adalah melawan takdir. Si batu akan muncul jika ia memang harus muncul.

 

Cerita-cerita Haruki Murakami, sebagaimana karya sastra yang dianggap ‘bagus’ oleh masyarakat, biasanya berakhir gantung, dengan pembaca jelata tertinggal bengong tak mampu menangkap makna dibalik buku. Tapi untungnya bicara soal tiga cinta, Murakami mengakhirinya dengan cara yang lebih literal.

 

Baginya, tak masalah dengan hitungan yang ada, yang penting adalah untuk selalu melihat setiap kesempatan yang datang sebagai yang terakhir, untuk memperjuangkan setiap cinta yang lewat  seperti tak ada kesempatan lain yang akan datang.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

One morning, the doctor notices that the dark kidney-shaped stone has disappeared from her desk. And she knows; it will not be coming back.—Haruki Murakami


Blog EntrySelamat Malam, Pak Polisi!Jul 14, '09 12:10 PM
for everyone

Bunderan maut, pk.21.00

Seorang polisi berdiri menghadang di depan mobil. Gue menghela napas panjang. Sekilas gue mengecek sabuk pengaman, jalur titik-titik di jalan dan lampu sen. Entah pasal berapa yang dikenakan malam ini.

                “Berdasarkan pasal sekian ayat sekian, UU Lalu Lintas, lampu mobil harus dinyalakan waktu malam,” sang polisi memberi tahu begitu gue meminggirkan mobil.

                “Nyala kok, pak! Lihat aja tuh, disini nyala!” gue menunjukkan speedometer yang menyala merah terang.

                “Turun dulu deh, lihat di luar itu nggak nyala,” si Polisi maksa.

                Apa lampu mobil gue mati? Jantung berdetak kencang, membayangkan 50ribu melayang terbang. “Nyala kok, Pak! Tuuu lihat, Bapak aja kali silau, lampu dari Grand Indo emang terang, Pak, jadinya lampu-lampu lain terlihat ga nyala!” gue berteriak nyaris kegirangan.

                “Tadi nggak nyala, kamu baru nyalain kan?” Pak Polisi menuduh.

                “Engga, pak, sumpah! Kalau saya baru nyalain, harusnya tadi kan lampu di dashboard ga nyala, tapi kan bapak liat sendiri, nyala. Kalau lampu saya mati sebelah, berarti pas saya turun tetep mati, tapi bapak kan liat sendiri, nyala!” gue beralibi.

                “Bapak kamu siapa?” suara pak polisi melunak. Aha!

                “Emangnya kenapa  bapak nanya2 ayah saya?” Gue bersikap tengil ala anak jendral.

                “Ya bapak kamu jabatannya apa?”

                “Ada lah, pak.” Gue tersenyum seolah menyimpan rahasia.

                “Ya sudah lain kali nyalakan lampu besar sekaligus.” Pak Polisi membiarkan gue pergi

Adu mental hari ini gue menangkan. Mungkin bersikap ngotot membuat gue terlihat sebagai anak pejabat yang belagu dan hobi petantang-petenteng. Padahal gue cuma pelit..aja...

Gue bukan satu-satunya orang yang pernah lolos ditilang. Sebagai bangsa pecinta damai, sudah bukan rahasia jika banyak yang lebih memilih jalur salaman jika ditilang. Tapi sesuai dengan semangat reformasi, warga Indonesia juga anti praktik KKN, menyebabkan kami berusaha untuk tidak menyogok.

 

Cara yang kami ambil sebagai jalan tengah berbeda-beda. Berdasarkan pengalaman pribadi, para rekanan dan handai taulan, ada tiga trik yang telah diuji keabsahannya. Dan trik-trik ini...TIDAK PERNAH GAGAL!

 

RAHASIA ANTI TILANG #1: Saya anak jendral!

Trik yang baru saja gue gunakan ini merupakan trik yang paling umum. Kadang dikombinasikan dengan pengakuan saudara atau penyelipan kartu nama pejabat kepolisian. Saat disetop, pasang tampang percaya diri, dan berbicaralah dengan suara lantang, nada sok, dan penuh keyakinan.

Skenario

                “Maaf bu, ibu melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”

                “YA SUDAH! YA SUDAH! KAU TILANGLAH AKU SEKARANG! AYO CEPAT! TILANG SAJA!”

                “Err...maaf bu, memangnya ibu..siapa ya?”

                “MACAM MANA PULA KAU TANYA-TANYA SIAPA AKU! KALAU KAU MAU TILANG, YA TILANGLAH SANA!”

                “Maaf bu, ibu kenal siapa?

                “MEMANGNYA KALAU AKU KENAL SIAPA-SIAPA KENAPA? HAH? MAU KAU TILANG LEBIH BESAR LAGI? HAH?”

                “Engga bu, lain kali hati-hati ya...”

Mengapa tak pernah gagal...Dalam teori psikologi, taktik ini ini berpangkal pada reverse psychology, dimana seseorang melakukan persuasi guna mengarahkan lawan bicara melakukan hal yang justru tidak diinginkan. Menyuruh pak polisi untuk menilang dengan lantang akan memicu reaktan dalam diri Pak Polisi, yaitu respon negatif saat menanggapi sebuah persuasi, sehingga bertindak justru kebalikan persuasi yang diberikan (melepaskan dan tidak menilang).

 

Teori psikologi ini sebenarnya berasal dari abad kuno Indonesia, dan dikenal dalam bahasa lokal sebagai teori gertak sambal, dimana seseorang mengambil peran yang mengisyaratkan kekuatan yang lebih besar dari yang sebenarnya dimiliki. Semakin banyak grey area, lawan bicara semakin ragu akan kemampuan kita sepenuhnya dan biasanya tidak berani mengambil risiko....

 

Karena seringnya digunakan, diperlukan kehati-hatian dalam melaksanakan trik ini. JANGAN BERBOH0NG adalah kunci sukses keberhasilan. Itu termasuk: jangan mengaku saudara jika bukan saudara dan jangan memberi nomor telpon yang tidak bisa dihubungi. Ingat, kegagalan dan gerak-gerik mencurigakan bisa berbuah tilang yang lebih berat!

 

RAHASIA ANTI TILANG #2: Saya lagi banyak masalah, Pak!

WASPADA! TRIK INI MEMBUTUHKAN LATIHAN AKTING! Tips ini sangat cocok bagi Anda para drama queen yang mempunyai kemampuan teaterikal. Begitu polisi menyetop, Anda harus segera mulai penjiwaan. Segera telengkupkan tangan, basahi mata dengan air mata buaya, dan tarik ulur ingus sehingga terdengar seperti menangis. Sepanjang interogasi, jaga kontak mata yang minim dengan Pak Polisi, gerakkan tangan menutup muka seperti sedang depresi.

Skenario

                “Maaf bu, ibu melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”

                “Aduh, teserah dhe, pak, bapak mau nilang saya apa gimana teserah dhe,”

                “Memangnya ibu kenapa?”

                “Aduh, ga usah nanya-nanya dhe, Pak, saya lagi banyak masalah nih!”

                “Masalah ibu apa?”
                “Pokoknya saya lagi banyak masalah! Makanya saya ga lihat tadi tuh lampu merah di depan, pikiran saya kusut! Jadi teserah deh kalau bapak mau nilang saya...” Diucapkan dengan nada frustasi dan diakhiri dengan suara lirih dan nada gantung.

                “Duh, ada yang bisa saya bantu kalau lagi ada masalah?”

                “Ga bisa! Bapak ga bisa bantu saya!” terkesan mau nangis, “Ga ada yang bisa bantu SAAYAA!” menangis histeris.

                “Ya uda dhe kalau ibu lagi banyak masalah, lain kali hati-hati ya...”

Mengapa tak pernah gagal... Karena orang jahat selalu menang, dan ini adalah teknik yang sangat jahat. Trik ini memanfaatkan sisi baik dari seorang Polisi. Manusia pada intinya mempunyai hati nurani yang dibimbing oleh nilai moral dalam lingkungan sosial. Tiada manusia yang lahir tanpa empati akan kesusahan manusia lain, bahkan meski hanya setitik. Apalagi seorang Polisi yang diharapkan menjadi pamong masyarakat.

 

Taktik ini memang masih jarang digunakan, mungkin karena membutuhkan penghayatan yang mendalam dan juga karena trik ini begitu mudah dikenali. Sekali dipakai, tentunya para polisi akan selalu terkenang-kenang. Ibaratnya sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Bisa-bisa bagian scenario tadi bisa dipotong menjadi:

                “Ahhh!! Udah! Udah! Ga usah pura-pura! Kemarin uda ada yang pake tuh! Ibu-ibu!”

 

RAHASIA ANTI TILANG #3: Saya mahasiswa hukum, lho!

Jika Anda bukan mahasiswa hukum, tidak perlu jadi ragu karena membaca judulnya. Memang tidak perlu kuliah hukum sejati untuk menggunakan trik ini. Cukup kemampuan persuasi dan kegigihan mempertahankan kasus macamnya pengacara artis.

