|
A book makes you think
Even the one as shallow as Sex and the City
Demikian gue rasanya mau ngomong. Saat itu gue sedang berada dalam penerbangan Jakarta-Surabaya untuk sebuah workshop. Berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk internetan, tidak punya Kindle, gue terpaksa kembali menggunakan metode hiburan sederhana, membaca buku. Hardcopy. Klasik.
Sayangnya, pria yang duduk di samping gue nampaknya tidak terlalu terkesan dengan pilihan bacaaan gue. Bersampul pink terang dengan dekorasi rantai-rantai emas, jelas buku ini terlihat jelas tidak seperti sebuah sastra.
Biarpun ditutup dengan kaca mata hitam, gue yang duduk persis sejajar, kelas ekonomi pula, dapat meihat dengan jelas gerak matanya yang ikut membaca huruf-huruf besar-besar dengan spasi bersahabat khas chicklit, membentuk kata sex, penetration, intercourse, dripping cement, moaning, panting, oh…my…god…
Bibirnya yang tidak bisa ditutup kaca mata hitam, tidak bisa menutupi ekspresi. Melengkung ke bawah. Nge-nye.
Sesaat gue gusar. Padahal awalnya gue cukup menikmati buku Summer and the City karya Candace Bushnell ini. Ringan, penuh celotehan dan sindiran tajam khas lanjutannya, Sex & the City. Seperti dengan serial favorit gue itu, banyak isu remeh yang ternyata adalah yang utama dalam kehidupan seorang perempuan muda kota besar, yang sedang berjuang mendaki tangga karier.
This is a book before Carrie. Ini adalah masa ketika Carrie baru datang dari udik, kota kecil Amerika,. Masa bahkan hanya setelah Carrie lulus SMA. Masa ketika Carrie belum yakin jika ia akan menjadi penulis bestseller. Masa ketika Carrie masih…perawan.
Maka, gue bisa dengan mudah memahami pengalaman tokoh utama buku ini, Carrie Bradshaw, yang mirip dengan pengalaman gue saat baru awal kuliah. Diusir dari tempat tinggal. Check. Diramal gagal lulus sama dosen. Check. Diyakini rekan-rekan bakal DO. Check. Malah dugem tiga kali seminggu. Check. Pacaran sama cowok umur 30 taon. Check.
Tapi lebih dari sekadar pengalaman wacky and wonderful yang kebetulan mirip dengan sesosok judul fiksi, gue manggut-manggut sepenuhnya dengan satu tema yang selalu akrab dengan diri gue. Insecurity. Buat manusia macam gue yang selalu mengikuti SATC, dari awal Carrie meniti Karier, hingga dibuat film bioskop tentang Carrie perempuan paruh baya, hingga SATC 2 yang super orientalis dan tidak sensitif, gue sebenarnya tidak menyangka seorang Carrie bisa punya sisi insecure.
Gue punya fantasi, si Carrie, si penulis berbakat, yang bisa beli Louis Vuitton buat hadiah, yang punya pacar ganteng sakses di kota yang katanya, if I can make it there, I can make it anywhere dan selalu dikelilingi sahabat-sahabat setia, tidak akan pernah merasa insecure. Nggak mungkin. Nggak ada alasan. Dan saat insecure, ia pasti punya teman yang menguatkan.
Tapi Carrie yang di Summer and the City itu cranky. Dia insecure dan tidak yakin tentang segala sesuatu yang dijalaninya. Carrie bahkan insecure tentang seks, sesuatu yang nantinya jadi bahan tulisannya saban hari. Hampir 85% bagian buku ini sebenarnya berpangkal dari insecurity Carrie tentang seks.
Segala sesuatu tentang seks menakutkan dan meragukan buat Carrie. When you haven’t done it, you are afraid it hurts. When you have done it, you are afraid of diseases. When you haven’t done it, you’re embarrassed to admit. When you have done it and your next partner hasn’t, you are also embarrassed. When you haven’t done it with your boyfriend, you’re afraid he’ll leave. When you’ve done it, you’re even more afraid that he’ll leave.
When you don’t like it, you are worried the next one will be as bad. When you like it, you are still afraid that the next one will be bad. When you don’t do it, you are wondering if you can do it. When you do it, you are afraid you aren’t good. And next and so on and so forth.
Dan jika Carrie bisa segitu cranky-nya soal seks, bayangkan hal-hal besar lainnya yang bisa bikin takut. Carrie takut nggak bisa nulis. Ia takut dimakan sama kota besar yang bernama New York. Dan saat ia menghadapi segala ketakutan itu, tidak ada teman-teman yang membantu. Karena masing-masing sedang sibuk dengan insecurity masing-masing dan selalu punya pendapat yang berbeda.
Membuat gue bertanya, Are women in big cities with particular economic condition always insecure? Bahkan ketika ia masih jadi Carrie yang biasa saja, tulisannya mendapat pujian di kelas, ia sudah punya pacar penulis terkenal, dan punya sahabat-sahabat yang keren. Yet,she is insecure.
Karena merasa diri perempuan, gue mencoba mengintip diri gue sendiri. Do I as a woman, have any reason to be insecure? Gue teringat masa-masa pertama di Singapur. Tidak damai pokoknya. Gue seperti tidak berdaya dengan tuduhan punya pacar terlalu cepat, lebih cepat daripada membuktikan diri bahwa gue bisa tidak lulus secara DO.
Dengan sebuah keajaiban, di tahun pertama itu, gue berhasil meraih nilai yang lumayanan. Sekarang, gue bertanya-tanya jika gue harus merasa insecure masa itu. Gue sempat menyatakan betapa beratnya tahun-tahun awal gue di sekolah, dan seorang professor membalas dengan begitu yakinnya, ‘Oh no, you never struggle. I can see from the beginning you just naturally doing more than just alright.”
Gue kini sudah punya lima buku yang memberikan gue cukup uang jajan. Gue sudah punya mobil dan apartemen sendiri. Gue bekerja di bidang sangat sangat gue sukai, yang cukup gue pahami sampai jeroan-jeroannya. Tapi apakah dengan begitu gue menjadi secure? Tentu tidak! Gue tetap tidak yakin gue bisa nulis. Gue tetap psikosomatis setiap pagi. Pe-De gue tidak sebombastis judul buku baru gue, si Freshgraduate Boss. Gue mempertanyakan jika mencicil sungguh taktik berhemat yang tepat.
Gue baru merasa secure tentang sebuah keadaan, setelah keadaan itu berlalu. Seperti Carrie yang tidak mensyukuri saat dicopet. Padahal tas dicopet itulah yang membawanya pada sahabat-sahabat barunya. Atau gagal menulis puisi di kelas menulis membuatnya menulis drama yang menonjol di kelas. Baru sekarang gue menyadari megap-megap di Singapur membawa gue ke posisi empuk.
Macamnya kutukan, semakin kompleks hidup seorang perempuan bahkan dengan kompleksitas yang positif, amat justru malah semakin dihantui oleh kegalauan. Ada begitu banyak pandangan orang yang tertarah yang perlu dipikirkan dan perlu dibuat positif. Apalagi, pandangan-pandangan ini semua tidak ada yang seragam.
Seorang wanita dengan hidup yang lebih sederhana, mungkin punya nilai norma yang dijunjung tinggi. Mungkin juga, akan selalu berusaha memenuhinya. Yang jelek dijauhi. Yang baik dikerjakan. Tapi dalam hidup urban yang kompleks ini, yang bener dan salah suka nggak jelas. Cuti bersama sama enggak saja suka rancu, eh…
Balik lagi soal seks misalnya. Mana yang bener? To do or not to do? Dalam hidup yang sederhana, tentu saja tidak. Dan seorang wanita tidak perlu pusing karena cukup konsen menjaga diri hingga akad nikah. Tapi Carrie, malah bingung. Norma sosial berkata tidak, have dignitiy, my lady… Tapi norma sosialita berkata tentu saja! Test drive! Act of Love, are you that naïve?
Akhirnya, jadi perawan insecure, tidak perawanpun, insecure, karena selalu ada sisi di mana pilihan yang diambil terasa salah. Demikian juga dalam sisi hidup yang manapun. Di kelas teri, mungkin jadi ikan paling gede. Tapi di kelas kakap, jadi anak bawang. Jadi begitu sulit untuk menjadi ikan terbesar karena di atas ikan masih ada ikan. Apalagi konon di hidup yang kompleks, pertemanan pun jadi kompleks.
Lalu, gue jadi terbiasa dan menjalaninya sebagai bagian tak terpisahkan dalam hidup. Gue sudah tidak menanyakan mengapa bak ajaran Budha, hidup itu selalu sengsara. Tidak menanyakan buat apa gue susah-susah gini jika gue baru bisa menikmatinya setelah masa itu berlalu. Kapan dong gue menikmati masa pensiun?
Seperti saat tiba-tiba gue mulai meracau berlembar-lembar setelah merasa insecure terhadap pandangan lelaki tak dikenal di sebuah pesawat. Dengan sebuah reaksi defensif yang normal, gue mulai membedah buku tanpa mempertanyakan jika orang tersebut perlu diyakinkan. Lagipula, mungkin tak akan pernah membacanya. Eh, ini yang baca ngerti nggak sih? Insecure lagi… “Ga usah kawin, dhe Gy! Nggak bisa ngapa-ngapain, kerja aja susah!” Gue menatap aneh mencoba mencerna saran yang baru gue terima, lalu, menganggap saran tersebut datang dari seseorang yang berlatar belakang cukup kredibel, memutuskan untuk menjalankan nasihat tersebut bulat-bulat. Tentu saja, gue sering mendengar anjuran sedemikian. Kalau itu datangnya dari orang tua, gue hanya akan manggut-manggut, masuk kiri keluar kanan. Namanya juga orang tua. Mana ada yang menganggap buah hatinya bukan bintang tercerah di galaksi bimasakti ini. Semua lelaki yang bukan keturunan Ratu Inggris atau Cendana bakal dianggap hanya akan menghambat anak perempuan tersayangnya. Kalau itu datang dari teman sebaya perempuan yang belum nikah, gue akan menjawab tertawa-tawa sambil tos-tosan, kalau bisa pakai gelas martini. Itu namanya solidaritas. Anjuran yang diberikan lebih merupakan curhat colongan belum dapat jodoh daripada pandangan yang jujur. Belum tentu merasa begitu, tapi karena belum dapet, ya coba dicari sisi positipnya. Kalau itu datangnya dari teman laki-laki, gue akan mendelik keki. Biarpun mungkin setuju dengan pernyataan tersebut, gue tetep akan menunjukkan keberatan, selayaknya wanita pada umumnya. Enak di elu ga enak di gue! Terus gue ngapain digantung? Loe gampang, lelaki, tua-tua keladi, lha gue? Tapi kalau anjuran tersebut datang dari seorang perempuan yang lebih tua dan sudah menikah? Mungkin ada perlunya mempertimbangkan hal ini. Mungkin dengan usia yang lebih matang dan pengalaman, beliau telah membuktikan bahwa memang tidak mungkin punya profesi sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier secara seimbang. Membuat gue yang di usia merenung dan refleksi ini jadi bertanya-tanya, is that really true? Bahwa sebenarnya memang tidak memungkinkan untuk menjadi ibu dan istri yang baik dan di saat yang bersamaan, menjadi wanita karier super sukses? I would love to think that wonder women really exists. Perempuan super yang menjadi ibu dari lima anak, menyusui tiap anaknya satu per satu, menyiapkan sarapan pagi, mengajari matematik, membimbing doa sebelum tidur, melayani suami dua kali semalam tiga kali seminggu, DAN menjadi Chief Executive Officer di perusahaan multinasional dengan 150 karyawan, memimpin rapat regional, menaikkan keuntungan perusahaan berdigit-digit, serta memperhatikan kemajuan anak buahnya. Contohnya juga banyak. Pengusaha-pengusaha perempuan sakses yang menjadi role model majalah-majalah wanita, dengan kisah karier sumringahnya, dilengkapi foto saat berlibur dengan segenap anggota keluarga. Tetapi karena salah pergaulan, gue tidak pernah bertemu poster clean & bright tahun 70an yang nyata ini dalam hidup terdekat. Beberapa orang teman yang mencoba hidup bersama mendapat kendala munculnya bentrok-bentrok kecil. Sabtu dan Minggu sudah tidak bisa lagi jadi waktu untuk mengejar ketinggalan tugas-tugas kerja. Sabtu-Minggu itu waktunya refreshing bersama pasangan, bahkan jika momen rekreasi itu malah jadi bikin setres karena teringat kerjaan yang belum tuntas. Beberapa yang sudah menikah, sudah tidak bisa lagi pol-pol-an dalam karier. Jam enam sore sudah dijemput suami. Di rumah, pantang pegang BB. Mana bisa karier dibatasin jamnya? Otomatis tidak bisa lagi tampil menonjol. Lagipula, buat apa tampil menonjol jika nanti malah bikin insecure dan berantem di rumah? Kenalan yang lain, anaknya bos perusahaan. Dari luar, terlihat sempurna, cerdas dan punya kisah karier mengikuti ibunya. Tapi iapun mengakui kekurangan kasih sayang seorang ibu. Kerabat yang dekat akan segera menemukan sisi psikis yang mengganggu yang mungkin takkan muncul seandainya…hanya seandainya…ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Gue sendiri, sering berbangga hati merasa bisa membagi waktu dengan sempurna. Selalu punya pekerjaan beraneka ragam, kuliah overload, dan tidak pernah juga menjalaninya sendirian. Tapi terkadang, guepun masih berandai-andai bagaimana karier gue seandainya tidak disibukkan dengan urusan domestik hingga harus pindah arah karier. Di usia belum lulus gue sempat ditawari posisi bergengsi kantor regional bidang marketing. Namun pekerjaan marketing itu, apalagi di Singapura terlihat seperti pekerjaan orang single banget. Mengurusi event berarti banyak waktu di luar dan mikirin sampai kecil-kecilnya. Brainstorming berarti otak hanya jadi punya kerjaan sampai idenya ketemu. Sukses menjomblo karena menjajalnya, gue memutuskan memulai studi di bidang konten, dan bekerja di dalamnya hingga kini. Tentu dengan berandai-andai jika gue memulai karier dua tahun lebih awal di pekerjaan yang membutuhkan lima tahun pengalaman. Secara total, gue mungkin tujuh tahun lebih maju dari sekarang. Bahkan saat ini, gue mendapatkan kesulitan untuk berbagi waktu dengan orang-orang terdekat. Bertemu aja nggak tiap hari. Pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi. Sejujurnya, gue masih belum juga mendapatkan formulanya. Diitung-itung bolak balik, kecuali gue diberi lebih dari 24 jam sehari, budget waktunya masih belum masuk. Coba itungan berikut ini: Waktu yang diperlukan untuk mempunyai Karier yang baik: Kerja sesuai jam kerja : 9 jam Perjalanan PP ke kantor : 3 jam Waktu lembur : 3 jam Total : 15 jam Waktu yang diperlukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik Membangunkan, dan menyiapkan untuk ke sekolah : 1 jam Menyiapkan sarapan, makan malam dan makan siang bergizi : 2 jam Makan malam bersama seluruh keluarga : 1 jam Membimbing belajar : 3 jam Menemani nonton TV atau bermain agar tidak salah pengertian : 2 jam Doabersama : 30 menit (bisa kurang)
Sex : 2 jam (bisa juga kurang) Total : 11.5 jam Jika keduanya ditotal, nilainya adalah 26,5 jam, lebih dari 24 jam dalam sehari. Itupun, tanpa menghitung waktu tidur, mandi dan dandan. Memang, ada bagian yang bisa dikurang-kurangi, tapi back again, aturannya adalah untuk menjadi YANG TERBAIK. Seks bisa dilakukan dalam 10 menit, doa juga cukup 2 menit, but who would then say that you are the best wife and mother? Alangkah sulitnya kalau begitu menjadi wanita! Di satu sisi, perempuan diharapkan akan mengikuti kodrat blahblahblahblahnya untuk melahirkan dan menjadi seorang ibu yang baik. Secara penuh menjadi ibu rumah tangga sejati, yang mendukung suami dan memastikan anak titipan Tuhan itu tumbuh menjadi anak yang manis dan pintar. Kalau memang aturannya begitu, gue sih nggak keberatan. Gue bahkan selalu menyatakan kepasrahan gue untuk menganggur dalam jangka waktu yang lama. Jika karier gue adalah menjadi ibu rumah tangga yang sukses, mengurus anak lalu di sela-sela waktu sekolah dan ekskul mereka, gue mengisi waktu dengan kursus merangkai bunga dan manicure, so be it! Tapi bahkan, memilih saja sulit. Kadang perempuan tidak punya pilihan lain selain menempuh jalur karier dan melupakan jalur kerumahtanggaan. Hal ini disebabkan oleh nihilnya kesempatan menikah sebelum lulus kuliah. Akibatnya, demi menyambung hidup dan menjamin kebahagiaannya sendiri, si perempuan harus berfokes pada karier dan mati-matian dalam bekerja. Nggak mungkin dong, perempuan macam gue akan tidak ngoyo dalam kerja dan lebih banyak mengisi waktu dengan nongkrong-nongkrong dan cari kenalan. Risiko! Kalau dapet! Kalau kagak? Alamat bisa tidak sejahtera lahir dan batin! Tapi buntutnya, karena terlalu sibuk bekerja, terjadilah kesalahan yang sering disebut itu: Nggak sempet nyari suami , sih! Dan berakhirlah perempuan itu memilih karier seumur hidupnya. Dalam kasus lain, perempuan harus menjalankan kedua pilihan itu meski sama-sama tidak dipilih. Kalau punya suami seperti yang diharapkan si Mamih, yaitu Pangeran Harry atau Pangeran Cendana, ya pilihan ada di depan mata. Tapi kalau punya suami yang penghasilannya pas-pasan? Bukan satu dua pasangan yang harus bekerja banting tulang kedua-duanya demi menyekolahkan anak. Dan dalam hal ini, yang perempuan tetap harus mengurus si anak yang disekolahkan. Maka kembalilah perempuan itu harus memilih secara tanggung. Biasanya, akan punya fokus lebih banyak mengurus keluarga, meski mengakibatkan perempuan itu menjadi pekerja ‘tanggung’ yang tidak berpencapaian dan tidak akan dikenang bangsa. Dengan keironisan lain, tetap menerima keluhan dari anak-anaknya yang merasa mama terlalu sibuk. Alangkah sulitnya jadi perempuan! Sedang misuh-misuh karena sulitnya pilihan menjadi perempuan, gue membaca sebuah majalah edisi tahun 2001. Kolumnisnya, seorang pria, mengeluh, betapa sulitnya menjadi seorang pria. Ia harus peka, sensitif, cukuran, punya badan bagus, cukup olahraga, minum suplemen, punya 1000 cara membuat perempuan ketawa, punya pengetahuan umum yang luas, punya 1000 cara menyenangkan pasangan, and this is just in bed. Di luar itu, masih ada seribu kriteria termasuk meraih karier yang gemilang dan aktif dalam lingkup sosial yang tepat. Ternyata kaum pria juga punya masalah yang sama dengan perempuan sejak dahulu kala. Jadi perempuan dan jadi lelaki sama susahnya!aa… Kalau Noordin M Top masih hidup, mungkin resor ini sudah jadi salah satu target aksi terorismenya. Meski gue saat itu gue sedang menginap di dalamnya, gue tidak sanggup menghilangkan pemikiran ekstrim ala negara korban terorisme.
Betapa tidak. Saat itu gue sedang menginap di sebuah resor eksklusif di salah satu ujung Sulawesi. Tipikal resor yang punya kolam renang pribadi dan sunbed persis di depan kamar. Meski arealnya luas, hanya ada tujuh kamar di sana, salah satunya, yang gue tempati, punya perahu cadik yang disulap jadi ranjang. Ketika membuka kamar, hamparan laut biru jernih langsung menyambut. Ada private access langsung ke spot snorkeling yang konon adalah salah satu yang terbaik di Tanjung Bira.
