Blog EntrySaya datang, saya lihat, saya pegangMar 13, '10 8:19 AM
for everyone

“Ahh, mami nggak mau naik ah! Mau turun aja!”
“EHHH! Ga boleh gitu! Ayo naik!” Gue mendorong-dorong si Mamih dari belakang dengan tangan kiri, sambil tangan kanan menghalang-halangi sisi kanan undakan Borobodur supaya si Mamih yang sudah mengambil ancang-ancang putar balik tak bisa turun tangga.

 

Saat itu kami baru mencapai fase ‘Kamadhatu’, dan mendengar bahwa masih ada dua fase lagi yang harus didaki, si Mamih yang dari awal cuma ingin beli cobek di pelataran Candi Borobudur langsung berencana mundur teratur.

 

Dua hari kemudian, insiden yang sama kembali terjadi. “Kalau begini mah mending naik Borobudur sekali lagi!” protes si Mamih saat menuruni dan menaiki ke-1225 anak tangga di Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu.

“Abis gimana? Mau balik? Cobain aja ya? Nanti kalau nggak kuat telpon nomor darurat,” bujuk Kakak sambil menunjuk ke arah papan berisi nomor handphone untuk keadaan darurat.

“Emang kalau ga kuat diapain?”

“Ditandu, Bu,” jawab seorang petugas yang kebetulan lewat. Si mamih diam sesaat, seperti mencatat dalam hati.

 

Saat pulang ke Jakarta, si Mamih tetap protes merasa ditipu, “Kok pergi ke Solo banyakan naik tangganya sih?”

 

Si Mamih memang bukan tipe petualang. Atau mungkin sudah kehilangan hasrat bertualang. Kalau tahu harus naik turun tangga, ia pasti akan memilih tinggal di rumah Bu Broto,  pemilik usaha batik Brotoseno di Sragen yang bernama asli Bu Parjan. Menikmati pisang goreng hadiah langsung setiap pembelian 10 lembar selendang sutra.

 

Bahkan kalau bukan karena tiket yang tidak bisa diuangkan kembali itu langsung dibeli tanpa persetujuan 100%, keberangkatan ke Solo awal bulan ini bisa tertunda lagi. Padahal  perjalanan ini telah tertunda 14 tahun, terhitung saat pertama gue bisa mengingat mamih dan papih membuat rencana tour ke Jawa.

 

Tentunya, durhakalah si anak yang suka memaksakan kehendak pada orang tua itu! Takdir di tangan Tuhan dan tidak semua orang ditakdirkan berjiwa petualang. Kalau si Mamih tidak suka bepergian atau naik tangga, siapalah ananda berani menuntut?

 

Kalau aku jadi batu di pinggir pantai, aku akan menyalahkan Amelie. Ayah dalam film Amelie punya cita-cita keliling dunia. Tapi hingga tua, ia tetap sibuk mengurus kebun kesayangannya. Amelie lalu menculik kurcaci hiasan taman dan menitipkannya pada teman pramugarinya. Setiap kali si kurcaci muncul setelah menghilang, selalu ada foto sang kurcaci di depan Menara Pisa atau objek wisata lainnya. Hingga akhirnya si ayah pun jadi juga berkeliling dunia. Kurcaci saja bisa jalan-jalan...

 

Sejak nonton film itu aku menyimpan tekad menjadi Amelie. Mamih dan Papih ingin melihat Candi Borobudur, namun bayangan pertama kali naik pesawat domestik berukuran kecil, berhari-hari meninggalkan rumah dan kerjaan serta  road trip yang menguji tulang sendi  meluluhkan keinginan melihat keajaiban dunia.

 

Ada orang-orang yang tidak pernah meninggalkan daerah tempat tinggalnya seumur hidupnya. Dari orang-orang itu, bahkan ada yang tidak pernah tahu ada daerah lain di luar tempat tinggalnya. Sisanya tahu, tapi tidak punya kemampuan untuk pergi.

 

Namun ada juga golongan terakhir, yang anggotanya paling banyak, adalah yang tahu, mampu, tapi tidak punya keinginan untuk pergi. Atau punya, tapi juga punya banyak alasan: Kan pernah liat gambarnya, kan tahun depan bisa kalau waktunya pas, emang buat apa kesana?

 

Dari dulu gue tidak pernah bisa muncul dengan jawaban yang valid, mengakibatkan rencana perjalanan keluarga selalu tertunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Tapi gue percaya, manusia mana yang tidak punya keinginan melihat atau merasakan sesuatu yang tidak ada di setting kehidupan normalnya?

 

Manusia hidup atas ruang dan waktu. Sekali ruang dan waktu terpakai,  itu tidak  akan bisa disinggahi kembali. Tapi apa yang terjadi dalam ruang dan waktu itu, diserap oleh indra, dan direkam dalam memori sebagai sebuah pengalaman. Ruang dan waktu setiap orang akan habis dan hal ini tidak punya keistimewaan apa-apa. Tapi bagaimana seseorang mengisi ruang dan waktu akan memberi definisi unik tentang setiap orang.

 

What we see, what we touch, what we feel, what we hear, what we smell with our own senses define ourselves.  Dan dalam hal ini, I want to see things that amazed me, to touch things that make me startled, to know feeling I’ve never felt before. Untuk  jadi budek karena bunyi yang asing di kuping dan muntah-muntah karena bau yang aneh.  Sehingga hidup yang gue punya, bisa didefinisikan sebagai rich, extraordinary and happy.

 

Untuk satu alasan dan lainnya, keinginan memberi makna lebih dalam hidup itu terasa kurang mendesak. Gara-gara ada televisi, radio, internet, orang merasa tak perlu pergi langsung karena ada media yang membagikan pengalaman milik orang lain untuk dimiliki oleh penontonnya. Tapi pengalaman yang dimiliki seorang penonton adalah menonton TV, bukan bepergian.

 

There is always tomorrow, orang bilang. Sebagai yang tidak terlahir sebagai Benjamin Button, manusia normal punya keistimewaan untuk mampu memproyeksikan pengalaman berdasarkan jangka waktu.  Bisa ngomong, suatu hari nanti.... ‘harinya akan datang’ sedangkan sekarang adalah ‘hari untuk yang lain’.

 

Tapi kadang, mengandalkan batas waktu untuk menjadwalkan hidup malah akan membatasi hidup itu sendiri. Seolah pengalaman tidak bisa dicicipi karena ‘waktunya belum pas’.   Lalu tiba-tiba saja, that tomorrow will just never come.

 

Dan pantai-pantai yang telah diciptakan sedemikian indahnya itu, candi-candi yang telah diukir jauh-jauh hari, udara yang telah berputar tanpa terisi manusia, tak akan pernah melewati indra, tak peduli berapa lama mereka telah menanti untuk dikunjungi.

 

I don’t want to wait, because the time is never right.  Sebaliknya, gue mau berkata seperti Benjamin Button, there's no time limit, stop whenever you want. Bukan jangka waktu yang menentukan pengalaman yang diraih, tapi tempat apa yang ingin dikunjungi, siapa yang ingin ditemui, yang menentukan bagaimana waktu itu terisi.

 

Maka si Mamih harus dipaksa.  Dipaksa naik sampai puncak supaya bisa sungguh mengalami Borobudur meski mengeluh belum minum obat penguat sendi. Setengah menipu, memberi info bahwa hotel dekat perkampungan batik, sehingga saat ditinggal promo Cruise on You di Musro-Hotel Sunan, si Mamih terpancing berjalan kaki dan mengalami Solo.

 

Nampaknya metode gue berhasil. Meski perjalanan diawali dan dipenuhi oleh paksaan, gue bisa melihat senyum sumringah si Mamih saat tangannya menyentuh tangan Sang Buddha dalam stupa puncak lalu bersaksi tanpa paksaan, “Harus lihatlah si Borobudur itu sekali seumur hidup.” Dan terpampanglah sebuah foto si Mamih bersama monyet-monyet di bawah papan bertuliskan “SELAMAT! ANDA TELAH MENDAKI 1225 ANAK TANGGA. SEMOGA TAMBAH SEHAT DAN SUKSES!”


Perkenalkan! Namanya Scorpie. Gue mendapatkannya dari kids meal Burger King di masa keemasan Transformers. Dan dia adalah gratisan terjelek yang pernah gue dapat.

 

Saat menerima Scorpie, Gue dan kedua orang teman berdiskusi hangat tentang bisa diapakan-kah mainan mirip kalajengking ini. Kami memutar-mutarnya mencari bentuk lain dari Scorpie. Mungkin bentuk yang tak jelas ini bisa berubah menjadi Optimus Prime. Mungkin Scorpie bergerak dengan energi fosfor, jadi harus dijemur hingga bisa berfungsi. Atau ada tombol rahasia yang membuatnya bisa bergerak. Atau kalau diletakkan dengan posisi tertentu, Scorpie bisa seengga-engganya terayun-ayun.

 

Tapi tidak. Scorpie tetaplah mainan berbentuk kalajengking gagal yang tiada berguna. Sesaat kemudian, salah seorang teman berkata frustasi Gue rasa cuma anak kecil deh yang bisa ngerti ini mainan apaan!

 

Saat itu sebenarnya gue ingin mengkritik susunan kata dan tata bahasa teman gue itu. Mana mungkin anak bisa tahu lebih banyak dari orang gede? Bukankah adalah orang tua yang mengisi anaknya dengan pengetahuan sehingga mereka bisa memahami dunia...termasuk identitas Scorpie yang sebenarnya? Mungkin harusnya kalimat itu berbunyi: Gue rasa cuma anak kecil deh yang masih mau mainin mainan ini!

 

Tapi gue-pun sudah bosan mengutak-atik Transformers gagal ini. Lalu gue melemparkannya ke dalam tas berisi barang acak kadut yang sampai dua tahun setelah hijrah balik dari Singapura tidak pernah dibenahi. Hingga suatu hari, ‘Pangeran Kecil’ telah mengangkatnya dan kini Scorpie berdiri dengan gagah di atas meja kamar, yang juga sudah dua tahun tidak pernah dibenahi.

 

Pangeran Kecil alias Le Petit Prince juga terabaikan selama dua tahun. Gue pertama kali membacanya untuk tugas analisa sastra kelas Bahasa Perancis. Alasan gue memilih judul ini adalah: 1. Buku ini cukup popular untuk tersedia di perpustakaan umum, jadi gue tidak perlu keluar ongkos membeli buku impor. 2. Buku ini masuk kategori BUKU ANAK-ANAK, sehingga diharapkan bahasanya tidak mempersulit liburan panjang gue. 3. Buku ini paling tipis dibandingkan Les Miserables, Le Comte de Monte-Cristo, atau L´Âge de Raison.

 

Gue menyelesaikan analisa buku ini dengan dasar membaca asal lewat, mengembalikannya ke perpustakaan, lalu kembali berenang dan fitness tiga kali seminggu, dugem dan mencari jodoh. Tidak berkesan. Lagipula, ini kan cuma buku anak kecil...

 

Setelah ribuan kali mendengar pujian akan Le Petit Prince yang gue iya-kan tanpa antusiasme, terpaksa gue memutuskan membeli  versi yang telah dijudulkan The Little Prince. Dan membacanya dalam versi bahasa yang gue kenal lebih dulu telah menghentakkan gue untuk membangunkan Scorpie.

 

Buku ini diawali sebuah gambar yang mirip Scorpie, meski jelas bukan Scorpie. Inilah gambar ciptaan sang tokoh utama saat ia masih kecil: Boa constrictor memakan gajah. Tidak ada yang bisa menangkap makna gambar ini saat ditunjukkan, sampai sang tokoh utama bertemu dengan pangeran kecil dari planet lain. Berikutnya, sang tokoh utama dibawa melihat hal-hal lain yang terlupakan di dunia orang dewasa lewat mata si Pangeran kecil.

 

Dan halaman pertama ini langsung menyingkap tabir misteri penutup identitas Scorpie, atau setidaknya, mengapa gue tidak bisa memahami Scorpie.

 

I’m a grown-up, or at least I think I’m a grown-up. Gue manusia logis, rasional, dan realistis.  Dan atas dasar kelogisan, kerasionalan, dan kerealistisan itulah gue melihat hidup. Pengalaman telah mengajarkan gue untuk membedakan hal yang mungkin dan tidak mungkin, yang nyata dan tak nyata.

 

Gue matang dalam mengambil keputusan karena tidak mendasarinya dengan emosi, naluri dan insting, melainkan atas dasar penelitian, statistik dan hal-hal faktual yang telah gue pelajari. Gue menerima kewajiban dan tanggung jawab gue sebagai warga dunia, tidak menolak hal-hal yang tidak mengenakkan karena sadar itulah peran gue dalam melanjutkan generasi manusia.

 

Dalam bekerja, gue punya jadwal dan target yang masuk akal, dan semua faktor bisa dikuantifikasikan dalam bilangan riil yang berlaku umum. Dan karena gue sudah besar, gue butuh hal-hal besar untuk membuat gue kagum dan puas. Dengan material sebagai seseorang yang ‘dewasa’ ini, gue melihat Scorpie sebagai: miniatur Transformers (karena diberikan di masa Transformers diputar), dengan panjang 10 cm dan tinggi maksimal 4 cm, bewarna abu-abu tidak menarik dan tidak berguna.

 

Tapi apakah ini definisi Scorpie yang paling benar?

 

Untuk meraih gelar ‘dewasa’ itu, tanpa sadar gue telah membunuh seseorang yang hidup berdampingan selama ini. I killed the child in me. Anak kecil yang mudah tertawa akan dunianya yang sederhana namun punya mimpi segila-gilanya.

 

Sebagai orang dewasa yang berpengetahuan dan berpengalaman, gue membekap mulut anak kecil yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Atau mungkin gue cuma berhenti menciptakan pertanyaan, menerima pekerjaan dan rutinitas seperti seharusnya terjadi, semembosankan apapun, setakbermakna apapun. Sehingga gue sebenarnya mengetahui lebih sedikit dari apa yang bisa gue ketahui saat gue masih kecil.

 

Demi melihat dunia seperti apa adanya, gue menutup mata anak kecil yang melihat hubungan antara papan penunjuk jalan, billboard iklan dan promosi penjual eskrim dan menjadikannya satu kisah yang nyata. Padahal, seperti kata The Little Prince, what is significant is not visible to the eyes. Apa yang ada dibalik benda yang nyata itulah yang memberi makna sebenarnya. Dan karena  gue hanya melihat apa yang bisa dipegang dan disentuh, gue telah melihat jauh lebih sedikit dari apa yang gue lihat saat gue masih kanak-kanak.

 

Jadi tata bahasa teman gue itu tidak salah. Cuma anak kecil yang bisa melihat, mendengar dan bermimpi. Dan hanya jika gue menghidupkan si anak kecil dalam diri, gue bisa memahami Scorpie.

 

Itulah sebabnya sekarang gue memajang Scorpie dan memperkenalkannya pada pembaca budiman. Dia adalah simbol khayalan, imajinasi dan fantasi. Sesuatu yang seringkali gue lupa simpan. Gue berharap bisa diingatkan untuk mengizinkan si anak kecil untuk mendeskripsikan Scorpie dan segala hal yang dalam hidup gue.

 

Baru-baru ini, gue menerbitkan buku kedua gue. Cruise on You cuma buku chicklit yang endingnya bisa tertebak dan bersampul seperti buku anak-anak, There are moments gue ingin membela buku gue sebagai buku untuk orang dewasa.

 

Tapi Scorpie menyuruh gue untuk mendedikasikan buku ini untuk anak-anak. Seperti Antoine de Saint-Exupery mendedikasikan bukunya, Cruise on You is for the child whom every grown-up once was. Tentunya gue tidak bermaksud menyama-nyamai gue dengan Antoine. Dengan segala kerendahan diri, bahasa dan isi  yang mudah ditebak ini gak ada seujung-ujungnya kejeniusan sang Legendaris Le Petit Prince.

 

Gue cuma berharap setiap orang akan membaca Cruise on You seperti anak kecil yang menuliskannya. Sebagai seseorang yang berani mengkhayalkan dunia sebagai tempat dimana happy ending dimungkinkan.  Sebagai tempat dimana mimpi dan absurditas diijinkan. Sebagai tempat yang sederhana, dimana kebetulan dan keberuntungan sungguh-sungguh ada. And in that way, you let the child in me to stay alive, and probably yours too...


Blog EntryPulangFeb 13, '10 6:38 AM
for everyone

Ayam Kentucky tidak pernah terasa senikmat ini dan Senayan City tidak pernah terlihat seindah ini. Bahkan dengan kulit yang lengket karena keringat dan bau ikan yang masih menempel di tubuh, semua pemandangan terasa begitu spektakuler.

 

Saat itu gue baru satu jam mendarat dari liburan di Belitong. Sebuah perjalanan tiga hari yang membawa gue, pulang ke rumah.

 

I’ve been away for a while. Setelah seorang male species menyatakan bahwa dengan terus bersama kami menghalangi jodoh masing-masing, gue memantabkan sebuah perjalanan jurnalistik ke Laos dan I’ve never returned.

 

I fell in love with the concept of being a stranger. I indulge myself in the constant freedom. I am addicted to the sensation of being in an exotic new places. I enjoy the lack of attachment towards something. Gue menikmati menjadi seorang tanpa identitas, tanpa ada yang bisa mengetahui siapa gue.  Gue haus akan pertemuan dengan  orang yang belum pernah gue kenal dan yang tidak akan pernah lagi gue temui.

 

Kembali ke Jakarta, gue memutuskan perjalanan ini harus berakhir. Jakarta berarti rumah, keluarga, dan komunitas yang gue kenal. Tapi gue tidak benar-benar ingin pulang. Dan setiap saat gue selalu mencari kesempatan untuk kabur. Bahkan terkadang saat gue sedang menyetir sendiri, menembus belantara Jakarta, gue mengkhayalkan gue sungguh-sungguh sedang sendiri, membelah sungai Mekong menembus batas negara, tanpa ada satu tempat tujuan dimana gue akan menemui relasi.

 

Maka ketika seorang sahabat menawarkan ikut acara outing tim tempatnya bekerja ke Belitong, gue mengiyakan tanpa pikir panjang. Kota Jakarta selama dua tahun ini menjadi terlalu sempit, terlalu banyak hal yang monoton, terlalu banyak hubungan yang harus dirawat. And I badly want to escape.

 

Gue merasa telah melarikan diri dengan sukses. It’s a whole new place. Gue melahap semua pengalaman baru itu dengan rakus. Langit warna biru donker, rumah panggung dan jalanan kosong seperti Thamrin di saat Car Free Day. Sepanjang satu jam perjalanan menuju Tanjung Kelayang, pantai tempat kami menginap, bisalah terhitung dua kali kami berpapasan dengan mobil lain.

 

Guna meningkatkan nilai adventuris, gue berenang di laut lepas malam hari, sambil mata menengadah menatap bintang dengan jumlah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Meski kami berenang bertiga, seluruh laut tetaplah terasa tenang dan damai, dan indah.

 

Tanjung Tinggi, tempat syuting Laskar Pelangi juga sangat menjanjikan sebuah weekend getaway yang berbeda. Pantai berpasir putih dilingkupi batu-batu besar yang bisa dibuat main petak umpet seperti dalam film. Masih dengan rakusnya gue melahap batu-batu itu. Berusaha menjelajah ke batu-batu yang cuma bisa dijangkau orang pacaran (saat jatuh cinta nampaknya timbul energi lebih sehingga tumbuh niat bercinta di atas batu yang kasar...)

 

Gue tetap tamak akan pemandangan yang baru ini saat berkeliling lima pulau, satu demi yang lain, dengan pasir putih halus macam tepung, bintang laut berserakan sehingga tak berarti, dan bongkahan batu granit seperti dilemparkan Tuhan ke dalam laut dan nyangkut di pinggir pantai. Tapi batu tetaplah batu. Gue dan teman sempat ragu apakah kita sebenarnya dibawa ke satu pulau yang sama, tapi beda sisi, habis isinya sama semua. Menjelang siang, gue sudah mulai muak melihat batu.

 

Danau Kaolin, atau sebenarnya adalah ceruk bekas penambangan kaolin memang cantik dengan warna airnya yang aqua. Tapi setelah terkocok-kocok di atas tanah kaolin tanpa ada arah dan jalan yang jelas, gue mengharapkan atraksi lebih. Seandainya ada warung kopi serta perebusan telor di dalam air danau secara langsung, tentu akan lebih berarti.

 

Puncaknya adalah saat malam. Mungkin karena harus membawa senter kalau mau jalan di atas jam tujuh, mobil atau makhluk hidup jadi malas lalu lalang. Dengan keabsenan radio dan TV, tinggalah gue dengan bunyi debur ombak dan jangkrik (dan buaya, tapi buaya tidak mengeluarkan suara). OHHH!!! Alangkah ganggunya sepi itu! Gue dan teman bahkan tergoda untuk menyalakan saja mesin mobil kita, supaya ada bunyi-bunyian yang familiar.

 

Maka akhirnya keluarlah pernyataan itu: I never mind you know, living in Jakarta,

Gue tidak akan menyangkal, pernyataan ini sebagian dipengaruhi oleh kemanjaan anak kota Jakarta. Tapi lebih dari itu, di Belitong, di tempat yang baru dan indah dan dengan kombinasi orang yang baru dikenal dan yang telah dikenal lama, gue merasakan kerinduan atas sesuatu yang akrab dalam hidup.