Skenario:

                “Mbak melanggar pasal sekian karena sekian-sekian”

                “Aduh, maaf, Pak, soalnya rambu-nya nggak kelihatan, ketutupan pohon tuu...lagian saya itu baru pertama kali lewat sini, jadi saya kurang paham sama jalanannya...”

                “Ya tapi nggak bisa gitu dong, Mbak tetap melanggar dan harus ditilang”

                “Wah, nggak bisa langsung ditilang gitu, pak! Kan saya sudah bilang tadi alasannya, rambunya tidak kelihatan karena ketutupan pohon, jadi sebenarnya kesalahan bukan di pihak saya. Saya ini mahasiswa hukum lho, pak! Masyarakat sadar hukum! Saya tahu benar pasal-pasal dan penerapannya, bahwa kalau pelanggaran karena rambu yang tidak jelas, tidak bisa dikenakan sanksi!”

                “Memang aturannya seperti itu kok, melanggar ya kena sanksi!”

“Nahh, itu dia, apalagi saya tadi sudah minta maaf karena pertama kali lewat. Saya ini mahasiswa hukum, Pak, jadi saya tahu aturan persidangan. Saya jelas tidak bersalah karena saya tidak diinformasikan sebelumnya bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Rambu tidak jelas. Saya pertama lewat. Siapa yang bisa memberi tahu saya?”

“Justru ini saya stop dan saya beritahu, Mbak melanggar!”

“Benar sekali, terimakasih, Pak, tugas seorang polisi memang untuk membimbing anggota masyarakatnya agar patuh peraturan. Karena itu sekarang saya jadi tahu disini ga bole belok, dan lain kali tidak melanggar.”

“Tapi yang ini tetap ditilang!”

“Wah, saya yakin bapakpun sebagai penegak hukum juga belajar hukum seperti saya di fakultas hukum. Pelanggaran kali ini tidak kena tilang, pak, tapi berikutnya jika saya melanggar lagi, saya harus ditilang. “

“Ya sudah ngomong sana di sidang tilang!”

“Sekali lagi pak, saya ini sudah hampir lulus dari fakultas hukum, berarti saya menguasai materi hukum! Coba bapak liat klo ga percaya, ini kartu mahasiswa saya, FAKULTAS HUKUM angkatan tahun ini lulus. Menurut yang saya pelajari, tidak semua pelanggaran harus masuk tahap persidangan, jika sudah diberikan alasan yang valid atas pelanggaran. Saya sudah memberikan alasan saya. Saya bahkan tidak menyalahkan aparat yang meletakkan rambu di tempat yang tidak terlihat.”

“Ya sudah sana pergi!”

Mengapa tak pernah gagal... tidak ada teori psikologi di balik tips ini, kecuali pemahaman bahwa kejiwaan manusia bisa terganggu kalau mendengar suara yang memekakan telinga terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Polisi pun juga manusia, yang bisa gila mendengar rentetan alibi tak henti oleh suara yang tak enak didengar.

 

Tentunya tips-tips tersebut tidak bermaksud menghina lembaga kepolisian. Gue pun pernah menikmati buah reformasi birokrasi saat mengurus SIM, surat tabrakan dan ditilang. Ramah-cepat-tidak mahal. Justru semua tips ini ditulis atas rasa bersalah gue, supaya pihak berwenang dapat menghindari orang-orang yang suka ngemplang tilang. Ada lagi yang mau membantu upaya penegakan hukum?


Blog EntryArjuna Mencari Cinta di InternetJul 5, '09 4:50 AM
for everyone

Sebuah pembicaraan di MSN Messenger...

Nudge!

“Oi, kacang!”

“Duh, sorry-sorry, gue lagi ribet bgt nih.”

“You know, Margie, I feel I’m not being prioritised anymore.”

“Yee..loe siapa! Lagian gue dari tadi online kagak ditegor! Kemana aje loe?”

“Gue juga baru bangun nih,”

“Ya uda, gue makan dulu ya..”

“Oh, kk..”

 

Pembicaraan lain...

Nudge!

“Oi! Loe mau nolongin gue ga sih?”

“Nolongin apaan?!”

“Dari tadi gue ngetik sampe dower-dower bukannya ditanggepin!”

“Ngetik aja pake dower! Gue ga trima message apa-apa!”

“Masa sih? Apa messenger gue yang error ya?”

 

Sudah lebih dari setengah tahun ini gue dan sahabat gue, Oknum R menjalani LDF, alias Long Distance Friendship. Untungnya kami cuma berteman. Kalau pacaran, gue yakin kita sudah putus dari jauh-jauh ari. Begitu banyaknya kesalahpahaman, bahasa yang tak tersampaikan secara verbal, maupun kegagalan teknis pihak speedy, messenger dan blackberry.

 

Gue boleh saja mengaku sebagai bagian dari generasi internet. Sebagian besar masa muda gue lewatkan di depan laptop. Sepanjang hari setelah bangun tidur gue disibukkan dengan semua yang berbau E: e-banking, e-learning, e-mail...Waktu luang dihabiskan dengan browsing-browsing, menjaga relasi lewat facebook, blog dan MSN messenger.

 

Bisa dibilang, separuh nafasku dibuat dari kilatan cahaya yang melintasi kabel fibre optic itu. Internet adalah sumber informasi pertama dan utama gue. Internet jualah yang menghubungkan gue dengan sahabat-sahabat terdekat gue ketika berada lintas negara.

 

TAPI kalau sudah menyangkut masalah asmara...bisakah arjuna menemukan cinta di internet? apakah manusia bisa jatuh cinta hanya lewat ketikan tangan seseorang?

 

Harus gue akui, lewat rentetan huruf calibri ukuran 11 yang membentuk kata-kata, gue dan Oknum R jadi semakin mengenal dan merasa klop jadi sohib. Hubungan lewat internet memang telah memangkas jarak dan perbedaan di antara kedua insan dan menjadikan kita dekat bak soulmate.


Dengan catatan, hubungan tersebut tumbuh dan berkembang secara offline dulu baru dibina secara online. Gue dan Oknum R sudah berbagi nasib selama setahun sebelum gue kembali ke Jakarta, membuat acara rutin berjudul Bashing Singapore setiap malamnya. Gue ga yakin jika prosesnya dibalik, kami kenalan lewat facebook lalu kopi darat, keadaannya akan sama.

 

Tentunya speed internet sekarang mencapai 100Mbps. Tentunya ada webcam, emoticons berbentuk muka yang membuat komunikasi via internet semakin real time dan semakin nyata. Tapi tak bisa dipungkiri, internet tetaplah disebut dunia maya, bukan dunia nyata.

 

Se-‘langsung’ apapun, komunikasi via internet tetaplah komunikasi tak langsung yang kekurangan nilai bahasa non-verbal dan spontanitas. Webcam jarang bisa merekam bahasa tubuh secara keseluruhan. Emoticons bisa jadi bukan ekspresi asli dan jujur dari seseorang.

 

Juga, se-real time apapun chatting, tetaplah ada jeda beberapa detik sebelum sebuah pendapat terbaca di layar computer di belahan bumi lain.  Apa yang dipikirkan, belum tentu apa yang diketikkan. Atau jika memang yang dipikirkan menjadi apa yang diketikkan, masih ada tombol <backspace> untuk menghapus pandangan awal, menggantinya dengan pandangan yang palsu, sebelum menekan tombol <enter>.

 

Seseorang bisa menjadi siapa saja sesuai dengan pencitraan yang diinginkan. Gue tidak perlu menjadi dugemer untuk menjadi Anak Gaoel di internet. Gue cukup menulis hal-hal yang berbau kegaoelan. Lawan bicara gue ga bakal menangkap ekspresi non verbal gue yang silau melihat lampu disko atau kemelongooan gue mendengar label miras. Gue cukup membuka internet explorer, meng-google, dan mengetik dengan penuh percaya diri...

 

Jika gue seorang pemarah dan membosankan sekalipun, gue bisa menjadi fun and fearless female...Seandainya sifat buruk itu keluar, gue akan melampiaskannya, <belum di-enter> lalu men-delete semua itu lalu menggantinya dengan kalimat-kalimat yang fun and fearless. <enter>.

 

Lebih parah lagi, tidak seperti tulisan tangan yang masih bisa menyiratkan kepribadian, tulisan komputer berbentuk sama sederajat. Satu-satunya cara untuk mengenal sifat adalah melalui apa yang ditulis, yang mana seperti yang telah dibahas, hal tersebut bisa direncanakan secara sadar dan terarah. Kecuali jika pilihan font dan ukuran bisa menyiratkan kepribadian seseorang.

 

Dan tambahan, alasan mengapa kedekatan gue dan Oknum R itu tidak bisa dijadikan contoh sukses hubungan via internet adalah karena kami cuma SAHABATAN bukan BERKASIH-KASIHAN. Tentunya dalam hal persahabatan kondisi fisik bukanlah hal yang masuk perhitungan.

 

Kata orang, di masa (dan usia) sekarang ini, fisik itu kurang penting, yang penting cocok. Coba lihat film You’ve Got Mail, bertemu muka, mereka ciong, tapi lewat internet mereka klop banget, dan akhirnya hidup di dunia nyata bahagia selamanya. Makanya mencari kekasih lewat internet itu baik karena konsentrasi hanya pada kecocokan semata.