Tetapi, biar kata adalah salah satu resor terkece di Tanjung Bira, Indonesia, tempat ini nyaris tidak terakses oleh orang Indonesia sendiri. Sebagian besar tamunya bule, pakai bikini dan jemur-jemur. Kontras dengan pantai tetangga yang semua pengunjungnya berenang pakai baju lengkap. Penduduk setempat juga tidak banyak tahu, karena lokasinya terpencil, macam tempat liburan artis. Tidak ada papan nama tergantung di depan pintu besar gaya kuno yang terletak di atas bukit.
Siang harinya sebelum check in, seorang guide lokal menyatakan keheranannya ketika tahu gue, seorang Indonesia, akan tinggal di resor tersebut. Konon, resor milik orang Spanyol itu eksklusif untuk warga negara asing. “Mungkin lagi nggak ada yang punya,” ujarnya menduga. Kece. Khusus bule. Di tempat yang mayoritas turisnya domestik. Apa engga mirip sama beberapa klub malam di Bali yang melarang orang Indonesia dugem di situ sepuluh tahun silam?
Semakin yakin akan pemikiran gue, ketika malamnya bertemu tante nyinyir dalam sebuah pesta barbecue di resor tersebut. “So you happen to be a guest here!” demikian perempuan Indonesia itu mencetus, diikuti scanning dari ujung kaki ke ujung rambut seolah-olah jadi orang Indonesia dan jadi tamu resor, adalah dua hal yang tidak berhubungan dan tidak sejajar satu sama lain.
Sepanjang malam, si tante nyinyir sibuk ngomong sama tamu-tamu bule. Sedangkan orang Indonesia? Masuk dapur saja rasanya bikin sempit dan perlu diusir! Kecuali kalau yakin benar orang Indonesia itu tamu sah dalam resor, tidak perlu ditegur manis. See! Tiba-tiba, gue yang orang biasa saja jadi pingin ikut pelatihan militan. Habisnya, orang Indonesia memang cuma warga kelas dua di negaranya sendiri! Saat sibuk kerja, perlakuan diskriminatif sering ditemui di kantor. Bosnya warga asing, dan selalu menyelipkan tetangga serta keponakannya sebagai bos di bawahnya. Mereka yang punya modal, sih! Sedangkan warga Indonesia mentok karirnya di manajemen menengah.
Pulang kantor, makan di restoran kepala kentang atau restoran daerah bisnis distrik lainnya suka nggak dilirik lantaran bukan ekspat. Disuruh duduk di tempat yang sempit dan keras. Kadang suka lama melayaninya. Beberapa tempat hiburan malam malah bisa bikin risih sendiri karena lupa bawa paspor. Takut disangka imigran gelap sanking isinya orang luar negeri semua.
Laluuu…ternyata…pas liburanpun, masih tidak bisa merasakan jadi warga kelas satu! Hampir seluruh resor mahal dan eksklusif di penjuru Indonesia dimiliki oleh asing. Biarpun letaknya tujuh jam dari kota besar terdekat, rate-nya masih pakai euro. Tamunya londo semua, sedangkan turis domestik bertumpuk di losmen melati, satu kamar lima orang, dengan tarif seperlima harga resor semalam.
Pulau-pulau tercantik Indonesia banyak yang sudah dikapling warga asing. Jangan mimpi boleh main ke pasir putih yang terhalus di gugus kepulauan itu. Berenang-renang ngintip terumbu karang yang belum dikapling saja musti bayar 50 ribu!
Padahal! Padahal! Belum tentu yang Indonesia ini lebih jelek dari yang asing. Dari sisi pekerjaan, selama sama-sama orang, dan sama-sama sekolah, asal rajin harusnya bisa diberi kesempatan lebih. Dari sisi liburan, belum tentu tidak punya Euro lebih banyak untuk menikmati fasilitas kelas satu. Buktinya di resor Tanjung Bira itu, penghuni kamar-kamar terbesar dan termahalnya justru orang Indonesia semua.
Namun, bahkan setelah bayar 50 ribu, setelah mampu membayar resor, seperti yang gue alami, tetap diragukan kelayakannya! Ini kan negara nenek moyangku! Yang sudah ditakdirkan Tuhan lengkap dengan terumbu karang dan pemandangannya jadi punya Indonesia! Kenapa jadi kita yang ngontrak? Kenyataan begini bisa buat over-nasionalisme memuncak. Mana sini bendera Amerika!
Untunglah saat gue masih mencari korek untuk membakar bendera, gue sempet merenung, dan menyadari bahwa… tidak adil jika bendera Amerika yang dibakar. Setelah gue pikir-pikir, bukan orang Amerika, juga bukan bule yang melakukan pembedaan dan diskriminasi, tetapi justru orang Indonesia sendiri.
Yang bilang orang Indonesia tidak bisa nginep di Amatoa Resor, justru orang Indonesia lainnya. Saat gue tidak sengaja menelepon langsung ke pemilik resor, ia sama sekali tidak punya pertanyaan soal kebangsaan. Kalau bisa bayar ya sok sana, nginep. Setelah mencari tahu, nampaknya hal itu semata karena jarang orang Indonesia yang memilih menginap di sana. Atau karena banyak rombongan snorkel yang main ke resor tanpa menginap, sehingga suka mengganggu ketenangan tamu sungguhan, asing maupun lokal.
Pertemuan gue malam itu dengan si tante nyinyir pun juga adalah karena gue diundang caretaker resor, seorang Spanyol, untuk merayakan hari terakhirnya di Sulawesi. Sepanjang malam, kecuali tentunya si tante nyinyir, tamu-tamu lain, yang berasal dari manca negara, dengan santai bercengkrama dan menyapa. Tidak ada kecurigaan bahwa gue adalah penyelundup gelap yang numpang makan. FYI, si tante itu orang Indonesia yang punya suami bule saja.
Sepulang dari liburan, gue juga mengamati, bahwa pelayan resto kepala kentang itu semuanya juga orang Indonesia. Orang Indonesia, yang memandang rendah pada orang Indonesia lainnya. Juga orang Indonesia, yang memandang tinggi pada orang bule, sehingga memberikan otoritas dan kewibawaan lebih bagi orang asing untuk jadi pemimpin di kantornya.
Nampaknya justru mental rakyat jajahan, yang membuat bangsa ini tidak bisa jadi warga kelas satu di negerinya sendiri. Kelamaan ditindas, mungkin membuat orang Indonesia tidak menganggap tinggi pada rekan-rekan senegara. Yang bule selalu kelihatan kinclong. Akibatnya, pasrah saja jika yang enak dan yang kece dikuasai WNA. Merasa dirinya memang tidak layak, untuk menikmati priviledge warga utama.
Lalu, karena merasa diri tak layak, merasa rekan senegara yang lain juga tidak layak untuk hidup enak di negara sendiri. Lebih parah lagi, lalu menyalahkan pihak lain atas kehidupan tak layak yang sudah dipilih sendiri itu. Padahal, jelas tidak mungkin mengharapkan yang asing untuk menolak perlakuan lebih baik yang diterima tanpa perlu memaksa.
Seperti gue dan resor cantik gue. Bukan salah si bule jika orang-orang mengira tempat ini khusus untuk kaumnya, atau jika gue merasa risih ikut pestanya. Lha yang tengil bukan Spanyol kok, lha yang bilang nggak boleh bukan Spanyol kok. Tapi dia juga tidak akan berbuat apa-apa jika orang Indonesia bersikap luar biasa ramah padanya dan bukan ke gue. Juga tidak bilang apa-apa jika orang Indonesia memutuskan untuk menghidar dari resornya sehingga suasana jauh lebih tenang.
Tapi sebagai warga Indonesia, gue jadi keki pada si bule, jadi keki pada kepemilikan resor yang tidak sedikitpun ada modal lokalnya. Jadi pingin bakar bendera Amerika. Padahal, kalau alasannya adalah karena gue ingin protes pada bangsa pelaku diskriminasi, harusnya yang gue bakar adalah bendera Indonesia. Eh, tapi kok bakar bendera negara sendiri?
PS: Mau lihat keindahan alam Indonesia yang ternyata dinikmati paling banyak sama bule itu? Check out my travelling photos at BIra: http://margarittta.multiply.com/photos/album/31/Bira_E_Bira# “Nggak dapet minuman gratis lagi, Gy?” demikian seorang kenalan lama bertanya dalam sebuah acara dugem bersama saat gue mengajukan diri membeli minuman sendiri. “Nggak, auranya udah abis dipake di masa lalu, musti totok lagi dulu,” gue menjawab cengegesan. Dan dengan pertanyaan tersebut, seperti pada perempuan paruh baya, acara dugem serta kepulangannya menjadi awal sebuah permenungan. Adapun kenalan yang muncul dengan pertanyaan tersebut adalah teman dekat seorang teman dekat, yang adalah teman dalam keremangan lampu disko atau kumpul-kumpul Apriyani. Seiring dengan kerusakan liver, dan mendesaknya masa depan untuk dipikirkan, terakhir kali gue melihatnya dalam setting demikian adalah sekitar empat tahun yang lalu, menjelang bekerja yang serius. Pertanyaan tersebut, adalah sebuah indikasi tentang sebuah kehidupan yang gue lalui di masa lalu, dan…perubahan drastis yang terjadi dalam kurun waktu empat tahun, hingga tiba dalam kehidupan yang saat ini sedang gue jalani, sebagai perempuan eksis ibukota. Bukan cakep-cakepnya orang, bukan seksi-seksinya perempuan, tapi percaya nggak percaya, selama karir perdugeman yang gue rintis sejak SMA dan mencapai puncak pada masa perguruan tinggi, tidak pernah sekalipun gue harus bayar minuman. Kalaupun ada, paling pancingan, satu gelas mungil agar terlihat cantik di tangan. Sisanya, selalu ada saja insan manusia yang bersedia membiayai kerusakan liver dan pendewasaan dini. Pacar, calon pacar, teman-dekat-tapi-bukan-pacar, kenalan baru, yang punya tempat minum, yang kerja di sana, random people… The world was a friendly place back then. Di luar klub, hidup gue pun tidak kurang mudah. Tidak bawa dompet tidak pernah menjadi masalah. Selalu ada orang yang mau memberi tumpangan gratis secara sukarela (umum dan pribadi), melegakan dahaga dengan percuma, asalkan mau nangkring di kafe miliknya lebih lama guna menarik pengunjung lain, dan meminjamkan segala prasarana bersekolah tanpa agunan. Gue tidak pernah tahu apa kunci di balik kehidupan yang indah itu. Kadang gue menduga, adalah cara berpakaian yang eco-friendly, alias hemat bahan, seperti kartu Z card berisi profil modeling dan bikini, yang jadi pass masuk beach club. The Girl with the Skimpy Clothes, adalah nama yang diingat si kenalan lama. Cukup lama ia tidak ingat nama asli gue sendiri. Lalu mungkin, kemampuan tersenyum dan menarik simpati dengan perkataan-perkataan yang lincah. Lalu dugaan berikutnya, wajah yang terkadang terlihat sangat muda, sehingga begitu fragile, atau terlihat begitu dewasa, sehingga menarik hati. Kini, gue masih tidak tahu rahasia hidup sukses itu, tapi perlahan-lahan gue telah kehilangan sebagian besar kebaikan hidup. Sedikit demi sedikit gue sudah tidak lagi mabok karena orang lain, hingga akhirnya, bahkan sudah tidak lagi mengharapkan minum gratis yang didapat dengan cara yang kurang ‘legal’. Tahun ini adalah tahun pertama gue bayar untuk menonton Java Jazz. Sebelumnya, jika bukan karena presspass, akan selalu ada orang yang bersedia membayar untuk melihat gue mengapresiasi musik. Gue tidak pernah beli tiket sebelum hari H. Cukup berdiri di depan gerbang dengan tampang gelisah ingin nonton. Niscaya, lelaki baik hati akan menghampiri dan menawarkan tiket. Tidak selalu bermaksud ngeres, mungkin hanya malaikat lewat dan mengetuk hati. Kenyataan pahit serta pertanyaan sang kenalan membuat gue bertanya-tanya, apa yang hilang? Apa yang berubah? Rasanya, gue masih sanggup memakai baju skimpy. Dibandingkan jajaran teman yang lain, gue masih tetap jadi yang bajunya paling adem. Senyum? Check. SImpati? Check. Buktinya karir marketing berkedok konten ini masih tetap aman digenggam. Tidak ada yang berubah dari diri pribadi gue, kecuali umur, yang nampaknya merupakan faktor pembeda kondisi saat ini. If there’s a YOUNG girl, with a skimpy clothes, standing in front of the concert gate looking worried while offering a sweet smile, a male species might feel sympathy and would love to help this girl, while getting to know her better. Coba bayangkan jika ada perempuan tidak terlalu muda lagi, pakai rok mini, sepatu keds dan tanktop berjaket, berdiri di depan gerbang konser. Disangka tante girang kali. Dan adakah lelaki muda yang berani mengambil risiko karir, dengan menawarkan minum gratis pada seorang wanita, yang mungkin di kantor akan ia panggil ‘bu’ atau yang akan ia sodori presentasi? Sebagai perempuan yang mungkin akan dipanggil ‘bu’ tersebut, gue juga tidak akan mengambil risiko, dibayari minum oleh seseorang yang mungkin akan gue temui dalam lingkup professional, tanpa cekakak-cekikik dan…skimpy clothes. Gue bahkan mungkin tidak akan berani mengambil risiko terlihat dengan skimpy clothes oleh orang lain yang akan gue temui dalam kancah pekerjaan. Dengan bertambahnya usia, bertambah juga pertimbangan, dan dengan demikian, berakhirlah masa seorang perempuan bisa menikmati begitu banyak hal, hanya dengan menjadi seorang perempuan saja. In that case, is that true? That there’s a prime time for women? An age gate, that once you passed, you’ll just going to darker era? I would love to believe that this is not happening. Bahwa suatu saat akan tiba masanya, perempuan menua dan seolah melayu. Setiap usia pasti punya keistimewaan masing-masing. Saat masih muda belia, sebagai perempuan yang careless and free, mengejar cita-cita. Saat sudah kuliah, menjelang kematangan. Saat sudah bekerja, menjadi perempuan powerfull yang mandiri. Semuanya seksi dengan cara masing-masing. Lagipula, coba lihat yang laki-laki. Tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi. Semakin tua semakin matang, semakin seksi, semakin diminati. Lihat saja George Clooney. Lihat saja Richard Gere. Dengan pemikiran semacam itu, gue menantang usia membesar dengan percaya diri. Namun kenyataanya, seberapa besar menentang, memang ada hal-hal yang berubah dan berbeda seiring dengan memasuki usia penuaan dini, kata produk kecantikan. Beberapa waktu yang lalu tiba-tiba si Mamih membawa kalender pakaian dalam dan berkata manis, ‘Dek, inget nggak? Kamu dulu juga pernah foto kayak gini. Sekarang? Apa masih bisa?” sebuah sindiran manis yang menyatakan bahwa gue sudah tidak lagi bertubuh bak model lingerie, dan sebaiknya berdiet. Metabolisme berubah. Dulu makan sepuasnya, gue tetap bisa menerima job pemotretan. Sekarang, untuk menjaga tubuh stabil saja harus tidak makan nasi setiap malam. Dengan metabolisme yang berubah itu, bentuk tubuh berubah. Kesehatan kulit berubah. Meski pakai produk anti-aging berjuta-juta, tetap saja, setelah usia 25 yang katanya awal penuaan itu, wanita lebih sering dikira lebih tua dari usia sebenarnya. Dan berikutnya, masyarakat punya tuntutan sendiri. Sikap serta perbuatan harus menuruti tuntutan fisik, kalau tidak mau dibilang ‘nggak tau malu, ngaca dong!’ Perempuan beranjak dewasa (tua) harus berfokus pada hal yang kurang menyenangkan, versi anak muda. Mencari poin tambahan dalam hal karir dan bukan fisik. Settling down daripada keleleran. Buktinya, tidak ada George Clooney versi perempuan. Jika jadi aktris gaek, ya gaek saja, bukan berarti diminati. Mereka harus mengandalkan kemampuan akting. Mungkin memang ada prime time untuk perempuan. Periodenya bisa berbeda-beda. Tapi yang jelas, periode itu sudah berakhir saat gelas gue tetap kosong jika tak gue isi sendiri. Sekarang, kerja sana! Cari duit buat minum! “Tante A minggu ini ke Singapur, ke Universal Studio.” “Ihh…ngapain? Emang tante A masih bisa main jetcoster?” “Nemenin cucunya, ada karyawisata.” “Karyawisata ke Universal Studio?” “Iya, cucunya kan sekolah di sekolah internasional, jadi karyawisatanya ke Singapur.” “Haa…Jauh amat! Kalau nggak mampu gimana?” “Ya pasti mampu, lah! Sekolah internasional, mahal! Muridnya mampu semua!”
Gue manggut-manggut sambil misuh-misuh mendengar berita Mamih tentang karyawisata keponakan gue yang baru berusia SD itu. Sesaat kemudian gue mulai bertingkah seperti emak-emak yang merasa lahir pada jaman penjajahan Jepang sehingga sangat sengsara, waktu gue masih kecil nggak ada tuh yang namanya pake baju Baby GAP, tas Gucci kecil, main mobil-mobilan pake bensin, dapet kid’s massage, main di Kidzania, makan yogurt, punya babysitter tiga, KARYAWISATA KE SINGAPURA…
Ya! Ya! Gue tahu! Gue paham! Jaman memang sudah berubah. Sulit untuk membandingkan masa kecil gue dengan milik keponakan gue. Perkembangan peradaban telah membawa kehidupan yang lebih baik bagi anak kecil di sebagian besar pelosok dunia. Tentu saja gue nggak pake Baby GAP, tas Gucci kecil, atau Zara Baby. Lha pada masa itu memang GAP, Gucci dan Zara belum mengeluarkan koleksi anak kecil! Zara aja belum masuk ke Indonesia!
Seandainya jaman itu sudah ada Baby GAP, gue mungkin akan memakainya. Ga acih dong kalau gue mencela-cela keponakan hanya karena dia lahir setelah Universal Studio didirikan. Setidak acih saat si Mamih mengeluhkan, mana mungkin dirinya di masa kecil akan main polly pocket, pake sepatu OshKosh B’Gosh, hingga sekolah ke luar negeri hingga bisa membeli apartemen di awal karir.
Keki kan kalau pembandingnya kayak gitu? Namanya juga jamannya beda. Sekalian aja dibandingkan bahwa di jaman revolusi industri. Anak-anak seusia keponakan gue sudah harus bekerja di pemintalan benang dari pagi hingga malam dengan kehilangan hak bermainnya!
Gue menerima dengan ridho bahwa kelak, anak cucu gue akan hidup lebih sejahtera, dengan barang-barang berkualitas lebih baik, pendidikan yang lebih cenggih serta baju-baju yang lebih lucu. Sungguh! Tulus iklhas! Nggak ngiri! TAPIII… terkadang, hanya terkadang, ada beberapa hal yang membuat gue gelisah, bahwa segala fasilitas dan modernisasi itu, malah menghilangkan esensi nilai dari hal yang sebenarnya mau dituju dari pembentukan seorang anak.
Karyawisata, misalnya. Namanya juga KARYA-WISATA. Kegiatan jalan-jalan yang menghasilkan karya. Atau STUDI-WISATA. Kegiatan wisata sambil belajar. Makanya, dulu sekalipun, dengan karyawisata lokal-regional yang tidak bisa dibandingkan dengan Singapura dan Universal, gue diajak ke TMII, bukan ke Dufan. Belajar apa keponakan gue di Universal Studio selain belajar mengatasi rasa takut naik roller coaster?