 

Rutinitas, menjadi statis dalam satu tempat menciptakan kondisi yang disebut comfort zone, yang ‘memenjarakan’ manusia. Seyogyanya manusia dipaksa keluar dari lubuk yang nyaman itu, mencari pengalaman baru dan mengembangkan diri agar bisa sungguh menjadi manusia yang ‘merdeka’. Bebas untuk menentukan arah hidup tanpa terikat kewajiban pada orang lain.

 

Gue juga-lah pemuja kebebasan sebagai konsep yang hebat. Tapi jauh dari keluarga, teman dan orang yang dikenal, benarkah rasa senang yang muncul lebih besar daripada saat bermain di mall yang membosankan di Jakarta?

 

Tentu saja batu itu indah. Memenuhi kriteria akan tempat baru yang eksotis. Tapi tidak punya arti apa-apa buat gue. Meski formasinya menakjubkan, batu tidak akan bergerak. Dan ditinggal seminggu-pun, batu itu tetap akan terlihat sama. Seberapapun rutin dan monotonnya interaksi gue dengan manusia di sekitar, mereka bergerak. Dan jika diperhatikan, akan tampil beda setiap harinya. Merekalah yang membuat reaksi dalam diri gue, membuat gue tertawa, kesal dan sebal.

 

Gue tinggal di gank yang semua warganya menyalahgunakan HGB sebagai Rumah Toko. Di masanya, jalan ini bahkan sempat jadi trayek mikrolet. Tengah malam-pun ada radio kayu manis diputar Hansip Udin. Tidur tanpa kericuhan, membuat gue justru tak bisa tidur.

 

Seperti yang gue rasakan sebelum perjalanan Belitong, gue tidak tahu apakah Jakarta adalah tempat yang tepat untuk menetap. Atau apakah gue harus menetap at all. Gue bosan berada di lingkungan yang dikenal. Sisi antisosial kadang keluar karena letih menjaga hubungan baik dengan orang lain. Karena jika tidak dijaga akan timbul perseteruan yang berbuntut susah hati. Jika dijaga kadang membuat makan hati. Berinteraksi dengan orang lain mengaduk-aduk emosi, bahkan yang negatif seperti dendam dan sirik hati.

 

Tapi apakah manusia tanpa emosi? Bukankah gue disebut orang karena ada orang lain yang mengenal gue, mengingat gue marah, takut, sayang dan bisa menunjukkannya? Dan justru di tempat yang gue sebut ‘rumah’, gue bisa punya cukup sense of attachment yang memampukan gue untuk bereaksi, beremosi, mencinta, segala yang membuat gue menjadi seorang manusia.

 

Di sisi lain suka tak suka, rumah itu juga telah membentuk gue, tentang apa yang menarik perhatian gue, definisi gue akan keindahan. Istilahnya, saat ke Danau Kaolin ada pernyataan, jalanan menuju surga itu sulit, berbatu dan sempit. Jika banyak yang akan bilang Danau Kaolin indah bak surga, gue akan berkata, well then, heaven is overrated. I prefer to be in the Jakarta kind of Hell. Karena apa yang terasa ‘surga’ bagi gue berbeda dengan orang lain.

 

Disini, menampung air yang terasa payau bewarna cokelat karena kadang kalau sedang tidak beruntung, tanah naik bersama air-airnya ke bak, dilanjutkan dengan menguras kamar mandi yang airnya mengambang karena permukaan yang tak rata, gue justru tidak merasa bebas. Gue kangen PAM Jakarta, yang disaring dan terlalu banyak kaporitnya. Kulit gue pun demikian.

 

Perhaps freedom is not always about being away. Perhaps freedom is about to be able to choose our own home freely and to always look at the most ordinary thing, most mundane habit in that home as something new, something that excites me, something that I’ll always miss. And with being freed as such, I will always in a journey, in my own life.

 

Ada banyak orang yang pergi jauh meninggalkan tanah kelahiran untuk kemudian menetap di Belitong, dan menatap setiap senti bebatuan granit dan biawak sebagai rumah. Yang lain akan pergi menemukan tempat lain dan membangun rumahnya. Sisanya tak pernah meninggalkan rumahnya karena selalu yakin itulah tempatnya akan berdiam. Sedangkan gue, berkeliling jauh dan akhirnya memilih rumah gue. It’s called Jakarta.

 

Akan ada masa dimana gue merutuki lagi macet dan basa-basi sosial di kota yang penduduknya banyak gue kenal ini. Lalu gue akan menyelinap keluar rumah, mencari sensasi keterasingan. But I’ll know where I should come back. And for now, I’m home.

PS: Ini dia nih foto-foto yang bikin gue pulang: http://margarittta.multiply.com/photos/album/19/Belitong_yang_bikin_kangen_rumah


Blog EntryPermantananJan 31, '10 5:08 AM
for everyone

Pere 1: Menurut loe gue harus undang mantan gue ke kawinan gue?

Pere 2: Cowo loe ngundang mantannya juga nggak?

Pere 1: Pacar gue emang beda sama mantan  gue! Kalau yang sekarang nggak pedulian sama mantannya!

Pere 2: Duh, enaknya, gak kayak cowo gue, masa udah kawin masih bbm-an sama mantannya

Pere 1: Loe-nya juga sih, masih kontak sama mantan loe!

Pere 2:  Gue kan cuma pingin tau kabarnya dia sekarang! Ngomong-ngomong mantan loe sekarang dimana ya?

Pere 3: Mantan gue yang mana?

                                                                                                                 

Tiga perempuan, tidak bisa dibilang single. Yang satu bahkan akan segera menikah. Yang satu punya pacar siap nikah. Tapi dalam perbincangan selama berjam-jam, tidak banyak diceritakan tentang pacar masing-masing. Yang banyak terdengar: tentang mantan pacar, tentang mantan pacar pacar baru, tentang mantan pacar teman.   

 

Sejujurnya, gue merasa takjub akan perbincangan ini. Ada begitu banyak sisi menarik dari partner masing-masing.  Mengapa kita tidak berbincang seperti wanita pada umumnya? Marilah kita membagi semua detail-detail percintaan yang tak relevan bagi orang lain! Pamerkanlah hadiah cincin satu karat itu, atau nyanyikan lagu tema jadian, atau deskripsikanlah ciuman pertama.

 

Atau.. bagilah semua masalah yang muncul dalam hubungan agar persaudaraan wanita bisa saling menguatkan; tentang minimnya frekuensi ditelpon, kebiasaan mengupil atau durasi seks. Pokoknya...APA AJA DEH SELAMA MENYANGKUT HUBUNGAN YANG SEDANG BERLANGSUNG!

 

Mengapa yang jadi topik utama malah mantan pacar? Seolah-olah apa yang telah berlalu akan menjadi bahan yang lebih menarik daripada apa yang digenggam sekarang. Seolah permasalahan utama dalam hubungan adalah permantanan.

 

Tapi kemudian gue disadarkan akan sebuah kenyataan: dalam setiap hubungan percintaan, selalu ada lebih banyak mantan pacar daripada pacar. Biasanya, berpacaran adalah antar satu pria dengan satu wanita. Jika ahli dan menganggur, bisalah jumlah pacar mencapai tiga. Angka empat sudah dianggap di luar batas kemampuan dan integritas.

 

Sedangkan jumlah mantan pacar, dimulai dari satu hingga tak terhingga. Belum lagi dari pasangan yang juga membawa mantan pacar. Demikianlah, maka permantanan menjadi lebih rumit dari perpacaran itu sendiri. Ada lebih  banyak aturan, permasalahan yang muncul dengan kelompok dengan anggota lebih banyak daripada dengan satu individu.

 

Semakin rumit, karena kebutuhan akan informasi yang mengatur permantanan ini kurang dieksplorasi. Kebanyakan majalah gaya hidup hanya membahas masalah percintaan yang sedang berjalan saja, tanpa membandingkan dengan yang telah berlalu, tanpa melibatkan mantan pacar.

 

Dan dengan kenyataan ini, gue akan semakin sering terlibat diskusi permantanan dengan sahabat wanita,  meski banyak opini gue dimentahkan lantaran dianggap tidak relevan. Guna menanggulangi curhat mantan dan kepalsuan hati, maka gue menuliskan disini rubrik cinta sesuai dengan jawaban yang ‘diinginkan, PLUS jawaban antagonis dari gue.

 

GUNDAH GULANA SATU: PERLUKAH MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN MANTAN PACAR?

Dear Cinta,

Saya putus dan saya sudah punya pacar baru lagi. Awalnya saya dan mantan masih menjaga hubungan baik karena sebagai seseorang yang pernah saling sayang, saya ingin ada di saat ia butuh teman bicara. Namun akhir-akhir ini pacar baru saya kurang bisa menerima hubungan ini. Saya sudah bilang bahwa saya cuma ingin menjadi teman yang baik dan bahwa saya tidak punya alasan menjauhi mantan. Bagaimana supaya pacar baru saya mempercayai saya?

 

Jawaban rubrik cinta:

Setiap persahabatan adalah berharga untuk dipertahankan, apalagi dengan seseorang yang pernah kita cintai. Hubungan baik dengan mantan pacar bisa dinilai sebagai sebuah keterbukaan, bahwa memang kalian terlibat dalam hubungan yang sehat dan indah. Buatlah pacar kamu melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif. Bahkan, kamu bisa mengenalkan dia dengan mantanmu, supaya mereka juga bisa saling bersahabat. Hal ini akan membuktikan bahwa memang tidak ada sesuatu di antara kalian.

 

Jika pasangan tetap tidak bisa menerima, berarti ada masalah kepercayaan. Mungkin kamu harus introspeksi tentang apa yang membuat dia tidak percaya kamu. Jika kalian sudah saling percaya, tidak peduli siapa yang kalian temui, hubungan kalian akan tetap kokoh! Good luck!

 

Jawaban antagonis:

Permasalahan ini tidak akan muncul jika loe tidak berhubungan dengan mantan loe lagi.

 

Jawaban ini tidak dilandasi kebencian pada mantan pacar, atau hasrat bermusuhan yang tinggi. Tapi lebih didasari oleh latar belakang budaya. Gue Cina. Berdasarkan asumsi yang berkembang di mata masyarakat, kami suka melihat segala sesuatu dari untung-rugi semata. Demikian juga dalam hubungan. Gue melihat setiap relasi yang gue buat sebagai investasi. Jika gue menelpon, meng-sms, beramah-tamah, diharapkan ada hasil dari investasi waktu dan pulsa yang gue tanam, yaitu berupa hubungan lanjut.

 

Jika gue putus, berarti investasi gue sudah rugi sampai modal-modalnya. Buat apa gue membuang modal lagi di lahan yang jelas-jelas tidak menguntungkan dengan mengeluarkan ex-boyfriend maintenance fee?  Lebih baik gue berinvestasi di tempat yang masi mungkin chuan, seperti dengan pacar baru atau sahabat.

 

 JANGAN JUGA MEMBUAT EXCUSE, seperti bahwa hubungan masih bisa menguntungkan karena siapa tahu akan ada peluang bisnis blahblahblah. Sampai diketahui jelas kapan return of investment diterima, sebagai investor (dan Cina) yang ulung, tentu gue akan lebih berhati-hati bermain di pasar yang pernah merugikan gue ini.

 

GUNDAH GULANA DUA: PERLUKAH MENGUNDANG MANTAN KE ACARA PERNIKAHAN

Dear Cinta,

Akhirnya! Aku bakal nikah tahun depan!!! J Tapi aku bingung nih, perlu nggak mengundang mantan pacar pada acara ini? Kita sih udah lama sekali tidak berhubungan. Tapi kami putus baik-baik dan alangkah anehnya jika suatu hari kami papasan dan aku ternyata sudah menikah. He’s the love of my life dan setidaknya berhak mengetahui peristiwa besar dalam hidupku.

 

Jawaban rubrik cinta:

It’s your BIG day. Semua orang yang berarti buat kamu harus hadir, termasuk mantan pacar. Saya percaya dia akan sangat menghargai undangan ini. Lagipula, hubungan kalian sudah tak berarti apa-apa, jadi apa salahnya menunjukkan goodwill? Tapi lain halnya kalau mengundang mantan ini membuat calon suami kamu risih. After all, inilah hubungan yang lebih penting dan kamu harus memprioritaskannya di atas apapun. Coba dulu beri pengertian, siapa tahu dia malah mau ikut mengundang mantannya juga. Wah serunya!

 

Jawaban antagonis:

Saat mempersiapkan pernikahan semakin dekat, loe bakal sibuk banget sampe ga keingetan buat ngundang mantan loe.

 

DUDE, please! Jika seseorang memang sudah tidak ada arti apa-apanya lagi, gue mungkin bahkan tidak akan sempat menimang-nimang akan mengundang atau tidak. Coba bayangkan: Gue putus. Sakit hati. Facebook, messenger, dan segala jalur komunikasi terputus. Dan sekarang, di saat gue sedang harus memilih 28 jenis canapé yang akan dihidangkan, apa gaya foto prewed gue dan siapa fotografernya, dan menengahi perseteruan para bridesmaid akan warna seragam gaun, gue harus bersusah payah mencari-cari lagi kontak seorang mantan? Gimana kalau gue punya banyak mantan? I don’t have much time, you see...

 

Atau coba bayangkan sebaliknya: Kami putus baik-baik, segala hubungan masih terjalin meski tidak sedekat dulu. Mengundang cuma perkara ‘send invitation to all friends’ di Facebook. Dateng sukur, nggak ya udah. Tapi tidak ada pemikiran keras yang membuang volume otak dalam hal undang-mengundang.

 

Yang jelas, perkara courtesy call untuk memberitahukan hari besar dalam hidup gue bagi seseorang yang pernah berarti, tidak akan jadi pertimbangan. Kalau dia berharap untuk menjadi segitu berartinya, kenapa dulu putus?

 

GUNDAH GULANA TIGA: BAGAIMANA JIKA PACAR SAYA MASIH BERHUBUNGAN DENGAN MANTANNYA?

Dear Cinta,

Gue lagi BETE abis nih! Ngapain sih tuh cewe masih nyariin cowo gue? Mereka kan udah putus lama! Dasar kecentilan! Sekadar info aja ya, dia itu udah kawin, udah hamil pula! Hamilnya juga bukan sama cowo gue! Tapi selaluuu aja, nyari-nyari alasan hubungin cowo gue lagi. Mau curhat lah, mau nyari info bisnis lah! Halah! Curhat aja sama laki loe sono! Cowo gue juga, ditanggepin aja! Alasannya, cuma temenan, lagian via bb doang, nggak sulit. EHHH! Daripada BB-an sama mantan loe, mending BB-an sama pacar loe sini!! Cinta, maaf ya gue jadi marah-marah, abis gimana dong caranya ngejauhin tu mantan dari cowo gue? Gue aduin aja ke suaminya biar cerai? Tapi kalau cerai gue makin terancam dong? GUE SANTET AJA KALI YA???

 

Jawaban Rubrik Cinta:

Relax...cool...calm...Tarik nafas...tenangkan diri kamu. Cemburu buta tidak akan membawa hubungan kalian menjadi lebih baik. Trust your boyfriend. Mereka putus pasti karena satu sebab yang sudah tidak bisa ditolerir. Kalau masih bisa dijembatani, buat apa mereka putus dan dia pacaran sama kamu? He’s with you because you’re special, you’re better than his ex. Siapa tahu, kamu juga bisa temenan sama mantannya. It’s nice to understand his past too...

 

Jawaban antagonis:

Semua ini tidak akan terjadi kalau loe punya pacar yang cerdas.

 

Bagaimana mungkin ada pria sehat dan mengaku waras yang mau jadi tong sampah mantan pacarnya? Bagaimana mungkin, meski sudah menjadi hak dan kewajiban orang lain, masih mau menyatakan tanggung jawab? Bagaimana mungkin,  ada yang mau ‘beramal’ sampai mengambil risiko kehilangan ‘pekerjaan tetap’?

 

Jawabannya cuma beberapa kemungkinan: Karena dia goblok. Sia-sia. Patetik. Pebisnis yang buruk *lihat gundah gulana nomor satu. Kombinasi keempatnya. Baik? Mungkin...tapi baik sama bego bedanya tipis. Sebagai pacar yang baik, Anda berkewajiban meningkatkan kecerdasan berbangsa. Tapi kalau sang pacar menolak menjadi pintar, humph...we love smart guys don’t we? And we don’t want to fall in love with dumb guys, do we? Let him know that

 

Setelah melihat lagi jawaban gue, mengertilah mengapa semua saran gue selalu ditolak. Jawaban gue dianggap tidak menjawab persoalan dan seolah mengasumsi bahwa permasalahan tersebut tidak ada. Gue memang tidak memberi nilai tambah terhadap jawaban rubrik cinta. But then again, we don’t even need rubrik cinta if things ARE really over. We just won’t bother to even think about it. A friendship wouldn’t burdern us and it doesn’t matter if he has dissapeared either. Isn’t it what’s being called as ‘moving on’?


Blog EntryMereka Bilang Saya Cina. (Emang!)Jan 22, '10 6:00 AM
for everyone

“Pokoknya kagak ada tuh yang namanya gue didandanin pake Oriental Chic lah, Japanese look lah, Artis Korea-lah, ntar jadinya Cina-Cina juga!”

 “Mau menyembunyikan identitas ya?” Tukang Make-up melirik penuh curiga.

 

Saat itu gue baru akan dipotret untuk profile buku, termasuk yang kedua, Cruise on You yang rilis 14 Febuari nanti. Dan berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, para tukang rias gatel sekali mendandani gue ala Hong Kong, Jepang, Korea atau Taiwan, meski hasil akhir selalu terlihat serumpun: Enci-enci.

 

 “Yee..bukan gitu!  Gue gak didandanin aja uda Cina, gimana kalau didandani ala Cina, ntar ke-Cina-an! After all, sesuatu yang berlebih itu ga baik...” gue memberi alibi.

Mbak Juru Foto tertawa, “Baru kali ini gue denger Cina yang men-Cina-Cina-kan dirinya!”

“Lha emang gue Cina mau bilang apa?” gue menjawab sewot.

“Yaa... jarang aja ada Cina nyebut dirinya Cina, biasanya kan Tionghoa, atau ga ngaku sama sekali, bilangnya Jakarta aja gitu...”

“Halah! Cina mah cuinuaw ajiauw...” Gue masih berusaha menanggapi. Namun proses make-up sudah dimulai. Dan ternyata sulit berbicara saat sedang dibedaki...Maka gue diam saja, sambil memikirkan penyangkalan gue dan saudara-saudara terhadap kecinaan nenek moyang kami.

 

Siapa yang mau dibilang Cina di Indonesia? Seorang oom teman berdarah Batak punya perawakan, kulit dan mata seperti orang keturunan Cina. Di satu lampu merah, beliau didekati pengemis yang ditolaknya mentah-mentah. Sang pengemis marah dan mengumpat, dasar Cina pelit! Murkalah sang Oom mendengarnya. Ia langsung turun dan memaki, “Berani kali kau bilang aku Cina!” Si Oom marah karena dibilang Cina, bukan karena dikatai pelit.

 

Menjadi Cina memang tidak pernah jadi pilihan favorit di Indonesia. Kerusuhan Mei 98 jadi bukti paling konkret.  Gue teringat kisah kenalan tante, sepasang suami istri Cina-Padang (Pria Cina yang nikah dengan wanita Padang, bukan Cina yang lahir di Padang). Saat para perusuh mulai memasuki kompleks perumahan mereka saat itu, segeralah sang suami melarikan diri membawa anak-anak mereka.

 

Sedangkan si istri, merasa dirinya Padang, tetap tenang menyelamatkan harta benda. Malang bagi sang ibu muda, lupalah ia akan kulitnya yang kuning dan matanya yang sipit. Ketika para perusuh bertandang ke rumah, berhasratlah mereka memperkosa. Enak aja! Gue Padang tau! Sang Istri membela diri.

 

Beruntung karena memang sedang tidak berbohong, beliau bisa menyebutkan dua kalimat syahadat dan berbagai ayat-ayat yang diminta calon pemerkosa. Tapi tetaplah Sang Istri digampari. Kata mereka, Sapa suruh loe kawin sama Cina! Ekstrimnya, jangankan jadi Cina, bergaul dengan manusia Cina itu saja sudah haram jadah!

 

Menjadi Cina juga sudah tidak popular sebelum kerusuhan. Kata ‘Cina’ berkonotasi sengkek, pelit, perhitungan, curang. Padahal yang pelit itu bukan Cina aja. Suku Padang juga punya stereotipe ‘bengkok’. Jangan ditanya Arab. Leluhur yang satu lagi ini bakal tersinggung kalau kemahiran mengatur uang tidak diakui.

 

Tapi anehnya, bahkan menjadi seorang Cina-Arab akan memperbaiki citra dibandingkan jadi Cina-aja, meski perpaduan kekikiran dan kecurangan berdasarkan stereotipe seharusnya menjadi sangat mengerikan...

 

Sanking ga kerennya, segala ciri fisik yang menempel juga jadi jelek. Ga ada yang mau dibilang mukanya kaya Cina, karena langsung terbayang: mata sipit, kulit kelewat putih dan hidung pesek. Kasarnya, jika ada buku berjudul Mereka Bilang Saya Monyet, gue bisa saja menulis judul Mereka Bilang Saya Cina—dan konotasinya rasa judul tersebut menjadi sama.

 

Konon semua ini sudah mengakar dari jaman penjajahan, dimana pedagang Cina diangkat sedikit martabatnya dari kaum pribumi, menimbulkan kebencian dan kecemburuan sosial. Lalu strata ini semakin dikukuhkan di masa orde baru.