 

Ya iya lahhh, gue juga ga nolak kalau ternyata pria dibalik layar berwujud Tom Hanks! Dalam film, masalah fisik tidak menjadi isu yang diperbincangkan. Kalau posisi Meg Ryan itu digantikan hanya oleh seorang Margie misalnya, belum tentu ceritanya berakhir bahagia!

 

Memang salah banget ya kalau kita masih memperhitungkan fisik dalam memilih pasangan? Kan ‘kecocokan fisik’ juga bagian dari paket ‘kecocokan’, bersama dengan ‘kecocokan pribadi’...

 

Sekali lagi, Facebook, webcam, foto digital bisa memberi gambaran fisik yang membuat dunia maya semakin nyata, tapi berkat software bernama PHOTOSHOP serta manipulasi digital, foto profile sering memberi harapan palsu.

 

Gue bisa saja jadi seorang perempuan berdarah jerman-cina-manado dengan tinggi badan 178 cm, lulusan Stanford, yang sedang meniti karier modelling di New York. Padahal kenyataan gue Cuma cina...aja, dengan tinggi badan kurang dari 165 cm, putus sekolah dan pengangguran.

 

Pastinya, di dunia ini selalu ada dua bagian, the rules dan the exceptions. Kalau katanya cinta bisa tumbuh in the unlikeliest places, kenapa tidak tumbuh di internet? Meski gue dan orang sekitar selalu gagal dan tak berminat mencoba memulai hubungan romantis melalui internet, ada aja orang yang menemukan belahan jiwa dari layar komputer.

 

Ada pria yang bisa begitu cocoknya dengan selingkuhan di Second Life hingga bercerai dengan istrinya. Ada juga yang ‘nikah siri’ dengan pacar online-nya, semuanya karena hubungan broadband memberikan makna yang lebih besar daripada kisah kasih jalur darat.

 

Meski sudah terpisah selama hampir setahun, dengan berat hati gue masih menyatakan Oknum R sebagai sahabat terdekat gue saat ini. Gue tahu hari ini Oknum R bangun jam berapa, makan apa, sedang stress apa. Oknum R juga khatam tentang ritme kerja gue dan gosip-gosip kantor yang gress.

 

Messenger memang mengizinkan kami berkomunikasi dengan frekuensi nyaris mencapai angka fantastis 10 jam sehari. Angka ini tentunya melampaui komunikasi gue dengan teman-teman di Jakarta yang paling cuma gue telpon atau ketemu seminggu sekali. Buktinya, justru saat Oknum R lagi di Jakarta seperti sekarang, gue malah tidak sempat bertemu sama sekali.

 

Tapi seberapapun nyatanya hubungan dunia maya, alangkah sayangnya, ohhhh..alangkah sayangnya jika apa yang terjalin secara online menghancurkan apa yang telah dibina secara offline.


Blog EntrySiapa loe?Jun 28, '09 10:11 AM
for everyone

Mulai minggu ini saya, Margareta Astaman akan menjadi guest blogger untuk blog milik Kompas, Kompasiana. Reaksi pembaca setelah sebaris kalimat barusan adalah: Siape loe?

Gue juga bertanya hal yang sama ketika menerima account blog baru tersebut. Gue tuh siapa sih, sambil berusaha menyusun kolom kecil berjudul 'About' di bagian atas. Gue yakin para tamu lain tidak ada yang kesulitan menyusun resume: Wakil presiden. Dokter terkenal. Blogger senior. Fotografer kenamaan. Politikus dan artis.

Sedangkan gue, identitasnya selalu diawali dengan kata BUKAN: Bukan artis, bukan fotografer professional, bukan dokter, bukan politikus...

Ini bukan pertama kalinya kesombongan gue menjerumuskan diri ke dalam golongan yang tak selayaknya gue menjadi anggota. Sebuah bagian resume yang jarang gue sebut adalah, pernah menjadi jurnalis dan editor untuk sebuah majalah rohani berskala nasional...Habisnya malu... tiap kali gue mengakuinya, pasti banyak yang jadi ketawa.

Gue bukanlah tipe Putri Sakristi. Tidak hafal kitab suci maupun lagu rohani. Gue cuma pernah ikut Sekolah Minggu satu hari Minggu, itupun karena diiming-imingi bingkisan Natal dari Gereja. Ketika mengaku dosa sibuk menganalisa panjang antrean dan sifat pastor supaya bisa cepat pulang. Ketika ada perdebatan Da Vinci Code yang menyatakan bahwa dalam lukisan Perjamuan Terakhir itu ada 13 murid, gue bertanya, “Emang jumlah murid Yesus berapa sih?”

Dan akibat kesombongan gue mengklaim jadi wakil kaum muda harapan Gereja yang sayangnya, bentuknya mayoritas seperti gue, tercemplunglah gue dalam situasi awkward beredar di Katedral, mewawancarai Ayu Utami tentang pergerakan jurnalisme Katolik, menulis kolom utama dan dibahas dalam khotbah para Pastor....

Kini, sekali lagi, gue harus membayar kesombongan gue. Kalau gue rendah hati, sudah bakal dari jauh-jauh hari menolak karena merasa tak layak bergaya bak penulis professional dan kini tak perlu memikirkan apa yang bisa disandingkan dengan tulisan para ‘ahli’ itu. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Janji adalah janji.

Tapi sekali lagi, karena sombong itulah gue sanggup menebalkan muka dan memenuhi janji. Gue yakin gue mewakili satu golongan yang merupakan kaum dan profesi yang paling penting. Kaum yang membuat roda perekonomian dan roda yang lain terus berputar. Yaitu kaum...kamu.

Yap, kalian yang iseng-iseng mau melihat apa sih yang ditulis orang-orang. Gue yang hobby utak atik blog karena sedang tidak terlalu sibuk menyelamatkan dunia. Gue dan kalian, (jangan tersinggung jika bukan, kan mayoritas, bukan semua...) yang tidak terlahir sebagai putra raja, atau istrinya putra raja atau rajanya. Gue yang terjebak dalam kehidupan serba biasa dengan segala rutinitasnya yang membosankan.

Gue sombong, bahwa hidup ga penting gue ini tetap penting. Dari setiap remeh kekurangsignifikansnya hidup ini tetap ada sesuatu yang bisa disoroti, dipahami dan dimakna. Bahwa jika gue tidak bisa belajar dari hal kecil ini, gue gak bakal dikasi hal besar untuk belajar. Lha yang kecil aja belom lulus!

Hidup macamnya buku cerita ukuran A0. Dalam tiap fase hidup, ada banyak drama yang terjadi. Tidak ada hidup seseorang yang begitu membosankannya sehingga habis dirangkum dalam sebuah buku. Hidup akan selalu memberikan inspirasi yang berbeda-beda, karena meski dalam satu pribadi, gue mengambil peran yang berbeda di tiap drama hidup.

Di satu fase, gue adalah remaja, dengan permasalahan percintaannya. Di masa yang sama, gue menjalani peran sebagai anak, dengan problematika keluarga. Sesaat kemudian dilematika politik kantor adalah yang paling menyerap perhatian. Dari tiga fase itu, sudah bisa dituangkan 3 buku, 3 album kompilasi atau 3 pagelaran busana.

Dan coba tebak...ternyata yang lahir sebagai manusia biasa itu jumlahnya lebih banyak daripada yang lahir jadi tenar. Pengalaman sebagai orang biasa akan beresonansi pada lebih banyak orang. Dan karena itu, Anda, yang lagi baca, dan tidak lagi menulis, adalah dari golongan yang lebih penting. Termasuk gue.

Berbekal kesombongan inilah gue akan menge-post tulisan pertama di lahan orang itu.  Sudah ada perwakilan berbagai profesi dan golongan di situ. Kalau mereka yang mengisi beberapa persen di dunia ini punya representative, sudah waktunya kita si manusia biasa bersuara. Yah, seengga-engga gue bersuara, memanfaatkan bandwidth...


Blog EntryInterviewe(d) by the PlayboysJun 22, '09 11:53 AM
for everyone

Kenapa sih gue masih tetep aja dibodoh-bodohi laki-laki?! Besok hari kerja dan ini sudah lepas tengah malam. Tapi gue malah terjebak untuk meladeni dua pria yang begitu bernafsu mencela sifat-sifat kaum wanita secara stereotipikal.

 

Gue sayang sama teman playboy gue, sungguh. Mereka suka membagi cerita yang membuat gue ternganga-nganga, sekaligus memperluas pengetahuan gue tentang perbedaan gadis Tunisia dan Hong Kong. Tapi terkadang mereka suka marah-marah...

“Loe juga tu, Gy! Selalu nulis hal-hal jelek tentang laki-laki!

                “Kapan sih gue pernah ngejelek-jelekin laki-laki...Gue cinta lagi sama cowo!”

                “Loe bahkan dulu pernah nulis tentang Playboy dan menggunakan gue sebagai contoh!”

“Ampun, Bang! Ga sengaja!”

“Gimana ga sengaja! Perempuan itu selalu ya, menyalahkan pihak pria, padahal kalau dilihat secara logis, sifat kalian itu yang justru membuat hubungan tidak langgeng!”