Salah satu hal yang juga baru gue sadari setelah gue besar adalah karyawisata mengajarkan anak-anak TK dan SD itu untuk menjadi mandiri dan bisa mengakses lingkungannya Bepergian di luar lingkup sekolah, bersama dengan kawan-kawan saja, dengan sedikit pengawasan guru, membawa gue melangkah ke dunia lain tanpa adanya lindungan orang tua.
Karyawisata terlalu jauh, apalagi ke Singapura, malah mengundang seluruh orang tua dan handai taulan untuk ikut mengantar, lalu mengawasi anak-anaknya dari jarak 5 meter sambil menyeruput Fanta lima dolar dalam botol Shrek di toko cendera mata.
Dan bayangkan betapa kuatnya nilai borjuisme yang ditanamkan dengan karyawisata ke Singapura saat teman SD Inpresnya pergi ke Ragunan. Tentu saja, borjuisme bisa muncul dari mana saja. Nggak karyawisatapun, gue sudah selalu dibuat iri sejak kecil dengan foto-foto teman-teman berlatar menara Eiffel saat liburan, saat gue baru bisa berfoto dengan latar demikian setelah bekerja. Atau dengan oleh-oleh telor burung onta saat gue cuma bisa memberi gantungan kunci.
Tapi setidaknya itu terjadi saat liburan, di mana memang tujuan kegiatannya adalah bersenang-senang, bukan saat sekolah. Bukan saat di mana sekolah bertanggung jawab terhadap pertumbuhan anak muridnya. Bukan saat…karyawisata….
Gue juga tidak tahu, kelebihan apa yang didapat dengan pergi ke planetarium dan ke Keong Mas yang filmnya membosankan. Mungkin di mata anak SD, semua itu hanya rekreasi setelah setahun belajar. Mungkin memang tidak ada nilai yang bisa menempel. Atau kalaupun ada, mungkin nilai itu tidak ada gunanya. Apakah menghafal naskah proklamasi di tugu proklamasi itu punya kontribusi terhadap bagaimana seseorang bersikap di masa depan? Mungkin tidak.
Kalau memang hanya nilai rekreasi, mungkin tamasya ke Universal Studio akan lebih berguna daripada ke Keong Mas yang sungguh membosankan. Namun seiring dengan bertambahnya usia para sekolah internasional, gue semakin sering mendengar cerita anak-anak Indonesia yang mengaku tidak tahu matoa itu apa, atau bertanya bagaimana bentuk Lubang Buaya. Dan mendengarnya, gue kasihan.
Sama seperti rasa kasihan yang gue rasakan saat mendengar bahwa banyak sekali anak kuliahan saat ini yang tidak hafal Pancasila, apalagi lambangnya. Bukan karena Pancasila itu penting, apalagi jika itu menentukan bagaimana manusia endonesia ini bersikap. Tapi karena it tells so much about being a person with knowledge, living in one country.
Kasihan karena di usia yang sudah dewasa, ada banyak sekali hal yang tidak pernah dilihat dan diketahui dari Negara dan kota yang ditinggalinya itu. Kasihan, karena seberapa tidak pentingnya, itu menandakan mereka punya pengetahuan umum yang lebih sedikit dibandingkan orang lain. Suatu hari akan ada yang bertanya apa saja jenis ikan dalam air tawar Indonesia dan mereka tidak akan bisa menjawab, senembak-nembaknya.
Dan itu terjadi bukan karena mereka tidak mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang cukup. Sesaat gue bersyukur pernah melihat Jakarta dari ketinggian Monas meski tidak lebih kece daripada melihatnya dari Menara Imperium. Gue bersyukur pernah dibawa melihat kursi lapis emas di Museum Gajah, meski sampai di usia yang cukup tua, tidak pernah tahu bentuknya Merlion. Gue jadi manusia berpengetahuan, seperti seharusnya karyawisata membuat gue, di usia tujuh tahun.
Sekali lagi, sungguh, gue tidak mencela kemewahan yang dinikmati anak-anak yang lahir di atas tahun 2000 itu. Kalau memang harus karyawisata ke luar negeri, tapi ke Asian Civilization Museum, misalnya, gue mungkin masih lebih mengerti esensinya. Meski tetep aja, ngapain jauh-jauh ke Singapur nyari museum? Tuh Museum Gajah aja juga banyak isinya!
Jika sesuai dengan esensinya, gue mungkin hanya berdecak iri tanpa mampu protes. Bukan salah mereka kalau keponakan gue bisa bermain profesi orang dewasa dengan properti lengkap dan riil dalam kenyamanan sebuah mall.
Sedangkan, profesi orang dewasa yang bisa gue bayangkan terbatas pada menjadi ibu rumah tangga dan koki, lewat permainan masak-masakan. Atau jadi atlet dan pembalap lewat permainan lari-larian dan mobil-mobilan. Serta dokter-dokteran, lalu setelah lebih gede, bisa jadi suster-susteran dengan properti yang lebih lengkap seperti baju putih mini dan kacamata bingkai merah. *lho kok jadi kinky?
Diharapkan mereka akan menemukan cita-cita mereka di usia yang lebih awal, tidak nyasar masuk IPA dulu lalu baru masuk komunikasi, karena waktu kecil pernah mencoba pura-pura jadi insinyur dan wartawan. Tapi jika fasilitas itu malah membuat keponakan gue jadi kurang berpengetahuan? Ih, malu-maluin!
Tetapi setelah gue pikir-pikir lagi, mungkin ada tujuan mulia dibalik tamasya Singapura ini. Mungkin dengan dibawa jalan-jalan, keponakan kecil gue jadi terinspirasi mau sekolah di sana. Tunggu saja sampai nyaho nyesel-nyesel pengen pulang!  | #Kulblog | Feb 26, '12 10:05 AM for everyone |
My exboyfriend is on Twitter Dan itu membuat gue galau.
Dengan sifat ganggu yang dimiliki sebagian besar dari mereka, dan kecomelan gue dalam menjelek-jelekkan orang lain, terutama mantan, di ranah publik, kami bisa terjebak dalam twitwar! Idih amit-amit. Bagi gue, tidak ada yang lebih hina dalam aktivitas twitter daripada berantem dengan 140 karakter per argumen DENGAN MANTAN PACAR. Itu buruk sekali bagi pencitraan. Tidak elegan, tidak classy, dan sangat patetik.
Itulah sebabnya, dulu, saat gue berkeluh kesah pada Tuhan mengapa tidak berhenti menghukum gue atas kesalahan memilih pacar di masa lalu, gue selalu menyembatkan diri bersyukur bahwa tidak ada satupun dari masa lalu gue yang menyebut diri mereka blogger, influencer, social media expert, atau Marisa Haque.
Dan gue bersyukur bahwa setidaknya beberapa hubungan terakhir is bad enough, untuk membuat kami saling blokir di Facebook dan segala bentuk messenger-an. Beberapa bahkan sampai perlu menghapus akun social media mereka, selamanya. Puji Tuhan. Mungkin agar tidak teringat pernah punya pacar yang cari makan lewat internet macam gue .
Itu dulu. Dua hari lalu, seorang mantan menyatakan ia sudah memiliki sebuah akun Twitter dan bernisiatif untuk saling follow. Oh tidak. Selamat tinggal freedom of expression. Setelah dia menjadi teman di BBM hingga tak bisa terlalu sering ganti status, dan kurang ekspresif di messenger karena berteman dengan rekan kerja, kini gue pun tak bisa comel di twitter.
Sudah jarang nge-twit, sekarang gue harus lebih berhati-hati dan sedikit menyensor diri dalam setiap perkataan dan perilaku. Kalau tidak, gue yakin akan muncul urusan dapur gosong yang ditandai dengan angka agar mudah diikuti dalam timeline gue. Amit-amit.
Mungkin ini yang dirasakan oleh mereka yang followernya ribuan lalu akhirnya jadi sering kultwit, gue berpikir. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pribadi seseorang dalam twitter atau blognya akan berubah, seiring dengan bertambahnya pembaca atau follower-nya. Begitu mencapai angka psikologis 1000, akan muncul perubahan, angka psikologis 10.000 lebih-lebih lagi.
Hal ini karena concern utama pemilik Twitter sudah tidak lagi pada dirinya dan apa yang ingin dikatakannya, melainkan bergeser pada para pembaca alias pengikutnya itu. Ia mulai mengetwit, bukan karena ingin atau butuh, tetapi karena merasa pembacanya butuh twit tersebut. Ia mulai mereka-reka apa keinginan pembacanya, dan menulis sesuai dengan keinginan, agar terus disukai.
Seorang kenalan influencer pernah menyatakan, bahwa ia kini tidak bisa lagi nge-twit seperti dulu. “Banyak followers gue itu ABG, mereka lagi proses mencari jati diri. Gue harus ngetwit yang memberi contoh baik buat mereka, gue harus pikirin apa yang baik buat mereka,” demikian jelasnya saat diprotes timelinenya tidak terlalu menceritakan kehidupan sebenarnya.
Itulah sebabnya, banyak twitter kondyang yang makin sering kultwit, menjadi lebih arif dan bijaksana atau berusaha lebih lucu dibandingkan dengan diri yang sebenarnya. Pencitraan dunia maya. Padahal, mungkin yang membuatnya difollow 1000 orang, atau 10.000 orang, justru adalah dirinya yang apa adanya. Jika dia artis, itu karena ia jujur dan membuat penggemar melihat sisi lain dari glits dan glamor kehidupan yang ditampilkan di media lain.
Dan pengikut berakhir menjadi sebuah kutukan daripada anugerah, kecuali dalam hal menjadi influencer. Karena tanpa sadar, pembaca itu telah mematikan ‘diri’ pemilik akun, dan menyensor hingga tak lagi bebas mengekspresikan pendapatnya yang sejujur-jujurnya.
Kalau dalam kasus gue, tidak ada follower atau pembaca yang jumlahnya ribuan. Tapi memikirkan SATU follower gue yang satu itu telah membuat menjadi harus berpura-pura dalam satu aspek kehidupan di mana seharusnya gue bisa bebas jujur dan jahat.
Gue lalu mempertimbangkan bagaimana caranya agar tidak terjebak dalam fenomena sedemikian. Punya follower ribuan juga kagak, tapi sudah harus sensor diri. Mungkin dengan tidak nge-twit sama sekali. Punya akun social media ya berarti ikut dalam rat race itu, yang punya banyak anggota, yang menang. Konsekuensi, you know… Kita memang tidak melakukannya untuk diri sendiri.
Ya udah sih, kalau sebel sama orang disimpen dalam hati aja, atau dibagi ke orang-orang terdekat, ngapain juga hal-hal personal dibagi-bagi di ranah publik macamnya twitter. Kayak Ababil aja. Perlu ya semua orang tahu curhatan loe?
No…no..you don’t get it!! Gue langsung menyangkal. Jelas perlu! Marissa Haque yang jelas udah nggak ABG aja perlu! Kenyataannya, we love to share our personal stuff in public. Manusia suka memajang foto profil narsis meski dikomen orang nggak jelas, ingin isi hatinya diketahui seluruh dunia. Itulah mengapa Facebook sahamnya mahal, dan di masa yang lebih lalu, ada studio Malibu sama antrian M-photostudio.
Kalau gue nggak perlu, ngapain gue ngeblog dari dulu. Itu kan tujuannya hanya untuk mencela-cela orang. Dan salah satu fitur yang gue nikmati sekali adalah, karena dengan begitu, gue dapat dukungan. Gue tidak mencela-cela sendirian. Yang membaca dan setuju seperti berkata AMIN terhadap celaan gue. Apa yang lebih nikmat daripada rame-rame menertawakan orang lain? Kita kan anak gank. Ha! Ha! Ha!
Tapi sekarang bagaimana caranya agar cacian itu didengar secara publik, oleh semua orang, kecuali satu orang yang sedang dicaci, agar satu orang ini tetap tahu dari orang lain, tapi tidak secara langsung bahwa gue mencacinya. Kompleks memang hidup bermasyarakat itu…
Dengan kebutuhan ini, membuat jejaring social gue menjadi privat itu bukan solusi. Memang aman, karena gue bisa tetap mencela di hadapan publik, tanpa perlu khawatir berada di republik yang salah. Tapi tetep aja, terbatas. Yang harusnya mencela bersama 1000 orang, sekarang hanya mencela bersama 200 orang. Ih apa serunya. Kalau cuma untuk teman dekat, langsung aja kumpulin anak-anak SMA sekalian reunian. Atau gelar symposium di kantor. Malah bisa langsung saling menanggapi.
Juga tidak dengan membuat akun baru dengan nama palsu. Cari follower untuk satu akun saja susahnya setengah mati. Bahkan sampai ada yang harus kursus dan pakai trik dari social media expert tentang menambah follower. Gue butuh promo besar-besaran agar semua teman-teman yang lama tahu gue punya akun palsu. Dan dengan demikian berakhirlah sudah keanoniman dari akun tersebut…
Baiknya satu orang itu diblok aja, gue tergoda. Seperti saat menghapus kontak dari BBM lalu pura-pura tidak terima re-invite. Nggak! Nggak! Nggak bisa begitu! Salah secara norma sosial! Kita harus menjaga hubungan baik dengan siapapun dimanapun, meskipun sebenarnya nggak mau. Kita harus ramah tamah dan saling menghormati meskipun pingin ngegampar.
Kalau diketahui bahwa gue ngeblok satu orang, apa kata orang tersebut. Pasti gue sama patetiknya seperti kalau sedang twitwar. Blok itu sikap bermusuhan, dan biasanya hanya orang sakit hati yang musuhan. No way man, gue bukan perempuan bitter, gue laku lho.
Bahkan mengubah network yang diajukan, dari ‘friends’ menjadi ‘online buddy’ saja terasa kurang etis. Seolah menyatakan, maaf, ya, kita belum kenal-kenal dekat tuh, jadi online buddy aja dulu dhe ya, jangan sok-sok jadi temen. Howwww?
Mungkin sudah waktunya menciptakan jejaring social yang baru. Sambil berharap adaptasi teknologi beliau jauh lebih lambat dibandingkan dengan teman-teman sejawat. Atau justru sebaliknya, balik ke era blog macam ini. Dipikir-pikir, sudah makin jarang yang berantem via komentar dalam blog, kecuali di blog yang punya jasa blogging ini.
Lagipula, dari dulu gue mencela sesuka hati, anak baru twitter itu juga nggak pernah membuat onar. Entah karena beliau sudah lupa alamat URL-nya, atau selalu membaca sambil hati keki, tapi tidak berani berkomentar.