 

Tapi tetep aja, buat gue, alasan sejarah ini ganjil. Kalau memang benar kebencian muncul karena pembagian kelas, kenapa bukan orang indo-eropa yang di-sentimen-in dan diperkosa? Selain lebih cantik, leluhur mereka juga lebih diuntungkan dalam klasifikasi strata di masa lalu. Tapi wajah mereka malah lebih sering mengisi layar kaca dan dipuja-puja bangsa.

 

Alasan bahwa minoritas selalu digencet juga kurang valid. Se-minoritas apakah minoritas itu? Jika dihitung total keseluruhan warga keturunan Cina di Indonesia, mungkin jumlahnya tengah saja, ga minor ga mayor. Apa anak tengah suka digencet? Lagipula, merunut dari masa proto dan deutero-Melayu, tidak ada pembagian mayor-minor karena suku-suku yang dikenal kini di Indonesia berleluhur dari dataran Yunan.

 

Meski tanpa sebab pasti, keadaan telah  mengkondisikan asumsi darah CIna sebagai kutukan, bahkan bagi yang benar-benar Cina sekalipun. Tidak lagi dipertanyakan, why is it so uncool to be a Chinese? Why is it such a shame to have Chinese blood? Why is it insulting to be called Chinese? Semua dianggap memang demikianlah adanya, bahwa menjadi Cina sudah tidak keren darisononye.

 

Tanpa mengetahui sebab-muasalnya reaksi yang misterius ikut mencela-cela kaum Cina Kota. Padahal tinggal di Gajah Mada, dan golongan darahnya C. Tanpa mempertanyakan kenapa harus bersikap demikian, ikut merasa tersinggung, malu dan sewot kalau dituduh Cina, memilih kata Tionghoa.

 

Padahal apa bedanya arti Cina dengan Tionghoa? Saudara di tanah daratan saja dengan bangga menyebut nama negaranya sepagai People Republic of CHINA. Kata pengganti cuma semakin mengukuhkan asumsi bahwa Cina adalah sesuatu yang kurang baik hingga pantang disebut.

 

Gue pun pada masanya  secara refleks  menekankan nama ‘Astaman’ yang khas Jawa-Bali, dan mengabaikan 50%  sel darah hasil patungan Leluhur Kwik dan Leluhur Tjoa. Menuliskan INDONESIA di kolom SUKU, saat rekan lain akan mengisinya dengan JAWA, BUGIS, SUNDA.

 

Tentunya,  above other things, gue memang Indonesia. Gue bisa mati muda jika disuruh tinggal di Tiongkok. Dibuktikan dengan kemampuan berkelit yang exceptional, rasanya perbendaharaan bahasa Indonesia gue termasuk di atas rata-rata. Keluarga gue mungkin lebih akrab kisah perwayangan daripada keluarga manapun.

 

Kami bisa saja membuktikan kami lebih Indonesia daripada sebagian besar rakyat yang diatur dalam undang-undang sebagai ‘pribumi’. Tapi Lidah bisa boong tampang ga bisa boong. Adalah konyol untuk tidak mengakui identitas yang jelas-jelas terpampang di muka, bahwa ada satu garis keturunan yang mengalir dalam nadi.

 

Kalau gue bilang gue berasal dari Jakarta, maka segeralah lawan bicara mengambil kesimpulan: Gue orang Cina yang tak punya asal daerah di Indonesia, maka ngakunya Jakarta. Tidak akan ada yang percaya kalau gue mengklaim masih punya darah biru Betawi karena Nyai Saamah memang tampil resesif di wajah gue.

 

Juga ketika gue menjawab gue keturunan Cina-Jawa, maka segeralah lawan bicara mengasumsi bahwa gue adalah Cina yang lahir di Jawa. Dan penjelasan berbusa-busa gue bahwa gue berasal dari keluarga pemilik gedung pertunjukan wayang akan berakhir sia-sia. Karena sekali lagi, muka gue ga ada wayang-wayangnya.

 

Menatap riasan ala Eropa yang sesuai prediksi, tidak menyembunyikan wajah oriental, gue sadar:  gue tidak punya kemampuan dan alasan untuk menyembunyikan identitas gue. Maka gue akan berkata dengan lantang dan bangga: Yes, I’m Chinese. I’m good with numbers, negotiation and trading. I have slanted eyes, flat nose, extremely straight black hair and yellowish skin. And I feel goddammitly beautiful.


Blog EntryFalling in love with my life (lewat Solo)Dec 27, '09 5:03 AM
for everyone

Bapak-bapak.

Itulah jawaban gue jika ikut permainan menyebutkan hal pertama yang terlintas dalam benak saat satu kata disebut, dan jika kata tersebut adalah Solo.

 

Gue tidak tahu mengapa alam bawah sadar gue akan mencetuskan kata itu. Mungkin sebagai anak muda kota yang berwawasan dan berpengalaman katak dalam tempurung, gue cuma bisa mengidentikkan Solo dengan batik. Dan batik dengan kondangan. Dan kondangan dengan...bapak-bapak tamu kondangan.

 

Gue bahkan bisa membayangkan dengan jelas bapak-bapak itu, dengan batik satin warna keemasan mengkilap, rambut disemir hitam meletek klimis karena minyak rambut, plus kumis agak melebar warna senada. Bicaranya agak muter dan medhok, khas suku yang mengalirkan seperempat darah mereka pada gue namun lenyap ditelan gen dominan kecinaan gue.

 

Tentu saja gue keliru. Pasti Solo punya lebih dari sekadar bapak-bapak. Maka ketika kesempatan main ke Solo datang dalam bentuk promo buku Have a Sip of Margarita oleh tim Build Independence, gue dengan semangat memulai riset gue.

 

Secara ganjil, rupanya Wikipedia gagal memuaskan kebutuhan informasi gue. Yang disebut batik lagi batik lagi. Terpaksa gue mengorek informasi secara langsung, dari seorang rekan kerja asal Solo.

            “Bow! Gue mau ke Solo nih! Kira-kira kemana aja ya?”

Memberi tatapan berpikir keras. “Hmm...Kalau Solo sih, nggak ada apa-apa, Gy...”

Tidak putus asa, gue kembali mencecar dengan pertanyaan lain. Kalau Solo isinya cuma batik, so be it! Yang penting bisa belanja!

                “Ohh..jadi beli batik aja ya? Kalau beli batik yang murah dan bagus dimana?”

                “Batik keris,” jawabnya lantang.

                “Lha emang  Batik Keris Solo sama Jakarta harganya beda?”

                “Engga si, Gy, sama aja...”

Saat itu gue seperti mendengar bunyi twang-twang-twang di telinga gue. Kalau Batik Keris juga dengan harga yang sama, buat apa gue cape-cape mengambil risiko merenggang nyawa dengan pesawat domestik ke Solo?!

 

Mungkin teman gue memang bukan orang Solo yang baik...pikir gue. Dengan kepositivan yang sama gue mengajukan pertanyaan serupa pada rekan seperjalanan, seorang putri Solo, di dalam pesawat.

                “Di Solo ada apa aja ya?”

                “Wah, kalau objek wisata sih kurang yah...”

                “Hoo..kalau batik beli dimana?”

                “Batik Keris...”

Begitu mendengar batik keris yang kedua, gue nyerah. Menantikan pesawat mendarat dengan ‘bapak-bapak’ sebagai satu-satunya bayangan gue tentang Solo. Namun bahkan di saat gue baru mendarat, gue sudah tidak ingat si bapak lagi.

 

Kesan pertama yang didapat begitu menjejakkan kaki di Adi Sumarmo adalah bau wangi yang luar biasa kencang seperti parfum ibu-ibu yang hidungnya sudah agak kebal. Masih dengan mindset anak kota, gue melongo sambil membatin, ini Solo kan?

 

Bandara yang baru direnovasi ini terang benderang, lantainya kinclong sampai menyilaukan, ukirannya cantik, dan trolleynya canggih, mengingatkan gue  dengan Changi Airport junjungan Singapura. Begitu kontras dengan bandara Soekarno Hatta terminal dalam negeri yang gue tinggalkan sejam yang lalu. Masuk airport saja makan waktu setengah jam dalam antrian satu-baris-jadi-tiga.

 

Semakin termelongo saat mengitari kompleks Kasunanan Surakarta dengan kampung para kerabat-pekerja Keraton. Jalanan yang tertutup bata dengan dinding warna dominan biru muda terang serta bentuk gapura yang seragam mengingatkan gue pada Komplekls istana Forbidden City di Cina. Versi ademnya.

 

Saat itu gue protes sama Mas Hiu yang mengantar jalan-jalan. Kok bisa sih dua teman orang Solo tidak menceritakan ini semua pada gue dengan rasa bangga? Kalau gue wong Solo dan ditanya di Solo ada apa, gue akan langsung mencetuskan kampung batik dengan koleksi beragam, bandara berstandard internasional dan jalanan bersih tertata rapi dengan trotoar selebar lima meter yang dilengkapi fasilitas wi-fi dan bersih dari pedagang kaki lima. Mirip Orchard Road!

 

Mas Hiu cuma meringis kecil dan menjawab, Yah, mungkin karena kami tinggal disini, jadi semuanya terlihat biasa saja, karena sudah jadi pemandangan sehari-hari.

 

Mangga tetangga selalu lebih manis dari mangga sendiri. Gue terkagum-kagum melongo melihat Solo, karena gue turis. Karena Solo bukan kota gue, bukan tempat tinggal gue. Seandainya ada turis yang datang ke Jakarta, gue akan mulai bertutur soal macetnya, banjirnya, jambretnya, bomnya. Gue mungkin akan lupa akan cantiknya Pasar Tanah Abang dengan warna warni kain harga bersaing. Mungkin tak sempat terkagum-kagum dengan tugu Monas yang berlapis emas. Malas memamerkan mall yang dekorasinya menyerupai kasino mini di beberapa negara.

 

Sama juga saat melihat pekerjaan sendiri. Entah karena rendah hati entah karena jujur, gue jarang mendengar orang yang mencetuskan: I love my job! Jawaban yang sering gue terima dari rekan perkuliahan tentang pekerjaan pertama mereka adalah: Oke lah. Ya namanya juga kerja mana ada yang enak. Yang penting gajinya lumayan. Atau paling baik: Dibandingkan sama yang kemarin sih lebih enak yang ini. Meski diucapkan tanpa nada antusias.

 

Meski mungkin bukan the best job in the world, tapi sebenarnya pekerjaan mereka lumayanan, bahkan mungkin adalah the job a million people would die for. Hanya saja sulit untuk melihat sesuatu yang dilakukan setiap hari dan oleh diri sendiri sebagai kegiatan yang asik. Jauh lebih mudah untuk berdecak kagum atas apa yang dimiliki orang lain. Atas daerah asing yang jadi tempat tinggal orang lain.  Untuk menganggap sesuatu yang baru dan beda itu sebagai lebih bagus.

 

Sayang, bisa dipastikan, saat gue pindah rumah, mangga tetangga yang lebih manis itu bakal jadi milik gue. Dan berarti ada mangga-mangga lain yang akan gue inginkan. Dan begitu seterusnya sehingga gue tidak bisa menikmati manisnya mangga. Padahal, mungkin mangga di halaman itu adalah mangga hibrida yang juga telah membuat iri tetangga gue yang lain.

 

Tentu tidak semua orang seperti gue yang punya rasa sirik berlebih. Beberapa anggota komunitas blogger bengawan sangat suka dan bangga menulis tentang kota Solo-nya, memberi gue informasi yang bewarna untuk jalan-jalan gue kali ini. Gue sering mendengar kisah crazy scientist yang akan berapi-api membagi penemuan barunya, dan tidak bisa membayangkan mengerjakan hal lain selain menjadi ilmuwan.

 

Tapi terlalu banyak hal biasa karena terbiasa yang sebenarnya istimewa, menarik dan patut dicintai. Alangkah menyenangkannya kalau gue dipinjami mata orang lain untuk melihat hidup gue sendiri, sehingga bisa mengaguminya dan kembali jatuh cinta pada diri gue sendiri. Life would be much easier.

 

I want to fall in love with my own life. I want to get head over heels about things that I do. I want to passionately share my daily routine. Gue mau tergila-gila dengan  tempat tinggal gue, pekerjaan gue, keluarga gue, rumah gue, dan segala hal yang jadi milik saat ini.

 

Dengan semangat ingin bersemangat menjalani hidup itulah gue berusaha memaksimalkan jalan-jalan gue di Solo minggu lalu. Langsung melompat naik kereta api uap wisata keliling Solo ketika melihat si stroom mini sedang berhenti di depan jalan.

 

Sibuk berfoto dan menikmati pengalaman Kampung Batik Kauman sambil menikmati jamu jahe, es susu segar, diiringi alunan gamelan mini di dalam kereta, tanpa memikirkan kenapa tak ada tiket yang harus dibeli. Tetap tidak khawatir saat menyantap tengkleng, nasi goreng bakar, sambel belut, es podeng kopyor, sate ayam dengan voucher 30 ribu di Galabo, area jalanan yang ditutup menjadi tempat wisata kuliner.

 

Barulah saat gue mendengar pengumuman: BAGI KELUARGA BESAR BAPAK SUHANDI DIHARAPKAN SEGERA KEMBALI KE KERETA, gue menyadari bahwa gue selama ini sudah menjadi penumpang gelap dalam acara reuni keluarga besar Bapak Suhandi yang telah mencarter si kereta wisata hari itu...Maaf Bapak Suhandi, saat itu mood saya adalah untuk menikmati apa yang ada dan dimana saya berada semaksimal mungkin!

 

Naik mobil ngebut dalam perjalanan menuju airport Solo, gue mencatat dalam hati bahwa gue akan mulai melihat tempat tinggal gue dengan mata orang lain. Gue akan mulai dari Soekarno Hatta yang selalu gue cela.

 

Namun ternyata memang agak sulit. Saat tiba, bandara di Jakarta begitu penuh sesak dengan warganya yang baru pulang long weekend. Bagaimana bisa melihat kalau lantainya saja tak kasat mata lantaran seluruh permukaannya tertutup tapak kaki! Mengeluh lagi tentang daerah sendiri...


Blog EntrySiti Nurbaya Vs Malin KundangDec 14, '09 10:36 AM
for everyone

Seorang teman telah bertahun-tahun mencintai seorang pria. Seluruh perhatian dan kasihnya hanya untuk sang kekasih. Sayang, takdir berkata lain. Orang tua sang teman tak merestui hubungan mereka karena perbedaan latar belakang. Dengan berat hati sang teman harus rela berpisah dengan pujaan hati. Ia  begitu menderita atas perpisahan ini. Tak mampu ia mencari pengganti. Setelah berbulan-bulan, akhirnya pria lain datang menghampiri. Pria yang bisa membantunya melupakan kekasih lamanya. Dibawanyalah pria yang latar belakangnya sama dengan pria pertama ke hadapan orang tua.

 

Dan sang orang tua berkata, “daripada yang sekarang, masih mending yang dulu, deh...” Temanku rasanya mau pingsan.

 

Yang bener aja? Masa disuruh balik lagi? Dulu ngotot sampe mati nggak dikasih, lha sekarang?! Terus apa gunanya dong banjir air mata dan ruam kulit karena setres itu? Mendengar kisahnya, gue tertawa terbahak-bahak sambil berkata DUDE! I FEEL YOUR PAIN!!

 

Sungguhlah Tuhan itu paling suka becanda. Rencana-Nya suka tak terduga. Mengapa urusan perjodohan tidak dibuat secara lebih sederhana dan sistematis? Sudah tahu gue Katolik, Tuhan selalu mengirimkan lelaki beda agama buatku. Selalu. Sejak aku umur 16,  mungkin sekali dua kali Ia berbaik hati pada orang tuaku.

 

Sungguh. Beneran. Bahkan dengan situasi yang kurang menguntungkan itu, gue dan teman gue tetaplah berusaha untuk menghindari kedurhakaan. Kami anak yang baik, berbakti dan tidak lupa kacang pada kulitnya. Setiap kali gue berdoa, yang memang tidak sering, selalu ada permohonan: Tuhan kirimkanlah lelaki untukku. Lelaki yang bisa kunikahi tanpa meningkatkan kadar kolesterol, darah tinggi, dan risiko stroke orang tuaku.  Aku janji ga main-main lagi, janji!

 

Gue juga sudah mengubah selera. Sudah tak tertarik lagi dengan kulit sawo matang yang terkesan macho. Mata sipit? Boleh lah, Richard Gere juga sipit. Mencari pergaulan se-glodok mungkin. Pantang makan masakan dari daerah tertentu, karena kata orang, ada risiko dari perut turun ke hati. Diharapkan dengan pergaulan yang tepat, gue akan menjaring tokoh yang tepat pula.

 

Hanya kadang, berkulit putih bermata sipit, juga merupakan karakteristik suku yang terkenal kental adat agama, yang di beberapa daerah masih berperang salib dengan agama gue..

 

Kata teman, gue dihukum Tuhan karena dulu pernah mempermainkan lelaki dari daerah tersebut. Loe akan diberi 10 cowo *A**N*. Saat gue bilang, sudah lewat 10, ia menjawab, Oohh, klo gitu hukuman loe diperpanjang gy...

 

Menghibur diri, gue berusaha meyakinkan bahwa Tuhan tidak suka menghukum. Dia cuma suka becanda aja...pada objek-objek ciptaan-Nya yang dibuat dengan selera humor berlebih, seperti gue dan beberapa orang teman gue. Maka gue tertawa saja setiap kali Tuhan sedang mengirimkan gurauannya ke muka bumi. Ha.ha.ha.

 

Sangking berusaha untuk berbakti, gue tidak pernah keberatan jika orang tua mencari jodoh yang disuka untuk kami. Namun ternyata itupun kurang sesuai dengan kehendak mereka. Seperti kata orang tua sang teman, “jangan gitu dong, kamu juga harus nyari, tapi nyarinya yang bener...”

 

Jawaban ini semakin melemahkan mental anak juara kami. Tentu saja kami mau berjodoh dengan lelaki tampan seiman setia pemilik perusahaan itu! Tapi mungkin justru kaum ini tak merasa selevel dengan kami. Jika dipaksakan, mungkin kaum inilah yang jadi durhaka karena orang tuanya tidak setuju atas pilihan anaknya (yaitu: kami).

 

Dan di tengah keadaan ini, setiap saat selalu timbul godaan untuk membangkang menyalahkan keadaan, keluarga dan siapa saja kecuali diri sendiri  dan serta timbul keinginan untuk...well..menjadi durhaka.

 

Jika gue anak angkatan Siti Nurbaya, tentunya keinginan tak akan muncul. Anak adalah milik orang tua. Mungkin tak akan terlintas di pikiran gue untuk sekalipun membangkang orang tua, apalagi dalam hal menikah. Lagipula jaman itu kita tak perlu mencari jodoh sendiri. Dan karena semua dijodohkan, tentu tidak ada siti sirik pembanding hati.

 

Tapi terlahirlah gue di jaman modern. Dimana nilai individualisme makin kenceng dan nilai kekeluargaan semakin luntur. Yang diberi judul keluarga makin lama makin kecil anggotanya. Di dalam keluarga-pun, ke-aku-an semakin kentara. Setiap anggota keluarga punya sifat dan pendirian sendiri yang harus diperhitungkan. Pemaksaan kehendak dan kekerasan dilarang berdasarkan undang-undang.

 

Di negara dimana gue berkuliah, mulai banyak yang memanggil nama pada orang tua sendiri. Di usia tertentu mereka keluar rumah dan bebas menentukan jurusan universitas sesuai minat dan bakat. Anak punya hak untuk menentukan jalan hidup sendiri.

 

Dan sebagai anak yang mudah terseret modernisasi, gue pun mengikuti semangat ini. Bertanya mengapa, jika gue yang menjalani hidup, harus ibu bapakku yang menentukan bagaimana gue menjadi bahagia? Mengapa ibu bapakku boleh menyuarakan keberatan pada pilihan gue, ketika yang menikah itu gue, bukan orang tua?

 

Di tambah lagi alasannya hanya karena perbedaan latar belakang. Di jaman globalisasi sekarang ini, pengkotak-kotakan berdasarkan agama dan suku terasa sooo last year. Secara rasional, apa jaminan pernikahan seiman akan lebih langgeng? Dan mengapa harus keberatan dengan percampuran ras? Nggak masuk akal!

 

Lagian, gue tidak tinggal di Sumatera Barat. Juga rumah gue jauh dari pantai. Jadi kemungkinan gue dikutuk jadi batu di pantai Padang macam Malinkundang seperti yang selalu diceritakan sebagai peringatan/ancaman bisa dibilang, cukup kecil.

 

Dan di tengah semangat kedurhakaan, gue dan teman gue yang nyaris pingsan tadi menganjurkan setiap orang tua agar melarang dengan bertanggung jawab dan penuh perasan, karena kami tidak akan bernasib untuk menjadi pembangkang jika tidak dilahirkan sedemikian.

 

Katanya, manusia tertarik satu sama lain karena sifat yang menempel pada pribadi seseorang. Jika selama ini kami selalu menarik lawan jenis yang ‘salah,’ berarti ada yang salah pada sifat kami. Padahal, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Sifat yang menempel pada diri kami sekarang, adalah hasil perpaduan gen orang tua. Keluarga juga punya andil besar membentuk karakter dan selera setiap anak.

 

Berarti...sungguh tidak adil jika para orang tua menyalahkan sifat dan selera yang membuat kami gagal memilih jodoh yang benar. Ini bukan salah si anak malang 100%. Adalah juga tanggung jawab orang tua yang menurunkan dan membentuk sifat yang ternyata fatal attraction itu!