“Bener, perempuan kan pacaran sama laki-laki, jadi bukan cuma yang cowo harus memahami wanita, cewe juga harus mengerti dan bersikap seperti seorang pria dong! Menyesuaikan diri sama pasangan!”

Akhirnya, sebagai bentuk permintaan maaf sekaligus dalam usaha mencitrakan laki-laki sebagai makhluk indah yang patut dicintai, gue setuju mengikuti tes ujian “Apakah kamu sudah berpikir seperti laki-laki?” serta membiarkan blog ini disabotase untuk publikasi hasil tes tersebut.

 

Para pleibois ingin menggunakan kesempatan ini untuk memberi pemahaman lebih terhadap kaumnya, dan sifat-sifat yang perlu dimiliki untuk kelangsungan hubungan dengan kaum tersebut. Diharapkan para pembaca wanita juga ikut menjawab pertanyaan dibawah ini dengan jujur dan tidak mencontek.

 

Sifat dasar pria yang perlu dimiliki wanita #1: Kami hidup hari ini, bukan dua tahun lalu.

Pertanyaan penguji (Pilihan Ganda)

Jika kamu sedang marah sama pacarmu, kata-kata apa yang sering digunakan?

  1. Selalu
  2. Dulu/Dahulu
  3. Waktu itu/ ...yang lalu
  4. Ketiga di atas
  5. Kamu tidak pernah marah sama pacar

Jawaban Margie: Soal harus dianulir karena tidak ada jawabannya

Kunci jawaban: E. Tentunya kami akan sangat senang sekali jika kamu tidak perlu memakai perasaan dalam segala sesuatunya sehingga tidak perlu marah-marah. Tapi sekalipun kamu harus ngamuk, alangkah tepatnya jika kami dimarahi atas sesuatu yang terjadi SAAT INI.

 

Kadang yang terjadi adalah kisah-kisah dari jaman nenek-nenek keluar semua saat seorang wanita menunjukkan kekesalannya.

                “Kamu selaluuuuu aja ga setia!

                “Kapan aku pernah selingkuh?”

                Dulu! Tiga tahun yang lalu!”

Kembali ke sifat dasar pria yang perlu dimiliki wanita #3 di bawah nanti, gunakan logika. Apa yang terjadi di masa lalu tidak mempunyai korelasi dengan masa kini. Itu adalah dua kejadian TERPISAH! Lagipula, apa sih gunanya mengungkit yang sudah berlalu kecuali membuat hati pedih dan memberi onak dalam daging percintaan kita? Jadilah seperti Backtreetboys dalam lagu mereka: I don’t care who you are, what you did, where you from, as long as you love me.

 

Sifat dasar pria yang perlu dimiliki wanita #2: Kami tidak peduli detail, kami melihat gambaran besar, dan kami MELIHAT, bukan merasa

Pertanyaan penguji (benar atau salah)

  1. Benar atau salah: Jika pacarmu lupa meng-sms selamat tidur, berarti ia selingkuh
  2. Benar atau salah: Jika dalam inbox pacarmu ada sms “sayang, thanks for tonight, I really enjoy it, looking forward to meeting you again soon! Miss you...” dan sms itu bukan dari kamu, berarti ia selingkuh.

Jawaban Margie: 1. Belum tentu. 2. B

Kunci jawaban: 1. S. 2. B

Laki-laki tidak memperhatikan detail-detail kecil sehingga kehilangan kesimpulan yang benar. Kami mengambil kesimpulan secara keseluruhan, berdasarkan fakta yang ADA, bukan yang dirasa-rasa ada.

 

Sedangkan wanita, love to read between the line. But what’s so obviously written ON the line, is NOT read.  Seperti dalam ujian di atas tersebut. Jawaban sangat clear dan straightforward. Tidak ada grey area disini. Dalam pernyataan satu, tidak ada fakta perselingkuha, sehingga bisa disimpulkan sang pria hanyalah lupa. Tapi wanita bisa ngambek karena berusaha membaca hal-hal yang tidak kasat mata.

 

Dan ketika pernyataan dua muncul, yang jelas-jelas memberi fakta perselingkuhan, wanita pura-pura menghibur diri, berusaha berpikir positif dan mengukuhkan rasa percaya. Padahal sudah jelas, dengan membuat sms tersebut terbaca oleh kamu, kami sudah tidak ingin melanjutkan hubungan ini lagi. Bantulah kami. Kami pernah atau masih sayang kamu, dan kami manusia, jadi sulit kami akan memutuskanmu begitu saja tanpa perasaan. Jika kamu meninggalkan kami, tentunya akan lebih baik untuk perasaan moral kami, dan juga untuk harga diri kamu!

 

Sikap ini kembali lagi didasari sifat dasar pria yang perlu dimiliki wanita #3 lagi. Logika. Apa lupa sms = selingkuh? Apa duduk berdampingan dengan wanita lain = selingkuh? Apa pergi ke kota = ke panti pijat? Apa makanan manis = pakai gula? Dilihat dari kacamata objektif, dengan menggunakan fakta-fakta yang terpapar, tentunya tidak bisa diambil kesimpulan demikian.

 

Sifat dasar pria yang perlu dimiliki wanita #3: (Sifat utama yang mendasari sifat lain) Kami menggunakan logika, bukan perasaan

Pertanyaan penguji (essay, karena penting):

Ternyata mantan pacar kamu sudah menjadi politikus sukses yang sangat kaya, sehingga bisa punya pacar artis. Beliau tambah gaya dan membentuk pasangan serasi. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu kebetulan nonton mereka di infotainment?

Jawaban Margie: Ini kali kedua ya gue ditanya begitu! Dasar laki-laki! Merendahkan banget sih! So what klo mantan gue tenar? Kenapa bukan cewe-nya yang sukses duluan, terus punya pacar bintang sinetron, dan masuk TV duluan? Asal loe tau ya, gue dua minggu lalu juga uda masuk TV, untuk hal yang membanggakan! Dan gue juga udah salaman sama presiden, jauh sebelum semua mantan-mantan gue!

“Margie, jawaban loe melenceng; harap menjawab sesuai yang ditanya”

Jawaban Margie (revisi): Humpphh...ok, yang pasti rasa sedih itu ada ya, it could’ve been me! Tapi ya udah lah ya, maksudnya, kalau gue yang sekarang berdiri di samping dia, belum tentu dia bisa jadi sesukses dan setenar seperti dalam tv itu. Kan gue putus juga ada sebabnya, kalau dilanjutkan, biar masuk TV, belum tentu seneng. Jadi buat apa sedih klo ternyata hidup gue sekarang lebih baik? Gue paling bakal bilang ke orang sebelah gue, eh, gue dulu pernah pacaran sama dia lho! Terus ya uda, nonton siaran berikutnya, live goes on, we’re all moving on

 

Kunci jawaban: Inti yang kami cari dari jawaban ini adalah logika. Tindakan yang menggunakan perasaan cenderung menimbulkan aksi berlebih yang tidak menguntungkan, tidak juga masuk akal. Seperti dalam pertanyaan di atas. Jika jawaban berdasarkan perasaan, seorang wanita bisa sedih berlebihan, mengurung diri dalam kamar, terjebak dalam kenangan masa lalu, sehingga tidak mampu berkembang. Bahkan bisa menimbulkan kesulitan pihak pria ketika sang wanita berusaha merebut kembali apa yang telah hilang.

 

 Jawaban berdasarkan logika, akan memperhitungkan kondisi nyata dan untung/rugi tindakan. Jika bersedih dan putus asa, apakah keuntungan yang diraih? Lalu lihatlah keadaan yang ada sekarang, bahwa semua itu terjadi karena sebuah sebab, dan sebab itu punya alasan yang valid. Kenyataan, dia tidak peduli pada kamu, mengapa Kamu mau peduli akan orang yang tidak peduli lagi?

 

Hal ini bisa diterapkan dalam berbagai kasus, misalnya dalam peristiwa makan teman. Reaksi wajar berdasarkan perasaan adalah merasa marah dan membenci sesama wanita sekaligus tekad bulat merebut balik kekasih. Dalam kondisi ini,gunakan logika Anda. Anda sudah kehilangan pacar, apakah Anda mau kehilangan sahabat juga? Jika demikian, Anda rugi dua kali. Selain itu, berarti beliau adalah pacar yang buruk. Secara wajar, sebaiknya Anda bersyukur telah kehilangan pacar yang tidak setia. Justru seorang wanita yang bersikap tenang, tidak penuh benci dan tidak marah-marah, malah dapat menunjukkan kelasnya, mengokohkan wibawa di hadapan sahabat serta menciptakan rasa penghargaan di dada pria.

 

“Uda kelar kan ujiannya? Giliran gue nanya dong!”

“Ya boleh”

“Gue menjawab pertanyaan krusial dengan baik, bahkan bagian makan temen pun gue jawab dengan tuntas juga. Pertanyaan kedua gue dapat setengah benar, dan pertama tidak terlalu salah. Gue sudah bersikap laksana pria, tapi kenapa kalian ga ada yang jadi cowo gue?”

Hening

“Karena kalian tetep aja ga mau pacaran sama cowo! Kalian mencari cewe, dengan segala sifat yang belum tercakup lewat kuis tadi! Udah, anterin gue pulang sekarang!”