Last posting: 8 January 2012 Sudah satu bulan lebih gue meninggalkan blog ini. Kalau dalam agama tertentu, itu macamnya gue sudah tidak sholat Jumat selama periode tertentu. Gue harus mengucapkan dua kalimat syahadat supaya bisa menyebut diri sebagai blogger lagi. Atau memperbaharui janji babtis. Gue disadarkan akan hal ini setelah jatuh. Ya jatuh. Akhir-akhir ini gue sering jatuh gara-gara darah rendah. Di aspal, di mall, membuat kaki gue lecet dan bengkak seperti masa TK dulu, hanya dengan kemampuan penyembuhan yang kurang. Dan gue tidak pernah cerita gue jatuh, meski sudah sering. Padahal, empat tahun lalu ketika gue baru mulai ngeblog, rentang waktu antara satu blog yang lain dengan yang berikutnya paling banter cuma semingguan. Kadang malah bisa tiga hari sekali. Kadang malah sebenarnya setiap hari, atau dua kali sehari, cuma karena gue malu dianggap hanya punya teman dan dunia virtual, gue tunda posting sampai tiga hari. Setiap hal gue tulis, gue jatuh, gue jatuh hati, gue putus, gue dapet kerja, gue pulang ke Jakarta. Melihat perbandingan ini, otak gue mulai main angels Vs demons, bukan seperti novel Dan Brown, tapi lebih mirip versi sinetron Bidadari waktu Marshanda masih main sama BomBom. Ya jelas dong, dulu itu kan gue pengangguran, kerja serabutan, tinggal di perantauan, baru ditinggal pacar. Kerja tidak ada teman, main juga tidak ada temen. Kalau sekarang kan beda, gue kerja kantoran beneran, nine to nine, ada posisi, ada tanggung jawab, ada pacar pula. Sibuk…sibuk… Alasan! Bidadari menyanggah. Gue juga masih ngeblog seminggu sekali saat sudah balik ke Jakarta, kerja kantoran beneran, ada posisi ada tanggung jawab, dan sudah punya pacar yang sama. Setan yang punya banyak akal kembali membalas. Iya, tapi waktu itu gue kan gak lagi nulis buku tiga berturut-turut yang modelnya kayak blog tapi belum pernah ditulis. Itu tuh kayak nulis blog tiap hari lho! Belum lagi gue kan suka nulis di majalah Katolik, itu pahalanya gede, musti didahulukan! Bukunya kan udah kelar dari dua bulan lalu! Sekarang tinggal nunggu ilustrasi! Gue mendengarkan bisikan dua suara hati ini sambil terdiam dan mengetahui, bahwa di lubuk hati gue yang terdalam, gue tetaplah seorang yang baik hatinya, dan memenangkan bidadari: semua itu hanya alasan belaka. Waktu dan kesibukan tidak pernah bisa jadi alasan untuk berhenti menulis dan berbagi, begitu selalu gue ucapkan setiap kali ada workshop blogging, yang tentunya semakin gue pertanyakan kredibilitas. Kenyataannya, nulis blog seperti hari ini cuma makan waktu paling banter sekitar dua jam. Dua jam dari 168 jam seminggu. Dipotong makan udang rebus di Njun Jan dan weekend oversleep 14 jam, juga masih sisa. Gue tahu benar kendala utama seseorang ngeblog bukanlah waktu, tapi ide. Seseorang ngeblog karena merasa perlu ngomong, karena ada hal yang penting seenggak-enggaknya buat dirinya untuk dibicarakan. Orang tidak bisa ngeblog kalau merasa hidupnya gak penting dan gak menarik untuk dibagi. Gue tidak ngeblog karena tidak merasa ada bagian dari hidup gue yang layak untuk gue pikirkan lebih jauh. I don’t stop blogging because I have no time. I stop because I stop make meaning out of my life and therefore, feel I should spend more time in my life than to think about it. Sebuah realita yang pahit, terutama bagi seorang perempuan yang empat dari lima bukunya berasal dari pengalaman pribadi dan sering ditaroh di bagian ‘autobiografi’. Kalau hidup gue tidak patut dibagi, terus gue nulis apa dong selama ini? Karena hal ini dapat mengancam hajat hidup, gue memutuskan untuk segera membasmi kondisi ini dengan menemukan penyebabnya. Gue menyelami alam pikiran orang-orang di sekitar gue yang selama ini selalu gue pandang hina karena menurut gue adalah pengecut yang tidak berani mengambil keputusan berani untuk melangkah ke gerbang pintu kebahagiaan. Karenanya, hidup mereka membosankan. My life IS boring. I’m a corporate slave. Gue bangun pagi sambil merutuk, lalu buru-buru siap-siap, boro-boro mikir. Lalu menghabiskan berjam-jam di tengah macet Jakarta, sambil memikirkan kerjaan, bukan waktu yang tepat untuk merenung. Di kantor, jadi maling sandal jepit sama jadi chief-chief-an bedanya tipis: sama-sama dikejar-kejar, sering kejepit antara dua tembok kepentingan, dan jadi korban politis pengadilan yang sepihak. Mana ada maling sempat ngeblog? Pulang malam, sudah cape. Pikiran sudah mengarah ke tempat tidur yang nyaman, biarpun saat tidur selalu bermimpi sama: tentang keesokan harinya berperan sebagai maling. Tanya semua maling, apa bisa mereka tidur tenang di malam hari, lalu, ngeblog? Ya, inilah alasan yang selalu gue dengar, dan sekarang gue ucapkan dengan penuh empati. Tapi, my life has ALWAYS been boring. Gue selalu berada dalam kondisi sengsara, tidak tenang, dan terjepit dalam rutinitas. Gue mulai blog ini saat gue di Singapur, dan gue benci hidup di Singapur lebih dari kebencian terhadap koruptor dan kemunafikan. Benci, karena Singapura membuat gue bangun bukan hanya sebagai maling, tapi sebagai maling yang mencuri barang yang sama tiap harinya. Rutin! Saat kuliah, gue bangun dengan kegelisahan dan kesibukan setaraf dengan seorang maling. Saat kerja di perusahaan besar, gue tidak tidur dengan kegelisahan seorang maling. Saat jadi jurnalis, gue nulis dan memotret dengan kecepatan maling dikejar polisi. Bahkan saat gue tidak punya kerjaan, gue gelisah lantaran dianggap maling sampah masyarakat yang sebatang kara. Yet, I write! Gue tetap bisa menemukan kelucuan hidup. Gue bisa serumah dengan pelacur, ikut lomba fotomodel, membaca buku Haruki Murakami, atau punya waktu untuk meladeni Oknum R dan hansip Udin. Kemenarikan hidup tidak selamanya karena hidup seseorang bahagia. Lagipula, kalau mau diperhatikan, hidup gue tetap sama lucunya. Udin masih jadi hansip dan baru saja memangkas habis daun pohon kaya yang sudah dipelihara 10 tahun. Oknum R sekarang punya teman baru yang bergaji 100 juta lalu beli tas Robocop anti gores anti copet, bahkan anti jambret, karena bisa buat pingsan yang dipukul. Ringan, dan berlambang Robocop. Gue ke Sawarna, nonton stand-up comedy, dan masih baca Haruki Murakami (meski sekarang selesainya lebih lama). Sebaliknya, bahagia bukan berarti hidupnya menarik. Seperti dalam FTV atau novel-novel, awalannya selalu, Mawar punya segalanya dalam hidup, uang, pekerjaan yang baik, dan suami yang mencintainya, namun di balik kehidupan yang terlihat sempurna itu…. Punya pekerjaan yang seharusnya sangat gue sukai, punya orang-orang yang mendukung gue, bukan berarti gue jadi lebih bersyukur dan hidup penuh arti. Nampaknya, corporate slave tidak mengacu pada sebuah keadaan, tapi lebih pada sebuah sikap. Gue seorang budak korporasi, bukan karena gue mempunyai kehidupan sebagai seorang kacung kampret dalam sebuah perusahaan, tapi karena seluruh pikiran dan perasaan gue dikerahkan hanya kepada kehidupan korporasi itu. Gue bisa saja jadi cungpret yang tidak pernah melihat terbit dan tenggelamnya matahari dalam kerjaan, tapi kalau gue bisa punya hidup dan mendedikasikan pikiran untuk hal lain dalam hidup itu, my life is meaningful. Tapi gue bisa saja bekerja jadi cungpret yang sama persis, dan seluruh pikiran gue hanya tertuju pada kerjaan, and there I am, as a corporate slave who keep saying I have no time for anything else, including make meaning of my life. Easier says than done, of course, dan gue kembali berkata penuh empati. Otak manusia itu tidak kenal pola yang negatif. Jangan mikirin burung biru! Dan burung biru itu langsung terbang dalam pikiran. Jangan mikirin kerjaan mulu! Hidup loe punya lebih banyak arti daripada itu! Dan bertumpuk wajah-wajah bos dan kolega serta target yang belum tampak akan tercapai langsung terlempar ke muka. I’m still struggling to do so. Gue tidak akan heran jika minggu-minggu depan gue kembali tidak ngeblog karena tidak merasa punya hal berarti untuk dibagi. Kalau gue tidak mau ngeblog karena tidak merasa butuh, nobody else can tell me otherwise. Lha yang hidup itu gue! Tapi demi kebahagiaan hidup, gue mau mencoba, biarlah posting ini jadi tanda janjiku pada diriku sendiri…. Gue teringat saat di Singapur dan punya hidup super nelangsa. Karena gue tulis, gue jadi bisa ketawa biarpun sebenarnya tidak lucu. Moga-moga kalau gue kembali nulis sekarang, gue juga bisa ketawa meski disikut sana-sini sampai deg-degan tiap cicilan apartemen datang. Last posting: semoga bukan postingan hari ini. You are enjoying yourself. Ini malam dugem dengan gebetan baru. Setelah begitu lama menanti, ada begitu banyak kesempatan untuk berduaan, berdekatan, melakukan kekhilafan bersama. Ya, memang, malam ini juga jadi milik seorang teman perempuan, seorang teman lelaki masa kecil, dan...seorang mantan pacar. Tapi pasti deh, dengan limpahan minuman dan musik favorit, yang lain bakal dibuat ngontrak ! Malam makin larut dan gelas di tangan sudah berganti lima kali. Siap melancarkan aksi tanpa rasa malu dan ragu ! Tapi…ehh…kenapa itu ! Ternyata gelas di tangan teman perempuan juga sudah berganti lima kali dan memberi efek yang lebih dasyat. Bukan hanya menghilangkan rasa malu dan dan ragu mendekati gebetan, tapi juga untuk AKSI PENIKUNGAN ! Bergelayut mesra pada target bersama sepanjang malam, tiba-tiba kontrakan serasa pindah tempat. Yang sisa hanya teman lelaki masa kecil (sedang joged pecicilan kegila-gilaan) dan…seorang mantan pacar. Kini sedang tersenyum manis, mencoba mengeluarkan pesona tahun lalu sambil menyisihkan tempat di sofa empuk. Saat lima gelas di tangan itu sudah mulai naik ke otak, apa yang jadi pilihan ? Ikut joged patetik atau menyambut mesra mantan pacar ? Kita tidak sedang membahas come-back labil yang terjadi sebulan hingga tiga bulan setelah putus. Setelah punya hubungan yang cukup lama, biasanya kata pisah sebenarnya sungguh sulit terucap. Jika kejadian di atas terjadi pada fase putus sambung, pilihannya langsung jelas: Gue melihatnya sebagai kesempatan menyilet-nyilet sambil menabur garam, atau dengan medium garam di gelas tequila, khilaf come-back, meski nantinya menyesal jua. We’re talking about THE GREAT COME-BACK. Kembalinya muncul si mantan kekasih, biasanya yang punya hubungan paling lama, setelah bertahun-tahun hilang dari kehidupan. Yang terjadi setelah proses trial and error yang lama, yang membuat gue menyadari bahwa di atas pria paling brengsek dalam hidup, ada lagi yang lebih brengsek lagi. Setelah menyadari bahwa ternyata lelaki sempurna yang bisa membahagiakan itu tidak sepenuhnya nyata. Setelah kesepian, kebosanan, dan perlombaan dengan usia, mendera secara tak henti, sehingga siapa saja deh, terdengar sebagai pilihan yang masuk akal. Dan di suasana hati semacam ini, there he comes, lelaki yang pernah cocok, pernah sangat mencintai dan dicintai, pernah sangat dekat di hati. Segala sifat jelek sudah disembunyikan kembali (atau mungkin sekadar tidak terlalu mencolok setelah beberapa tahun), dan hanya sifat menawan yang tampak di permukaan. Kini, ia tampil dengan senyum menawan dan tekad bulat, seperti di hari-hari PDKT yang membuat jatuh cinta. Dengan sedikit redupnya lampu dugem kehidupan, you may, I may, jatuh dalam kisah dongeng yang memabukkan. It does sound like beautiful fairy tale. Cinta yang ternyata abadi dan sejati. Kembali jatuh cinta setelah sekian lama tak berjumpa. Atau mungkin, cinta selalu ada dan tak terhapuskan oleh waktu maupun orang-orang yang lewat dalam hidup. Seharusnya, gue mulai percaya bahwa segala yang dirasakan itu, ternyata bukan hanya bunga-bunga sesaat. Maksudnya, ini kan lelaki yang ditangisi kepergiannya, masa ketika ia kembali dan menyadari kesalahannya, mau ditolak lagi? Nyesel nggak? Nanti nangis lagi nggak? Atau…maybe he is the one! Bagaimana kalau dilewatkan? Nggak lagi ketemu yang cocok, yang menanti janda? Tapi yang muncul dalam benak gue malah keheranan pada para mantan yang membuat pilihan semacam ini tersedia. Maksudnya, yang bener aja, do you really want to start the chaos in MY life and YOURS, over again? Karena ini juga adalah bertahun-tahun setelah insiden paling menyakitkan dalam hidup itu. I’m over with it. Gue sudah tidak lagi ingin mencincang-cincang dan melakukan pembantaian massal. Gue melihat pria-pria yang telah berlalu semata sebagai bagian dari pengalaman yang mendewasakan hidup. Tidak ada dendam, tapi juga…tidak ada perasaan lagi… Gue hidup dalam dunia nyata, bukan negeri dongeng. Dalam negeri kenyataan, cinta bisa mati dan habis. Bisa muncul momen di mana rasa suka itu sepenuhnya hilang. Romantisisme kembali ke mantan pacar, mungkin terdengar indah. Tapi terkadang, rasa itu sungguh bisa hilang. Apalagi jika hubungan itu menyakitkan, saling selingkuh dan mudah goyah oleh kehadiran orang lain. Gue sudah tidak bisa lagi melihat lelaki yang bertahun-tahun absen dalam kehidupan seperti tiga tahun lalu. Beliau sudah jadi orang asing yang terlihat hanya dari fisiknya semata. Kalaupun perasaan itu harus dikembalikan, mungkin butuh proses setahun dua tahun, pertama untuk memulihkan rasa keki, kedua, untuk recap PDKT saling mengenal dan menyesuaikan kembali. Gue bahkan pernah menulis fiksi Cruise on You, yang menyatakan keoptimisan gue terhadap hidup. Ketika buku itu jadi nyata, betapa gue berharap telah menulis akhir yang mengenaskan bagi protagonis pria, yaitu si mantan. Jika dijalani, mantan yang menyebalkan itu ternyata MENYEBALKAN sekali, tidak ada sisi manis-manis dan romantisnya. Dan, meski mungkin bukan yang paling buruk, tapi seriously,it was bad enough that you don’t want to repeat it . Biasanya, komedi romantis berakhir dengan ciuman mesra saat balikan. Tapi hidup tidak berakhir saat itu, masih ada serialnya, di mana saat balikan itu, perpisahan bisa juga terulang. Alih-alih Cinta Lama Bersemi Kembali, yang terjadi malah Cinta Lama Bubar Kembali, dengan segala kekacauan yang ditimbulkan. People change, saat kita bicara tentang hal baik menjadi hal buruk, dan people never change, saat kita bicara hal buruk yang tetap buruk. Segala sifat buruk, ketidakcocokan serta ketidaksetiaan yang dulu ada, biasanya tetap ada, meski tidak tertutup kemungkinan si mantan mengalami suatu kisah pertobatan yang nyata. Namun biasanya, yang jelek itu hanya tertutup, karena sudah lama tidak bertemu. Lagipula, jika setelah petualangan yang cukup lama, si mantan kini menyadari bahwa gue-lah yang terbaik dalam kehidupannya, mungkin I AM that good! Dan jika gue se-OK itu, seriously, why would I want to settle down for someone who is just so-so? Mungkin gue akan sungguh bertemu dengan si sempurna yang tidak pernah membalas sms gue setelah dua hari karena sibuk dengan orang lain. Sedangkan untuk si mantan, mungkin inilah waktunya pendewasaan diri bahwa dunia nyata memang lebih kejam dari negeri dongeng. Dalam dunia nyata, ada hal-hal yang tidak bisa diulang. Ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Mungkin dalam fase hidupnya, kehilangan seseorang yang ternyata SEGITUNYA dalam hidup, adalah satu pelajaran berarti untuk berhati-hati mengambil keputusan. Itulah sebabnya, tanpa ragu seorang teman memilih berbagi kasih dengan tembok saja. Biar kata hati runyam, kaki pegel mencari cinta, lebih baik tetap pulang lalu muntah-muntah sendiri. Terlepas dari adanya gebetan atau tidak, menjalani hidup secara nyata, telah menjadi alasan pengambilan keputusan. Tidak menutup kemungkinan, bahwa memang ada kisah-kisah cinta sejati, yang tak terpisahkan oleh apapun. Lelaki yang menanti puluhan tahun agar bisa bersatu kembali dengan pujaan hati. Kalau memang situasi masih memungkinkan, gue tidak bisa menyalahkan rezeki orang untuk punya mantan yang baik hatinya. Tapi buat gue, gue mendingan pacaran sama tembok! Yang kurang, mungkin hanya lagu New Kids on the Block, gue berpikir saat membuka jendela mobil lebar-lebar mengharapkan udara segar pegunungan, meski hidung langsung tersumbat asap knalpot angkot di hadapan.
Berbekal alasan mengejar MoU dan bermaksud mengajak kerja sama blogger yang ‘sayangnya’ bermarkas di Cisarua, gue dan seorang teammate berhasil piknik ke Puncak memanfaatkan mobil kantor dan jam kerja di Jumat yang indah. Tentu saja, ini jadi piknik yang sangat berarti bagi kami berdua, apalagi ditambah semangat nostalgia.
Siapa anak Jakarta yang masa kecilnya tidak diisi dengan bermalam minggu di Puncak? Semasa kecil, nyaris tiap minggu keluarga gue naik gunung. Mamih - Papih punya sebuah rumah cantik di Cipanas tempat mereka membawa tiga anak perempuannya main setiap akhir pekan. Seperti banyak keluarga, kami punya ritual-ritual khusus, seperti makan di Rindu Alam sebelum sampai, berenang di kolam renang villa yang sedang kosong, naik kuda keliling kompleks hingga berbagi cerita hantu di malam hari.
Hingga akhirnya ketiga anak perempuan mereka menjadi ABG. Kesel nggak bisa ketemu temen dan pacar karena diseret atas nama ‘liburan keluarga’. Bosan di ‘udik’ yang nggak ada 21, nggak ada Planet Hollywood serta hiburan khas tahun 90an lainnya. Dan akhirnya ritual keluarga itupun perlahan menjarang hingga ditinggalkan sama sekali, 13 tahun yang lalu.
Rekan kerja juga punya pengalaman yang sama. Sering ke puncak waktu kecil, lalu mengalami fase ABG, lalu lewat masa ABG-nya, sudah bosan dengan akhir pekan di mall. Kini kami rindu akan pemandangan berseri-seri kebun teh, sambil mengenang masa kecil nan indah.
Sepanjang jalan, tak habis-habisnya kita berdecak, ini keren banget nih, dulu! Kami menunjuk-nunjuk restoran tempat kami dulu pernah makan, motel yang pernah kami inapi, hingga tempat wisata museum dinosaurus yang kini tinggal reruntuhannya saja.
Hingga tiba-tiba gue merasakan keganjilan saat berkata ‘ini keren banget nih, dulu!’. Entah karena kami berusaha menyamakan visi anak kecil dengan visi orang dewasa yang sulit dibuat kagum, entah jamannya memang sudah berubah. Namun gue merasa aneh saat segala sesuatu yang dulunya keren itu, masih ada persis seperti dalam ingatan, hanya sudah tidak lagi tersisa keren-kerennya.
Berjalan bernostalgia ke Puncak, gue seperti tidak berjalan ke sebuah tempat yang dulu pernah punya arti namun kini telah berubah. Gue merasa seperti sedang naik mesin waktu, masuk kembali ke era 90-an, meninggalkan era millennium, macamnya blast from the past.
Segala sesuatunya di Puncak adalah sama persis seperti saat gue tinggalkan 13 tahun yang lalu. Seolah daerah ini berhenti tumbuh di tahun 90-an, dan kini hanya tinggal menanti depresiasinya saja. Tidak ada hal baru yang belum gue lihat sebelumnya. Tidak ada jalan baru, penginapan baru, vila baru maupun toko baru. Paling yang berubah, hanyalah kini nama jalan, penginapan serta toko itu ditulis dalam bahasa Arab…
Lebih terasa ganjil, karena segala sesuatu yang sudah ada itupun seolah berhenti dikembangkan. Bahkan tidak ada usaha pembaharuan yang dilakukan. Villa-villa, penginapan-penginapan yang dulu terlihat keren di tahun 90an, kini terlihat kuno tanpa tersentuh renovasi. Lewat kaca mobil gue dapat melihat jelas tanda-tanda kehancuran. Gue jelas tidak berani nginep di sana, for fear of living and death creatures…
Masuk ke restoran paling gres tahun 90an, gue seperti terlemparkan kembali jadi Margie kecil. Tidak ada satupun hal yang berubah dalam restoran ini. Settingnya benar-benar tahun 90an, hanya lebih bobrok saja. Gue masih duduk di bangku yang sama (hanya sekarang sudah bolong-bolong), melihat dari kaca yang sama (kini mulai buram di sana sini), dan melihat dekorasi yang sama (kini jauh lebih dekil).
Dan mengambil jalur alternatif via Jonggol, gue dihadapkan pada kenyataan terpahit, bukan hanya tempat ini berhenti membangun, tempat ini juga menjadi lebih buruk dibandingkan tahun 90. Gue ingat jalur alternatif ini adalah jalur yang gelap, sempit dan jelek. Namun gue berharap 13 tahun adalah waktu yang cukup untuk listrik masuk desa, pelebaran ruas jalan dan pengaspalan.
Gue keliru. Daerah vila yang di tahun 90an itu gencar mengadakan pesta duren, kini sudah menjadi kota mati. Dan seiring dengan matinya daerah tersebut, makin terpencillah Jonggol. Jalur alternatif itu menjadi makin gelap, makin sempit, makin jelek. Sisa-sisa aspal tahun 90an sudah nyaris tak bersisa. Jembatan penghubung, kini hanya impian. Kata kakak yang sering ke pabrik daerah situ, begitu Bu Tien meninggal, pembangunannya langsung dihentikan.
Sayangnya, Puncak bukan satu-satunya tempat yang seolah berhenti di tempat seiring dengan berakhirnya Orde Baru. Gue teringat saat pergi ke Mekarsari. Dari yang awalnya merasa bangga sebagai bangsa Indonesia yang di tahun 90an sudah bisa membuat kebun rekreasi sebesar ini, gue berakhir miris. Kebun ini, memang nggak jelek untuk ukuran tahun 90an, tapi jelas nggak cukup baik untuk tahun 2012.
Menara pandang, jembatan gantung dan berbagai fasilitas hiburan Mekarsari sudah mulai keropos sana-sini. Kegiatannya tidak pernah di-upgrade, kurang menarik buat anak muda jaman sekarang. Padahal seandainya dikembangkan dan dikemas lebih baik, tentu bisa menjadi andalan wisata masa kini.
Indonesia seperti berhenti membangun di tahun 98. Segala sesuatu yang kita nikmati sekarang, adalah produk tahun 98 atau sebelumnya. Yang dikerjakan sekarang, hanyalah menghabiskan yang pernah dibangun, atau membongkar pasang yang dulu dibuat, seperti gorong-gorong Jendral Sudirman. Gue tidak tahu apa istilahnya untuk negara yang berhenti membangun. Yang jelas, kondisi ini tidak terdefinisikan sebagai ‘maju ke depan’.
Tentu saja, gue paham, bahwa kata ‘maju’ itu relatif. Gue pun termasuk pendukung reformasi yang menyatakan, bahwa pembangunan yang terjadi di orde baru itu semu. Yang dibangun hanyalah proyek-proyek simbolis, kelihatan keren di depan, tapi sedikit pengaruhnya demi kemakmuran rakyat. Lagipula, semuanya dibangun atas dasar utang. Begitu ditagih, ambrol semua.