 

Saat sedang berdiskusi, tiba-tiba kami merasa sendi-sendi kami menjadi agak kaku.

“Coba loe liat! Warna kulit loe uda hitam keabuan belum?”
“Iye! Salah-salah loe ntar chatting sama batu!”

Maka perbincangan dua anak durhaka itu terpaksa dihentikan. Semoga saja Tuhan segera capek ketawa, dan mulai serius dengan rencana hidup gue. Kalau gue terpaksa menjadi batu, itu tidak akan lucu lagi buat gue dan keluarga...


Blog EntryYang Hamil Yang Beruntung?Nov 30, '09 12:17 PM
for everyone

This is a just for fun observation...

Ada gosip. Seorang kenalan diberitakan akan melangsungkan MBA alias Married by Accident. Dan gue menanggapi dengan komentar: “Kok bisa sih DIA yang hamil di luar nikah? Gue aja belum...”

 

Komentar gue tidak muncul karena gue adalah penganut seks bebas, atau karena gue iri dengki akan ‘musibah’ yang terjadi. Tapi akhir-akhir ini, semakin banyak tokoh yang sama sekali tidak terlihat sebagai figur yang diramalkan akan hamil di luar nikah justru menjadi objek gossip tersebut. Padahal, kasarnya, masih banyak, bahkan mungkin gue, yang berperawakan lebih wajar untuk berbaju tak trendi di atas pelaminan.

 

Bahkan ketika gue SD kelas 5, gue sudah diramal akan hamil muda. Saat itu gue bertandang ke rumah seorang teman. Melihat badan bongsor yang sepantasnya jadi milik siswa SMU satu namun dengan gaya pecicilan centil, sepupu sang teman berkomentar dengan suara lantang, “Hei kau! Kalau gaya kau seperti ini terus -menerus, kujamin kelas tiga SMP kau sudah hamil!”

 

Margie dan teman kecil saat itu langsung terdiam, selayaknya anak SD yang sedang membayangkan berbadan dua. Lima tahun kemudian berlalu, dan ketika lulus SMP, gue bersorak pada teman kecil gue itu, “We’ve break the jinx! Kita berhasil! Kelas tiga SMP dan tidak hamil!” Gue masuk SMA, lulus, kuliah, lulus, kerja, dan hingga kini belum hamil di luar nikah.

 

Sama halnya dengan seorang kawan perempuan yang lain, rekan berdiskusi di dalam kelas. Saat dosen sedang menjabarkan sosiologi di tingkat satu, percakapan kami akan berkisar seputar:

                “I think he’ll make it as a good kisser,” gue berkomentar saat melihat murid baru berbibir memble bertindik.

Sang kawan yang sedang sibuk mencatat menghentikan pekerjaannya, menatap lurus, meremas tangan gue dan berkata tertahan, “Oh, Margy, more than that...”

                “Screw you! He’s new in class and you’ve already tested it out? When?”

Percakapan sedemikian lebih sering mewarnai jam kuliah kami daripada diskusi pelajaran, terutama di hari Senin pasca weekend, hari Kamis pasca Ladies Night, dan hari Jumat pasca Ladies Night di klub Attica. Kini sang kawan bekerja di agen berita asal Perancis, dan belum hamil.

 

Demikian juga dengan kawan perempuan yang lain, yang menyatakan ia tidak pernah menyesal kehilangan keperawanannya. “Dengan menjaga keperawanan, berarti kita setuju bahwa nilai perempuan ditentukan cuma lewat selapis jaringan tipis yang bisa dijait ulang. Begitu batas itu dilewati, gue jadi bebas menikmati all the fun in the world!”

 

Bahkan dengan tindakan yang dilandasi pemikiran sebebas itu, kawan ini BELUM juga dihamili siapa-siapa.

 

Akan lebih mudah bagi orang untuk menerima jika gue (amit-amit jabang bayi) dan ketiga sahabat perempuan melahirkan bayi mungil yang lucu setelah baru lima bulan menikah. Penampilan, pola pikir dan tindakan kami lebih pas dengan bayangan orang akan pelaku MBA. Tapi kami tidak (atau setidaknya belum) pernah membawa berita tersebut.

 

Sebaliknya, dengan jumlah yang mencengangkan, ada banyak kasus dimana tokoh-tokoh yang tak terduga-lah yang terdengar telah terlibat pernikahan dini. Gadis pendiam yang rajin belajar, perempuan yang baru pernah berpacaran satu kali, dan Cinderella yang harus mendarat kembali di rumah sebelum jam dinding berdentang 12 kali. Sedangkan yang laki adalah pria yang manis dan tidak banyak omong, seorang geek yang berpacar kedua komputer, dan yang menjerit panik ketika kedapatan tak berhanduk oleh lawan jenis.

 

Gue berusaha menjawab kekaguman gue ini. Observasi pertama gue, adalah: anak bandel itu ternyata lebih pintar dari anak baik. Anak bandel membaca bokep, menonton Miyabi, membincangkan masalah seksual secara santai sambil minum secangkir teh. Dengan rutinitas semacam itu, sedikit-dikitnya, anak bandel tahu, bahwa bayi tidak dibawa oleh angsa terbang ke pintu rumah.

 

Menyadari bahwa tidak ada angsa yang terlibat proses pembentukan embrio adalah salah satu contoh bahwa anak bandel mempunyai pengetahuan sedikit lebih luas. Pengetahuan yang lain bisa saja mencakup pemahaman tentang alat kontrasepsi, teknologi menghitung tanggalan haid, hingga gratifikasi yang didapat sehingga meningkatkan kemampuan pengontrolan diri.

 

Sedangkan bagi yang baik, karena selalu menjauhkan diri dari hal berbau seksual, menjadi buta sama sekali akan hal terkait. Padahal, dalam keadaan yang tidak menguntungkan, kontak fisik tidak terhindari dan the point of no return (mengutip istilah pendidikan seks pada saat SD) tercapai. Jika point ini saja tidak dipahami, bagaimana cara menghindari dan menanggapinya?

 

Tapi ada kelemahan dalam hipotesa pertama gue ini. Jika katanya Tuhan maha adil, mengapa anak baik yang baru melakukan kelalaian satu dua kali itu dihukum? Sedangkan perempuan-perempuan residivis itu dibiarkan bebas berkeliaran menyebar penyakit?

 

Saat gue mengungkapkan kebingungan gue pada teman yang terakhir, dia setuju sambil menyatakan keheranannya, “Gue juga bingung, gue uda ML sama banyak lelaki, tapi kok nggak hamil-hamil ya?” Saat itu, gue secara spontan langsung menjawab sambil tertawa kencang, “No way, Honey, You’re not that lucky!” Enak aja loe, setelah sepanjang masa bersenang-senang dan bebas, lalu langsung bersuami dan membentuk keluarga bahagia! Gampang banget hidup loe!

 

Dan gue-pun tiba pada hipotesa berikutnya. Sungguhlah ternyata benar, orang baik akan dilancarkan jodohnya. Baik yang perempuan maupun yang lelaki,  saat memilih pasangan hidup, ada begitu banyak pertimbangan. Kadang pertimbangan itulah yang justru menghindari seseorang melihat pasangan dengan cinta yang tulus.

 

Namun dalam keadaan mendesak, seperti saat yang wanita telah berbadan dua, biasanya, pernikahan akan segera dilangsungkan. Kedua pasangan tidak lagi dipusingkan akan pertimbangan yang mungkin memang tidak penting. Yang perempuan langsung menempuh hidup baru, mendapatkan suami yang bertanggung jawab (karena tidak meninggalkan begitu saja) dan bayi kecil yang lucu.

 

Seiring dengan kehadiran sang buah hati, kedewasaan bertambah, sehingga di masa datang, sudah tidak penting lagi bagaimana awal pernikahan itu. Dengan begitu, hamil di luar nikah, itu bukan hukuman, melainkan anugerah.

 

Sedangkan bagi yang bandel, jodohnya seret. Tanpa adanya alasan mendesak untuk memulai bahtera rumah tangga, godaan dari dalam dan luar bakal terus menghantui hubungan yang baru dibina, baik dari sisi yang pria dan yang wanita.

 

Anak bandel tidak akan diberi alasan mudah untuk segera menikah. Sebaliknya, kami akan ditakdirkan untuk terus menjalani siklus hukuman tanpa henti: Dikasih pacar...putus...patah hati...sedih...PDKT...dikasih pacar...putus...patah hati...sedih...PDKT...ditolak...patah hati...sedih...PDKT...Dikasih pacar...putus...patah hati...sedih... Demikianlah ujian datang bertubi-tubi hingga akhirnya kami bertobat dan jika beruntung, diberi jodoh sejatinya.

 

Tapi teman gue protes lagi. Teman-teman SMP kami yang mendapat cap nakal pada masanya, juga sudah MBA saat kami masih duduk di banggu SMA, dan kini hidup bahagia dengan keluarga kecilnya. Akhirnya gue menemukan hipotesa terakhir gue: Kehamilan tidak ditentukan oleh sifat seseorang. Anak baik dan bandel sama-sama punya probabilitas yang sama jika melakukan ‘hal-hal yang diinginkan’. Hanya mungkin teman SMP kami itu ternyata adalah sepuluh pembeli pertama yang beruntung...


Blog EntryDilema Cinta Lelaki Berbulu DadaNov 22, '09 10:21 AM
for everyone

Setelah huru-hara perbukuan dan kejaran oom deadline menulis chicklit mereda, gue akhirnya bisa kembali mendengarkan dan menuliskan kembali cerita keresahan di antara sesama umat manusia. Salah satunya adalah keluhan kisah kasih seorang teman, bahwa pacarnya ternyata berbulu dada.

                “Gy! Oh my God! Oh my God! Oh my God!” teman gue langsung nyerocos begitu gue menyebut kata ‘halo’ di telepon.

                “Gue gak tahan! Gue ga bakal tahan!” ia melanjutkan tanpa menanti jawab.

                “Ga tahan apaan? Kerjaan? Gimana pacar?” gue berusaha menelusuri pangkal permasalahan.

                “Cowo gue, Gy!”

                “Emang cowo loe kenapa? Bukannya dia dokter, ganteng, bermobil bagus dan baik hati?”

                “Iya, GY, tapi cowo gue itu....berbulu dada...”

Berikutnya, giliran gue yang memanggil-manggil Tuhan. “Yang bener loe? Oh my God! Oh my God! Oh my God!”

                “Iya, Gy, gimana dong?” tanyanya panik.

                “OMG, emang parah banget ya?” gue bertanya setelah kepanikan gue mereda.

                “PARAHH BANGET! LEBAT!!”

                “Aduh...gimana ya? Cuma bulu dada sih, tapi itu bulu dada..ya ampun...ngeri banget...bulu dada...” gue kembali panik.

Menit berikutnya kami berdua mulai membincangkan isu bulu dada seperti membincangkan kenyataan bahwa si pacar ternyata adalah teroris yang menyamar, atau kedapatan punya penyakit kelamin raja singa.

 

Di akhir pembicaraan, cuma ada dua solusi yang gue tawarkan: cukur bulu dadanya, atau putuskan saja.

 

Sebenarnya ada satu saran yang tidak gue sebut. Saran yang orang kebanyakan akan utarakan sebagai poin pertama atau bahkan satu-satunya: Love him just the way he is. Apalah artinya sehelai (atau satu meter persegi) bulu dada dibandingkan perhatian dan segala keunggulan yang dimilikinya. Tiada manusia yang sempurna. Kita pun mungkin punya kekurangan yang sulit ia terima, namun ia sanggup menerima kita apa adanya. Mengapa masalah sepele seperti ini dibesar-besarkan?

 

Sebagai orang yang berhati emas, kata-kata bijak menyejukkan diatas-lah yang harusnya gue ucapkan. Menjadi malaikat mulia yang beroperasi atas dasar norma kebajikan yang berlaku: sifat egoisme dan ekspektasi berlebihan dari orang lain haruslah dimusnahkan, agar kawan gue ini bisa kembali ke jalan yang benar.

 

Sayangnya, gue tidak dilemparkan ke tengah-tengah malaikat bersayap putih yang selalu bernyanyi dengan iringan harpa surgawi. Sebaliknya, gue justru beroperasi di jalan sesat juga, dan bersahabat dengan tokoh-tokoh yang diberi peran sebagai ‘kaum antagonis’ dalam hubungan percintaan. Kenalan gue adalah pelacur, perebut pacar orang dan perempuan yang dituduh sebagai simpenan bos. Teman gue yang berpacar karpet di atas pun bisa disebut sebagai oknum wanita super demanding yang sangat picky-picky.

 

Dan mendengar kisah percintaan sinetron diceritakan dengan gaya bahasa sudut pandang ‘orang ketiga’ telah menyadarkan gue bahwa sebuah hubungan romantis tidak berlangsung di antara para malaikat, tetapi antara manusia-manusia.

 

Memberi nasihat penuh moral yang tidak didasari empati bisa saja membuat teman gue masuk surga, tapi selama berpacaran di dunia, ia sengsara. Karena gue juga tidak mau disuruh pura-pura menjadi utusan Tuhan saat berhubungan, gue akhirnya berusaha memberi dua opsi yang lebih manusia-wi.

 

Manusia adalah makhluk subjektif. Seberapa pun setiap orang mencoba menjadi objektif, manusia tetaplah sesosok objek yang akan membuat judgement dalam setiap hal, berdasarkan latar belakang ia dibesarkan, dan kultur yang membentuk pola pikir. Pendapatnya, tindakannya, adalah sesuatu yang pasti didasarkan oleh preference akan sesuatu.

 

Sifat subjektif manusia itu telah melahirkan apa yang dikenal sebagai ‘selera’. Kecenderungan untuk menyukai satu hal lebih dari yang lain, dan membenci satu hal juga lebih dari yang lain, mulai dari warna favorit hingga lelaki idaman.

 

Selera  yang beragam itu melahirkan keanekaragaman dan juga kecocokan di seluruh dunia, membuat setiap hal seperti gembok dan kunci, ada pasangannya masing-masing. Bayangkan jika semua orang itu sama, kata cocok menjadi tidak terpakai karena setiap orang adalah seragam.

 

Kadang, ada selera yang lebih dominan karena dipilih lebih banyak orang. Yang kedoyanannya bertentangan dengan mayoritas mungkin akan dipertanyakan, namun tidak permasalahkan. Jika gue suka warna hijau dangdut, gue mungkin akan lebih sering diminta memberi jawaban filosofis dibalik warna tersebut, daripada gue suka warna hijau saja. Tapi juga tidak akan ada yang menyerang pilihan gue atas warna hijau dangdut tersebut.

 

Subjektivitas yang sama muncul saat mencari jodoh. Setiap orang akan memilih pasangan dengan preference tertentu, yang berbeda satu sama lain.  Selera dominan adalah memilih karena sifat, seperti enak dilihat, kaya dan berpendidikan. Namun ada juga yang mendasarkan pilihannya atas karakteristik yang lebih sepele, seperti warna rambut, bau tubuh dan bulu dada. Prioritas karakteristik atau sifat itu juga berbeda satu dengan yang lain.

 

Tapi anehnya, meski tak terhindari, subjektivitas dalam hubungan seolah dilarang. Kini timbul norma bahwa hubungan haruslah penuh pengorbanan, tanpa syarat dan.. menerima segala-galanya. Sepertinya salah jika seseorang mempermasalahkan ketidakcocokan seksual, keposesifan atau bulu dada. Seolah ada hal-hal tertentu yang terlalu sepele dalam hubungan, sehingga mengambil keputusan karena adanya hal tersebut menjadi kejam dan keji.

 

Padahal, empati manusia terbatas. Sampai gue mengalaminya sendiri, gue tidak berhak mengklaim gue memahami apa yang dirasakan orang lain.  Dan karenanya, sampai seseorang masuk ke dalam satu hubungan, ia tidak berhak menentukan bagaimana hubungan itu harus berakhir.

 

Tidak ada masalah yang begitu sepele sehingga karenanya seseorang dilarang untuk mengambil keputusan tertentu dalam hubungan. Bagi sebagian orang, mau rambut panjang atau pendek, selama terlihat pantes, tidak masalah. Bagi gue pun, punya kawan pria berambut panjang tidak pernah mengganggu pengelihatanan. Tapi saat masalah romantika disinggung, rambut panjang seorang pria seolah punya kekuatan untuk menekan tombol ON/OFF, sehingga menjadikan tubuh gue dalam keadaan TURNED OFF.

 

Jika  gue memaksakan diri menikahi lelaki gondrong karena rambut bukan alasan valid untuk putus,  kemungkinan gue tetap tidak bisa total memberi dan diberi nafkah lahir-batin. Hal ini akan menimbulkan kekecewaan pada pasangan, sehingga rumah tangga menjadi dingin dan tidak harmonis, yang akhirnya akan berbuntut perselingkuhan dan perceraian. Siapa tadi yang bilang masalah rambut itu urusan sepele?

 

Lagipula, sebagai manusia, kita memang dilahirkan dengan kelemahan dan kejahatan. Kita ingin pasangan menjadikan kita orang yang lebih baik, tapi kita tidak menjalin hubungan agar terlihat baik. Kita menjalankannya agar kita bahagia.

 

Siapa peduli jika teman gue dibilang kejam karena memutuskan pacar cuma karena bulu dada? Ia tidak perlu mengorbankan perasaannya hanya demi pujian sebagai perempuan yang bisa mencintai tanpa syarat. Teman gue tidak perlu persetujuan masyarakat untuk memutuskan hubungan personal.

 

Tentunya pasangan yang bisa menerima apa adanya tetaplah menjadi pasangan ideal yang dicari dan dijadikan panutan. Gue sangat senang memiliki satu sosok yang dengannya gue bisa menjadi diri sendiri dan diterima secara utuh. Tapi bukan karena seseorang bisa menerima orang lain apa adanya, orang tersebut jadi punya kewajiban untuk menerima segalanya apa adanya juga.

 

Marilah kita balik keadaannya! Bahwa gue-lah perempuan yang menemukan Mr Perfect, orang yang bisa membuat gue menerima beliau apapun yang terjadi padanya, atas nama kecocokan dan perasaan yang tumbuh demikian dasyat. Namun gue pun tidak bisa memaksakan si Mr Perfect ini untuk menerima gue sepenuhnya jika ternyata ada karakteristik penting baginya yang tidak pernah ada pada gue.

 

They call it, compatibility. Saat variabel karakteristik yang berubah-ubah tidak terlalu penting bagi seseorang sehingga bisa dinegosiasikan tanpa mengubah prinsip hidupnya, sedangkan variabel  tetap yang diminta olehnya juga tidak terlalu penting bagi pasangannya sehingga bisa dijaga kepastian nilainya tanpa menyebabkan pasangannya kehilangan arti dirinya. Demikianlah sebaliknya.

 

Akan ada perempuan yang menerima bahkan tergila-gila pada bulu dada, sehingga seorang lelaki mapan berwajah rupawan berbulu dada menjadi begitu sempurnanya. Jika suatu hari sang lelaki memanjangkan rambut, sang perempuan tetap akan mencintai beliau apa adanya karena rambut panjang bukan kriteria utama.

 

Sedangkan sebaliknya, jika memiliki bulu dada itu tidak terlalu penting bagi yang pria, tidak masalah jika ia harus mencukur bulu dadanya selama kekasihnya bahagia. Kehilangan bulu dada tidak membuatnya kehilangan jati diri.

 

Jalan tengah inilah yang akhirnya dipilih oleh pasangan yang berbahagia. Namun teman gue lupa, bahwa lelaki yang berbulu di satu tempat, akan cenderung berbulu di daerah tubuh yang lain juga. Kini pertanyaannya menjadi, kepentingan siapa yang lebih krusial dalam kasus bulu lebat di punggung, tangan, dan...organ tubuh yang lain?


“Gie, itu si X loe apain? Kok nggak kedengeran lagi kabarnya?”

“Nggak gue apa-apain kok, Cuma gue kitik-kitik aja pake kata-kata..”

“Kitik-kitik pake kata-kata! Ngeri banget sih loe!”

“Sungguhlah gue pecinta damai! Tapi dia menggangguku..Belom aja dia gue jadiin pembantu seumur idup!”
“Giee..untung gue temen loe ya?”

Seperti yang sudah terlihat dari percakapan di atas, sudah jelas sifat gue. Gue pendendam, tidak pemaaf dan tidak pengasih. Seandainya gue masih SMA, tentulah diterima bergabung di Gank Nero yang suka menggencet anak baru.

 

Singa bermulut besar yang jahat, demikianlah julukan yang gue terima dari teman sekitar, atas kemahiran gue sebagai atlet bela diri dengan senjata balas dendam yang runcing, traumatis dan menimbulkan luka dalam: Silat Lidah.

 

Gue pertama kali berlatih cabang olahraga tersebut saat masih ABG. Ketika dalam tekanan hidung penuh ingus dan mata yang kabur gara-gara air mata, mengetik sebuah artikel yang ternyata diterbitkan. Ceritanya ringan dan dianggap lucu, kecuali oleh satu orang: yang membuat gue menangis semalam tersebut. Lelaki yang namanya gue ambil versi perempuan-nya untuk tokoh antagonis gue yang perilakunya tercela di mata agama.

 

Masih belum terpuaskan balas dendam, gue ketagihan menyelipkan nama sang lelaki malang di setiap tulisan yang gue buat, tanpa orang lain menyadarinya. Dan the sweetest revenge datang, saat beliau memohon agar  namanya tak lagi dicatut untuk segala nama figuran, tokoh utama antagonis, sebagai banci dan perempuan. Saat gue bisa tersenyum manis dan menjawab: “How can I stop? You’re my inspiration...You will ALWAYS be...”