Tetap hening.

Dan Margie berhasil meraih tampuk kepemilikan dalam blog di akhir posting.


Blog EntryTakut MiskinJun 4, '09 10:50 AM
for everyone

Pernah mendengar penyakit ‘alergi udara’?

 

Gue pernah. Atau tepatnya, gue pernah mengalaminya sendiri. Sesaat setelah kembali ke Singapur dari liburan di Jakarta, sekujur tangan dan kaki gue gatal-gatal. Bentol kecil-kecil ini semakin parah ketika gue pergi ke kampus dan hilang saat baru bangun tidur.

 

Gue menganggapnya sebagai tanda stress karena ketidakbahagiaan hidup si Singapura. Tapi bentol ini tetap muncul saat gue sedang belanja dan malah hilang saat sedang mengurung diri di kamar ngerjain tugas. Anehnya lagi,  rasa gatal bisa menyebar ke bagian pinggang dan perut saat lagi pake baju ngatung.

 

Setelah seminggu diregayangi penyakit kulit aneh ini, gue akhirnya ke klinik kampus dan divonis: gue mengidap alergi udara. Saat gue bilang gue tidak pernah mengalaminya pas di Indo, dokter menjelaskan lagi, gue alergi udara Singapura.

 

Gue harus mengurangi kontak dengan udara luar dengan cara menutup jendela kamar hingga tak ada udara luar yang masuk, mengurangi bepergian keluar, atau kalau memang terpaksa, menggunakan baju serba tertutup, jarang pulang ke Jakarta, sampai tubuh gue bisa beradaptasi dengan udara Singapura.

 

Jika ada hikmah yang bisa diambil, gue berhasil mengungkapkan betapa gue membenci Singapura. Kulit gue saja berontak di negeri Singa. Tidak berlebihan jika gue mengatakan: I’m allergic to Singapore.

 

Gue benci Singapura. Gue benci akomodasi sempit berharga selangit. Benci setiap surat peringatan plus denda dari Ministry of Foreign Affairs yang membatasi tiap kebebasan berpendapat. Benci guru dan murid dan kolega dan pembersih dan tukang jual makanan dan supir taksi yang jutek berat. Benci cowo-cowonya yang jelek dan ga jantan. Benci semuanya.

 

Setelah bebas setahun lalu, tidak pernah terpikir gue akan berkata dengan penuh kesadaran: “I’m coming back to Singapore”.

 

But i did say that.

 

Perusahaan menyebutnya ‘promotion’. Gaji dilipatgandakan, Permanent Residency diurus, tanggung jawab lebih luas, ada kesempatan menuju jenjang karier yang lebih tinggi karena gue berada di head quarter South East Asia. Keamanan kerja lebih terjamin.

 

Jika ‘promosi’ ini dilewatkan, berarti kehilangan, bukan cuma kesempatannya, tapi juga pekerjaannya. Banyak orang memberi ucapan Selamat dan Sukses; berapa orang yang ingin jadi staff regional? Tapi gue tak bisa berhenti menangis saat menyampaikan lima kata itu pada orang tua gue.

 

Bokap gue menanggapinya ringan.

“Ya udah, berhenti aja.”

“Hah? Terus hidup sehari-hari pakai apa? Mana jarang nabung, mana... “

“Jangan takut miskin, takutlah untuk tidak merasa bahagia.” Bokap tetap santai.

“Tapi kalau ga dapet kerja lagi selamanya gimana? Jaman krisis gini siapa yang tahu?”
“Kamu percaya ga sama diri sendiri? Percaya ga bahwa kamu punya kemampuan? Kalau kamu percaya, lakukan apa yang kamu suka dan kamu mampu, bahkan jika sekarang kamu melakukannya tanpa bayaran, suatu hari nanti kamu PASTI berhasil. Anak muda kok takut miskin...”

 

Gue berhenti nangis. Bokap gue? Yang mengabdikan dirinya pada sebuah perusahaan selama puluhan tahun? Yang menganjurkan gue bergabung dengan perusahaan multinasional dan menolak pekerjaan jurnalisme idealis? Justru menganjurkan gue jadi pengangguran anti kemapanan?!

 

Tiba-tiba keputusan pindah ke Singapura tidak terdengar sebaik itu bagi gue. Inilah keputusan yang dilandasi ketakutan. Karena gue takut kehilangan pekerjaan, karena gue takut tak punya penghasilan saat bokap pensiun, karena gue takut karir mandek. Pendeknya, karena takut miskin. Tapi tak terpikirkan, dalam usaha gue mencegah kemiskinan yang belum pasti terjadi, gue sudah pasti mengorbankan perasaan gue sendiri.

 

Gue teringat saat dalam sebuah kelas, 20 calon jurnalis Singapura yang semuanya telah punya pengalaman menulis di media internasional disurvey tentang bagaimana bayangan mereka terhadap dunia kerja.

 

Sebagian besar merasa punya mimpi dan potensi jadi jurnalis kenamaan, namun memutuskan untuk tidak akan pernah mengejar cita-cita itu atas nama realita dan harapan orang tua. Mereka tak akan bahagia dengan pilihan hidup mereka, tapi mereka harus realistis, mencari pekerjaan yang paling menguntungkan secara ekonomi.

 

Sebagian besar akan mengkompromi kode etik, mengorbankan pembaca, menulis advertorial membosankan tentang produk fitnes jika diminta oleh perusahaan, karena takut kehilangan pekerjaan dan tak mampu mendapatkan yang lebih baik.

 

Profesor gue menjerit frustasi saat itu. Bagaimana mungkin orang-orang semuda kami, dengan potensi seluas itu, bisa punya ketakutan sebesar itu. Jika bukan kalian yang menjadi idealis, mengejar mimpi dan membela yang benar, lalu siapa? Dan jika tidak sekarang, saat masih muda belia tanpa beban, lalu kapan? Apa yang salah dalam sistem? Tanyanya sedih.

 

Sebagai anggota si ‘sebagian kecil’, gue menghina pilihan si ‘sebagian besar’. Gue kasihan dengan mereka yang lahir dalam sistem meritokrasi yang terlalu efektif, di tengah masyarakat yang tidak memaafkan. Kesalahan dalam memilih atau bertindak mempunyai konsekuensi yang terlalu besar, sehingga setiap individu tidak sanggup mengambil risiko, seberapa kecilnya itu. Kebahagiaan bukan hal utama, yang terpenting adalah keamanan ekonomi.

 

Jika gue kembali ke Singapura, gue akan menjadi sama seperti teman sekelas gue. Menjadi produk dari sistem yang gue selalu cela dan sangat gue benci itu. Orang yang hidup dalam ketakutan secara konstan sampai tak sempat memikirkan cara untuk jadi senang.

 

So, yeah, gue menyatakan pengunduran diri gue. Kali ini, gue tidak ingin menghina rekan sekelas gue dulu. Gue bukan seseorang yang idealis dan ksatria dengan keputusan yang gue ambil. Sebaliknya, gue adalah seorang pengecut. Seseorang yang tidak berani keluar dari comfort zone-nya. Anak manja yang takut menderita demi masa depan yang lebih baik. Orang yang terpaksa mengambil keputusan berisiko.

 

Lalu...tiba tiba...dua hari yang lalu bos gue memutuskan gue boleh tetap berdomisili di Indonesia. Gue melongo sambil bersungut, kalau begitu kan tak diperlukan drama satu minggu dimana pengangguran dan promosi seperti dua sisi koin yang menempel ini.

 

Tapi dalam hati gue bersyukur juga. Gue jadi berkesempatan memikiran yang sebenernya gue cari. Apa yang gue impikan memang kelewat sederhana. Gue sudah menetapkan kembali ke Jakarta sebagai tujuan hidup sejak hari pertama gue di Singapura. Mimpi gue adalah untuk jadi bagian dari tempat dimana gue merasa nyaman, dan bahagia disitu.

 

Gue juga terpaksa mengukur lagi prioritas hidup gue. Gue pengen kaya, pengen jaga gengsi, pengen keren. Bisa tinggal di Jakarta dan jadi kaya, itu lebih baik lagi. Tapi jika diprioritaskan, gue mau senang dulu, baru kaya.

 

Dan ternyata gue mendapat imbalan atas ke-ngotot-an gue untuk jadi hepi. Seandainya...seandainya...gue takut miskin, mungkin sekarang gue sedang digulung baju selam dan mengurung diri dalam rumah susun tak berjendela, berusaha membiasakan diri dengan udara Singapura...


Blog EntryNgancem (Perang Mantan)May 26, '09 11:30 AM
for everyone

“Gy! Masa mantan gue uda punya cewe baru lagi! Gue disalip!”

“Oh ya? Kurang ajar! Loe keki dong?”

“Iya lah! Dia bilang dia sayang sama gue, dia bilang dia ga bisa ngelupain gue!”

“BAHH! Dasar cowok! Sok-sok sakit hati! Sok-sok ga bisa move on, tapi begitu ditinggal langsung tancep gas!”

 “Bagus, gy! Loe bantu gue menjelek-jelekkan dia! “

“Jangan khawatir! Kalau urusan ngejelek-jelekkin orang, GUE AHLINYA!”