Namun proyek-proyek ‘simbolis’ itu juga ‘menyimbolkan’ hal-hal lain. Wisata adalah kegiatan tersier. Mereka yang berwisata, berarti sudah bisa memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya. Majunya Puncak, Cibubur, dan (harapannya) Jonggol dan daerah wisata luar Jakarta tidak bisa hanya didukung pembangunan infrastruktur. Ini adalah simbol bertambah besarnya kelas mereka yang sudah bisa mencari kebutuhan tersier,namun dekat-dekat Jakarta di masa itu. Bertambahnya, middle class yang sejahtera.
Sekarang memang Bandung menjadi pilihan liburan kelas menengah tersebut, apalagi dengan adanya Cipularang. Namun dengan menghitung pertumbuhan penduduk, jika peningkatan kesejahteraan masih sama dengan dulu, setidaknya daerah-daerah lain tidak akan mengalami penurunan pengunjung.
Berkembangnya Puncak dan Jonggol saat itu juga menunjukkan pemerataan pembangunan yang lebih besar daripada era otonomi daerah masa kini. Gue memang belum sempat berkeliling nusantara untuk melihat jika pembangunan menjadi lebih pesat daripada jaman orba. Namun berkeliling beberapa kota di Jawa, satu-satunya pembangunan signifikan yang bisa gue lihat hanyalah di Jakarta.
Tidak, gue tidak mau latah bilang Orba lebih baik daripada Reformasi. Jika Soeharto masih jadi presiden, bisa-bisa gue tidak punya lahan pekerjaan lantaran banyak media yang dibredel, apalagi yang online! Gue juga tidak mau latah bilang pemimpin ini lebih jelek daripada itu-itu. Bagaimanapun juga, reformasi mendobrak banyak struktur yang sudah bercokol puluhan tahun. Butuh tahunan untuk membenahinya kembali. Wajar saja pemimpin era ini masih tidak sempat membangun.
Gue cuma seorang anak yang lagi piknik ke Puncak, lalu gelisah karena alih-alih sekadar nostalgia, malah dilemparkan ke dekade silam. Apalagi saat terjebak macet delapan jam di Puncak saat kembali ke Jakarta. Gue takut terperangkap dalam masa lalu. Nggak bisa balik ke dunia modern! Nit..nit…nit…nit… Suara alat deteksi jantung dari pasien di sebelah gue itu terdengar nyaring di telinga. Nit…nit…nit….NITNITNITNITNITNITNITNITNIT… Ada yang nggak beres nih, aduh, kok bunyinya kedengerannya nggak sehat sih? Suster…Suster…
Gue menggeliat panik sambil menggerutu dalam cubicle Unit Gawat Darurat itu. Masa gue jadi harus menyaksikan hembusan nafas sih…Padahal gue hanya demam saja, curiganya paling lantaran flu. Tapi di malam minggu yang syahdu itu, tidak ada dokter yang bertugas, sedangkan dokter umum rumah sakit sudah pulang. Maka berakhirlah gue dalam sebuah UGD, dengan kondisinya yang memang gawat darurat.
Sembari menunggu dokter yang sedang sibuk keleleran, pikiran gue berkelana. Here’s another UGD experience… batin gue. Mungkin akibat Global Warming yang menyebabkan cuaca makin tak menentu dan virus-virus bermutasi, gue jadi makin sering menyambangi rumah sakit, terutama UGD-nya. Dan UGD, selalu memberi gue pemandangan sekaligus pengalaman yang aneh bin ajaib. Pengalaman pertama dengan UGD adalah saat sakit di Singapore General Hospital dan prosedur ke dokter umum adalah melalui UGD. Ada sekitar 100 orang yang minta diperiksa malam itu. Dan itu berarti, gue harus memandangi seorang nenek yang tangannya mengangkat ke atas tanpa bisa diturunkan, dengan mata membelalak lebar, selama kurang lebih tiga jam sampai beliau diperiksa.
Setelah dites rontgen, urin, darah, dan dituduh hamil untuk ketiga kalinya, dokter menyimpulkan beliau tidak mengetahui penyakit yang diidap. Gue disarankan masuk rumah sakit dan besok diperiksa dokter spesialis. Gue menolak. Sakit hati dibilang hamil. Maka lima jam setelah masuk UGD dan terkontaminasi jutaan penyakit inovasi baru lainnya, gue pulang dengan tangan hampa.
UGD di Jakarta lebih gawat-darurat lagi. Lantaran demam setelah memberi ceramah di satu universitas negeri ini, gue memutuskan menuju rumah sakit terdekat, yang kebetulan adalah rumah sakit umum milik pemerintah. Ruang tunggunya penuh dengan pasien dengan penyakit paling eksentrik di Indonesia.
Dari pinggir pintu ruang periksa yang tidak ditutup, gue dapat melihat seorang pasien kecelakaan sedang diperiksa. Badannya penuh perban dengan rembesan darah. Setelah diberi pertolongan pertama, pasien itu segera ditandu untuk rawat inap. BU MARGARETA, panggil suster semenit setelahnya. Gue memasuki ruangan. Suster sedang mengelap jok ranjang periksa yang ternodai darah pasien sebelumnya. “Diperiksa dulu, ya, silakan tiduran,” ujar dokter jaga menunjuk jok ranjang yang baru dilap. “Ehhh..nggak usah dok, bener nggak usah diperiksa! Saya cuma demam! Kasih resep aja langsung!” Gue langsung panik. Membayangkan harus menempelkan kepala pada bercak darah yang belum mengering. “Nggak apa, kok, biar jelas penyakitnya.” Sambil meringis gue menuruti si dokter, berusaha sedikit mengangkat kepala agar tidak terlalu menempel pada jok.
Belakangan seorang dokter keluarga yang praktik di rumah sakit tersebut menyarankan lain kali kalau sakit cari rumah sakit lain saja. Seperti dugaan gue, di rumah sakit itu banyak pasien berpenyakit istimewa yang sangat menular. Tempatnya juga kurang higienis. Salah-salah gue malah tertular penyakit aneh-aneh. Tapi gue sukses sembuh dengan obat lima macam seharga Rp 18.000. Itupun, bisa lebih murah kalau punya kartu jamkesmas.
Di ranjang UGD, gue tersenyum kecil, sesaat sebelum alat deteksi jantung pasien di sebelah gue berbunyi mengindikasikan ketidakberesan. Gue langsung duduk tegak dan berhadapan dengan seorang pasien yang sedang kesulitan nafas, dengan alat bantu pernafasan terpasang ketat di hidung.
Dokter! Mana Dokter! Gue mencari di sekeliling, dan mendapati dokter yang dicari sedang menganalisa sebuah foto X-Ray seorang anak yang dari kacamata orang awam saja jelas, mengalami patah tulang. Sesaat gue bertanya-tanya apakah gue akan bisa tersenyum kecil mengingat pemandangan ini, seperti kedua pengalaman UGD gue sebelumnya.
Gue tidak habis pikir. UGD, adalah pengalaman yang buruk. Alasan pertama, gue pasti ke UGD karena sakit. Kepala pusing, badan demam tinggi, kaki lunglai, tekanan darah rendah, pokoknya nggak enak. Alasan kedua, gue akan bersama dengan orang-orang yang sama sekali tidak enak dilihat, bahkan bisa dibilang, mengerikan kondisinya.
Tapi berada dalam UGD yang lain, gue mengingat pengalaman UGD lalu dan malah bisa tersenyum kecil. Seolah yang tersisa dalam ingatan hanyalah kesan unik yang cukup menarik untuk membekas dalam hati. Apakah manusia punya kemampuan menghapus ingatan yang buruk dan hanya mengekstrak ingatan yang baik saja dari sebuah pengalaman? Gue bertanya-tanya.
Secara kebetulan, momen demam tinggi gue adalah bersamaan dengan kembalinya kenangan dalam ujud lelaki yang bangkit dari kubur. Sepanjang ingatan gue, hubungan kami tidak berakhir begitu baik-baik, setidaknya dari kacamata gue. Abang XYZ bahkan merasa tidak perlu untuk menyatakan BUBAR saat sudah punya pacar baru. Hilang begitu saja.
Tapi ketika kembali bertemu, gue tidak menggampar dan menyumpah serapah. Gue bisa bersikap ramah, seolah tidak masalah Abang XYZ pernah membalas sms dua hari sekali, membatalkan janji pada H-20 menit, lalu memutuskan sepihak bahwa hubungan ini sudah tak bermasa depan setelah berpindah hati ke senior gue sendiri.
Feeling gue bilang, Abang XYZ, juga sudah lupa. Biasanya, kalau gue memperlakukan orang lain dengan begitu buruk, gue akan merasa malu dan tidak berani bertemu dengan orang tersebut hingga masa yang tidak ditentukan. Gue tidak akan punya nyali untuk kembali hadir menggoda.
Lebih parah lagi, Abang XYZ bahkan sudah lupa kalau beliau sudah memutuskan gue BERTAHUN-TAHUN yang lalu. Cukup kaget bahwa gue ternyata sudah punya pacar riil, bukan pacar bohongan dan kini punya titel EX-girlfriend. Beliau baru melakukan ritual penghapusan PIN BB (dua kali!), kemarin, sesuatu yang seharusnya dilakukan tiga tahun yang lalu, meski saat itu BB belum ‘in’.
Gue sampai merunut-runut, agar yakin, bahwa kronologis yang ada dalam benak gue adalah benar. Bahwa tahun di mana gue masih dengan sabar menanti sambil menulis blog, adalah benar terjadi. Bahwa mutual agreement tidak saling menghubungi adalah halusinasi XYZ saja. Tapi kalau versi gue yang benar, mengapa gue tidak berlaku seperti Oknum R, “Klo itu mantan gue, udah gue gampar-gamparin! Mumpung ketemu!”
Padahal menurut riset, perempuan lebih mudah mengingat pengalaman buruk, dan lebih mudah melupakan pengalaman baik. Itu sebabnya perempuan punya kebiasaan mengungkit-ungkit kesalahan pacar setiap kali ada masalah baru. Sedangkan lelaki, lebih mudah moving on, baik dari hal baik maupun buruk, sehingga bisa lebih fokus pada keadaan yang dihadapi.
Sungguh bertentangan dengan gue yang perempuan ini, yang justru tidak peduli Abang XYZ ada dalam BB gue atau tidak, atau sudah malas mengungkit-ungkit kesalahan tiga tahun lalu, karena bagi gue, sudah tidak penting lagi dan tidak akan membuat perubahan berarti. Yang gue ingat, bagaimanapun juga lelaki ini pernah menemani gue merutuki Singapura dan menginspirasi gue menulis blog.
Mungkin benar kata Mas Uda, bahwa teori tersebut hanya berlaku pada masa yang sedang berlangsung. Perempuan cenderung mudah mengingat hal buruk, tapi sekali hal buruk itu terlupakan, perempuan lebih sulit mengingatnya kembali. Berbeda dengan lelaki yang lebih mudah lupa, tapi ingatan terhadap hal baik maupun buruk selalu kembali setiap saat.
Gue mungkin suka mengungkit-ungkit dan tidak rela diputus, tiga tahun yang lalu. Tapi begitu lupa, gue sudah tidak peduli lagi dan moving on dengan bahagianya. Sedangkan Abang XYZ, mungkin cepat lupa (apalagi punya pacar baru), tapi tiga tahun kemudian ingatannya bolak balik, entah yang baik atau yang buruk…
Itulah sebabnya kisah guru killer di sekolah homogen gue dulu bisa terdengar begitu menggelegar. Gue dan teman-teman perempuan bisa trauma sambil bersumpah-sumpah tentang kegalakan si guru yang dasyat. Tapi begitu lulus, saat reuni, kita tertawa terbahak-bahak mengingat mendapat nilai minus 1/7 lantaran punya nilai 6/7 lalu dihukum tidak menulis nama lengkap.
Saat dikata-katai ‘cantik-catik tapi licik’, gue bisa keringat dingin sambil nyaris pingsan, tapi setelah lulus, bisa jadi panggilan yang selalu mengundang tawa sekaligus bangga, dibilang cantik sama guru matematik!
Gue kembali menatap ruangan gawat-darurat di sekitar gue. Gue ingat pernah merutuki rumah sakit lebih dari siapapun saat gue berada di dalamnya, bersumpah-sumpah tidak mau masuk rumah sakit lagi meski dibayar satu miliyar. Tapi kini, gue bisa senyum-senyum mengingat rumah sakit.
Mungkin memang benar kata sebuah status Facebook seorang kenalan, ada persamaan antara rumah sakit, dengan bad relationship, atau pengalaman buruk lainnya. Ada banyak hikmah yang bisa diingat, siapa yang membesuk, dokter yang pintar, suster yang ramah atau tetangga pasien yang gokil. But you definitely don’t want to return back there. “Pelaminannya dari kaca yang diukir! Seluruhnya! Lalu ditembakkin laser!” “Iya, gue denger juga bajunya nggak sembarangan, dari perancang siapa tuh? Yang ngetop banget di New York?” “Pokoknya bener-bener Mega-Wedding dah!” Demikian pembicaraan dalam taksi siang itu, tentang sebuah pesta pernikahan kenalan yang konon digelar gede-gedean dan menghabiskan biaya M-M-an.Mendengar konsep ini, gue langsung mengirim pesan singkat pada Oknum R. “Konsep pernikahan loe di Bali sudah kurang gres lagi!” “Oh gitu ya? Emang sekarang harus yang kayak gimana? “Gue denger dari temen gue, konsepnya Mega-Wedding!” “Emang Mega-Wedding apaan sih?” Selalu ‘merasa’ tidak terima undangan dan tidak berhasrat mencari inspirasi dekor dalam waktu dekat, gue jelas tidak bisa banyak menjabarkan konsep Mega-Wedding. Namun secara kebetulan, gue dan Oknum R yang lagi liburan di Jakarta, diundang ke sebuah pernikahan seorang teman lama. Acaranya diadakan di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta, yang konon menjadi tempat dilaksanakannya pernikahan-pernikahan paling jreng ibukota. Mendengar rumor bahwa tamu undangannya 5000 orang, kami memutuskan untuk makan burger plus kentang goreng terlebih dahulu, lalu datang terlambat. Rencananya, pas sampai sudah sepi, bisa langsung salaman, makan kue, lalu pulang. Bahkan dengan persiapan yang matang tersebut, kami tetaplah terjebak dalam antrean mobil yang sanggup membegokan satu anak masa depan Indonesia. Entah karena semua tamu punya pikiran sama dengan kami atau sekadar tamunya banyak saja, ketika kami sampai, seolah semua tamu juga baru sampai. Gue terjebak dalam antrean masuk ke dalam ballroom yang mirip konser menonton John Legend di Java Jazz. Ketika berhasil menyeruak masuk, gue jadi bingung mau salaman atau makan dulu. Kedua-duanya punya antrean panjang mengular-ular yang akan memakan waktu minimal 45 menit untuk sampai di tujuan mengantre. Meskipun begitu, pesta memang berlangsung sangat indah dan meriah. Seluruh ruangan didekor dengan kerlap-kerlip lampu dan disulap bak taman ajaib. Ada doorprize iPad dan iPod touch serta hadiah menarik lainnya. Sudah jelas, inilah pernikahan yang disebut sebagai… MEGA WEDDING. “Duh, kenapa sih orang tuh menikah malah jadi susah?” gue berkomentar. Ketika masuk ruangan, mempelai beserta bridesmaid langsung memeragakan sebuah modern dance, sebuah ritual standar di hotel ini ternyata. “Mana gue tau! Gue mah ogah kawin repot begitu! , kalau gue bestman-nya, masa gue musti latian nge-dance dulu seminggu sebelumnya? Gue mau bayar berapa?” Oknum R menimpali sewot. He? Oknum R? Yang persiapan nikah di Bali-nya dimulai sejak H-8 tahun? Nggak mau repot kawinan? “Lha loe bukannya mau nikah di Bali?” gue bertanya. “Udah deh, gue udah nggak mau lagi kawin di Bali! Repot! Musti mikirin nginepnya lah, transportnya lah, yang di Jakarta aja udah ribet apalagi di Bali! Emak gue udah lebih tua, kasian nyiapinnya!” Oknum R menungkas. “Kok emak loe sih yang nyiapin? Loe-lah yang bikin!” “Mana-mana orang tua Margie yang sibuk nyiapin kawinan!” Gue mengangguk-angguk setuju dan tiba-tiba merasakan mengapa meski indah, gue tidak berfantasi untuk melakukan Mega-Wedding. Mungkin karena seperti yang dikatakan Oknum R, Mega-Wedding yang repot ini bukan untuk mereka yang menjalani hidup baru. Padahal, yang mau nikah gue, bukan orang tua gue. Konsep pernikahan selalu menjadi milik orang tua. Sebanyak sesibuk-sibuknya calon mempelai, adalah orang tua yang sebenarnya paling menentukan bagaimana pesta pernikahan itu dijalankan. Jika sebuah pelaminan mencitrakan gengsi, harga diri, status, biasanya yang dimaksud adalah gengsi, harga diri, dan status orang tua mempelai, bukan mempelainya sendiri. “Malu dong mami kalau acaranya cuma segitu,” atau “Mau ditaruh di mana muka keluarga kalau nggak ada pesta?” adalah kalimat-kalimat yang akrab di telinga jika sang mempelai tidak mengadakan pesta pernikahan segegap gempita yang diharapkan. Itulah sebabnya tren pesta semakin megah semakin tiga-hari-tiga-malam, semakin…Mega-Wedding…. Sebagian besar tamu undangan yang hadir, juga biasanya adalah undangan orang tua. Guna menghibur tamu mayoritas tersebut, meski mewah, kondangan identik dengan bapak-bapak berbatik serta acara ‘kurang in’ lainnya seperti sambutan dari gubenur ini itu dan doa tiga bahasa. Bisa tegang para orang tua jika ada konsep stand-up comedy seperti di tipi-tipi itu di tengah acara. Bahkan, sanking menjadi milik orang tua, pernikahan bisa jadi batal saat persiapan pesta pernikahan lantaran kedua orang tua yang masing-masing merasa memiliki pernikahan tersebut berantem.