 

Now, I gotta be honest, blog ini punya awal yang mirip. Tidak dalam hal tokoh yang ditulis, tapi tujuan penulisan: Mengalihkan energi mencela dan menyakiti orang lain lewat tulisan. Jika akhirnya gue bisa menyebut satu ambisi gue: adalah menerbitkan buku supaya bisa menuliskan di halaman pertama, dedikasi penuh dendam yang selamanya akan tercantum dan dipajang di rak.

 

Selama dua tahun gue terobsesi memikirkan satu kalimat yang akan tercantum di halaman depan. Satu baris yang mewakili segala kebencian dan akan menusuk secara tepat satu orang yang dimaksud. Kata-kata membunuh yang jika dirangkum lebih singkat lagi akan berbunyi: NIH! MAKAN TUH! Dan gue akan memuntahkan segala dendam dan moving on. Lepas. Bebas.

 

Lalu kesempatan menuliskan kalimat tersebut datang. Blog ini, ya, blog yang sedang dibaca, yang jadi alat pelatih balas dendam, akan dibukukan. Dan gue duduk terdiam di depan laptop, menyadari, gue sudah tidak ingin lagi menuliskan kalimat itu.

 

Seorang oom pernah main adu kebut dengan mobil sebelah saat perjalanan ke Puncak. Tujuannya supaya tidak mengantuk dan memacu agar lebih cepat sampai tujuan. Tapi si Oom keasyikan main salib-salib-an hingga tak menyadari bahwa jalur ke Puncak telah terlewati. Saat melihat papan penunjuk jalan berjudul SUBANG, barulah ia menyadari bahwa ia telah sampai LEMBANG...

 

Manusia suka menciptakan patok-patok tujuan dalam hidup. Membuat target yang dijadikan pedoman apakah mereka sudah meraih sukses, atau berharap patok itu bisa jadi alat meraih tujuan. Tapi terkadang terlupakan, patok itu hanya parameter, bukan tujuan itu sendiri. Dan sanking fokusnya sama si patok, manusia justru tak bisa melihat tujuan yang dicari...atau bahkan tidak menyadari kalau tujuan itu telah tercapai meski tak melewati patok.

 

Sering terjadi juga, patok yang ditancap letaknya cukup jauh. Dalam perjalanan meraih patok, apa yang sebenarnya jadi prioritas hidup telah bergeser. Namun karena sudah kadung mematok, pergeseran ini tidak dirasakan. Sadar pun, sebisa mungkin diabaikan, karena merusak rencana yang telah berjalan.

 

Barulah saat patok itu dicabut dari letak awalnya, terasa, patok tetaplah patok, bukan yang jadi arti hidup. Sukur-sukur belum terlambat untuk putar balik dan meraih patok yang lain. Kadang patok itu memang sangat jauh sekali, dan seseorang tidak pernah sempat memaknai tujuan hidupnya.

 

Tulisan balas dendam di halaman pertama itu adalah patok yang gue buat. Bukti bahwa gue sudah lepas-bebas. Blog ini adalah sarana untuk meraih si patok. Tapi selama dua tahun, blog ini sudah bukan lagi sekadar sarana meraih patok. Bahkan patoknya, bak marka kuburan, sudah bergeser sekian meter.

 

Apa yang tadinya hanya pengisi waktu bengong guna menutup bolong rutinitas besar yang terpaksa hilang kini telah menjadi rutinitas itu sendiri. Sebuah kebiasaan yang jika dibuang, akan menciptakan geroak yang sama tak tertutupinya.

 

Sudah lama sekali blog ini tak lagi menyinggung  satu orang target dendam Nyi Blorong tersebut. Bahkan mungkin tak pernah berkisah tentang satu orang itu dari awal. Dan gue baru menyadarinya sekarang, bahwa entah dari kapan, gue sudah meraih apa yang gue inginkan.

 

 I have moved on, far before I knew I am freed to move. Gue tidak pernah ingin balas dendam. Yang gue inginkan adalah moving on. Berhasil balas dendam tentunya membantu proses maju kedepan itu, tapi tanpa disadari, gue telah bebas lepas tanpa perlu balas dendam

 

Blog ini sudah bukan lagi tentang satu orang yang memaksa gue mengawalinya. Blog ini adalah tentang lima pelacur Filipina yang pernah berbagi rumah dengan gue. Tentang  TKW yang duduk di sebelah dalam pesawat ValuAir Singapura-Jakarta. Tentang Oknum R, tentang Hansip Udin, tentang sahabat-sahabat perempuanku, tentang orang kota yang numpang lewat dalam hidup.

 

Blog ini juga tentang orang-orang yang telah dibawanya dalam hidup gue. Orang-orang yang kemudian memberi gue tujuan dan patok baru dalam hidup. Gara-gara si blog gue bisa makan kenyang dengan hidangan Jepang luarr biasa istimewa di resto Hanabi di Singapura plus tiramisu maknyus dari Helen’s cake, mendapat buku 5cm dengan tanda tangan penulis, cover plus foto profile yang keren karya Ade dan dibagi cerita-cerita tentang pacaran beda agama yang fantastis, kisah anak rantau...

 

Dan karena blog ini adalah tentang mereka dan loe semua, yang rela hati membaca hingga paragraf ini, gue bermaksud untuk mengundang kalian ke acara launch si buku blog itu. Acaranya bakal diadakan tanggal 8 November 2009, jam 5 sore, Di acara Indonesian Book Fair di Jakarta Convention Centre. Melihat posting ini berlaku sebagai undangan... J jangan lupa juga gabung di facebook event untuk launch ini

 

Biarkan gue memperuntukkan buku itu untuk kalian dan supaya terbongkarlah apa yang akhirnya gue tulis di  halaman terdepan. Sejambret kutipan yang karena salah fokus, cuma bisa gue pikirkan sehari sambil terkecut-kecut. Padahal butuh dua tahun merancang kata-kata penuh ranjau yang kini jadi sia-sia!

 

Gue berharap kutipan itu lebih mewakili patok hidup gue sekarang: membuktikan bahwa berpikir adalah hak setiap orang, dengan latar belakang apapun mereka dilahirkan. Karena buku ini adalah tentang untuk setiap penghuni kota besar, yang seumur hidupnya berjuang membuktikan bahwa, kami itu punya otak dan hati lho! Meskipun sedikit organ tubuh itu memang lebih banyak digunakan untuk merancang plot balas dendam daripada merenung... Tapi setidaknya kami adalah singa bermulut besar yang jika mengigit memberi vitamin...I'll see you there!!


Blog EntryTuhan yang suka menghukumOct 27, '09 10:55 AM
for everyone

Sungguhlah orang sombong akan direndahkan. Prestasi di bidang gosip yang amat gue bangga-banggakan ternyata kalah dengan hanya seorang hansip. Zaenudin, atau Udin-lah yang dapat mengetahui dan punya pengaruh untuk menyebarkan siapa yang berselingkuh, berpacaran diam-diam, kawin siri, pulang pagi, atau beli kulkas baru di RT 010/ RW 002 yang termasyur.

 

Seperti pagi ini, Hansip Udin mendekati gue guna memberi update tentang gossip seputar rumah tangga orang.

 “Bu, tau nggak, si Pak Imun sekarang buta,” Hansip Udin bicara bisik-bisik ala tetangga bawel.

“Oh ya? Kok bisa?” Gue menghentikan kegiatan membuka pagar.
“Dikutuk istri !”

“Masa sih?” gue semakin tertarik.

“Iya! Dia mengabaikan istri pertamanya! Ibu tahu sendiri, mulut perempuan itu tajam!”
“Emang butanya gimana?”
“Katarak”
“YEEEE..katarak mah bukan kutukan istri, atuh!” gue protes.
Tapi Udin terus berusaha meyakinkan, bahwa kebutaan Pak Imun adalah akibat dihukum Tuhan setelah melalaikan istri pertamanya.

 

Di masa yang lain, giliran rekan Hansip Roberto yang jadi korban gossip pagi hari Hansip Udin.

“Ibu tahu, Roberto kalau meninggal nggak bakal diterima kubur!”
“Emang kenapa, Din?”

“Karena dia suka ngutang!” Emang Udin ga suka ngutang? Gue bertanya dalam hati. Tapi belum sempat menanggapi, Udin sudah kembali menjelaskan teorinya.

“Jadi gini bu, kalau orang suka ngutang itu, nanti kuburannya kan uda digali 2 meter, itu nggak muat! Digali lagi 3 meter, ga muat lagi! Pokoknya teruuuussss sampai puluhan meter, nggak akan bisa masuk kubur kalau belum bayar hutang!” Jelasnya sambil menggerak-gerakkan tangan menggambarkan kuburan seluas-luasnya.

“Yee..itu mah sekalian aja dijadiin kuburan masal!” Gue melengos pergi sambil membayangkan satu kelapa gading dikeruk untuk kuburan penunggak hutang.

 

Kadang, mendengar gossip pagi hari Udin memang membuat gue prihatin. Jika diperhatikan, gossip Udin selalu punya petuah moril sedikit mistis mirip sinetron seperti religi yang sempat marak di TV. Membuat gue gregetan dengan siapa lagi yang sok pintar melakukan pembodohan masyarakat. Tau nggak hansip kesayangan gue jadi korban!

 

Gue sempat merasa lega ketika sinetron  “Menantu Jahat Dimakan Belatung”, “Mertua menjual menantu”, “Azab Sang Pelacur”, “Kisah Ibu Kejam” hingga “Anak Durhaka Ditolak Kubur” ratingnya turun hingga tak lagi tayang. Berharap para pembantu dan gue tak lagi dibodoh-bodohi dan disiksa. Habis menontonnya saja membuat gue merasa seperti sedang dihukum Tuhan.

 

Tapi bahkan setelah dua tahun film macam itu tak lagi diputar di layar kaca, dampaknya masih bisa dirasakan di lingkungan tempat tinggal gue sendiri! Metode mengajar agama di bawah ancaman belatung rupanya masih dianggap paling efektif, sehingga banyak tokoh dan publikasi yang menerapkan kurikulum sedemikian.

 

Coba aja melirik trend ceramah masa kini. Gempa sebagai hukuman Tuhan. Gunung meletus karena Tuhan marah. Kiamat karena manusia jahat. Gedung runtuh karena takabur. Tentunya tidak mungkin semua itu terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan. Tapi siapa yang bisa menebak maksudnya yang Empunya jagad? Mengapa segala tindakan Tuhan seolah cuma terbagi berdasarkan dua kategori saja: Hukuman dan Hadiah?

 

Bukan gue meragukan kemanjuran taktik sedemikian. Bikin takut emang paling bisa membuat orang taat. Akibat percaya bahwa Pak Imun buta karena dikutuk istri, Hansip Udin menjadi suami yang lurus dan tidak macem-macem. Dia takut karena percaya istrinya istri punya kekuatan menghukum jika dizholimi.

 

Gue pun harus mengakui pernah bersumpah menjadi anak yang baik selamanya di usia 5 tahun setelah membaca sebuah komik yang dibagikan perkumpulan doa seorang kawan. Dalam buku saku berukuran 10x 5cm itu digambarkan hidup seorang anak nakal.

 

Lalu...di halaman terakhir... tergambar anak tersebut dilempar ke dalam lautan api neraka yang menyala-nyala. Di dalam lidah api yang menjilat-jilat itu ada berbagai orang yang berjuang melawan derita, sambil menjerit... Panas..sakiiiit...AMPUUUnnn... Diakhiri petuah: “KINI, TAK ADA YANG DAPAT MENOLONGMU KELUAR DARI SINI!”

 

Ilustrasi panasnya api neraka itu terus menerus menghantui setiap mimpi buruk gue hingga masuk usia pubertas. Itu adalah persumpahan menjadi orang yang lebih baik terlama yang pernah gue lakukan. Hingga kini, tak ada lagi yang bisa membuat gue begitu bersungguh-sungguh.

 

Tapi, belasan tahun setelah gambaran api neraka itu padam gue jadi bertanya-tanya apakah sungguh persumpahan itu membawa gue menjadi anak yang lebih baik. Gue baik karena gue takut, bukan karena gue sadar bahwa dengan berbuat baik gue menyenangkan orang di sekitar gue, thus, the Lord.

 

Macamnya kata rekan kerja, membeli software asli karena takut disidak di bandara, bukan karena sadar bahwa software asli punya kualitas dan servis yang lebih baik dari yang bajakan. Jika kemudian angka pembajakan menurun, tidak bisa jadi tolak ukur meningkatnya kesadaran hukum masyarakat. Mereka cuma takut saja...

 

Mengajar agama dengan shock terapy itu memang mudah. Mertua jahat dimakan belatung. Orang ngemplang ngutang ditolak kubur. Rentenir bakal dibungkus perut sapi. Jahat-dihukum. Mudah diingat dan dipahami. Tapi, sejak kapan belajar agama itu harus instan, ada kelas akselerasinya? Jangan-jangan, karena mencari gampangnya, hal mendasar tentang agama itu jadi terlewatkan. Bahkan tentang siapa Tuhan itu jadi rancu.

 

Bukankah dengan cara mengajar instan tersebut citra Tuhan jadi tercoreng? Tuhan dalam film dan pengajaran itu menjadi Tuhan yang kejam. Tuhan yang suka menghukum. Kesabaran-Nya terbatas dan begitu dilanggar, Ia akan memberi penderitaan tiada tara.  

 

Padahal, sebagai orang berdosa, gue tentunya kurang suka pencitraan macam ini. Kalau memang benar Tuhan semacam itu, tentunya gue sudah ditumbuhi bisul-bisul bernanah sekujur tubuh. Untungnya Tuhan, di jaman modern ini, yang bukan manifestasi dewa-dewi kuno, ternyata baik. Ia pemaaf dan suara-Nya lembut. Ia menegur dengan cara yang halus. Selalu ada kesempatan untuk kembali. Never is too late.

 

Gue khawatir, seperti Hansip Udin, dengan pengajaran system ancaman, gue menjadi taat, tapi karena takut. Padahal, siapa yang suka sama tirani? Jangan-jangan sanking takutnya, Tuhan jadi seperti diktator, pemimpin yang ditakuti tapi tidak dicintai.

 

Tapi siapalah gue ngomongin Tuhan. Mungkin setelah ini, gue berakhir menulis “Kisah Rumah Saudagar Kaya Dimakan Rayap” atau “Jeritan Kubur Wanita Murahan”. Atau lebih ngeri lagi, Tuhan justru sedang menyiapkan hukuman untuk mulut nyinyir gue ini. Lalu Hansip Udin langsung sibuk menyebarkannya ke segenap warga, anak Pak RT dihukum Tuhan karena suka ngomongin hansip....


Blog EntryMenulis seperti MiyabiOct 18, '09 9:51 AM
for everyone

“De, kamu tuh kalau nulis yang kaya Miyabi gitu!”

Emang Miyabi penulis?

“Nulis bokep maksudnya?”

Gue berkerut-kerut mendengar saran si mamih di pagi yang cerah. Beberapa hari lalu ia bertanya siapa Miyabi. Ketika dijelaskan bahwa Miyabi adalah bintang porno Jepang, si Mamih berkomentar heran, “Kok FPI bisa tau ya dia main film apa? Mami aja nggak tau...” ujarnya sambil lalu.

 

Tapi tanpa contoh konkret, mungkin si Mamih belum sadar akan profesi Miyabi senyata-nyatanya. Mungkin beliau mengira Miyabi itu adalah penulis Jepang favorit gue. Enggak mam, itu namanya Murakami...Atau mungkin si Mamih mengira Miyabi adalah penulis lirik sekaligus penyanyi? Enggak mam, itu namanya Hikaru. Atau...jangan-jangan penulis undang-undang alias perdana menteri Jepang yang baru? Enggak mam, itu namanya Hayotama..lebih jauh lagi...

Gue percaya tidak ada seorangpun ibu di dunia ini yang ingin anaknya menjadi bintang bokep. Atau menjadi pengarang stensilan. Atau didemo FPI dan dicekal Menbudpar. Lantas...mengapa aku disuruh mengikuti suri tauladan seorang Miyabi? MENGAPAAA....

 

Seolah lekat hari ini dengan kisah kain yang minim, hari itu adalah waktu rutin pedagang G-String di gym gue untuk beraksi. Memang sudah beberapa saat beliau menekuni bisnis ini dengan berapi-api.

“SAYANG SUAMI SAYANG PACAR!”

Para wanita di ruang ganti klub fitness ini langsung berhamburan menuju sumber suara, dalam berbagai kondisi ketelanjangan. Mereka langsung asik menggaruk-garuk karung berisi berbagai G-string yang dibawa sumber suara.

 

“Yang ini aja, say, seksi,” sang penjual menyodorkan T-string pink berenda di segala tempat.

             “Nggak ah, kinky...” ujar calon konsumen menggeleng. Lalu memilih sebuah G-string hitam transparan dengan jalinan pita merah dikepang di bagian belakang. Speaking of being kinky...

Gue berdecak mengagumi jiwa dagang sang saudagar g-string. Fitness centre ini penuh dengan orang-orang yang ingin bertubuh lebih indah. Guna menunjang tujuan itu, susu pelangsing, vitamin dan majalah kebugaran jadi barang dagangan normal disini. Tapi tidakkah terpikir bahwa beberapa orang tersebut telah berhasil bertubuh lebih indah. Apalagi yang mereka inginkan selain memamerkan hasil nge-gym itu dalam balutan pakaian dalam seksi pada orang-orang terkasih?

 

Dan saudagar G-string telah berhasil menangkap kebutuhan yang terlihat remeh ini! Sesaat setelah mandi gue melihat sang saudagar sedang sibuk menghitung gepokan uang tunai yang langsung menarik iri. Cuma dari jualan kain 5 cm persegi doang! Kain 5 cm2 yang dengan fokus dan semangat, bisa diubah jadi bisnis yang beromzet tinggi.

 

Tiba-tiba gue sadar gue sedang berhadapan dengan contoh nyata filosofi Miyabi emakku. Si saudagar G-string ini telah berdagang seperti Miyabi. 

 

Miyabi bisa saja jadi model lurus-lurus. Tapi kritik ala American Next Top Model akan bilang, badannya terlalu pendek dan mukanya kelewat innocent. Tidak memenuhi standard tatapan membunuh model kebanyakan yang dipajang di baliho.

 

Di industri lain, on the other hand, kecantikan mutlak dan wajah tak berdosa itu menjadi aset yang tak ternilai! Berapa banyak artis bokep berwajah polos dan berdarah Jepang-Perancis? Miyabi akhirnya fokus pada pekerjaan ini, dan melakukannya dengan penuh...err..gairah..

 

Konon orang tua Miyabi sempet tak mengaku anak ketika putri cantiknya pulang membawa 20 hasil karyanya. Punya profesi dan kegemaran main bokep, juga bukan sebuah hal yang membanggakan tercantum di KTP. Tapi Miyabi kekeuh menuju puncak prestasi di bidang perbokepan. Dan hasilnya? Satu juta penggemar di Negara sejauh Indonesia saja. Tentunya bukan pencapaian biasa-biasa saja dari seorang aktris.  Cuma sekadar dari bokepan!!

 

When you do something, do it really good. Gak peduli seberapa remehnya. Ga peduli seberapa ga pentingnya. Ga peduli seberapa banyak orang yang menganggapnya adalah buang-buang waktu. Put in all your soul and love and belief, and focus, and..everything!

Miyabi itu cuma main bokep. Sebuah tindakan yang seringkali menghancurkan karir anggota DPR,  mencoreng nama baik artis dan mensirnakan masa depan remaja SMA. Film bokep pasti kategorinya B, nggak pernah jadi A. Tapi lepas dari norma dan moralitas, kita harus mengakui, (sigh!) she does it really well...dan ia mendapat ganjaran yang layak untuk fokus dan keterampilannya itu.

 

Ga ada sesuatu yang jika dilakukan dengan penuh cinta akan berakhir sia-sia. Pengangguran yang seharian kerjanya main facebook aja bisa dapet kerja mengurus account perusahaan besar, karena kemahirannya menggunakan berbagai fitur dan mengepost wall.

 

Sahabat tercinta, Oknum R punya minat besar pada makanan dan menjadi SuperModel. Meski belum terlihat kesuksesan pada yang terakhir, ia sudah sangat fokus makan dan mencari tempat makan yang baru. Karena kegemarannya mengambil potret makanan, foto-fotonya dipakai untuk MSN Indonesia saat membuat games edisi ‘hidangan tradisional’.

 

Oknum R tetap pesimis dan marah-marah. Buat eloe jadi punya foto! Lha buat gue apa gunanya? Selain jadi gendut doang? Tapi teringat editor Vogue Amerika, Anna Wintour, yang seumur hidupnya Cuma suka hal remeh yang disebut pakaian. Mungkin buat dia fashion bet, buat loe...babi...Siapa tahu, sahabatku yang kontroversial akan menjadi pemandu acara wisata kuliner yang sukses!

 

Jadi ibuku sungguh kenal Miyabi. Dan ingin aku menuruti hidayah dari kisah sang bintang porno dalam semua yang gue kerjakan. Kebetulan gue sedang menulis, maka diharapkannyalah gue menulis seperti Miyabi. Menulis dengan tidak ‘tanggung’. Memilih untuk menulis tanpa ragu-ragu seperti Miyabi memilih bokep.