“Mana sekarang CENTILLL banget lagi! Pake foto-foto close-up semua! Pantesan gue di-delete dari facebooknya dia!”

“CARIII anaknya!”

“Awas dia brani ngelawan gue!”

“Beuuhh! Kalau dia brani nyolek eloe, kita colek bibirnya pake strikaan! Biar nyaho!”

Pada saat gue berbicara dengan teman gue ini, gue menyadari, beliau adalah contoh konkret mantan pacar yang baik. Beginilah seharusnya seorang mantan bersikap. Sewot. Galak. Tersaingi. Penuh dendam. Marah-marah. Dan berbahaya...

Awalnya gue adalah pecinta damai dalam kasus permantanan. Gue menerapkan prinsip hormat menghormati saling menghargai pada para mantan pacar, pacar lama pacar baru, maupun pacar baru pacar lama. Dari lubuk hati yang terdalam, memang tidak pernah ada niat untuk menguntit kekasih yang telah berlalu, atau mengusik bahtera yang baru dibangun. Simply karena gue pemalas.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bukan damailah yang mendatangi hidup gue, melainkan para pacar baru mantan pacar, yang meski tak kenal akrab tiba-tiba muncul sebagai BEST FRIEND FOREVER, lengkap dengan segala detail kehidupannya yang kurang signifikan bagi hidup gue (orangnya saja kurang signifikan), yang disajikan dengan nada pamer dan menjatuhkan lawan bicara (yaitu: gue).

Berusaha tetap menjaga perdamaian diantara bangsa-bangsa, gue berpikir positif bahwa hanyalah sebuah kebetulan jika sang pacar baru memiliki krisis kepercayaan diri hingga merasa terancam oleh seseorang yang tidak mengancam.

Tapi ketika hal ini diulangi oleh pacar baru mantan pacar dari masa yang lebih purba lagi, barulah gue menyadari, benar kata Hobbes, manusia memang homo homini lupus; serigala bagi manusia yang lainnya. Pilihannya adalah memakan atau dimakan. Dan dalam hubungan antara pacar baru-mantan pacar, sangat banyak alasan untuk saling merasa insecure dan menyerang lebih awal untuk mengamankan posisi.

Sifat gue yang berdiam diri malah dianggap sebagai sifat kalah dan menyerah, yang kemudian dimanfaatkan oleh para pacar baru mantan pacar gue sebagai alat untuk meningkatkan ego dan kepercayaan diri dengan menindas, mencela-cela dan meneror gue.

Hal ini tak akan terjadi jika gue sejak awal telah bersikap sebagai mantan pacar yang diharapkan di dalam masyarakat. Teman gue tadi tidak bakalan diancam balik oleh si pacar baru yang centil. Konsentrasinya pasti terpecah untuk aksi menyelamatkan diri!

The best defense is offence. Berangkat dari kepercayaan ini, gue membuat daftar tips menjadi mantan yang baik, yang tentunya akan segera gue praktekkan:

  1. Ikut kursus golf meski tak berbakat olahraga HANYA karena mantan pacar hobi golf, bergabung di tempat fitness yang sama meski keanggotaan masi untuk setahun, pindah kantor ke gedung yang sama meski harus turun pangkat, berteman akrab dengan ibu, saudara perempuan dan para sepupu. Pokoknya gue akan muncul dalam setiap aspek kehidupan kalian, mencari setiap kesempatan berkompetisi secara sah maupun tak sah.
  2. Menyiapkan hadiah-hadiah mungil setiap minggunya, seperti:
    1. Puisi dan lirik lagu (yang dinyanyikan dengan iringan gitar di muka rumah) dengan bagian refrain semacam: Kau renggut dia dari diriku, kau campakkan segala kenangan dalam benaknya, apa sebaiknya kurebut kembali dia dari dirimu? Agar hancur segala hatimu seperti aku dulu...ya ya..seperti aku dulu  *cengkok Melayu ala ST 12 atau mellow ala D’Masiv*
    2. Bom Molotov ukuran tangan atau jam weker dengan kartu berucapkan: It’s time to return back what’s mine.
    3. Seperangkat pisau. (sudah jelas)
  3. Menuliskan dalam blog yang dibaca umum tentang Kode Etik Permantanan, dan mewajibkan setiap pacar baru menggunakannya sebagai acuan dalam bertindak. Kelalaian dalam memahami kami, para mantan, dari etika ini akan berbuntut terjadinya pasal satu dan dua (tersebut di atas).  Yaitu bahwa kami:

1.       Tidak, kami tidak ingat ultah mantan pacar kami. Gue bahkan sering lupa tanggal lahir temen baik gue sejak SD. Gimana gue harus mengingat hari ulang tahun the insignificant others? Jadi kalau ada kartu ucapan, sms, telpon, e-card, surat cinta dan sejenisnya, itu bukan dari gue. Juga bukan dari orang tua maupun sodara gue. Percayalah mereka tidak segemar itu pada pacar kalian saat ini. Sangat dihargai jika berlandaskan asas ini tidak perlu cemburu dan marah-marah.

2.       Tidak, kami tidak ingin tahu kamu pake mobil apa, atau tentang straight A yang didapatkan semester lalu, atau besarnya gaji dan jabatan saat ini. Kecuali kami dibagi gajinya dan diajak naik mobilnya, maka sebaiknya kami tidak perlu diberitahu secara khusus. Kalau ingin bersaing, marilah kita ciptakan takaran yang bisa diukur, misalnya dengan bersekolah di tempat dan kelas yang sama, lalu dilihat siapa yang ranking satu. Atau bisa juga mengambil tes bertaraf internasional seperti IELTS atau TOEFL. But then again, bukan gue yang punya keraguan terhadap diri sendiri sehingga harus membandingkan dan mencela orang lain. Kenapa kami harus meladeni kamu?

3.   Kami memang diajarkan untuk tidak membeda-bedakan dalam mencari teman, tapi berdasarkan kode etik yang lain, yaitu Aturan Pertemanan, hendaknya dalam mencari teman dilandasi rasa saling percaya dan nyaman, bukan oleh kesamaan mantan pacar. Jadi jika kami tidak mau jadi teman kalian di Facebook, atau tidak merespon tegur sapa di dunia maya, tidak perlu tersinggung tidak perlu maksa, kami hanya sekadar tidak bisa menemukan kecocokan diantara kita...

4.       Dipikir-pikir lagi, pacar baru kalian BUKAN mantan pacar kami. Dan kami juga bukan mantan pacar satu-satunya. Saran gue, carilah mantan pacar yang lain, yang lebih cantik, kaya, dan berkepribadian luhur. Mungkin akan lebih menantang untuk bersaing dengan beliau. Intinya, jangan colek kami!

Jadi...pilih yang mana? (dengan nada mengancam)


Blog EntryMengingat IndonesiaMay 18, '09 11:45 AM
for everyone

Ingat Candi Singosari, Jago, dan Kidal yang salah satunya kini berdiri canggung di tengah perumahan bak gapura 17 Agustus-an? Atau masih ingat bahwa selain Tanah Lot di Bali, masih ada pantai lain yang punya pura di tengah laut?

 

Jujur, kalau gue: tidak. Dan perjalanan gue ke Malang kemarin membuat gue merasa khawatir dengan jawaban gue itu.

 

Kerajaan Singosari merupakan kerajaan termasyur di masa Hindu Jawa Timur, yang melahirkan generasi raja-raja Jawa, termasuk dalam Kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara, Majapahit. Tapi selain Candi Singosari, peninggalan yang lain macamnya tak pernah eksis.

 

Pamor Taman Tirta, kolam pemandian ratu Singosari Ken Dedes luntur digerus jaman, kalah dengan ‘Pemandian Ken Dedes’, sebuah kompleks kolam renang mirip waterboom yang laris manis dikunjungi puluhan keluarga.

 

Gue adalah satu-satunya turis ‘normal’ di taman yang tersembunyi dari jalanan itu. Sisa pengunjung adalah empat orang paranormal, satu orang yang berdiri di bawah pohon beringin sambil ngomong sendiri dan membakar kemenyan, serta dua gadis yang mencari jalan pintas menjadi cantik.

 

Jika bukan untuk minta wangsit, pingin cantik,  mau jadi presiden, atau mau mencuri dan memenggal kepala arca-arca kuno di pinggir kolam sampai botak-botak, gak banyak yang mau bertandang ke Taman Tirta.

 

Sedangkan Pulau Wisanggeni, lepas pantai Balekambang tempat berdirinya Pura di tengah lautan Hindia, tersembunyi di tengah hutan yang tak tembus matahari. Gue tertipu habis-habisan dengan klaim accessible via public transport. Boro-boro public transport, tanya dulu dong, jalanannya ada nggak? Kecuali jika jalan setapak bolong-bolong maut yang tidak terjangkau sinyal HP dianggap sebagai jalanan....

 

Kenyataan gue tak ingat Singosari dan Balekambang, meski dengan segala kejayaannya dan keelokkannya, berbuntut pertanyaan yang lain:  Apakah Indonesia akan bernasib sama seperti Singosari? Sebuah bangsa yang besar dan termasyur tapi kemudian kalah oleh pergerakan jaman dan dilupakan orang? Atau bahkan bernasib seperti Balekambang yang bahkan tak pernah dikenal dan makanya tak pernah diingat?