Pernah satu kali seorang kenalan gagal menikah lantaran orang tua pasangan tidak sepakat dengan adat apa pernikahan itu seharusnya dilangsungkan. Begitu saling ngototnya kedua kubu hingga masing-masing menyimpulkan bahwa tidak ada niat baik menyatukan kedua anaknya. Dan semakin Mega-Wedding pernikahan itu, semakin pulalah pernikahan itu jadi milik orang tua. Gue membuat perhitungan sederhana. Seandainya gue menikah di usia 30 tahun dengan mempelai berusia sama, berarti kami sudah bekerja sekitar delapan tahun. Seandainya pesta pernikahan itu bernilai 1.2 M, maka setidaknya tiap tahun kami harus menyimpan Rp 150.000.000,- Itupun, kalau gue pacaran dengan orang yang sama sejak gue lulus kuliah kemarin dan kami sevisi menabung untuk beli pelaminan berlaser. Tanpa bantuan dukungan orang tua, kemungkinan gue akan berakhir hanya dengan sebuah pelaminan untuk seumur hidup pernikahan gue. Tak ada rumah, tak ada mobil, tak ada pula perabotan. Dengan keadaan seperti itu, pilihannya hanya dua. Gue setelah menikah menjadi sepenuhnya bergantung pada orang tua lebih dari apapun juga, atau pernikahan itu sepenuhnya jadi otoritas orang tua gue. Semakin Mega juga, semakin besar daerah kekuasaan orang tua. Ada pasangan yang batal nikah lantaran tidak sepakat harga mahar. Meski saling cinta, pernikahan tidak dapat lagi dilangsungkan. Ada juga, yang karena tidak sepakat siapa yang harusnya membayar pesta, sekalian gagal total. Memikirkan fakta ini, gue mengambil kesimpulan keras bahwa jika gue harus menikah, itu hanya demi orang tua gue. Artinya, jika pernikahan itu tidak membahagiakan orang tua, lebih baik tidak menikah sama sekali, hanya akan membangkrutkan gue. Tapi menurut Oknum R, Mega-Wedding yang merepotkan itu belum pasti jadi pernikahan idaman orang tua. Jika kita yang anak muda ini bisa cape menyiapkan pernikahan, apalagi orang tua yang usianya sudah paruh baya? Seperti yang dialami oleh ibu seorang kenalan. Si ibu ini punya tiga anak lelaki. Ketika anak pertamanya berniat ingin nikah tamasya, beliau jelas menentang keras. Apa kata handai taulan dan relasi jika anak pertamanya nikah tidak dipestain. Bisa-bisa dikira MBA! Maka dilaksanakanlah pesta besar dengan biaya ratusan juta itu. Baju pengantin disewa dari bridal ternama, yang jika mote-motenya hilang satu bakal didenda seratus ribu rupiah. Persiapan pernikahan berlangsung berbulan-bulan, hingga begadangan di malam sebelumnya. Bahkan setelah acara usai, si ibu baru bisa pulang ke rumah jam satu pagi. Dengan segala keletihan itu, sadarlah ia betapa meletihkannya kawinan itu. Maka berkatalah ia pada kedua putra yang tersisa, “abis ini yang mau nikah tamasya, nikah tamasya aja deh sana!” Have you ever seen a girl and think that if you were a boy, you would dump her too exactly the way her ex-boyfriend did? Have you ever seen another girl and think that if you were her boyfriend, you would cheat on her exactly the way he was? Gue, dengan hati yang keji dan penuh kejahatan, tentu saja, pernah. Gue sedang duduk di sebuah kafe sambil mendengarkan sebuah kisah memilukan. Seorang gadis yang jatuh bangun mengejar kekasihnya. Lagu Kristina dangdut jadi terdengar ceria dibandingkan kisahnya. Tak satupun SMS berbalas, tak satupun telepon diangkat. Padahal ia yakin pria ini cinta sejatinya. Ketika disantroni, sang pria hanya menjawab pendek, ia sibuk dan tak punya waktu. Ketika mengejar, ia diusir. Harkat seorang wanita dirobek-robek. Air mata terburai. GONG. Kisah berganti tentang kisah gadis yang diselingkuhi kekasihnya. Si gadis langsung melabrak wanita ketiga itu lalu memaafkan kekasihnya. Tidak berapa lama kekasihnya itu pergi demi wanita lain. Harkat sebagai kekasih dirobek-robek. Air mata terburai lebih deras. GONG. Gadis ini sangat mencintai pacarnya! Buktinya ia menelepon puluhan kali sehari, menciptakan bahasa khusus untuk hubungan mereka, aktif memproklamirkan perasaan di Twitter, Facebook dan situs jejaring sosial lainnya, mengirim live update via bbm akan apa yang ia makan, ia minum, ia lihat, belum lagi sms-sms puisi cinta. Tapi kenapa pacarnya malah minta break? GONG. Gue mendengarkan kisah itu sambil berkata ‘ya…ya…’ setengah mendengar setengah tidak bak sedang mendengarkan alasan Pak Dasrul si supir butuh empat kali memutari Kuningan demi tiba di sebuah gedung di jalan yang sama. Lagu lama. Alesan. Seharusnya bisa dihindari. Wajar aja begitu. Where in the world is the women solidarity, you may ask. Janganlah berburuk sangka. Gue, sebagai wanita yang punya perasaan halus (meski jahat), tentu bukannya tidak paham terhadap pedihnya ditinggalkan, dilupakan, dicampakkan, dikalahkan dengan pekerjaannya, dengan dunianya saja, dengan pacar baru. I was dumped, I am dumped atau bahkan, I’ve always been dumped. Buktinya, seberapa lamanya gue absen, gue akan selalu kembali punya waktu untuk duduk bengong di malam minggu untuk ngeblog, atau singkatnya: menjomblo. Semua orang, bahkan yang bisa membuat lelaki bersumpah nggak bakal poligami, polipacar atau poli-poli yang lain, macamnya Cheryl Cole, pernah dicampakkan oleh seseorang seperti Ashley Cole. Tapi terkadang, hanya terkadang, gue merasa yang memperparah perasaan tercampakkan, tertinggalkan, terlupakan dan terkalahkan itu justru datang dari oleh sikap sang korban, biasanya perempuan itu sendiri. Kalau kata nenek moyang gue, jika kita jualan, kita harus percaya sama barang dagangan kita sendiri. Kalau kita aja nggak yakin barang kita ok, gimana bisa meyakinkan pembeli? Dalam kasus percintaan, how can you expect someone NOT dumping you while you are already dumped yourself? How can you expect someone to respect you if you don’t put high regards on yourself? Dalam kasus pertama misalnya, tentu saja Kristina Dangdut itu akan dicampakkan dan diperlakukan dengan bak sampah masyarakat! He is obviously not that into her! Setiap pendekatan lebih lanjut memang hanya akan berakhir dengan pencampakkan yang lebih menyakitkan. Kristina Dangdut bisa saja menangkap sinyal ketika sms tak berbalas dan punya kesempatan moving on dengan wajah terangkat sombong. Ia bisa mengarang kisah tentang dirinya yang mencampakkan si lelaki. But no, she chose the hard way. Dia memilih untuk jatuh gedebuk pingsan ditolak tanpa ada kesempatan memutarbalikkan fakta. Dalam kasus kedua, gue percaya once a cheater, always a cheater. Perselingkuhan pertama adalah indikasi buruk. Tapi bukannya menghardik keras pacar sendiri, nona korban malah memaki orang lain dan memaafkan si hidung belang. Sikap yang sebenarnya seolah menjadi license untuk hidung belang berselingkuh lagi. Sikap yang membuka jalan panjang di depan bagi nona korban untuk dicampakkan dan dianggap tidak berharga. Dan kasus terakhir, bagi gue terjadi justru karena nona cinta kasih menaruh harga terlalu murah pada cinta kasihnya. Bukan, gue yang praktis efisien ini tidak percaya sistem jual mahal. Bisa-bisa pindah semua ke toko sebelah. Tapi kekasih tak tahu diri malah akhirnya tidak bisa menghargai cinta kasih karena sejak awal nona cinta kasih tidak membuatnya punya nilai. Seperti air yang mengalir membuat banjir tidak bisa dihargai seperti setitik embun di Gunung Kidul. Nona cinta kasih telah menggali bencana dalam hubungannya sendiri. Bukan, gue juga tidak mau bilang bahwa saat tercampakkan, seorang wanita harus berdiri gagah perkasa. Sungguh, siapa wanita, yang ketika dalam kondisi demikian, bukannya mundur malah semakin semangat mengejar berkobar-kobar. Mengutip kata seorang teman, we are all dumb when we are in love. Gue melakukan semua hal patetik yang tidak mengundang simpati itu. I sent unreplied SMS, I wrote unread BBM, I called to a number seemed to have been deactivated, I made monologues on messenger, I would even cross the sea in hope to see his shadows. Lalu, ketika akhirnya ia sudi menjawab pertanyaan gue, ‘Kamu tuh masih sayang sama aku nggak sih?’ gue akan melonjak kegirangan dan berpegang teguh pada harapan, macamnya sebuah doa yang akhirnya dijawab Tuhan. Bahkan meski gue tahu jawaban tersebut sifatnya sama dengan jawaban pertanyaan ‘Aku gendut nggak sih?’ There’s only one way to answer, and that answer is never true. It’s normal to be dumped and it’s perfectly fine to be dumb when you are dumped. Cheryl Cole saja pernah khilaf dan memaafkan Ashley Cole setelah bolak balik selingkuh. But you just need to know when to stop hurting yourself. Satu bbm tak berbalas akan membuahkan kekecewaan. Tapi 10 bbm tak berbalas akan membuahkan kekecewaan 10 kali lipat. Have mercy on yourself. Jika sudah merasa letih main catur cinta sendirian, stop, istirahat sana. Jika sudah tahu bahwa jawaban ‘kamu sayang aku nggak sih’ itu palsu, berhenti berharap, jangan malah meninggikan harapan. And you can only stop, if you realize that you are dumb. Orang merasa bodoh akan belajar dan mungkin bisa jadi pintar. Tapi orang merasa pintar akan puas diri tanpa menyadari dirinya telah tertinggal. Mengejar-ngejar orang yang sudah melupakan gue itu bodoh. Gue bisa terus mengejar selama itu menyenangkan gue, tapi ketika gue capai main kejar-kejaran, gue tidak perlu terus berlari karena tahu gue sedang melakukan hal bodoh. Setengah mati mempertahankan seorang pria semata karena yakin tidak bisa mendapatkan yang lebih baik itu bodoh. Gue bisa tetap bertahan jika itu membuat gue merasa jadi orang baik, tapi gue tetap harus tahu bahwa jika ia membuat gue nangis, ia bukan yang terbaik bagi gue. Semoga yang baik datang sebelum gue menopause. Dan dengan begitu, mudah-mudahan gue bisa berkesempatan mengarang cerita seperti kehendak gue. Sebuah cerita, yang memang tidak perlu mengundang empati masyarakat. Tercampakkan, seperti kata sifat yang lainnya, juga relatif. Cheryl Cole tercampakkan oleh Ashley Cole oleh perempuan-perempuan sedikit seksi di sekitarnya. Tapi saat ia meninggalkan Ashley begitu saja, berita berubah, Cheryl dumps Ashley. Of course, it still sucks to be left alone. But you can choose how you get dumped. To fall graciously and arise afterwards, or to climb first so that you can fall deeper, and break all your legs, and arms and head. But remember, we’ve broken our heart, try to keep the bruise to minimum.  | Gangsta' | Oct 9, '11 11:16 AM for everyone |
Kalau lembar hasil laboratorium itu adalah hasil ujian, gue sudah pasti tidak lulus. Setelah empat hari mengalami demam tinggi 40 derajat Celsius secara konstan siang dan malam, gue dianjurkan untuk tes darah. Curiganya, kalau bukan tifus, mungkin demam berdarah, atau penyakit dalam lainnya. Maka gue dites untuk berbagai penyakit tersebut. Yang hasilnya menyimpang dari normal diberi warna merah, yang baik-baik saja warna hitam.
Lembar itu, bewarna merah nyaris di semua bagian. Virus demam berdarah berkomplotan dengan bakteri tifus, didukung virus campak dan juga gangguan liver untuk menyerang badan. Paket combo. Gue masuk rumah sakit seketika.
Terbaring lemah dengan demam tinggi sepanjang masa tentunya membuat gue banyak merenung tentang arti hidup dan mati. Gue agak keki, karena penyakit-penyakit itu secara tidak acih telah main geng-gengan. Kalau berani, satu lawan satu dong! Gue baru tahu, bahwa sesuatu yang dilakukan bersama-sama dalam sebuah komunitas, bisa punya dampak negatif, seperti komunitas penyakit yang bersama-sama mengobrak-abrik seluruh organ pencernaan gue ini.
Maklum, seumur hidup gue di Indonesia, gue selalu diajarkan bahwa komunalitas adalah sesuatu yang bernilai luhur. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Membentuk kelompok, menjadi kuat. Networking jadi satu kegiatan wajib yang penting. Itulah sebabnya, manusia Indonesia termasuk gue, terbiasa hidup dalam geng seumur hidup.
Saat SD, ada grup berisi anak-anak paling pintar dalam kelas. Tipe mereka yang duduk di depan, disayang guru bukan main, dan jadi ketua kelas. Saat SMP dan SMA, ada grup AADC, sekelompok anak-anak tercantik dan tergaya.
Tipe mereka yang selalu melanggar peraturan dengan rok terlalu pendek atau membolos. Tipe yang selalu mangkal di radio anak muda, makan roti panggang di daerah selatan, dan tampil lebih tua dari umur demi masuk klub malam.Atau geng aktif kreatif, ikut ekskul paling keren, jadi dedengkot acara sekolah dan punya jaringan paling luas di luar sekolah.
Kehidupan geng-gong yang dilandasi takaran persekolahan, seperti prestasi akademis dan rating kegaulan mengambil bentuk yang berbeda setelah memasuki dunia karir. Kali ini, klub elit berisi beberapa orang itu ditandai dengan sepucuk undangan membeli tas bermerk yang hanya dibuat 1000 buah untuk edisi pertama. Atau punya sandangan itu-itu Expert atau specialist.
Bahkan, mereka yang belong to nowhere, yang tidak punya tempat di dunia nyata yang kejam ini, jika dikumpulkan, bisa membentuk komunitas sendiri. Mereka juga punya klaim properti, meski biasanya adalah lokasi yang sudah ditinggalkan orang lain, bahasa sendiri, acuan sendiri tentang baik-benar, lucu-jayus, pinter-goblok, yang biasanya, meski biasanya berlawanan dengan pakem dunia mayoritas.
Ketika bergabung dalam geng tertentu, tentu saja, gue tidak merasa ada yang salah dengan berada dalam sebuah lingkup komunitas. Segalanya terasa menyenangkan saat berada dalam kelompok. Semua punya pemikiran dengan cara yang sama sehingga sangat mudah menyampaikan ide, serta diterima idenya.
Geng juga memberi gue hak-hak lebih. Gue bisa memiliki properti secara gratis, seperti pada pojokan pohon sekolah yang kini jadi ‘milik geng’ dan siswa lain dilarang nongkrong di pohon tersebut. Gue juga punya hak untuk menentukan standard nilai sendiri, yang berlaku secara absolut dalam tempurung komunitas gue.
Dan tentunya, yang paling menyenangkan adalah membuat judgement terhadap orang lain berdasarkan cara pikir satu orang dalam kelompok saja, beraksi menggencet orang tersebut, dan…mendapatkan dukungan penuh orang lain (Baca: anggota geng) untuk melakukan hal itu.
Gue bisa menyebut adik kelas gue kasar dan tidak sopan dan gue akan mendapatkan dukungan untuk menggamparnya bolak-balik dalam WC, bahkan dibantuin ngegampar. Perkara kasar dan tidak sopan itu sebenarnya sangat subjektif, dan ternyata hanya dilandasi rebutan lelaki, itu tidak jadi masalah. Gue melihat dari kacamata komunitas dan mereka di luar komunitas, tidak bisa memahami gue. Gue bisa menyebut orang lain sebagai tolol, atau anggota geng lain sebagai kroco dan melakukan blackmail, bahkan saat gue sendiri adalah kroco dari geng gue.
Tidak ada yang salah, selama gue berada dalam komunitas itu. Gue baru merasa tidak nyaman, ketika gue berseberangan dengan anggota komunitas tersebut. Seperti saat virus dan bakteri, melakukan apa yang terbaik atas nama keberlangsungan prokreasi komunitas penyakit, dan nyaris menghilangkan hak hidup gue.
Ternyata, banyak perbuatan yang dilakukan atas nama komunitas, telah menghilangkan hak-hak orang lain. Membuat gue mempertanyakan, jika komunitas itu telah memberi gue perceived reality akan hak dan kebajikan yang semu. Dan karena berpegangan terhadap hal semu, membuat gue sebenarnya terlihat konyol di mata mereka yang bukan anggota komunitas.
Pohon di sudut sekolah itu bukan milik geng gue. Pohon itu jelas milik sekolah, yang dipergunakan untuk keteduhan seluruh siswa. Namun karena merasa berkuasa, pohon itu gue sita, dan segala kegiatan yang berlangsung di bawahnya gue atur. Ketika sekolah mau mempergunakannya untuk kepentingan seluruh komunitas, gue marah. Gue telah menghilangkan hak damai siswa lain. Semu. Dan sebenarnya konyol.
Virus dan bakteri yang merajalela, mungkin merasa badan gue adalah lahan milik mereka yang bisa digarap sesuka hati. Namun begitu antibiotik, parasetamol, jus kurma dan jambu ditelan, badan gue melawan dan memberi tahu, siapa sebenarnya pemilik tubuh ini. Mereka semua binasa secara konyol.
Menjadi hakim sendiri telah menghilangkan hak orang lain untuk dinilai secara adil dan objektif. Juga terkadang menimbulkan kekonyolan saat penilaian gue itu maha subjektif dan tidak didasari fakta. Yang diledeki tolol, bisa saja ketawa ngakak guling-guling karena sebenarnya beliau adalah seorang peraih beasiswa bahkan bukan dari sekadar instansi lokal, melainkan dari pemerintah negara asing.
Tas bermerk itu di kalangan masyarakat tertentu telah menjadi identitas yang melekat pada diri. Begitu pentingnya, hingga menghilangkan identitas diri lainnya yang sebenarnya lebih luhur. Semu. Dan di mata orang di luar kalangan tersebut, tas bermerk itu sungguh tidak ada artinya. Orang kaya hanya jadi terlihat konyol.
Bukan berarti gue mendukung gerakan anti-sosial melawan komunitas. After all, gue juga telah mencicipi dampak positif bergabung dalam komunitas. Saing-saingan waktu SD memicu semangat belajar, membandel saat SMP memberi gue masa remaja yang indah, dan pertemanan positif SMA membuahkan kuliah bersubsidi. Belum lagi berapa banyaknya gue dibantu oleh solidaritas komunitas di berbagai tempat.
Hanya saja, berada di ranjang rumah sakit dan menjadi ‘korban komunitas’, gue merasa perlu berhati-hati, sebelum menjadi terlalu bangga menjadi bagian dari sesuatu. Sense of belonging adalah hal positif. Namun jika berlebihan, dan terhadap barang punya orang lain, atau fasilitas umum, tentu patut diwaspadai.
Mencari takaran identitas akan apa yang dianggap baik dan buruk memang dibutuhkan. Namanya juga makhluk sosial. Namun penting juga untuk mencari esensi secara obyektif, sungguhkah yang dianggap benar ini, adalah sesuatu yang bisa diterima orang lain?
Sejak didera komplotan virus, gue memutuskan keluar dari sebuah instansi. Namun itu juga tidak membuat gue ingin menjadi bagian komunitas yang berseberangan dari instansi tersebut. Gue memilih menjadi neither here not there, yang tidak setuju akan kebijakan instansi, namun tidak membuat gue membenarkan apa yang komunitas tuduhkan lewat kacamata sempit satu pemikiran saja.