 

Menulis, karena suka, karena memang seluruh perhatian cuma bisa diberikan untuk profesi yang tak menjanjikan ini.  Bahkan jika mendapat cacian dan cercaan seluruh khalayak layaknya Miyabi dan FPI. Bahkan meski artikelku hanyalah tentang daily life, sepatu, festival perhiasan, sex and relationship, as if aku tidak menghabiskan puluhan tahun di belakang menjomblo.

 

Aku belum tanya tapinya, kalau ternyata fokusku menulis roman picisan, masih bolehkah aku berguru pada Miyabi?


Blog EntryOverheard in SingaporeOct 11, '09 4:52 AM
for everyone

Gue pernah tinggal selama 4 tahun di Singapur, dan setelah itu masih mengakrabi negeri tersebut beberapa bulan sekali. Tapi gue masih sering terkejut-kejut kaget mendengar percakapan dengan asumsi Uniquely Indonesian. Kaget-kagetan itu membuat gue tidak bisa merespon secara tepat saat itu. Sebagai penebusan rasa bersalah karena gagal menjadi duta bangsa yang menjelaskan lebih jauh tentang Negara junjungan kita semua ini, maka gue pun bermaksud menjelaskannya, disini saja...

  1. Semua WNI bernama belakang Bin Laden, atau M Top.

Man in the club: So you used to live here, but prefer to stay in Jakarta?

Margie: Ya, kind of...

Man in the club: But Indonesia got terrorist!

Margie: I am one.

Ketika teroris kawakan Singapura, Mas Selamat Kastari kabur dari penjara, seluruh warga Singapura dikirimi SMS yang mengumumkan berita tersebut, sekaligus himbauan agar lebih waspada. Kecuali gue. Padahal sebagai penduduk yang punya nomor telpon +65, gue pun harus diajak membantu pengamanan Negara. The joke was: Keluarga dan istri ga perlu dikasi tahu...

Gue sebenarnya mahfum dan terbiasa menerima remark semcam itu, mengingat  sebanyak itu jumlah bom meledak di Indonesia. Seandainya gue disuru ke Afganistan-pun gue langsung mengkeret, membayangkan hukum cambuk dan rudal dan ranjau darat yang meledak sepanjang jalan dari Airport. Padahal mungkin itu karena gue penonton sejati media saja. Memang tidak pernah diceritakan tentang keelokan gurun Afganistan yang penuh hewan eksotis.

Tapi coba menalar lebih lanjut soal kebangsaan di era globalisasi ini. Di negara seperti Singapura, warga dari berbagai daerah lain juga berkumpul dan mencari nafkah. Tapi bukan berarti semua yang tinggal jadi satu keluarga besar yang harmonis. Jadi, bukan karena Bin Laden dan M Top sempat bekerja di Indonesia, mereka kemudian menjadi bersaudara dengan 210 juta warga Indonesia lainnya. Tolong jangan ajarkan gue bahwa tindakan teroris itu adalah bodoh dan merugikan. Of all the people, we, Indonesians, should know it better!

  1. Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia, beragama satu agama...

Ah lian: Offer her or not? Offer her or not?

Ah beng: Don’t lah! Cannot eat what?

Margie: What can’t I eat?

Ah lian: Ah, Margie, sorry ah,we want to give you this, but you cannot eat leh, it has yah, that meat inside, not  allowed, right?

Margie: I can eat, what...

Ah Beng: Eh, we thought you’re...

Margie: What?
Ah beng: Never mind! Never mind! Always thought all Indonesians are..well..

Margie: Which desk were you before? Political?

Ah Beng: I KNOW! I KNOW!

Kulit gue kuning. Mata gue sipit. Di Bali, tukang pijat memakai bahasa Inggris jika berbicara karena mengira gue orang SINGAPURA. Jadi nampaknya bukan faktor rasial yang diperhitungkan saat mengambil asumsi tentang agama gue, melainkan paspor hijau bergambar burung garuda.

Sebenarnya ini tak terlalu mengganggu hidup gue selama empat tahun dan lebih itu. Tidak banyak diskriminasi yang terjadi karena salah cetak detail KTP. (kecuali bahwa gue kehilangan kesempatan makan kue bulan buatan Raffles Hotel secara gratis dan dikucilkan dari pesta babi panggang). Tapi lebih karena tokoh dalam percakapan adalah wartawan politik koran nasional, yang, jika dia tak tahu apa-apa sekalipun, minimal harus paham kondisi sosial politik Negara tetangga: Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Jadi sangat ganggu, bahwa bahkan sekadar fakta bahwa Indonesia adalah Negara beragama bukan Negara agama, dan mengakui 6 agama, tak dipahami oleh seseorang yang bekerja sebagai informan masyarakat. Atau bahwa informan masyarakat itu tidak memahami geografis Negara bisa dibentuk oleh batas wilayah usai penjajahan, oleh sekelompok orang yang berlatar belakang sejarah serupa. Oleh karena itu, keragaman budaya bisa saja terjadi dalam satu teritori!

  1. Your English is not bad, for an INDONESIAN

Kenalan baru: You are the first Indonesian girl that I befriend with.

Margie: Because you’re afraid that we’ll bomb you?

Kenalan baru: Not like that, it’s just that i might not understand them

Margie: Why not?

Kenalan baru: Well, I speak English

Margie: Are you sure it’s English?

Mereka menyebutnya Les Inggris, dimana kami diajar berbagai grammar, memperkaya vocabulary dan melakukan conversation. Lagian di Indonesia, Dawson’s Creek dan New Kids on The Block tidak dilarang. Di tambah, gue sekolah jurnalisme dalam bahasa tersebut di Negara Anda. Jika Anda berbicara pada lebih banyak orang, rasanya nggak akan terlalu aneh menemukan orang Indonesia yang ternyata bisa bahasa Inggris. Or maybe you just always meet the wrong person...

  1. Peta Indonesia di mata dunia (daerah lain dihilangkan karena jarang masuk berita. Kutub Selatan lebih sering diasosiasikan dengan Indonesia karena terkesan jauh dan isolated)

 

Mbak Editor: Margie, is your family all alright after the quake in PADANG?

Margie: No, I’m from Jakarta.

Teman-teman begitu prihatin ketika melihat asap kebakaran hutan Riau menyumbat hidung Merlion yang malang. Mereka membayangkan nasib gue di Jakarta; pasti hitam legam dan langsung TBC.  Gue diam saja meski itu adalah pertama kalinya gue merasakan dampak kebakaran hutan di INDONESIA.  Daripada terkesan mengekspor polusi udara tanpa terkena imbas!  Meski dalam hati terkikik menyadari fakta  pergerakan arah angin dan bahwa Riau lebih dekat ke Singapura daripada ke Jakarta. (Dan berarti, Indonesia sangat luas.)

Tapi tetap saja gue prihatin dengan peta buta rekan se-benua. Mbak editor yang bertanya tahu benar seluruh keluarga gue tinggal di Jakarta.  Kalau kurang lengkap, ia tahu benar darah Sungai Musi tak pernah mengalir dalam tubuh gue. Tapi memang dalam petanya, Padang terletak di Tangerang, 45 menit dari Jakarta kalau nggak macet. Padahal kalau sungguh gempa yang berpusat di Sumatera terasa kencang di Jakarta, mungkin Singapura sudah tercabut dari peta...

So let’s get the facts right: Indonesia adalah sebuah Negara kepulauan yang membentang dari 6 derajat Lintang Utara hingga 11 derajat Lintang Selatan, 95 derajat Bujur Timur hingga 141 derajat Bujur Timur. Ada sekitar 17.500 pulau yang berjejer dari Sabang sampai Merauke, yang dibagi menjadi 3 daerah waktu. Apa yang terjadi di satu daerah, belum tentu dirasakan oleh daerah lain!

Sebagai seseorang yang bangga menjadi sombong, reaksi gue ketika mendengar pernyataan kaum ignorant itu lebih banyak ketawa. Mengasihani pengetahuan umum bangsa yang secara ekonomi lebih maju dari bangsa tempe. Tinggi hati karena mampu mengusai pelajaran geografi dalam kurikulum dengan sempurna. Gue bahkan masih paham bahwa Afrika itu benua, bukan Negara.

Tapi sebagai yang sombong, gue sebenarnya masih kurang PEDE. Tak ada asap tanpa api, kata orang. Indonesia dikenal sarang teroris, karena memang banyak teroris yang dibiarkan berkawin-kawin dan beranak pinak disini, literally.

Dan memangnya salah jika aspek multikulturalisme tak pernah didengar negri tetangga? Kenyataannya, memang selain Bali, budaya, tradisi, dan nilai toleransi memang masih jarang dibangga-banggakan bangsa ini. Jangankan tradisinya, daerah mana yang berkembang merata dan masuk brosur pariwisata? Nggak pernah kedengeran tuh!

Semakin memprihatinkan, karena gue tidak mendengar hal ini di Amerika atau Antartika. Ini Singapura, Negara mungil yang sangat bergantung pada kerjasama dengan Negara lain. Kalau orang Singapur aja, si little red dot, tetangga terdekat, tidak mengenal Indonesia, siapa dong yang sebenarnya kenal? Mungkin emang nggak ada ya?


Blog EntryA Proud BitchSep 30, '09 12:59 PM
for everyone

It’s just another day in the city, dimana setiap orang yang menggunjingkan yang lainnya, dan dimana setiap orang merasa dirinya lebih baik dari yang digunjingkan atas standard moralnya masing-masing.

Dan sebagai bagian dari hari yang biasa itu, seorang kenalan dengan gaya biasa menyarankan agar gue tidak terlalu dekat dengan kenalan yang lain, perempuan murahan bahkan gratisan ga punya harga diri yang  menggunakan kewanitaannya untuk mendapat kemudahan dalam hidup.

Sambil memasang topeng dan senyum ‘karir’, gue menjawab halus, “Woman, I lived with hookers before, I think I should be able to handle a bitch.” Gue mengangkat gelas kopi stirofoam gue dan meninggalkan lawan bicara ternganga.

Gue tersenyum geli saat itu, sambil menyusun daftar ‘prestasi’ dalam hal per-bitching-an, yang mungkin akan membuat gue menerima sanksi sosial sama beratnya dengan kenalan yang dijauhi itu:

  •  Seringkali tidak diminta bayaran saat naik taksi di Singapura, hanya karena ia tersenyum dan mengajak ngobrol hingga sang supir lupa menyalakan argo. Atau argo-nya nyala, namun digratiskan setelah menyatakan alasannya bergaya pakaian yang mungkin dihadiahi hukum cambuk di beberapa Negara adalah karena ia mau ikut casting atau baru pulang syuting.
  • Menabrak mobil dan berkata, yess! Cowo lagi!. Hal itu berarti ia tidak perlu membayar ganti rugi dan jika beruntung, justru tidak perlu menanggung biaya membetulkan mobilnya sendiri.
  • “Get me a guestlist in the club, and I’ll do the rest to ensure there will be freeflow drinks too...”
  • Pernah berjalan-jalan di mall tanpa uang, kartu ATM, hp dan kartu identitas, tapi somehow berhasil masuk ke klub fitness, makan enak, dan pulang dengan mobil.

Ohhh! Seandainya dia tahu, gue pasti akan langsung dimasukkan dalam DPO alias Daftar Pengucilan Orang!

 

Gue berpikir heran: Bagaimana mungkin seorang perempuan bisa berpikir sebegitu rendahnya pada perempuan lain yang mengeksplorasi keperempuanannya, sebuah kelebihan unik setiap perempuan. Lawan jenis saja tidak keberatan tuh!

 

Dan lebih prihatin lagi, mengapa lantas perempuan yang mendapat dianugerahi sedemikian oleh Tuhan jadi harus malu dan menyangkal kelebihannya itu. Bukannya sama aja dengan salesman yang tampangnya ‘enak dilihat’ dan mahir berbicara sehingga mudah dapat client dan ordernya laris? Tapi ketika itu terjadi pada perempuan, mengapa menjadi hina untuk jadi menarik?

 

Bagi kaum salesman, kemampuan verbal dan penampilan dianggap sebagai modal berusaha. Sedangkan jika oknumnya perempuan, kami makhluk gratisan, yang malas berusaha tapi banyak maunya. Padahal, hukum alam berlaku bagi siapapun: Ga ada yang gratis dalam hidup ini. Dan perempuan pun ber'modal', untuk mendapatkan mau yang banyak itu.

 

Sama seperti warga dunia lainnya, setiap perempuan pun wajib membayar dengan menggunakan alat pembayaran yang sah. Hanya valuta yang kami gunakan memang bukan mata uang kesayangan kita semua, Rupiah.

 

Memangnya iuran gym untuk membentuk perut kotak-kotak yang bisa dipakein baju ngatung itu ga pake duit? Memangnya pump shoes 12 senti yang membuat kaki selalu berada dalam posisi orgasme itu ga pake duit? Memangnya sekolah di perguruan tinggi bergengsi sehingga kami bisa mengutip filsuf-filsuf kuno itu ga pake duit? Memangnya untuk mendapatkan segala sesuatu secara gratis dengan penampilan dan omongan itu ga pake duit?

 

Tentu tidak! Ada biaya operasional yang kami catat dalam buku akuntansi kami, yang nilai gunanya akan berkurang seiring dengan waktu dan penggunaan. Sekarang, bagaimana supaya modal tetap itu menunjang upaya mendapatkan ‘untung’?

 

Meskipun sebenarnya neraca ini sudah imbang sejak awal. Tujuan utama investasi ini adalah untuk diri sendiri, berupa rasa percaya diri dan senang melihat diri di kaca. Kami tidak berdandan untuk menyenangkan orang lain. Objek pertama yang diuntungkan dengan penampilan prima adalah diri sendiri.

 

Tapi tanpa dimaksudkanpun, apa yang ada di tempat umum dapat dinikmati semua orang. Jadi mengapa tidak sekalian mengambil retribusi? Itulah sebabnya kami semakin menolak disebut perempuan gratisan. Biar kata modal yang ditanam cukup besar, untung yang didapat bukan mata pencaharian utama sebagian besar perempuan yang disebut ‘bitch’ itu.

 

Kalau masalah mahal-murahnya, semua kembali tergantung pada harga yang ditetapkan serta kemampuan menawar. Sebuah barang menjadi mahal dan uang jadi murah jika membayar lebih tinggi dari nilai barang/jasa tersebut. Kita jelas tidak tidur dengan supir taksi. Sebuah senyum sumringah untuk harga perjalanan selama 20 menit di Singapura, rasanya masih reasonable...

 

Lagipula perlu diingat, produk yang dibarter disini adalah feminitas, bukan tubuh perempuan itu sendiri. Gue pernah terlibat pembuatan film dokumenter tentang pelacuran di Batam yang diberi judul ‘innocence for sale’. Kenaifan dan kepolosan tubuh yang diperjualbelikan.

 

Perempuan yang terlibat belum tentu rela menggadaikan diri. Mungkin ditipu, mungkin kepalang basah, mungkin terpaksa keadaan. Saat men-transcribe interview, gue pun ikut terenyuh miris melihat nasib para wanita ini. Mereka bahkan tak punya kuasa mengatur penjualan paksa tubuh yang ditawar begitu murah.

 

Sedangkan dalam hal bitching, gue lebih suka menyebutnya feminity for sale. Jika hanya fakta fisik yang dilihat, gue sudah pasti out dari permainan ini dari jauh-jauh hari. Cantik pun tidak, feminin banget pun tidak.

 

Tapi memang bukan fisik semata yang dieksplotasi, melainkan fakta bahwa kami perempuan: Rupa sebagai seorang perempuan, cara berpikir sebagai perempuan, cara bersikap dan sisi feminitas yang tak bisa tersangkalkan muncul sejak dilahirkan sebagai perempuan.

 

Lagian , bentuk eksploitasi terjadi atas kesadaran penuh si pemilik diri. Lebih dari melihatnya sebagai bentuk perendahan harkat wanita dengan mengeliminasi nilai tubuh yang tak ternilai, gue malah merasa kaum ini memberi ‘nilai tambah’ bagi sisi keperempuanan seseorang.

 

It’s about claiming ownership of your own body. Menyadari apa yang ada dalam diri seseorang, dan mengembangkannya secara maksimal untuk keuntungan sang empunya tubuh. Daripada sebaliknya, memasrahkan diri digunakan sekehendak hati oleh orang lain demi kesenangan orang lain pula.

 

Dan jika seluruh potensi bisa dikerahkan secara maksimal, Anda akan terkejut dengan kekuatan yang ada pada diri seorang perempuan: Mendapat ganti rugi dari pengedar yang memberi paket shroom kurang manjur hingga ngemplang bayar ganti rugi menabrak mobil. Jika dikehendaki, apa sih yang nggak bisa didapatkan perempuan yang menginginkan sesuatu?

 

Tapi gue juga tak mau memaksa semua perempuan mengikuti jejak langkah ini. Akan selalu ada orang-orang semacam kenalan gue, yang bakal melongo ngeri dengan metode ‘jual diri ’yang baru dipaparkan.

 

Lagipula, prinsip ekonomi berlaku di aspek hidup apapun. Semakin banyak penawaran saat permintaan tetap akan berakibat turunnya harga. Harga gula saja merosot pasca panen karena banyak yang numpuk di gudang Bulog. Terlalu banyak stok bakal merusak pasaran. Bisa-bisa harga diri benar-benar merosot tajam!


Kredibilitas dan citra Persatuan Tukang Gosip Profesional Tanah Air (PTGPTA) tercoreng. Seorang kader senior, Oknum R, baru saja dilabrak akibat salah langkah dalam beraksi. Hal ini tentu saja mencoreng nama baik para pegosip sejati yang tergabung dalam PTGPTA, yang terkenal santun dan objektif dalam bergosip.

 

Guna menghindari insiden sedemikian di masa mendatang, kami bermaksud menjelaskan Undang-undang Darurat Gosip (UUDG) yang telah disepakati dalam kongres tahunan PTGPTA. UUDG ini sebenarnya merupakan artikel yang off the record, namun akan disebarluaskan untuk membimbing para pecinta gossip amatir yang ingin merintis karir secara profesional.

 

Pasal 1

Materi gosip yang bisa disebarluaskan

Bahan berita yang digosipkan haruslah objektif dan bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.

Penjelasan: Dalam memilih materi gossip yang bisa digunakan, penggosip hendaklah bersikap bijaksana dan menerapkan logika, terutama menghadapi gossip murahan yang tidak membantu perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat. Hal ini termasuk mencek dan ricek setiap berita yang terdengar terlalu tidak masuk akal atau terasa biased.

 

Penggosip bisa menggunakan kaidah jurnalisme untuk menuntun keputusan memilih gossip. Nilai kebenaran dan objektivitas memang sulit diraih dalam bergosip (namanya juga gossip, bukan fakta!) Tapi hal ini bisa dikurangi dengan menganalisa nara sumber gossip. Sangat penting untuk mengetahui latar belakang penyebaran gossip (apakah dilandasi rasa benci dan iri?), dan memonitor   awal mata rantai pergosipan, sehingga gossip menjadi jelas asalnya dan bisa ditelurusi penyebabnya.

 

Penggosip juga berkewajiban, sebisa mungkin, mengklarifikasikan gossip tersebut pada objek gossip. Dalam hal ini, alat bantu seperti mesin penyadap dan teropong pengintai macamnya sedang melakukan investigative journalism boleh digunakan. Jika tidak dimungkinkan, penggosip tetap berkewajiban setidaknya mencari sisi lain dari sebuah gosip sehingga terbentuklah gossip yang adil.

 

Objektif disini juga berarti pengemasan gossip harus dilakukan tanpa rasa dengki, sirik hati dan dendam kesumat yang dapat mencemari kemurnian gossip serta menurunkan nilainya setaraf dengan fitnah belaka. Diambil contoh disini adalah gossip tentang seorang anak baru yang berpakaian terlalu seksi dalam organisasi.

 

Sebelum menyebarkan gossip, perlulah memeriksa batin, apakah gossip ini berlandaskan kedengkian karena tidak bertubuh seseksi si anak baru? Jika tidak, langkah selanjutnya adalah mengukur keseksian dan kepantasan berpakaian sesuai dengan aturan yang berlaku secara umum (tidak dijelaskan disini).

 

Pasal 2

Aturan Penyebaran Gosip

Ayat 1: Menyebarluaskan gossip harus dilakukan sesuai dengan Peta Persebaran Gosip, serta pelaksanaannya dibimbing oleh kepekaan sosial dan hati nurani.

Penjelasan: Penggosip hendaknya ekstra hati-hati dan selektif dalam menyebarkan gossip yang telah dipilih. Penggosip haruslah memastikan bahwa objek yang digosipkan berjarak setidaknya 4 degree of separation dari pihak penerima gossip (Lihat diagram). Hal ini untuk memastikan bahwa pihak yang digosipi dan yang menggosipi tidak saling mengenal (atau saling mempengaruhi) sehingga gossip kembali pada pihak yang digosipi. Kelalaian memeriksa hubungan antar pihak yang terkait bisa mengakibatkan pelabrakan, seperti yang terjadi pada Oknum R.

 

Maka dalam hal ini, SANGAT TIDAK DIBENARKAN UNTUK MENYEBARKAN GOSIP PADA OBJEK GOSIP ITU SENDIRI. Penggosip sejati perlu punya empati mendalam dan dengan begitu bisa merasakan bagaimana perasaan objek gossip jika sadar dirinya digosipi. Juga bagaimana terkhianatinya seorang penyebar gossip saat dilabrak karena temannya bocor.