 

Ketika mobil gue terhambat arak-arakan Reog Ponorogo di depan muka setelah turun dari Penanjakan Semeru, gue sadar, inilah pertama kalinya gue melihatnya secara nyata. Selain di siaran TV pembukaan PON Jawa Timur tahun 2000, tak pernah terlintas untuk nonton REOG. Mending nonton film India dhe!

 

Wajar-wajar saja kalau Reog akhirnya diakui Malaysia. Dunia mana yang sanggup mengingatnya sebagai milik Indonesia kalau cuma warga di atas gunung yang masih bisa terhibur dengan Reog?

 

Gue kadang berpikir, We’re not a proud nation. Saat saya mau ke Jogja di malam tahun baru kemarin, komentar yang akrab di telinga adalah, ‘Kok turun pangkat, sih?’ Seolah Jogja berderajat lebih rendah dari Singapura.

 

Gue dan teman-teman saya secara sadar dan tak sadar telah merasa tak bangga dengan apa yang dimiliki. Tak menganggap indah kesenian dan alam yang ada. Dan perlahan, mulai melupakan budaya, sejarah dan geografis yang membentuk sebuah konsep bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Gue cemas, Negara Indonesia akan bubar, warisannya diterlantarkan karena diabaikan generasi penerus, sama seperti Singosari yang dilupakan keturunannya. (yaitu: gue). Gue cemas, wilayah Indonesia akan digerogoti Negara tetangga hingga hilang dari peta dunia seperti Balekambang yang tak punya titik di peta wisata Indonesia, karena warganya tak tahu ujung-ujung negaranya sendiri. Gue cemas, gue akan jadi bagian dari bangsa yang tak dikenal orang, pasti gue-nya lebih tak diingat lagi.

 

Makanya gue memasang foto-foto dari seputar Malang ini. Supaya ketika saat gue mau berlibur di pantai Thailand, saat akan menguap pas nonton tari tradisional, saat lagi sok-sok mengagungkan bahasa Inggris, gue ingat, Indonesia.

 

Ps: Posting ini juga muncul di http://blog.beswandjarum.com/margareta, yah, sisi yang sedikitttt (sok-sok) lebih bijaksana gitu..


Blog EntrySeekor Cicak di One Fifth AvenueMay 6, '09 11:20 AM
for everyone

Ada cicak yang akan mati di rumah gue. Para cicak suka menjadikan kamar gue tempat peristirahatan terakhir. Dan tiga hari yang lalu, seekor cicak tua yang tak lagi lincah terseok-seok merayap masuk, lalu sembunyi di sudut dingin dalam kamar. Kadang di waktu malam, gue membiarkan cicak besar itu tidur dalam sendal bulu gue (ya...gue punya sendal bulu..)

 

Sesaat sebelum wafat, cicak menongolkan dirinya, seolah memberi ucapan perpisahan. Lalu gue memanggil bokap untuk mengambil badan cicak yang sudah memucat dan membengkak untuk dipindahkan ke tong sampah. Di sana cicak kan menutup mata untuk selama-lamanya.

 

Gue kadang bertanya, apakah perhatian gue pada seekor cicak yang akan mati membuat gue menjadi orang yang lebih baik. Bagaimana dengan orang yang rumahnya punya begitu banyak cicak sampai tak peduli lagi, lebih baik, atau jahatkah gue dibanding mereka? Lalu bagaimana dengan orang yang rumahnya tak pernah ada cicak? Haruskah mereka pindah ke rumah yang ada cicaknya supaya bisa jadi orang baik?

 

Lagi mellow aja.

 

Seumur hidup gue belum pernah merasakan jadi orang jahat. Gue anak pendiam dan tidak suka melawan orang tua. Ketika masuk sekolah, gue sering jadi juara kelas dan disayang ibu guru. Gue juga bukan teman yang suka membocorkan rahasia, atau klepto, atau sombong sampai membual.

 

Maka ketika ada rekan blogger yang begitu yakin akan kebusukan hati gue, gue merasa terganggu. Gue jauh lebih terganggu daripada yang gue perlihatkan. Gue lebih terganggu lagi ketika mengetahui isi essay pendek tentang gue yang ditulisnya, yang menyebutkan secara umum sifat gue yang dangkal dan jahat itu berasal dari latar belakang hidup gue sebagai perempuan keturunan Tionghoa dari keluarga kelas menengah di Jakarta.

 

Sama terganggunya ketika ada yang meminta gue berhenti menulis hal-hal yang ‘tidak penting’ dalam blog, semacam hubungan dan kehidupan metropolis. Sebaiknya gue mulai menulis hal-hal yang berbobot, seperti masalah kemiskinan dan ketahanan pangan. Gue tidak bisa menulis hal semacam itu. Apa sih yang gue tahu tentang pertanian?! Gue Cuma bisa sok tahu tentang apa yang gue lihat dalam hidup gue sendiri, dan ternyata...hidup gue itu tidak penting?

 

Apakah dilahirkan sebagai seorang Cina, middle-class, berpendidikan, di kota besar Jakarta menjadikan gue sebagai seseorang yang jahat, dangkal picik, sombong, palsu dan munafik? Sama seperti Hitler yang dilahirkan menjadi orang yang kejam dan pembantai?

 

Kalau begitu alangkah terkutuknya hidup gue! Tidak ada yang bisa gue lakukan untuk menghindari neraka karena gue terlahir jahat.  Kecuali kalau gue menyangkal seluruh hidup dan identitas gue lalu lari ke desa untuk kerja social. Padahal gue tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana, ras apa, dengan fisik seperti apa.

 

Dalam keadaan membenci diri sendiri, gue membaca buku Candace Bushnell, supaya merasa bersyukur bahwa ada yang lebih kaya dari gue, thus, lebih jahat dan lebih dangkal dari gue. Candace mungkin telah meraup sukses lewat cerita-cerita pendek Sex and the City dan menjadikan banyak wanita seperti gue pengikutnya. Tapi saat  menulis novel disinggung, she sucks.

 

Gue bukan pengamat kesusasteraan dan bukan penulis, hanya seorang pembaca yang tak bisa mengikuti gaya berbahasa novel-novel Candace. Kebanyakan menyinggung kehidupan tak jauh dari sex dan bintang film secara shallow, lewat detail-detail panjang dengan bahasa Inggris versi kamus, seolah sang penulis ingin menjadikan chicklit sebuah karya sastra.  Semua novelnya hanya sanggup gue baca hingga halaman 40, sebelum akhirnya gue menyerah dan menumpuknya dalam lemari buku.

 

Tapi seperti seorang pengikut setia, yang tak pernah pupus kepercayaan, gue kembali membeli dan membeli setiap buku Candace, dan menemukan, novel yang gue baca saat ini, One Fifth Avenue, gue baca sampai habis.

 

One Fifth Avenue sebenarnya masih berputar pada kehidupan maha dangkal dan maha ga penting ala socialite New York. Yang membedakan kali ini, Candace menjadi seorang penulis yang jujur. Ia menceritakan tentang sesuatu yang ia pahami dan dekat dengannya. Ia tidak lagi berpura-pura menjadi seorang ‘baik’ yang membela protagonis anti kapitalisme. Tujuannya hanya menceritakan sebuah New York, yang ia alami sehari-hari.

 

Hidup masyarakat modern di kota besar memang tidak dipenuhi oleh orang-orang berkepribadian ‘indah’. Ada gadis usia 20an yang begitu terobsesi pada status dan penampilan dan tak berdaya jika segala sesuatu yang artifisial itu diambil (=P). Ada juga yang rela mengumbar urusan rumah tangga lewat blog personal, yang berisiko menghancurkan hubungannya dengan orang tercinta PLUS menjadi bahan olok-olok sebagai wanita tak berotak, HANYA untuk menghidupkan karir jurnalismenya. (=P)

 

Tapi pengalaman Candace hidup dan jadi bagian dari masyarakat ini membuat para pembaca yang gak pernah tinggal di New York (let alone di fifth avenue!), bisa menerima bahwa para orang kota, yang sudah lupa dengan ribuan orang yang meninggal di peristiwa 9/11, dan punya apartmen seharga satu kompleks perumahan di Jakarta, pun juga manusia.

 

Lewat detail-detail panjang 10 baris (yang kini terasa perlu), Candace membawa kehidupan seorang penulis kolom gossip, seorang sutradara, seorang bintang film dan socialite sebagai hal yang nyata, tidak di awang awang macamnya Beverly Hill’s 90210.

 

Orang-orang sukses ini pun punya ketakutan, persoalan, perjuangkan perasaan yang tak beda dengan janda miskin dan anak terlantar. Kenyataan bahwa apa yang ditakutkan, yang disoalkan, yang diperjuangkan, dirasakan berbeda, disebabkan karena setting yang memang berbeda.

 

Candace sendiri lewat satu tokohnya mengakui bahwa apa yang ia diskusikan bukanlah persoalan ‘penting’. After all, this is just about a society, begitu kata Enid, sang jurnalis kolom gosip yang heran mengapa ia bisa begitu terhanyut dalam drama di apartemennya.