Karena seperti yang tubuh gue buktikan, bersatu dan terlalu absorbed ke dalam komunitas is not cool. Not cool at all. Namanya juga baru dari Paris, jelas harus nonton film yang berbau Paris dong, biar makin terkenang-kenang menelusuri Champ-Elysees dan foto bareng menara Eiffel lagi. Wajar saja gue langsung memilih film ‘Midnight in Paris’ garapan Woody Allen sebagai salah satu peneman perjalanan 12 jam, saat gue menyadari kenyataan pahit : gue kini kebal Antimo… Sesaat setelah film diputar gue langsung ber-ooh dan ber-ahh menikmati sinematografi manis yang membalut kisah seorang penulis yang ingin tinggal di Paris karena terkenang masa jaya seni era Picasso dan Dali di awal abad ke-20 ini. Keajaiban yang terjadi setiap Paris memasuki tengah malam, saat ia terlempar sungguh ke abad impian, menjalin cinta dengan Adriana, kekasih Hemmingway, digambarkan dengan latar jalan-jalan dan bangunan kuno khas Paris, Montmarne, dan kafe-kafe mungil pinggir jalan yang selalu punya croissant enak. Film ini memang sukses menangkap nafas kota Paris, tidak hanya romantis, tetapi juga sensual, penuh affair bergairah, dan menumbuhkan fantasi. Namun menonton film yang indah ini, gue seperti diberi izin untuk mencela Paris, atau Eropa secara keseluruhan. Sebuah kritik yang juga ingin gue sampaikan namun tidak berani, lantaran merasa tidak layak sebagai warga Asia biasa, mencela sebuah first world country. Untung film ini mengindikasikan bahwa nampaknya seorang Woody Allen, dari Amerika juga punya keresahan yang sama. Ketika pertama kali menjejak di Paris, si papih dan mamih langsung mengambil sebuah pilihan pasti. « Kita mau ke Singapur aja, deh ! » Kalau Singapura itu terletak satu setengah jam dari Orly, gue yakin mereka sudah akan mempercepat tiket pulang dan ngacir ke Orchard Road sekarang juga. Bandara yang dekil agak suram, mirip bagian Soekarno Hatta yang belum direnovasi, masih adanya pesawat yang tidak pakai belalai gajah, leletnya petugas dan habisnya trolley benar-benar meruntuhkan bayangan tentang negara maju super modern pusat mode di dalam benak dua orang Asia yang merasa dari negara berkembang cenderung miskin. Masuk ke tengah kota juga tidak mengubah kesan pertama. Mengharapkan minimal MRT Singapura yang wangi, mengkilap, punya tanda ‘This Side’ supaya bisa antre turun, si mamih benar-benar depresi saat harus memasuki lorong kereta bawah tanah yang naik turun tanpa adanya keberadaan lift, boro-boro eskalator. Seluruh indranya langsung dimatikan saat secara konstan disajikan bau pesing, jorok, suasana agak bronx saat malam menjelang, plus kereta kuno keluaran tahun 60an tanpa AC yang jendela dan pintunya selalu bergetar-getar sepanjang jalan. Apa bedanya kami jauh-jauh ke negeri orang kalau tetap harus merasakan vibrasi bajaj saat bertansportasi… Apalagi kami baru selamat dari kereta malam menuju Italia beberapa hari sebelumnya yang merupakan sebuah pengalaman yang sangat ‘Senen’, baik dari sisi stasiun maupun kereta. « Kereta kayak gini mah, di Indonesia aja udah kagak dipakai lagi, udah dimasukkin museum kereta yang di Ambarawa ! » komentar si mamih begitu melihat kereta yang sungguh akrab di mata, terutama dalam berita tabrakan kereta ekonomi di stasiun TV lokal. Hingga kini, si mamih masih suka mengigau sangking traumanya, setelah 12 jam naik kereta super tidak ergonomis, ber-WC bak barak penjara, dengan begitu banyaknya penumpang liar goler-goleran di lorong kereta sambil berteriak-teriak mabuk. Ditambah mendaratnya di stasiun Roma Termini yang metronya macam dibangun di masa Julius Caesar dan tidak pernah direnovasi lagi. Sungguh ironis, berada di kumpulan negara yang katanya paling maju di dunia, tingkat pendidikan dan ekonominya adalah yang paling tinggi, sama sekali tidak impresif bagi warga negara miskin dengan tingkat kemajuan konon tertinggal puluhan tahun hingga tidak bisa mengejar. Kalau sudah begini, siapa nih yang salah dalam menciptakan takaran kemajuan ini ? Orang Eropa yang matanya pada buta semua, nggak sadar punya standar hidup rendah mengibakan, apa orang Asia yang buta, tidak bisa melihat kemajuan yang tidak kasat mata ? Midnight in Paris seolah memberi jawaban bagi pertanyaan gue itu. Eropa mungkin adalah sebuah benua yang jaya, jauh lebih maju dari belahan bumi manapun di suatu masa. Itulah masa mereka meraih gelar ‘First World’ itu. Namun setelah maju, mereka sudah tidak lagi ‘berkembang’, hingga akhirnya, ada banyak negara-negara lain yang berkembang dan meraih status maju yang lebih tinggi. Melihat setting Paris di tahun 1920-an dalam film, gue menyadari, bahwa tidak banyak yang berubah dari Paris sejak saat itu hingga sekarang. Restoran dengan cahaya temaram di Montmarne seolah abadi dalam waktu. Gedung-gedung historikalnya tetap Sacre Cœur, Menara Eiffel, tanpa mengalami restorasi berarti. Gedung, apartemen, kantor, masih menggunakan bangunan abad belasan. Bukan berarti semua itu tidak indah. Tentu saja, kita wajib mengabadikan warisan budaya leluhur. Maksudnya, Singapur juga menjadikan Chinatown, merlion pertama di ujung sungai sebagai objek wisata sejarah andalan. Namun mereka juga membangun Esplanade, Universal Studio, yang beberapa abad dari sekarang akan dikenal sebagai pencapaian di abad tersebut. Tidak adanya perubahan juga mengindikasikan satu hal : Tidak adanya pembangunan dari masa itu hingga sekarang. They stuck in that moment. They still enjoy what their great-great grandparents built centuries ago, without creating new landmarks for their great-great grandchildren to enjoy. Sayangnya, negara-negara ini seperti terperangkap dalam kejayaan masa lalu, sehingga tidak lagi melihat betapa Jepang, Singapura, Korea, bahkan China kini sudah melampaui kejayaan mereka. Eropa tetap merasa maju, meski terbelit utang, kredit gagal dan pasarnya dikuasai produk ‘Made in PRC’. Seperti Adriana yang memilih untuk tetap tinggal di La Belle Epogue, dan tidak mau kembali ke abadnya, Eropa memilih mengubur mereka dalam kenangan masa jaya, saat Michaelangelo masih jadi pelukis nomor satu dunia, saat Fritsgerald harus ke Paris agar bisa terinspirasi menulis, saat warganya, masih berusaha begitu keras hingga menciptakan kebudayaan yang bisa bertahan berabad-abad. Mereka menghiraukan bahwa semua legenda itu sudah mati. Dan saat ini, tidak ada satu pun orang Eropa yang menulis seperti Fritsgerald, atau melukis seperti Picasso, atau membangun gedung seperti Gustav Eiffel. Mereka seolah lupa, bahwa kejayaan itu tidak diturunkan begitu saja pada bangsa tertentu. Kejayaan itu datang dari ambisi, kerja keras, dan kemauan yang keras untuk maju, seperti yang ditunjukkan Michaelangelo saat melukis atap Kapel Sistina. Etos kerja yang justru kini dimiliki oleh bangsa Asia, dengan pembangunan dan modernitas yang ditunjukkan. Adalah China yang sekarang bikin roket, bukan Yunani yang ribet sama korupsi. Adalah orang Jepang yang pakai rok mini di tengah suhu 15 derajat, dipadukan legging hitam plus sepatu boot, bukan warga Paris yang pusat mode. Sementara warga Eropa libur serentak tiga minggu tanpa mau diganggu meski mengganggu perekonomian satu kota. Dan karena maju itu adalah kata sifat yang relatif tergantung konteks dan jaman, Eropa sudah tidak berhak lagi mengklaim jadi negara maju. Mereka harusnya jadi negara berkembang saja, agar jadi terpacu lagi untuk maju. Sistem teknologi transportasi bawah tanah mereka memang yang pertama di dunia, tapi dari kaca mata anak negara miskin, sekarang yang macam itu sudah tidak dianggap teknologi lagi di Singapura ! Tapi bukan orang Eropa saja yang bisa terjebak merasa maju lalu lupa melihat ke sekeliling untuk menyadari telah ketinggalan. Nampaknya memang sifat manusia untuk jadi katak dalam tempurung. Gue selalu jadi anak kota Jakarta yang emoh tinggal di tempat lain. Bali dan Bandung paling banter, itu juga jangan lama-lama. Tidak terpikir bakal tinggal di daerah lain, apalagi wilayah yang jauh macamnya di Indonesia Timur. Namun ketika gue berkesempatan ke Makassar, gue macam anak kampung masuk kota dibuatnya. Sepanjang jalan gue berdecak kagum dan melongo memelototi pembangunan di sekitar gue. Jalanan terasa begitu mulus, bahkan memicu keinginan main rollerblade di tol. Bibir pantai dipenuhi hasil karya pembangunan, gedung pencakar langit, mobil-mobil mengkilap, dan jalanan empat lajur . Ada mall underpass, ada trans-studio, ada pantai Losari yang bersih dan rapi, ada konser rock di tengah lapangan. Membuat gue berkali-kali berdecak norak, kayak di Singapur, yah ! Kalimat yang tidak pernah gue sebut jika sedang ke kota besar di Jawa lainnya. Saat itu gue merasa betapa malunya orang Jawa macam gue ini! Merasa paling maju, tapi ternyata ketinggalan dari segala aspek. Rasa maju ini juga terkadang membuat gue ‘sok-kota’, dengan ketidakpedulian terhadap orang dan alam sekitar. Padahal ada daerah yang lebih kota lagi, tapi tidak kehilangan keramahan dan kehangatan penduduknya. Saat sedang celingak-celinguk di pelabuhan Paotere, Kapolres Pelabuhan yang baru selesai acara bersama menghentikan mobil dan mengantarkan gue membeli ikan dan menyeberang pulau untuk snorkeling. Kebersihan juga sangat terjaga baik. Sekitar satu setengah jam dari bibir pelabuhan super sibuk, ada Pulau Samalona dan Pulau Kodingaringkeke yang berpasir putih, diselimuti keriaan hiu martil dan belut laut di bibir pantainya. Tidak terbayang 1.5 jam dari Semarang atau dari Tanjung Priok. Pasti lautnya masih penuh ikan-ikan neon buah berevolusi sanking gelapnya air tempat tinggal mereka.
Nampaknya to stay in the present and to face reality adalah sebuah pesan yang relevan disampaikan dari Midnight in Paris pada siapa saja, bahkan mereka yang sedang tidak ingin ke Paris. Ini film untuk semua yang punya mental orang Paris, bangun ! Pergi lihat Makassar, sana ! *lho ? I swear this kind of things only happen to me. Saat gue mengetahui bahwa rancangan meng-‘umroh’-kan orang tua ke Eropa adalah sama dengan rencana seorang kenalan, whom I shared living quarter before, berbulan madu, gue tidak punya perasaan jelek sama sekali. Bahkan meski ada peristiwa ganjil saat beliau menyatakan bahwa yang ia rasakan pada gue sungguhlah cinta, lewat messenger-setelah bertahun-tahun tak terdengar kabar- dua minggu sebelum pernikahannya, gue tetap positif. Kegiatan beliau, pasti banyak ke tempat yang romantis, namanya juga honeymoon. Sedangkan gue, jelas sebuah perjalanan ibadah, meski kedua orang tua punya pikiran berbeda terhadap apa yang dianggap sebagai tanah suci (Ayah: Lourdes, Ibu: Paris). Lagipula, Eropa kan luas. Seorang bekas rekan kerja juga akan bulan madu ke sana. Semua orang bisa berbulan madu ke Eropa. Namun saat berdiri di hadapan tembok Vatikan nan agung, berpapasan dengan pasangan pengantin baru tersebut, gue tahu gue salah. Eropa tidaklah seluas itu. Dunia tidak seluas itu. Bekas pemain drama, sontak gue langsung berpura-pura mengagumi tembok Vatikan as if gue belum mengelilinginya lima kali sehari lantaran setiap kali nyasar selalu ketemu kompleks ini. Gagal. Maka terlibatlah gue dalam percakapan basa-basi terbasi dalam hidup, gue dengan baju siap ibadah diapit kedua orang tua dengan manis, dan sang mantan digandeng istri barunya yang juga manis, dengan baju romantisnya, if you know what I mean. “ Hei! Whoa…Never thought we’d visit Vatican at the same day. Margie, this is my wife.” dengan keramahan yang dibuat-buat. “Hi!” “This is Margie. She was…mmmm…my schoolmate.” Gue memberi tatapan yang berkata: you made it sounds as if we were primary school friends! Depan Vatikan ga boleh bohong lho! “As in, close schoolmate, we were doing… well…some kind of projects together,” mantan meralat, sambil menghindari tatapan mata. “That’s fascinating!” ujar istri baru dengan wajah berbinar-binar, mungkin juga dibuat-buat. You won’t find it fascinating if you know what kind of projects exactly we were in, or what your husband said two weeks ago. Diam! Diam! Gue sedang dalam tur rohani, nggak boleh nyinyir ! Nggak boleh kayak setan ! Nggak boleh merusak kebahagiaan orang lain ! Gue berusaha mengalihkan pikiran. “Are you on honeymoon too?” tanya istri baru dengan binar yang konstan. “No, I’m, well, with my parents.” “Oh, that’s fascinating too.” “Yeah, that’s FAS-CI-NA-TING!” Gue tersenyum, lalu, berusaha menghindari kecanggungan atau menyebut kata fascinating 100 kali lagi, pamit. Gue pikir hal unfortunate macam ini sudah tidak akan lagi terjadi lagi. Beberapa mungkin menyadari adanya rentang jarak yang jauh antara posting terakhir dan posting ini dalam blog. Seiring dengan reformasi diri, gue merasa blog yang banyak terisi oleh bercandaan Tuhan yang terpusat pada satu gadis malang bernama Margie sudah tidak relevan lagi. Gue sudah bukan lagi anak pengangguran yang punya seluruh waktu di dunia untuk mencela dunia tersebut. Gue mendapatkan kerja kantoran, dan bahkan seseorang yang gue klaim sebagai my own. Sesuatu yang dulu selalu gue hindari dengan alasan, tiada yang lebih berhak mengaku milik daripada ibu yang melahirkan dia… Pemikiran ini mulai muncul saat menghadiri sebuah pesta kantor dan mengamati beberapa rekan kerja mabuk lalu menyatakan hal yang disesali dalam lingkungan profesional. Saat itu gue cukup terkejut dengan perubahan dalam diri. Dua-tiga tahun sebelumnya saja, gue adalah salah satu dari mereka. Gue akan rakus minum dan pingsan dan bangun di kamar entah siapa dengan merepotkan satu kantor. Tapi sekarang, gue hanya mengamati. Tentu saja, usia kami tidak jauh terpaut. But then again, gue berkutat melawan jerawat di usia 10 tahun. Saat anak kecil lainnya dianjurkan tidak bicara pada orang asing, gue keleleran di jalanan negeri orang dan menanggapi orang asing untuk melancarkan bahasa Inggris. Mungkin, dengan perkembangan lebih dini, gue juga tua lebih dini. Sehingga di usia belia 25 tahun gue bisa berkata, this is it! This is the end of the wacky and wonderful life of Margie! Tidak ada lagi pesta pora dan kegilaan! Please welcome the new Margie. The wiser, more considerate, perhaps boring Margie. Saat bergosip, gue takkan lagi mendengar cerita tentang hubungan satu malam yang menggaungkan nama kantor subsidier di jaringan regional, lebih dari prestasi subsidier negara. Kami akan berbagi tips sukses karir dan masa depan internet. I’m settling down. Tapi saat menatap pengantin baru yang sedang saling foto, gue menyadari, that IS settling down. Punya pacar dengan nama yang sama selama lebih dari dua bulan, menikah, punya anak, mencari pekerjaan yang stabil. Sedangkan mencari kerja yang ekstra berisiko, ngeceng di bar financial centre hingga subuh, dan membawa orang tua pergi karena memang, selalu available, that IS NOT settling down. Gue tidak habis pikir. Dengan masuknya gue dalam kehidupan yang rutin, bosan, dan normal itu, logikanya gue akan dijauhkan dari drama atau kejadian aneh yang tidak lucu seperti bertemu dengan mantan pacar yang dua minggu lalu menyatakan cinta saat bulan madu, dengan gue yang sedang tur rohani, di hadapan landmark semacam Basilika Santo Petrus. Mengapa gue tidak jadi tua dan dewasa? Sesuai dengan tema tur rohani, gue mulai merenung dan berefleksi dan mendapati…bahwa sebanyak gue mengklaim dan mempercayainya, gue belum sepenuhnya ingin menjadi tua dan dewasa. Tentu saja, bukan berarti gue tidak menginginkan berada dalam posisi si istri baru sama sekali. Gue si siti sirik, tentu saja sewot karena hingga detik ini, tidak ada tanda-tanda pria yang akan mengajak honeymoon ke Roma akan datang. Sengit karena meski sudah berdoa khusuk memohon dalam katedral Notre Damme de Paris, bukan gue yang menikah di dalamnya tahun ini. Keki, karena kesempatan itu, bisa saja jadi milik gue, jika gue menyatakan hal yang tepat, dua minggu lalu. Tapi di sisi lain, saat melihat seseorang yang nyaris menjadi bagian hidup, bersama wanita lain, gue bersyukur gue bukan wanita itu. Karena jika iya, gue akan menjalani hidup berumah tangga, tidak berani mengambil risiko dalam kerja serta harus bersama dengan satu orang, till death do us part, di usia 25 tahun atau mungkin lebih cepat. Kenyataannya, I don’t want to grow mature and settle down. Being old is relative. It’s not about how old are you, but how old do you feel you are. Seseorang bisa menjadi tua atau muda tanpa peduli berapa usianya, sesuai dengan bagaimana orang tersebut melihat dirinya. Memang ada usia di KTP yang mengindikasikan ketuaan secara raga. Tapi usia jiwa, ditentukan oleh spirit dan cara berpikir. Itulah sebabnya terkadang ada kakak tertua, selisih umur nyaris 10 tahun, tapi terlihat lebih muda dibandingkan adik-adiknya. Atau terkadang seseorang berusia 40an, namun terlihat seperti 70 tahun karena memikul beban 70 tahun. Seseorang yang berusia 35 tahun bisa saja menganggap dirinya sangat tua dan berkutat dengan rematik serta penyakit usia renta lainnya. Sedangkan orang lain yang sama-sama berusia 35 tahun, bisa menganggap dirinya ‘belum siap’ untuk hal-hal kedewasaan dan dinobatkan jadi Chief Entertainment Officer. You decide on your age. Tidak ada orang yang bisa memberi tahu orang lain akan usia dan ketuaan yang dihadapinya. Gue mengklaim jadi tua, karena diberitahu virus campak, tifus, demam berdarah dan gangguan liver yang berpesta pora dalam momen yang sama di tubuh gue sebulan yang lalu. Tapi dalam diri, gue tidak punya niat merasa tua. Daripada menjawab Yes pada sebuah lamaran, gue menjawab santai bahwa ‘pernyataan Anda sudah kehilangan relevansinya dua tahun yang lalu’. Daripada tinggal diam di satu kerjaan, gue mengejar pekerjaan baru yang gue sukai. I decide to be young. Tentu saja ada beberapa kondisi biologis yang tidak bisa dihindari, seperti liver yang terlalu keras bekerja sejak usia belasan agar tak lagi terkena gangguan hati untuk yang keenam kalinya. But I’m ready to embrace all the wonders of youthful life. Bahkan meski harus bertemu mantan pacar entah yang mana di tempat suci lainnya. Entah karena punya terlalu banyak mantan pacar, atau sekadar sial saja. Semua berawal dari hepatitis A… Dan kalimat awalan sebuah cerita di www.aksisemangat.com itu berhasil membuat gue tertawa terbahak-bahak. Kalau ada yang berani mengaku punya kedekatan khusus pada penyakit hepatitis, gue-lah orangnya. Betapa tidak, kalau banyak orang diingatkan untuk tidak kena hepatitis sampai dua kali, gue sudah merasakan penyakit itu selama empat kali. Yang pertama adalah saat masih SMA. Terlalu capai berlibur dan nonton Kabut Cinta 49 episode, gue merasa tubuh terasa tidak enak badan