 

Aturan persebaran gossip ini bisa diganti, JIKA dan HANYA JIKA penerima gossip selanjutnya adalah anggota dari PTGPTA, yang setelah diperiksa secara mendalam, terbukti secara sah dan meyakinkan dapat dipercaya dan bertanggung jawab dalam penyebaran gossip sesuai Undang-Undang.

 

Sehubungan hal ini, sangat diperlukan kepekaan dalam bergosip. Jika dicurigai bahwa teman bergosip tidak setuju dengan gossip, atau, jika ada kemungkinan teman bergosip menjadi BOCOR, kegiatan pergosipan hendaknya dihentikan, atau dilanjutkan dengan memilah-milah materi gossip yang lebih tidak sensitif.

 

Ayat 2: Dalam penyebarannya, penggosip berkewajiban melindungi kerahasiaan nara sumber gossip dan menjamin keamanan objek gossip.

Penjelasan: Memang, harus diakui, tukang gossip itu bocor dan memang harus bocor untuk bisa jadi penggosip yang dikenal masyarakat. Tapi itu bukan berarti tukang gossip boleh menyalahi kepercayaan sumber gossip. Tukang gossip harus menghargai konfidensialitas nara sumber (atau objek gossip itu sendiri), jika minta sebuah berita JANGAN DIBERITAHUKAN DULU. Anggap saja seperti press release yang ada ‘release date’-nya. Saat sudah boleh disebarluaskan, penggosip harus mengerahkan tenaga untuk mengejar gossip yang ketinggalan.

 

Hal ini penting guna menjaga relasi dengan sumber gossip, yang pada jangka panjang akan membantu kami mendapatkan gossip lebih banyak lagi. Jangan sampai terjadi ‘karena nila setitik rusak susu sebelanga, karena bocor sedikit tak dibagi gossip selamanya!’

 

Jika mengikuti peta persebaran gossip, sebisa mungkin identitas objek gossip dirahasiakan (menggunakan: “Gue punya temen yang...”) Tanpa menjelaskan terlalu banyak latar belakang dan menyebut nama. Jika tidak memungkinkan (atau jika nama sangat signifikan dalam cerita), bolehlah disebut, selama penerima gossip bisa melakukan SUMPAH POCONG GOSIP “Janji dulu ye! Loe kagak bakal ngebocorin ke...(siapa-siapa/ Ke orangnya/Ke temen deketnya? *pilih salah satu).

 

Ayat 3

Penggunaan Gosip

Gosip yang diterima TIDAK BOLEH digunakan sebagai dasar pembuat keputusan atau bersikap pada objek gossip.

Penjelasan: Ini mungkin merupakan ayat terpenting, yang membedakan penggosip professional dengan penggosip amatir. Tukang gossip sejati yang telah malang melintang di dunia gossip selama bertahun-tahun, akan memperlakukan gossip sebagai gossip semata, sebuah hiburan, bukan fakta.

 

Maka itu, penggosip professional haruslah bisa memisahkan gossip dari pengambilan keputusan atau sikap. Tips yang bisa diterapkan adalah AKAL SEHAT. Apakah gossip yang didengar (baik atau buruk) punya efek langsung terhadap keputusan yang diambil?

 

Studi kasus demikian: Seorang wanita digosipkan hamil diluar nikah. Seorang penggosip amatir akan mencampuradukkan nilai-nilai moral lalu memutuskan untuk mengucilkan beliau di kantor, meskipun beliau adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Lebih buruk lagi, mengajak orang-orang lain, bukan cuma sekadar mendengar gosipnya, tapi ikutan memusuhi sang wanita malang.

 

Hal ini, jelas mencoreng nama baik persatuan gossip yang kita cintai ini. Gosip yang sejatinya tidak berbahaya (kecuali jika didengar oleh sang objek gossip), bisa menjadi hal yang sangat negatif, menimbulkan korban (si wanita) dan menunjukkan ketidakprofesional-an (mencampuradukkan nilai moral dengan pekerjaan).

 

Bukan berarti seorang ‘pro’, dilarang bergosip (tentunya, karena kami mungkin tak tahan jika hanya berdiam diri). Kita tetap diizinkan menyebarluaskan, menimpali, memberi komentar, dengan syarat, apa yang kami dengar dan sebarkan tidak mempengaruhi sikap kita terhadap objek gossip.

 

Balik ke studi kasus, sekali lagi, AKAL SEHAT. Mengapa kita harus keberatan dengan seseorang yang hamil diluar nikah? Yang dihamili aja nggak keberatan tuh! Dan apa hubungannya hamil di luar nikah dengan bersahabat? Memangnya yang menghamili suami kita?

 

Sesuai dengan nafas pasal ketiga, guna perkembangan PTGPTA, sangat dianjurkan bagi penggosip untuk tidak membeda-bedakan dan memilih-milih teman. Semakin luas lingkup pergaulan, semakin banyak gossip yang bisa diraih, semakin kuat organisasi kita!

 

Demikianlah tiga ayat utama penuntun gossip secara professional. Dengan kaidah ini diharapkan citra dan martabat gossip di mata masyarakat akan meningkat. Tukang gossip sungguhlah profesi yang luhur, membantu penyebaran informasi pada masyarakat dan  memberi warna serta gairah pada kehidupan urban yang monoton.

 

Semoga tingkat kepercayaan berbagi gossip pada PTGPTA akan meningkat!

                                                                                                                       

Jakarta, 17 September 2009

                                                                                                                       

        Tertanda:

Self Proclaim Ketua Persatuan Tukang Gosip Profesional Tanah Air


Blog EntryIf you DON’T have it, DON’T flaunt itSep 11, '09 12:43 PM
for everyone

Momment Alz-Vous

Kok gue ga ngerti ya? Gue melongo sambil meneliti croissant dengan deskripsi demikian di sebuah gerai roti ternama di Jakarta. Sembari membayar gue terus memikir-mikir. Kedengerannya Perancis, tapi kok gue ga pernah denger? Klo Inggris, lebih ga pernah denger lagi...

 

Kalimat broken English-broken French itu terus menerus menghantui gue bahkan setelah croissantnya tak lagi di mata. Naluri membawa gue untuk ingin sekali kembali ke toko roti tersebut dengan spidol merah, mencoret-coret dan melingkari serta meralat. Genjes!

 

Seolah menjadi ‘English-day’, di hari yang sama gue terpaksa menguping (habis mereka ngomongnya dengan semangat berbagi sama satu cafe), sekelompok remaja yang dengan riuh menggunjingkan Mercy, Jack Daniel’s, dan soundsystem dengan Bahasa yang nampaknya mendekati Bahasa Inggris. Setiap kali mereka bicara, gue menggumam meralat dalam hati.

 

Sumpah. Jangankan bahasa Perancis, Bahasa Inggris gue pun jelek. Gue cukup bernafas lega berhasil lolos dari fakultas jurnalisme di luar negeri tepat waktu. Bagi gue, semua itu adalah kombinasi taktik mencari pelajaran yang memungkinkan kelulusan, teknik menghindari guru-guru yang kritis grammar, dan keberuntungan, lots of it.  Kalau waktu berulang, gue tidak akan mengambil jurnalisme dalam bahasa Inggris.  Gue tidak yakin akan beruntung kali ini...

 

Jadi bukan, sungguh bukan kemampuan berbahasa Inggris (atau Perancis) warga Indonesia yang tidak merata yang membuat gue merasa terganggu. Gue paham dan menghargai, tidak semua orang mempunyai akses ke kursus Bahasa Inggris serta program pertukaran pelajar ke Amerika. Juga tidak semua orang tinggal di Kuta Bali.

 

Tapi yang mengusik hati gue adalah: Kenapa sih, jika memang tidak tinggal di Kuta Bali, jika memang tidak menguasai secara baik, dan jika tujuannya berkomunikasi dengan rekan sebangsa agar dimengerti, kenapa sih harus tetap maksa memakai bahasa tersebut? Emang jelek banget ya pakai Bahasa Indonesia aja? Emang nulis pake broken English jauh lebih keren daripada nulis pake EYD ya?

                                                                                                                                                   

Ini bukan masalah nasionalisme. Gue pun pernah merutuki lahir dan besar di Indonesia, sehingga mengalami kesulitan ganda ketika memasuki kancah persaingan global. Menyesali mengapa orang tua gue tidak berpikiran selangkah lebih maju dengan menyekolahkan Margie kecil yang tak berdosa ke sekolah internasional.

 

Tapi mungkin gue sudah cape menolak nasib. Ternyata, tidak ada seorangpun manusia yang bisa menguasai dua bahasa secara sama baiknya, termasuk gue. Sepandai-pandainya kemampuan bilingual seseorang, pasti akan ada satu bahasa yang lebih dipilihnya dari yang lain. Bahasa yang digunakan ketika ia ingin berekspresi secara penuh. Bahasa dalam mimpi dan mengigau. Kebanyakan adalah mother tongue, atau kadang bahasa pergaulan sehari-hari.

 

Dan kalau ternyata bahasa itu cuma Bahasa Indonesia, si bangsa tempe yang kurang eksis ini, bisakah gue mengubah keadaan? Lebih jauh lagi, perlukah gue mengubah keadaan? Lebih penting mana? Dimengerti oleh mereka atau kita?

 

Setelah melihat nasib anak kecil tak berdosa lainnya yang dulu disekolahkan di TK Internasional, gue merasa, untuk seseorang yang tinggal di Indonesia, gue lebih beruntung. Gue tidak pernah mengalami pusing-pusing saat membaca soal cerita berhitung (meski tetap pusing saat menjawabnya). Tidak ada yang berani mem-bully gue dengan kata-kata karena gue akan cepat membalas dengan pantun-puisi yang lebih pedes. Juga tidak ada pedagang kaki lima yang berani mengetok gue karena tergagap saat tawar-menawar.

 

Lagian bahasa ini gak jelek-jelek amat kok. Jika ditilik, perbendaharaan diksinya luar biasa luas, juga terus berkembang seiring jaman. Coba lihat khazanah sastra dalam negeri. Haruslah diakui gue sangat menikmati tulisan Dewi Lestari, dan dalam hati menghina Cinta Laura yang tidak bisa  menikmatinya seperti gue.

 

Dan jangan lupa, dengan kemampuan bereproduksi yang sangat menakjubkan dari rakyat Indonesia, Bahasa kita termasuk salah satu yang paling banyak digunakan di dunia. Memang tidak pernah masuk survey karena londo di luar sana yakin bahwa orang Jawa hanya bicara bahasa Jawa dan tidak Indonesia. Tapi orang suku Tengger tetep paham kok pas gue nanya jalan.

 

Coba juga tempatkan diri kita di posisi bangsa lain. Kita aja benci idup mati mendengar Cinta Laura dengan Broken Indonesian-nya. ? Bayangkan betapa dendamnya para bule karena bahasanya disalahgunakan habis-habisan? Apa kita nggak kasihan sama orang Inggris?

 

Setiap bahasa adalah warisan budaya. Di dalamnya ada tradisi dan jendela akan kehidupan sebuah masyarakat. Makanya, jika menggunakan bahasa orang, alangkah baiknya jika diterapkan dengan benar, sebagai penghormatan terhadap identitas bangsa tersebut.

 

Gue paham, sebagai warga dunia, kita hendaknya saling berkomunikasi dalam bahasa universal, yang kini statusnya dipegang Bahasa Inggris. Dan dalam berlatih, Ga ada noda ga belajar. Semakin banyak menggunakan, semakin banyak salah, semakin cepat bisa.  Para turis bule, sahabat dekat dan guru bahasa Inggris memang tidak keberatan kita latihan bersama mereka.

 

Tapi rasanya seorang manusia akan bisa lebih berkontribusi lebih pada dunia jika ia dipahami oleh ratusan juta orang daripada tidak sama sekali. Dan gue rasa kita paling bisa dipahami jika berekspresi dengan bahasa yang paling nyaman kita gunakan, bahkan jika ternyata bahasa yang nyaman itu cuma bahasa Indonesia.

 

Jika ratusan juta orang itu sudah paham, ratusan juta yang lain dapat dengan mudah disentuh. Haruki Murakami tidak pusing-pusing menulis dengan bahasa asing. Ia menuliskan semuanya dengan bahasa Jepang dan membiarkan para penerjemah bekerja keras menyadur karyanya.

 

Tentunya disini tetaplah berlaku aturan, If you have it, flaunt it!  khalauw thernyatha khitha phaling nyaman pakhai bhahasya Inggries, or...Pranchies, gue akan senang-senang  saja ditanya kabarnya dengan berkata: Comment allez-vous?


Blog EntryDon't Cha!Sep 1, '09 10:50 AM
for everyone

Seolah-olah mencari pria Katolik yang mampu mencintai dan dicintai untuk diri sendiri di Jakarta belum sesulit mencari jarum di antara tumpukan jerami, kami berusaha mencari jodoh tersebut bagi guru yoga kami. Setelah menawarkan berbagai instruktor yang ternyata gay, kami menemukan target: lelaki berdarah Brazil yang lewat mata batin para wanita, cukup berpotensi.

        “IYAA..tapi dia udah punya pacar!” Sang Guru protes.

        “Bisa dibuat single! Selama janur kuning belum berkibar, masih ada kesempatan!” seorang murid mengompori

        “Enak aja! Emang kita perempuan apaan!”

        “Halah! Masa sih kita harus mengorbankan kebahagiaan sendiri untuk orang lain?” murid lain membujuk.

        “HUSH! Kalian ini! Sibuk-sibuk ngurusin gue, justru yang harusnya cemas itu kalian, yang punya pasangan. Karena ingat, jomblo-jomblo seperti kami, mengajak para single di kelas bersekutu, cih, sebal,  berkeliaran bebas di luar sana dan kami suka menggoda seperti...sambil menekan tombol kaset lalu berjoged...DON’T CHA WISH YOUR GIRLFRIEND WAS FUN LIKE ME!”

 

Senormalnya gue setuju pada pandangan Maha Guru: Ketika satu pasangan (dua pihak) tiba-tiba bersinggungan dalam hubungan bersinergi romantis dengan pihak ketiga, beban moralitas dan kecemasan terbesar ditanggung oleh pihak pertama dan kedua yang telah lebih dulu ada dalam hubungan bersinergi romantis tersebut.

 

Pihak pertama, yang selanjutnya akan disebut sebagai TERGODA akan mengalami pertanyaan etis apakah akan mengikuti hasrat hati atau tetap setia dalam status quo yang nyaman. Pihak kedua, yang selanjutnya akan disebut sebagai TERANCAM, tentunya cemas bukan kepalang dan dengan tetap mengikuti kaidah etis yang berlaku, berusaha mengusir pihak ketiga, yang selanjutnya akan disebut sebagai PENGGODA.

 

Sebaliknya PENGGODA tidak perlu cemas dan memikirkan moralitas. Namanya juga PENGGODA, maka peranannya adalah menggoda sehabis-habisnya untuk menggeser status hubungan bersinergi, menggeser peran TERANCAM sehingga tidak lagi disebut dalam kontrak dengan TERGODA.

 

Pendapat gue tersebut diambil saat gue menjadi pihak keempat atau PENGAMAT yang kurang bisa mendalami kasus. Ketika gue membaca kontrak hubungan sinergi romantis ini lebih teliti, gue baru menyadari: pengambilan keputusan terberat justu berada di pihak ketiga.

Coba perhatikan lewat studi banding milik seorang kawan berikut ini: Pemuda A sudah berpacaran seumur hidupnya dengan Pemudi B. Tidak ada yang salah dalam hubungan mereka. Semua berjalan lancar, keduanya sepadan untuk yang lain. Tidak ada yang salah, sampai Pemudi C muncul dalam cerita, sambil berkata DON’T CHA! Dan A.B.C tiba-tiba berada di sudut sebuah segitiga yang dihubungkan dengan garis berenergi romantis.

 

Menilik lagi klausa yang ada, lebih sering, meskipun tidak bisa digeneralisir, jika pihak pertama telah disebut sebagai TERGODA, maka sekitar 90% dari keputusan sebenarnya telah terbentuk. Cinta bisa datang kapan saja, namun tidak setiap saat. Dan sesuai aturan hidup bahagia, tak seharusnya Pemuda A menyia-nyiakan kesempatan dan bertahan di hubungan yang tak lagi membahagiakan.

 

Bagi TERANCAM, sebenarnya sikap yang tepat juga sudah jelas. Sebagai seorang korban, TERANCAM sudah tidak lagi harus bergelut dengan persoalan moral. Ia hanya perlu menimbang akan bersikap bodoh atau pintar. Jika memutuskan untuk menjadi rasional, maka sudah ada guidelines dalam bertindak: he’s an ass-hole. Leave him. Find someone better. Besides, why do you want to be with someone who doesn’t want to be with you?

 

Sekarang semuanya jadi tergantung pada PENGGODA. Apakah Pemudi C sebaiknya mengorbankan perasaan untuk kebahagiaan dan harkat sesama wanita? Jika ya, apakah dengan demikian Pemudi C juga telah mengorbankan Pemuda A? Jika tidak, apakah Pemudi C sanggup menyakiti wanita lain dan menanggung stigma negatif masyarakat? Lalu pun demikian, apakah Pemudi C memang benar akan bahagia jika bersama dengan pria yang pernah berlaku sedemikian pada Pemudi B?

 

Ternyata ada begitu banyak pertimbangan serta tanggung jawab yang harus ditanggung oleh seorang PENGGODA. Macamnya reality show perjodohan, kunci keputusan ada pada tangan perempuan yang bisa mematikan atau menyalakan lampu bagi pria di tengah panggung. So, are you going to take him out? 

 

Sebagai seseorang yang punya standard moral yang kurang tinggi, kebahagiaan orang lain dan pandangan masyarakat jarang jadi pertimbangan dalam bertindak. Pemikiran ‘Emang gue cewe apaan?’ jarang mengusik mata batinku.

 

Gue ga percaya adanya norma yang berlaku umum dimana perempuan harus sopan, halus baik hati penuh perasaan bak Ibu Kita Kartini. Tidak sebaiknya ada aturan yang membatasi baik buruknya satu gender. Setiap tindakan haruslah dilihat latar belakang dan kondisi yang melingkupi.

 

Gue beruntung dilahirkan bukan sebagai tokoh agama atau panutan masyarakat. Gue bisa egois. Gue tidak perlu harus mengorbankan perasaannya HANYA-SUPAYA manusia lain bahagia. Berjuang sendiri dong demi kebahagiaan masing-masing! Masa harus gue yang usaha? Siape loe?! Dan gue akan tetap menyalakan lampu gue untuk tanda I am going to take him out.

 

Tapi justru karena gue adalah orang yang egois, gue akan semakin prihatin akan kebahagiaan gue sendiri. Roda hidup berputar. Karma berjalan. Persis saat gue berhasil menggeser TERANCAM, maka akan timbul kontrak baru dimana gue akan menggantikan posisi TERANCAM tersebut, membiarkan posisi PENGGODA kosong hingga saat yang tak ditentukan.

 

Menilik sejarah TERGODA yang pernah sukses digoda, adalah sangat masuk akal jika suatu saat adalah giliran gue yang tergusur. Apalagi jika TERGODA meninggalkan TERANCAM karena semata melihat karakteristik positif lebih yang ada pada diri PENGGODA.

 

Perempuan suka menjadi the exception. Suka menganggap dirinya lain dari yang lain dan tak tertandingi. Sayangnya, di atas langit masih ada langit. Di atas pussycat-dolls-wannabe, ada lagi wannabe lainnya yang lebih fun, lebih freak, lebih hot. Dan di atas wannabe yang berlebih itu, masih ada...Pussycat-Dolls yang asli. Bukan tidak mungkin TERGODA akan segera berpindah hati jika ada yang karakteristik positifnya lebih banyak dari gue.

 

Meskipun saat giliran tiba gue sudah tidak perlu lagi bingung akan opsi yang harus diambil, bukan berarti itu akan jadi keputusan yang mudah. Mengapa gue harus mengambil risiko tidak bahagia HANYA-SUPAYA pihak pertama menjadi senang secara konstan dan gue secara sesaat?

 

Masih untung jika memang posisi PENGGODA didapat karena karakteristik positif. Mungkin saja hubungan TERGODA-TERANCAM sebenarnya adalah hubungan paling membosankan di muka bumi. Kambing di-pita-in pun bisa jadi katalis yang mengakhiri kisah yang memang dekat tanda tamat itu. Karena gue egois, tentunya gue enggan disamakan sama kambing berpita.

 

Inilah mungkin saatnya gue mematikan lampu gue. Dan dengan begitu mendapat bonus tepok tangan serta doa syukur dari TERANCAM.

 

Tapi sekali lagi, ini adalah versi PENGAMAT. Akhir cerita bervariasi, seturut pihak yang bersangkutan. Balik ke studi banding, Pemuda A ternyata memutuskan hubungan dengan Pemudi C dan menikahi Pemudi B. Pemudi B memutuskan untuk bertingkah bodoh dan menerima lamaran Pemuda A. Namun cinta Pemuda A hanya untuk Pemudi C, demikian sebaliknya. Sesaat setelah menikah, Pemuda A kemudian berselingkuh dengan Pemudi C  untuk sepanjang pernikahannya.

 

Pemuda A selalu bersama wanita yang dicintainya, yang membawa petualangan dalam hidupnya. Namun ia juga mendapat jaminan seorang wanita yang akan selalu setia dan menemaninya hingga tua.

 

Pemudi B berhasil mempertahankan pria yang dicintainya, dan seperti wanita kebanyakan, she doesn’t really want to know the truth. Sedangkan Pemudi C, tetap dapat hadiah hiburan dan bisa mempertahankan kebebasannya dari status yang menghambat pencarian pria yang sungguh-sungguh untuknya. Win-win solution...meski semua melenceng dari kontrak.