 

Tapi Enid kemudian menegaskan, bahwa komunitas sosial inilah awal sebuah peradaban, baik di desa, di kota, kaya, miskin, ada cicak, maupun ga ada cicaknya....Gue tidak berhak menuduh seseorang lebih tidak penting, atau tidak baik hanya semata karena lingkungan mereka berbeda.

 

Mungkin gue harus belajar untuk jujur akan hal-hal yang gue cintai dan mengungkapkannya seperti Candace. Gue akan lebih suka mencitrakan diri gue sebagai anak muda idealis yang punya hidup keras, membenci hidup kota besar dan rela meninggalkan segalanya bak murid Yesus untuk melayani sesama. Supaya menjadi orang baik. Sayangnya, itu bukan gue.

 

Gunung gemunung, hawa segar di pagi hari tanpa polusi di sudut pedesaan memang indah di mata gue. Tapi itu bukan sebuah realita bagi gue, hanya sebuah liburan. Kenyataannya, gue lahir dan dibesarkan di Jakarta. Sejak kecil terbiasa menghirup asap knalpot dan menjadikan rentetan klakson mikrolet musik di pagi hari. Gue menemukan nilai artistik dalam lekuk-lekuk mobil yang terlalu banyak, busway, mikrolet, dan seribu motor yang statis dalam macet total.

 

Gue tidak menutup mata akan betapa artifisialnya Pacific Place yang selalu sepi dengan barang-barang ber-tag tak rasional, atau betapa palsunya perempuan bermaskara waterproof di tempat fitness. Tapi itulah realita bagi gue. Segala yang begitu fake itu adalah kehidupan yang secara nyata gue lihat dengan mata kepala sendiri.

 

Di dalam universitas elite bermurid ambisius gue telah menemukan persahabatan sejati. Dalam kompleks perumahan yang rapi gue dihangatkan cinta keluarga yang utuh. Dan di hiruk pikuk Jakarta gue menemukan kebahagiaan yang tulus.

 

Mungkin memang nasib gue untuk dilahirkan anak perempuan manja malas yang mendapatkan segalanya terlalu mudah sehingga tidak pernah diasah lewat permasalahan yang berat. Dan kalau gue menyangkal identitas gue sendiri dan pura-pura tertarik akan hal yang tidak ada dalam hati gue, gue akan menjadi manusia yang sungguh-sungguh palsu. (dan palsu bersifat negatif).

 

Balik lagi ke One Fifth Avenue. Justru saat Candace tidak menjadi hakim untuk aturan Baik atau Buruk, dan Benar atau Salah, kritik sosialnya malah jadi semakin kena.Gue jadi bisa memahami betapa bergantungnya masyarakat dengan materi yang mendefinisikan status, bahkan ada yang sampai membunuh suaminya demi tetap tinggal di One Fifth Avenue, simbol kemapanan socialite New York. Bahwa dalam masyarakat seperti ini, hal yang tak krusial seperti absennya internet di pagi hari, bisa berbuntut penjara, kematian, dan krisis kejiawaan. Begitu rentan orang-orang kota itu!

 

Rupanya meski tinggal dalam masyarakat yang dangkal dan menggelikan, Candace masih bisa memberi sesuatu untuk gue. Lagipula, after all, we’re all somewhat a joke. Let’s hope we’re the funny ones....


Blog EntrySelamat Hari Jomblo!!!Apr 29, '09 7:43 AM
for everyone

Seorang teman mengumumkan ia sedang merayakan anniversary kejombloannya. Tepat hari itu, setahun lalu, ia resmi putus dari pacarnya.

“Ohh, gue dua taon, menurut loe?!” gue menanggapi pahit.

“Ini kan perayaan pertama gue!” teman gue bersikukuh.

“And then?!”

“Ternyata enjoy juga, hahahhaa!”

 

Kasihan temanku, dia pasti sudah gila setelah berpisah dari pria yang sangat dicintainya. Rupanya bekas luka yang ditorehkan belum juga sembuh setelah setahun berlalu, sehingga setiap harinya terus diingat. Gue berpikir sambil geleng-geleng kepala.

 

Yang bener aja, masa hari putus dirayakan macamnya hari jadian?! Jadian itu kan seneng, pake bunga, ketawa-ketawa, menandai dimulainya hari-hari indah, makanya dirayakan. Sedangkan putus itu kan sedih, nangis-nangis, menandai hari-hari penuh kesendirian...Lalu gue terdiam.

 

Gue merasa malu. Bolehlah gue menjadi duta kampanye Jomblo Bahagia (!). Sejak menjomblo lebih dari dua tahun yang lalu, jarang sekali gue menyesali kesendirian gue. Memang ada hal-hal dan kebiasaan yang berubah, tapi sejauh ini sih gue masih sehat bugar dan tidak gila atau depresi (meski sekali lagi, mana ada orang gila ngaku gila?). Lihat dari sisi positif, berkurang satu orang yang mengatur hidup gue. Mau nonton film ga perlu tunggu-tungguan, mau main ga perlu bawa buntut. Pulsa telpon terkontrol setiap bulan.

 

Gue bahkan bisa memprediksi dan menerima dengan hati lapang bahwa status gue di facebook  belum akan berganti dalam tahun-tahun kedepan. Bukannya menolak jodoh, tapi kalau emang belum dikasi, gue tetap ngotot tak berprinsip yahh..asal ada aja dhe...

 

Tapi rupanya gue masih kalah dalam menghayati hidup jomblo ceria dibandingkan teman gue. Dalam dua tahun lebih itu, tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran gue untuk merayakan titik awal hidup jomblo gue yang menyenangkan. Tanpa sadar, hari keputusan seolah merupakan hari sial yang harus dihapus dari ingatan.

 

Emang gitu yah?

 

Saat putus bisa saja menjadi hari yang menyedihkan dan penuh isak tangis, tapi seperti yang gue yakini,  hidup tidak menjadi kelabu dan sepi selamanya. Memang ada hari-hari peringatan tertentu (contoh: Valentine), yang membuat gue mengutuk hidup sebagai jomblo. Tapi banyak, sangat banyak piknik bersama, nginep dan mabok bareng yang mejadi hikmah dari kejombloan gue.

 

Sama aja dengan hari jadian. Hari-nya sendiri bisa jadi hari berbunga-bunga, tapi siapa bilang orang pacaran ga pake nangis? 50% waktu mungkin akan diisi hari-hari romanties dan sepiring berdua, sedangkan sisanya diisi pertengkaran, perngambekan, percemburuan, perselisihan, perselingkuhan, salah paham, dan sebagainya. Bahkan ada pasangan yang rasio mesra dibanding rasio berantem sudah kurang dari 50%.

 

 

Baik hari jadian maupun putus sama-sama menandai dimulainya masa baru, yang tentunya diharapkan adalah lebih baik dari sebelumnya. Mana ada yang jadian dengan tujuan untuk putus nantinya? Juga mana ada yang putus disebabkan karena hubungan berjalan begitu lancar, dan hidup begitu indah? Pasti diharapkan dengan putus, kedua pihak diberi kesempatan untuk bertemu pihak baru yang lebih pas. Atau setidaknya dengan jadi jomblo, rasio kebahagiaan bisa kembali menandingi rasio kesedihan.

 

Itulah sebabnya hari putus wajib dirayakan, sama seperti hari jadian. Keduanya adalah keputusan berani yang diambil manusia untuk menghentikan status quo dan meraih hidup yang lebih baik. Maka gue dengan bulat kembali memanggil teman gue, ingin ikutan memperingati awal ke-single-an.

                “Gue ikutan dong! Mau merayakan hari jomblo juga!”

                “Lha, emang loe putus tanggal berapa?”

“Aduhh..klo tanggalnya gue uda ga inget, tapi kira-kira dua tahun lalu, September kalo ga salah, apa Oktober ya? Yahhh...pokoknya dijadikan hari ini saja lah!”

“Masa sih? Taon baru 2008 loe bukannya bareng...”

“Ya udah! Ya udah! 1.5 taon lah! Dari taon baru 2008!”

“Gimana klo diitung dari cowo terakhir yang deket sama loe? Yang sangat dekat secara psikis ATAUPUN fisik!”

Muka gue langsung berubah, “Yaa..itu mah kurang dari setaon dong!”

“Klo gitu loe belum bisa merayakan, Gie! Nanti aja ya, taon depan!” teman gue tertawa.

Sial! Sudah semangat merayakan, gue dianggap belum eligible sebagai jomblo sejati. Tapi rekapitulasi kehidupan single gue selama dua tahun itu semakin mengingatkan betapa ‘bewarna’ dan menyenangkannya hidup gue ketika menjadi jomblo.

 

Ternyata gue tidak jomblo-jomblo amat ketika mengaku single. Juga tidak ada seorang ‘in a relationship’ yang bisa 100% berpasangan. Pasti ada saat yang harus dilalui sendiri, minimal ketika pipis... Dan semua itu membuat gue semakin bersemangat merayakan hari jadian jika diizinkan, dan hari jomblo dalam waktu beberapa bulan kedepan. Whichever comes first....


Pages:12345
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help