 

Kalau dipikir, kisah ini lebih cantik dari kisah Jennifer Aniston yang dicerai gara-gara Angelina Jolie. Mungkin Pemuda A memang pantas dipertahankan. Ia jelas lebih cerdas daripada Brad Pitt...


Blog EntryDasar anak kota!Aug 26, '09 10:39 AM
for everyone

Kemane aje loe?! Sudah hampir tiga minggu gue lebih sering absen dari kegiatan per-online-an. Maklum, gue sedang memikirkan chicklit khusus cowo yang ternyata jadi (excuse). Ditambah gue mendapat tambahan kerja jadi lifestyle editor untuk MSN Singapore (excuse). Si blog ini mau dibukukan (excuse). Dan gue sakit 3minggu penuh (excuse). Okeh, gue harus berhenti membuat alasan. Kalau tidak, the whole post is going to be made up from my excuse and once I stop making excuse, the whole blog is gone.

 

Kenyataannya, gue cuma sedang menjadi anak kota sesuai stereotype pengamat budaya dan sosial lainnya saja. Anak kota yang mengutamakan sosialisasi, sehingga dalam 3 minggu diserang 3 virus flu yang berbeda. Anak kota yang hidup untuk senang-senang, sehingga setelah dipotong waktu istirahat flu dan kerja, sudah tak ada lagi waktu untuk merenung dan berefleksi.

 

Kenyataannya, daripada memanfaatkan liburan long-weekend untuk pemulihan kesehatan dan merawat diri, gue malah ngotot berwisata ke Batu Karas dengan kuartet macan (empat sahabat perempuanku), mengakibatkan sakit berlipat ganda dan semakin sedikitnya waktu dihabiskan secara positif.

 

Tapi tetep ada hikmah yang bisa diambil kok dari Petualangan Batu Karas, selain hikmah kenikmatan (excuse lagi). Berada di dua jam lepas Pangandaran (atau 9 jam lepas Jakarta) memberi kesempatan mengkonfrontasi stereotype tentang perempuan kota sekaligus mengukuhkan jati diri gue.

 

Setiap kali gue mendapatkan pandangan dasar anak kota.. gue menemukan satu lagi stereotype sekaligus ciri-ciri kami, yaitu bahwa anak perempuan kota itu...

 

1.       Tidak peka terhadap norma sekitar

Entah apa yang ada kami pikirkan. Mungkin kami memang tidak peduli dengan tata karma yang berlaku di tempat lain. Jika kami PEKA, mungkin kami tidak akan hanya membawa BIKINI untuk berenang di KALI. Tiba di Sungai dan Air Terjun Citumang dengan celana pendek, tanktop, kaca mata hitam besar dan topi ala Jackie O saja gue sudah langsung mendapat tatapan heran warga sekitar yang sedang berendam di kali tersebut. Apalagi terjun ke dalam sungai dengan pakaian murah hati  bagian dada, paha, dan anything in between tersebut.

 

Bidadari saja pas mandi cuma berani lepas selendang...Kami berpikir saat mengamati sekelompok wanita turun ke air dengan baju lengkap hingga kerudung sedangkan kaum pria-nya berendam di sisi lain sungai. Terpaksa bagi yang bawa baju ganti, berendam dengan baju gantinya sekaligus, yang nggak bawa, harus percaya diri. Selalu lihat sisi positif, kami jadi benar-benar bisa menjelajah daerah aliran sungai tersebut; Mamang yang mengantar kami nampaknya cukup senang menjadi tour guide tanpa bayaran sekalipun...

 

2.       Nekad, tidak pemalu, tidak alus-alus

Di daerah manapun di Indonesia, memang tetaplah setiap anak perempuan diajarkan untuk bersikap santun dan agak sedikit pasrah. Namun nilai emansipasi dan kejamnya ibukota mungkin telah menggerus nilai-nilai tersebut. Guna membela nilai keadilan dan kebahagiaan, kami tanpa basa-basi akan bersikap nekad, meninggalkan nilai kelembutan, bahkan kalau harus berhadapan dengan pengedar sekalipun.

 

Sudah menjadi rahasia umum, daya tarik Batu Karas selain pantai pasir hitam dan Citumang, adalah  ‘jamur gembira’, menjadikannya salah satu agenda penting liburan kami. Alangkah kecewanya kami saat jamur campur fanta yang dibeli ternyata cuma membuat kami ketawa-ketawa. Meski lepas tengah malam, berbondong-bondong kami menyantroni markas Bang Jabrik (pengedar mushroom berambut gondrong) di pinggir pantai yang telah gelap gulita.

 

“MANAA yang katanya jamurnya bagus!! Nih!!Kita kagak kenapa-napa!” Botol jus jamur yang sudah kosong diacungkan ke muka Bang Jabrik yang sudah agak mabuk. Hasilnya, kami menyetir pulang dengan paket jamur baru hasil menuntut ganti rugi. Dipikir-pikir, harga yang kami dapat malah jadi sangat menguntungkan, bahkan lebih murah dari harga jamur di musim hujan. Mungkin lain kali saat menggertak kami bisa sekalian menuntut banana boat dan ongkos pulang ke Jakarta.

 

3.       Citra dan pembuktian diri itu penting...pengalaman juga deh.

“Ada tempat foto bagus apa lagi?” Begitu pertanyaan, baik diutarakan maupun dalam hati, dalam setiap kepergian. Seolah-olah travelling adalah untuk berfoto, bukan untuk jalan-jalan. Maksudnya, toh dengan mengunjungi tempat baru kita pasti dapat pengalaman, sekarang, bagaimana caranya supaya pengalaman baru itu diketahui khalayak ramai? Bahwa kita pernah kesitu lho..Tak heran, sesi foto adalah acara utama kunjungan ke tempat manapun.

 

Guna menangkap suasanya petualangan dan crossroad ala film Britney Spears, berhentilah mobil kami di tengah pematang sawah yang cuma bisa dilewati satu mobil dan rusak total, meski untungnya, tidak sampai menimbulkan kemacetan logistik desa.

 

Foto itu nantinya akan mewarnai facebook, display picture laptop, dan jangan lupa, blog ini, pembuktian diri bahwa gue pernah been there done that. Maklum, gue kan juga anak kota...

 

Ingin melihat batu karas cadas? http://margarittta.multiply.com/photos/album/16/Batu_Karas_Cadas


Gue punya sebuah rahasia. Gue telah memendamnya setahun setelah kejadian berlalu dan gue akan membongkarnya secara umum sekarang:

                Gue benci Batman

Cuma Batman doang, kok baru berani ngomong sekarang...Tapi dalam paragraf pertama pun gue yakin ada yang mulai kurang seneng. Coba bayangkan sanksi sosial yang bakal gue terima jika gue menyatakan ini tahun lalu, ketika film ini baru pertama kali rilis.

 

Editor MSN Singapura waktu itu bahkan pernah mengatakan, cuma orang yang gak ngerti film saja yang akan bilang film The Dark Knight itu jelek. Macamnya cuma orang pintar yang minum jamu tertentu. Gengsi dibilang buta film, gue terpaksa setuju membuat review bintang 5 untuk Batman.

 

Suer. Pada awalnya gue pun bersemangat tanpa pesimisme sedikitpun menyambut film Batman yang dipuja-puja bangsa itu. Gue ingat bersusah payah mendapatkan tiket di hari pertama pemutaran, berhasil menemukannya hanya di sebuah bioskop tua dengan toilet berlampu berdengung di sudut Singapura, karena bioskop top sudah fully booked dari dua minggu sebelumnya. Gue melihat seluruh bioskop juga muncul dengan wajah penuh harap, dan berkata pada diri sendiri, Kayaknya oke nih!

 

Dua jam 32 menit berlalu. Dan gue melihat bioskop kini dipenuhi oleh wajah orang-orang yang lemas dan bingung. Bukan lemas karena habis begitu tegang nonton. Bingung bukan karena sedang memikirkan arti film yang dalam. Tapi semacam lemas karena ngantuk dan bingung hilang arah, tak mengerti, tak menikmati.

 

Tapi begitu keesokan harinya film tersebut dibahas di koran nasional, cuma ada sanjungan dan pujian. Film ini ga seperti film superhero dangkal pada umumnya. Karakter Batmannya dapet banget. Jokernya bikin gue ga bisa tidur. Efeknya ga murahan.... Dan segenap dukungan lain, baik dari insan film maupun bukan, yang sudah nonton maupun belum. Bahkan orang-orang dalam bioskop yang berwajah bingung tadi kini berbalik mendukung film tersebut.

 

Ini adalah pertama kalinya selera gue bertentangan dengan selera pasar. Sungguhlah gue orang yang mudah dibodoh-bodohi. Gue suka semua film box-office. Gemar menyanyi-nyanyi lagu-lagu top 40. Nekad bolos pramuka saat ABG supaya tidak ketinggalan MTV Asia Hit List.

 

Sebagai bagian dari masyarakat banyak dan umum ini, gue selalu percaya bahwa lagu, film, mode disebut bagus karena memang semua orang menyukainya dan dilegitimasi oleh mereka yang memang ‘ahli’ pada bidangnya. Barulah di saat gue harus melawan opini massa, timbul pertanyaan, memangnya siapa yang punya hak untuk  menentukan sebuah hasil kebudayaan sebagai bagus dan tidak, buat gue?

 

Tentunya ada orang film senior, sutradara ngetop dan ahli sinematografis yang mendasarkan pendapatnya atas pengetahuan yang didapat dari pengalaman yang mendalam. Kolom review mereka, cuplikan pendapat mereka atas sebuah film,  pastinya merupakan sebuah sumber pembentuk opini yang valid.

 

Tapi para tokoh film yang sangat gue hormati itu hanyalah beberapa persen dari materi pembentuk selera gue dan kebanyakan orang lain. Dari sebuah ide tercetus di kepala hingga dikonsumsi masyakarat, hingga direview hingga direproduksi, ada banyak ‘penjaga gawang’ lain yang terlibat.

 

Pekerja film menentukan ide yang ingin dibuat film. Penyandang dana memilih film yang ingin disponsori. Organisasi media menentukan film yang tayang, yang direview, yang didukung dan tidak. Kekuatan iklan plus promosi menentukan jangkauan film dan bagaimana orang menerimanya.

 

Serta pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu sehingga ketika sampai ke gue, budaya pop bukanlah sesuatu yang objektif. Ada berbagai kepentingan dan cara pandang serta definisi pengetahuan subjektif yang diselipkan dalam setiap produknya.

 

Tapi saat itu, gue tidak pernah mempertanyakan keabsahan penilaian sistem ini. Dan jadilah film yang ‘kata orang’ bagus menjadi bagus. Biarpun gue ga tahu siapa ‘orang’ yang berkata demikian, atau yang pertama menyebutnya sebagai bagus. Biarpun gue lupa bertanya kenapa disebut bagus. Biarpun biar gue sudah membaca resensinya dan mereka bilang film itu bagus karena lightingnya keren, gue pun tidak pernah belajar lighting untuk memahami lighting yang bagus. Pokoknya kelihatan bagus.

 

Begitu juga jika ditanya apakah film Batman bagus, gue akan menjawab iya, karena semua bilang bagus. Bahkan meskipun menurut gue alurnya lambat. Bahkan meskipun menurut gue banyak latar belakang yang bertele-tele dan tidak diperlukan. Bahkan meskipun menurut gue fokus film jadi kurang berasa dengan kemunculan dua antagonis sekaligus. Bahkan meskipun menurut gue Heath Ledger main bagus tapi ga akan menang Oscar kalau tidak secara posthumous. Bahkan meskipun gue hampir tertidur saat nonton.

 

Sebaliknya teman gue yang nge-fans Batman-pun tak bisa secara pasti menjelaskan mengapa menurutnya Batman bagus.

“Batman bagusnya dimana sih?”

“Hmm..Jokernya keren.”

“Iya, kerennya dimana?”

“Yaa..aktingnya keren aja,”

“Coba, bagian mana yang paling keren?”

“HEATH LEDGER MATI GARA-GARA JADI JOKER TAU GA SIH LOE?!”

Secara rasional, meninggal, bukan jaminan film yang bagus. Lagipula masih jadi spekulasi apakah benar Heath meninggal karena terinspirasi Joker. Tapi teman gue begitu yakin pendapatnya masuk akal dan sah. Seolah-olah dalam dirinya telah terbentuk ingatan buatan yang melahirkan pemikiran, membentuk selera tertentu atas dasar rasio dan identitas yang jelas. Padahal mungkin identitas bukanlah hasil pemikiran pribadi, tapi pendapat media sosial sekitar yang kemudian diadopsi jadi opini pribadi.

 

Sebuah identitas dan pemikiran yang menjadikannya (dan gue) bagian dari kerumunan besar, mass culture.. Menjadi berbeda adalah salah dan tidak berpengetahuan. Makanya tak ada satu pun teman gue yang jika ditanya akan menjawab Batman jelek. Barulah jika gue buka kartu bahwa gue sebenarnya tidak mengerti makna dibalik film, beberapa akan ikut mengaku, sebenarnya gue juga kurang ngerti...

 

Padahal, seperti kata para filsuf postmodic yang sering meninggal tragis, tidak mungkin untuk memaksakan satu ideologi sebagai kebenaran dalam masyakarat. Lingkup sosial kita tersusun oleh berbagai jenis identitas dan karakter yang semuanya valid.

 

Setiap orang punya sistem nilai dan pola pikir yang berbeda, yang tidak bisa dieliminasi seenaknya hanya karena sebagian besar tidak berpikir sedemikian adanya. Maka sah-sah saja kalau gue bilang Batman jelek. Gue memang tak mampu menangkap makna film yang dalam itu!

 

Entah mengapa gue tiba-tiba berhasrat buka mulut sekarang. Bagaimanapun juga, di luar Batman, gue suka semua hal yang orang lain bilang bagus. Ibaratnya, biarpun top 40 selalu dikutuk-kutuk karena disebut sebagai hasil manipulasi perusahaan rekaman, mempersulit anak indie untuk didengar, danlainsebagainya, top 40 tetaplah top 40. Lagu-lagu di tangga top 40 tetaplah lagu yang enak dan paling digemari.

 

Kultur pop atau kultur massa atau low culture atau apapun orang menyebutnya ada dan akan selalu ada. Karena memang sesuai dengan selera kebanyakan orang. Atau karena memang mayoritas orang telah dibentuk seleranya sehingga selalu menyukainya.

 

Banyak orang yang suka Batman dengan alasan yang sah dan menyakinkan. Hanya saja, mungkin ada juga segelintir orang norak ga ngerti film seperti gue yang ga suka, ga sehati, dan ga bisa mengidentifikasikan diri dengan film yang dianggap bagus tersebut. Dan kami-pun adalah kisah-kisah yang sama aslinya sama benarnya dan sama bagusnya seperti film Batman.


Berapa kali seseorang bisa jatuh cinta dalam hidupnya?

 

Teman gue menjawab empat kali, karena dia bisa punya empat istri. Sex and the City dalam satu episodenya bilang dua, membuat khawatir tokoh utama, Carrie. Jika setiap wanita cuma akan bertemu dua orang pria yang berarti besar bagi hidup mereka, maka Carrie sudah  melewatkan dua kesempatan itu dan berarti harus menghabiskan sisa hidup dalam kesendirian. Dalam versi bioskop, Carrie akhirnya menikah dengan pria yang kedua.

 

Sedangkan cerpen Haruki Murakami, the Kidney Shapes Stone that Moves Everyday bilang tiga. Dan si tokoh utama sudah jatuh cinta sekali. Itu berarti dia harus berhati-hati dan irit perasaan dalam menggunakan dua kesempatan yang dipunya, padahal ia sedang merasa jatuh cinta lagi. Haruskah yang ini dihitung?

 

Mirip dengan yang terakhir, gue juga memilih jawaban tiga kali, seperti Nicole Kidman dan banyak orang lain. Tiga terkesan magis, seperti tiga permintaan, tiga pilihan, tiga saudara, thus, tiga cinta. Tapi akhir-akhir ini gue malah merasa cemas jika jumlah yang gue pilih itu terlalu sedikit.

 

Empat tahun yang lalu gue merasa telah jatuh cinta pada tiga orang pria, membuat gue sangat sedih karena tiga-tiganya terjadi di saat gue bahkan belum menginjak usia kepala dua. Tapi kemudian gue jatuh cinta lagi, sehingga gue akhirnya mulai membanding-bandingkan perasaan gue dan mengeliminasi pria kedua. Mungkin waktu itu gue tidak benar-benar jatuh cinta. Maka kembali genap sudah tiga kali gue jatuh cinta.

 

Setelah yang terakhir kandas, gue mulai merevisi lagi perasaan gue. Mungkin yang pertama kali gue rasakan bukan cinta, supaya gue masih punya satu kesempatan lagi. Tapi gue harus berhati-hati kali ini, karena cuma tersisa satu kesempatan.

 

Dua tahun berlalu dan entah karena terlalu waspada, entah karena memang kesempatannya sudah habis terpakai, diluar segala janji manis dan  malam-malam penuh bintang, memang belum pernah gue jatuh cinta lagi. Dan gue mempertanyakan apakah itu tandanya gue akan memulai hidup hampa cinta, di usia 23 tahun.

 

Manusia suka membuat teori-teori kecil guna menjelaskan hidup yang kompleks dalam bentuk angka yang sederhana, meski buntutnya teori kecil itu malah bikin perhitungan susah. Membuat klasifikasi ras, tapi akhirnya malah berantem sendiri. Membuat patok wilayah, malah rebutan bandara. Dan kini, membuat perhitungan teori cinta, yang malah membuat khawatir dan cemas saat merasakannya.

 

Atau mungkin bukan masalah jatuh hatinya yang harus dihitung, tapi dampak negatif yang seringkali mengikuti si jatuh cinta? Naksir-naksiran tentunya menyenangkan. Tapi semua stuju bahwa putus dan mencari yang lain bukanlah proses favorit kita semua...Bagi yang perempuan, akan cuma ada satu, jika bukan nol, cinta yang berakhir happily ever after. Berarti semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak juga kesempatan hancur digulung ombak selatan.

 

Itu mungkin jadi alasan mengapa tanpa sadar, teori-teori jatuh cinta Cuma beberapa kali itu muncul. Bukan karena takut kehabisan cinta, tapi takut kehabisan hati yang dipatah-patah...Sayang rasanya kalau perasaan itu kita sia-siakan untuk orang yang kurang berarti, atau yang sudah pasti bikin hati susah suatu hari nanti.

 

Seperti tulisan Murakami lainnya, cerpen the Kidney Shapes Stone that Moves Everyday punya alur yang gelap, absurd, magis, ngaco, yaitu lewat cerpen-dalam-cerpen tentang batu ginjal.

 

Batu berbentuk dan berukuran seperti ginjal yang akhirnya menjadi obsesi seorang dokter wanita. Batu ginjal yang terus bergerak dan berpindah tempat. Batu yang balik lagi...balik lagi ke hadapan sang dokter. Batu yang membuat sang dokter melupakan selingkuhannya. Batu yang memberi rutinitas baru baginya: menemukan dan mengembalikan si batu jadi penjaga kertas.

 

Sungguh aneh memang menceritakan cinta lewat batu ginjal. Tapi lewat contoh ekstrim ini gue jadi manggut-manggut dipaksa lebih bijak. Everything in the world has its reason to do what it does. Apa yang hal lain itu lakukan akan bersinggungan dengan hidup kita tanpa teori yang bisa dijelaskan..

 

Jika sudah waktunya seseorang singgah dalam hidup, maka muncullah sang orang baru tersebut di hadapan. Bahkan jika yang muncul adalah sebuah batu tak berperasaan yang ganggu dan terus eksis dalam jalur kehidupan meski diminta pergi.

 

Pergerakannya, suka tidak suka menggoncang hidup si perempuan dokter, betapa tidak rasionalnya, memberikannya rutinitas baru, obsesi baru. Tapi yang sebenarnya menggerakkan si batu adalah perasaan dalam sang perempuan. Caranya melihat dan memperhatikan batu serta perubahan yang ia lakukan, adalah sesuatu yang mungkin merupakan kehendaknya, dengan batu sebagai katalis. Dan semua itu tak bisa muncul jika perasaan sang dokter terbatasi.

 

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Ia mungkin memberi rasa tak nyaman, memberi obsesi baru, atau menjadi bagian dari rutinitas secara natural. Tapi seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri, justru tergantung dari kesanggupan kita menerimanya sebagai bagian dari hidup secara utuh.

 

Dan untuk menerima batu-batu baru, tidak akan pernah ada hitungannya. Menjadi takut untuk jatuh cinta adalah melawan takdir. Si batu akan muncul jika ia memang harus muncul.

 

Cerita-cerita Haruki Murakami, sebagaimana karya sastra yang dianggap ‘bagus’ oleh masyarakat, biasanya berakhir gantung, dengan pembaca jelata tertinggal bengong tak mampu menangkap makna dibalik buku. Tapi untungnya bicara soal tiga cinta, Murakami mengakhirinya dengan cara yang lebih literal.

 

Baginya, tak masalah dengan hitungan yang ada, yang penting adalah untuk selalu melihat setiap kesempatan yang datang sebagai yang terakhir, untuk memperjuangkan setiap cinta yang lewat  seperti tak ada kesempatan lain yang akan datang.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

One morning, the doctor notices that the dark kidney-shaped stone has disappeared from her desk. And she knows; it will not be coming back.—Haruki Murakami


Pages:123456