dan sering merasa mual. Seperti warga kebanyakan, gue mengatasi rasa tidak nyaman ini dengan panadol, paramex dan obat-obatan yang tidak boleh dikonsumsi para penderita gangguan hati. Gue berakhir dengan hepatitis dasyat di rumah sakit. Yang kedua masih pada masa SMA. Setelah sembuh, gue kembali berkutat dengan berbagai kegiatan, hingga kembali jatuh sakit dalam waktu yang berdekatan. Yang ketiga terjadi di Singapura, dan berkat kesotoyan dokter-dokter Singapur yang memvonis gue hamil 3 minggu berturut-turut, gue kembali ke Jakarta dengan kursi roda dan sebuah penyakit liver yang makin memarah. Yang keempat, terjadi baru-baru ini. Alasan medis adalah terlalu capai menjalani beberapa pekerjaan di saat bersamaan. Alasan klenik, gue meyakini jatuh sakit di hari pertama kantor baru di Multiply Indonesia adalah karena kami selametan dengan KFC dan Coca Cola, bukan dengan ayam Suharti atau kopi kesukaannya SI Mbah. Harusnya itu jadi yang terakhir, karena setelah terlalu banyak hepatitis, gue membentuk sejenis kekebalan yang awet terhadap penyakit tersebut. Meski tetap harus berwaspada terhadap kemungkinan sakit hati yang lain… Maka layaklah gue mengklaim bahwa gue sangat dekat dengan per-hepatitis-an, dan langsung tersentuh dengan kisah Ratnawati Sutedjo yang setelah terkena hepatitis dan harus bedrest 2 bulan. Ia lalu menjadi pendiri Precious One, wadah berkarya para tuna rungu. Potongan kain untuk kursi, atau sofa dimanfaatkan sebagai bahan pernak pernik seperti penjepit rambut. Ini adalah sebuah kisah keproduktivitasan. Sering kali, saat sedang sibuk atau lemah, kita merasa tidak berdaya. Dan perasaan tidak berdaya itu begitu kuat menguasai sehingga kita merasa lebih lemah atau lebih sibuk, atau lebih susah dari sebenarnya. Saat gue terkapar karena hepatitis dengan SGPT SGOT mencapai ribuan, gue menghabiskan waktu bedrest untuk nonton kuis Siapa Berani setiap hari di TV. Namun Ratnawati, dengan jumlah SGPT yang sama, malah jadi ingin berkarya bagi para tuna rungu. Ketidakberdayaan Ratnawati justru membuatnya memikirkan orang lain yang lebih tidak berdaya. Mereka yang lahir dengan kebutuhan istimewa. Tentu saja, bukan berarti setiap saat kita harus tidak berempati terhadap ketidakberdayaan seseorang. Namun mungkin ada cara lain melihat sebuah musibah atau kepayahan. Seperti bangsa Jepang yang tidak jatuh setres lalu mohon bala bantuan terus menerus saat dilanda tsunami. Mereka malah ikut bala bantuan bagi yang lain dan mengantri makan dengan tertib, merasa tak perlu perlakuan istimewa. Saat ini mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa gue terus-terusan ngomongin produktivitas dan mengkampanyekan #aksisemangat, baik di blog maupun Twitter. Blog ini tidak penuh melulu berisi ajakan ikut aktivitas ini dan itu hingga lebih mirip iklan baris. Tapi gue jadi bawel tentang kegiatan ini mungkin karena baru sembuh hepatitis, sehingga jadi butuh lebih banyak renungan. Karena setiap kali ada ide-ide tentang meningkatkan produktivitas masuk dan dipublikasikan, gue kembali diingatkan kali untuk bahwatidak berdaya bisa diubah menjadi sebuah kekuatan. Ide kamu juga. Yes, kamu yang sedang membaca tulisan ini. So I need you to send your ideas on how to increase productivity for this country sebelum 19 Juni 2011. Syarat dan ketentuan kompetisi nya bisa dilihat di http://www.aksisemangat.com/ atau follow @aksisemangat, dan FB fan page Aksi Semangat. Jangan lupa, ada hadiah total 100 juta bagi proposal terbaik. Gue juga mau ikutan. Lumayan untuk mengganti biaya hepatitis empat kali itu. Sekarang sakit itu mahal! Ibu selalu bilang kalau gue seperti hidup dengan tanggungan 15 anak. Ada masanya gue menjalani tiga pekerjaan sekaligus. Yang pertama adalah pekerjaan tetap, sistem kerja pagi hingga sore, di sebuah perusahaan multinasional. Yang kedua adalah menulis buku, ditargetkan satu setiap bulan sebelum istirahat sedikit demi mengatur layout, editing dan cover. Yang ketiga adalah menjadi seorang penulis lepas atau sekadar memberi arahan editorial secara anonim. Terkadang jika yang kedua atau yang ketiga sedang tidak ada pesenan, gue akan berani menambah beberapa pekerjaan tambahan lainnya, seperti memberi pelatihan dan seminar dan jadi kontributor di publikasi lain. Semua itu di luar pekerjaan ‘tetap’ lainnya, seperti punya pacar, tamasya keliling Indonesia dengan titel apapun, menjaga tali silaturahmi pertemanan serta nonton infotainment. Di masa sebelumnya lagi, gue adalah salah satu mahasiswa yang berani teken kontrak akan menjaga nilai demi menambah SKS di masa liburan lebih banyak dari jumlah maksimum. Di samping menjadi asisten dosen dalam beberapa riset, mengerjakan kampanye atas prakarsa kementrian kesehatan, dan bekerja sambilan di konferensi tingkat dunia Singapura. Sesaat kemudian, gue mulai kerja profesional lebih awal dari usia sewajarnya, lalu menampung beberapa pekerjaan fotografi ataupun menjadi modelnya jika diperlukan, dan menerima kerja apa saja deh. Gue bahkan pernah ikut kontes kecantikan kampus berhadiah beberapa ribu dolar. Sayang ternyata dalam bentuk kursus dan kontrak modeling. Wajar saja, ibu selalu meyakini gue sedang menghidupi 15 orang anak. Ambisius, dianggap sebagai arti denotasi kiasan 15 anak sang ibu. Gue adalah sejenis manusia super yang bisa membelah diri bak amuba untuk mengerjakan beberapa pekerjaan berskala pekerjaan tetap di waktu bersamaan. Sebuah pujian yang menyenangkan, tapi sayangnya kurang tepat. Maruk, sebenarnya adalah kata yang lebih tepat untuk mendefinisikan motivasi bekerja gue. Sebagai orang yang tahu diri, gue tahu betul sebenarnya tidak ada yang spesial dalam diri gue. Pintar segaris rata-rata, berbakat sebaris rata-rata, beruntung sebaris rata-rata juga. Tanpa kemarukan, gue akan punya masa muda yang ceria : lulus tepat waktu, mulai kerja tepat waktu, punya buku suatu saat. Tapi gue terlahir sebagai seseorang yang tamak. Gue paling tidak tahan melihat kesempatan bertaburan di sekitar gue. Nyaris tidak pernah gue menolak sebuah tawaran yang melintas. Jika bisa dikerjain, pasti bakal disabet ! Dan itulah yang membawa gue berakhir seolah lebih produktif dari kebanyakan orang: gue pantang menolak kesempatan. Banyak yang mengidentifikasikan produktivitas dengan kemampuan mengatur waktu dengan baik. Tapi jauh sebelum punya banyak kegiatan sehingga waktu harus dbagi-bagi, produktivitas adalah tentang memanfaatkan berbagai kesempatan secara efektif. Dalam sebuah wawancara gue pernah ditanya bagaimana caranya menjadi editor di usia muda. Jawaban gue hanya singkat, gue melamar, yang seusia lainnya tidak. Gue mungkin beruntung berada di tengah orang-orang yang memberi banyak kesempatan. Tapi kalau dilihat lagi, sebenarnya kesempatan itu adalah kesempatan yang sama yang dilihat orang-orang lain. Sayangnya, justru terkadang kita sendiri yang membatasi diri terhadap kesempatan. Saat melihat kesempatan yang baik, sering merasa, bukan untuk saya, hanya untuk yang lebih hebat, mana bisa, mana sempat. Akhirnya, kesempatan yang terbuka untuk siapa saja itu menjadi bukan kesempatan kita. Padahal, jika dijalani, mungkin akan menghasilkan sesuatu yang baik. Atau jikapun ternyata memang bukan bagiannya, bisa saja melahirkan kesempatan-kesempatan lainnya. Tentu saja, bukan berarti jika semua kesempatan diraup, produktivitas pasti lebih tinggi. Menentukan apa yang ingin diraih dalam beberapa waktu ke depan, sehingga bisa menyusun jadwal hidup akan membantu melihat kecocokan kesempatan. Jika kesempatan tambahan yang muncul bisa diselipkan tanpa mengganggu jadwal yang lain atau jika kesempatan ini memang sesuatu yang kita inginkan. Seandainya seluruh manusia di Indonesia ini bisa melihat kesempatan sebagai miliknya lalu menjawabnya, bisa dibayangkan, betapa banyak hasil karya gemilang yang bisa dicapai dalam usia yang jauh lebih muda. Alangkah produktifnya jadinya bangsa ini. Untuk mengetes, gue mengambil contoh sebuah kompetisi ide kreatif yang diselenggarakan di www.aksisemangat.com. Kompetisi ini adalah untuk merancang sebuah kampanye ‘Semangat Indonesia Produktif’. Entah untuk memotivasi orang-orang di sekitar kita, entah mengajak untuk kegiatan yang inspiratif, entah di online maupun di offline. Hadiahnya menggiurkan, totalnya 100 juta rupiah. Kompetisi ini terbuka bagi siapa saja. Dan kegiatan inspiratif tersebar banyak di antara setiap orang. Kesempatan ini adalah untuk semua orang yang membaca blog ini. Sekarang ujiannya, berapa banyak yang setelah membaca pengumuman ini akan memanfaatkan kesempatan yang ada, mencari info syarat dan ketentuan kompetisi lebih lanjut di http://www.aksisemangat.com/ atau follow @aksisemangat, dan FB fan page Aksi Semangat sebelum 19 Juni 2011? Jangan bilang tidak kali ini. Jangan bilang hadiah total 100 juta itu bukan untuk loe. Karena ini adalah contoh kesempatan yang datang tanpa syarat dan hanya perlu diikuti. Tidak ada ruginya kalau ikut. Dijamin tidak bakal menjadi seperti punya 15 anak. J  | Listen | May 27, '11 9:28 AM for everyone |
“Mau pergi ke mana?” “Ke pasar, beli pupuk.” “Beli krupuk terus, yang kemarin aja masih belum digoreng, masa udah mau beli krupuk lagi?” “PUPUK bukan KRUPUK!” Dulu gue dan seorang teman, Mbak Bu pernah berdebat, mana yang lebih penting: mata atau telinga. Gue, seorang yang suka menulis, memotret dan jalan-jalan, jelas ngotot membela mata. Bagi gue mata adalah jendela dunia, kenikmatan terindah yang diberikan Tuhan adalah saat kita bisa menikmati dunia lewat kedua mata. Tapi Mbak Bu, penggemar Erykah Badu dan pemilik suara emas jelas keberatan. Ia lebih memilih kehilangan pengelihatanan daripada pendengaran. Tanpa mata, orang masih bisa melihat, dengan mata hati. Tapi tanpa telinga, mana mungkin orang bisa mendengar? Gue tidak mau kalah. Balik membalas, gue menyatakan betapa mata lebih besar kegunaannya daripada telinga saat dimiliki seseorang. Saat orang punya mata, orang pasti melihat (see). Tapi banyak orang yang punya telinga, tapi tidak mendengar (listen). Seorang PR handal, Mbak Bu memutarbalikkan fakta. Banyak juga orang yang melihat namun tidak ‘melihat’, sehingga hidupnya hampa. Mending matanya dicongkel. Seorang calon jurnalis, gue kembali berkelit. Orang yang tidak ‘melihat’ meski punya mata bisa jadi orang yang jahat dan hati nuraninya tidak peka. Namun orang yang tidak ‘mendengar’, meski punya telinga, biasanya pintar. Tidak melihat, berarti jahat. Tidak mendengar berarti pintar. Hayo pilih tidak mampu yang mana? Gue punya dasar kuat untuk hipotesa ngawur ini. Sebuah survey perusahaan sumber daya manusia pernah mengindikasikan adanya hubungan antara kepintaran dalam organisasi dengan kemampuan mendengar. Dalam sebuah percobaan, ditunjukkan bahwa satu tim perusahaan yang isinya orang pintar semua, akan punya performa jauh lebih rendah dibandingkan tim yang isinya satu orang pintar dan empat orang bodoh. Bukti konkretnya bisa dilihat pada klub sepak bola. Punya atlet bintang semua tidak menjamin Real Madrid jadi juara La Liga. Justru Barca, yang bintang paling ngetopnya adalah Messi yang bisa menguasai kejuaraan. Penyebab utama anomali ini, ternyata ada pada kemampuan mendengar itu tadi. Namanya juga orang pintar, tentu merasa dirinya benar. Dan mungkin sekali, memang benar. Pada tim dengan hanya satu orang pintar, ini tidak jadi masalah. Yang pintar mencetus ide terbaik, dan ngotot pada ide tersebut. Sisanya yang bodoh cuma manggut-manggut lalu ngikut tanpa banyak perlawanan. Ide ini mungkin bukan yang terbaik, namun karena dilaksanakan, bisa menghasilkan sesuatu yang baik. Berbeda dengan tim dengan lima orang pintar. Masing-masing punya ide bagus. Masing-masing merasa idenya yang terbaik. Masing-masing tidak mau mendengar. Akhirnya, bubar jalan. Ironisnya, sangking tidak mau mendengarnya, survey itu juga menunjukkan bahwa tiada jalan keselamatan bagi organisasi semacam ini. Namanya juga orang berteguh hati, sampai sungguh kepentok, perusahaan bangkrut, atau terjadi PHK massal, barulah orang-orang pintar itu, bukan akhirnya mau mendengar, tapi terpaksa regroup dengan tim lain yang lebih mau mendengar. Seandainya ada kompromi, mungkin ada satu-dua program yang baik dan bisa berjalan sukses. Namun karena sibuk saling kritik dan saling veto, akhirnya, tidak ada program yang berjalan. Tidak ada program jalan, akhirnya tidak ada hasil sama sekali. Bukti lain bahwa orang pintar biasanya tidak suka mendengar, adalah pada para pimpinan divisi dan kepala staf. Mereka adalah orang-orang yang dianggap lebih pintar daripada anak buahnya. Dan mereka, jugalah orang-orang yang biasanya dikeluhkan paling berteguh hati dan tidak suka mendengarkan orang lain. Bahkan jika kengototan itu sering berakhir fatal. Seperti yang pernah didata oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya, Outliers, kecelakaan pesawat yang terjadi sekitar tahun 1997-1998 di Korea banyak yang disebabkan oleh satu hal: awak pesawat yang merasa percuma untuk bicara dan pimpinan penerbangan yang mengabaikan peringatan awak pesawat. Bahkan saat awak pesawat mengetahui mereka sedang terbang ke arah kematian, mereka tidak berdaya memperingatkan. Mungkin juga berpikir, seandainya mereka ngotot dan kapal batal hancur, toh besoknya juga akan dipecat karena menyelewengkan perintah atasan… Mendengar alibi gue itu, Mbak Bu langsung punya kasus banding, sebuah kisah yang selalu gue bangga-banggakan saat masih menjadi pegawai tingkat awal di sebuah perusahaan besar. Tugas gue, selain menyusun proposal, mengadakan riset, menyiapkan presentasi klien, nge-print, mengedit foto partner, dan tugas-tugas lainnya, adalah juga mengadakan pertemuan bulanan antar para kepala bisnis perusahaan-perusahaan klien. Meskipun gue adalah pengirim undangan, penyedia makanan, dan penyedia materi, sudah pasti, posisi gue dalam pertemuan itu adalah yang terendah dalam mata rantai perkariran. Seperti jenis mikroba dan bakteri pembusuk di rantai terakhir makanan yang tak pernah melihat sinar matahari, gue menundukkan kepala sepanjang acara. Tugas gue adalah mencatat tanpa bicara, sementara para kepala bisnis ini saling berdiskusi. Sebuah tugas yang sangat berat. Pasalnya, sebagai kepala bisnis, mereka semua adalah orang-orang yang sangat pintar. Dan sesuai hukum, orang yang pintar itu suka ngomong tak suka mendengar. Yang disebut dialog lebih sebagai komunikasi satu arah, dengan satu orang terus berbicara pendapatnya tanpa menyambung pendapat yang lain. Dan yang lain akan memberi pendapatnya tanpa peduli pendapat yang lain. Di akhir acara, tak tampak wajah ceria seolah mendapatkan ilmu. Seorang bos mengeluh pada gue, ‘nggak nangkep deh isi dialog ini apa, pada ngomong sendiri-sendiri!’. Ia lalu melihat catatan yang gue buat tanpa bicara tadi karena terpaksa, dan tiba-tiba tercetus terkejut. ‘Saya ngerti! Ini catatan yang bagus sekali, kamu pintar!’ Gue mungkin adalah orang terbodoh dalam ruangan itu. Orang dengan pengalaman dan ilmu paling sedikit. Gue tidak punya pemikiran fantastis untuk dituangkan. Yang gue lakukan hanyalah mencatat semua ocehan yang keluar. Sungguh kegiatan yang cenderung mindless. Bagaimana mungkin gue jadi pintar dan yang lain, yang memberikan ilmu itu tidak? Mungkin bedanya adalah dalam status pendengaran itu. Sepanjang acara, banyak pemikiran yang cerdas tertuang, namun karena tidak ada yang mendengar satu sama lain, tidak ada yang jadi tambah pintar. Sedangkan gue, karena status sosial, terpaksa mendengar. Namun ternyata, cetusan-cetusan yang ada itu, bahkan jika didengarkan secara runut saja, sudah menjadi sebuah ilmu baru. Seandainya, seandainya saja para kepala bisnis itu mau mendengar, mungkin mereka akan mendapatkan catatan yang sama dengan yang gue miliki, dan dengan sedikit kompromi ide, kecerdasan mereka takkan tertandingi. Setelah makan, para kepala bisnis itu pulang. Mereka jelas pulang dengan pintar meski tidak mendengar sepanjang diskusi dan gue jelas tetap bodoh meski mencatat semuanya. Tapi mereka tidak pulang lebih pintar, sedangkan si jongos yang hanya bisa mendengar itu, pulang sedikit lebih pintar. Kisah yang selalu gue sombong-sombongkan itu kini jadi senjata makan tuan. Bagi Mbak Bu, justru itu pentingnya pendengaran. Jika setidaknya ada, maka bisa dipakai. Dan jika dipakai, bisa membuat seseorang lebih pintar. Apa artinya hidup jika tidak berkembang? Perdebatan antara dua manusia yang ternyata juga tidak saling dengar itu terjadi beberapa tahun lalu. Setelah itu, gue menjadi saksi betapa membuat frustrasinya orang yang tidak suka mendengar, membuat gue sungguh berharap semua orang dilahirkan dengan telinga yang dimanfaatkan secara sungguh-sungguh. Dan percakapan di awal sungguh membuat gue yakin dengan kesimpulan tersebut. Mungkin telinga lebih penting daripada mata.Tanpa mata, seseorang akan tetap bisa membedakan pupuk dan krupuk. Tapi tanpa telinga, seseorang berisiko makan pupuk jika uang satu-satunya dihabiskan di pasar untuk krupuk namun penjualnya mendengar pupuk. Ah, alangkah sayangnya jika orang pintar yang punya telinga dan sebenarnya bisa mendengar namun tetap berakhir makan pupuk…. She used to joke, that one day we should break the chain. It was probably my closest and longest friendship. We lived nearby. We went to the same elementary school, the same junior high school, the same senior high school. All three different schools. We were teammate for badminton games. We joined the same theatre group. We chose the same foreign language class and we sat together in class. She accompanied me in my dates, in my first public bus experience. We almost went to the same university. I’ve always wanted to study in Bandung. She said no, this has to stop. Otherwise, we would live in the same neighbourhood, our kids would be growing up together, they’d go to the same school, have the same hobbies, and maybe get married. And they’d have kids, and the circle would go round. Her crush bears similar resemblance with my crush, similar background, and I used to joke that not only in the same neighbourhood, we’d live in the same house, same husband. Isn’t it lovely? I got an opportunity to study in Singapore, while she went to Bandung. But, guess what, I went back to work in Jakarta, and my office, is within walking distance from hers. Despite being a friend for so long, I could never remember her birthday, while she never missed any of my birthday, for 25 years. So she saved in a calendar of every single phone I’ve ever had, her own birthday. She would put huge notes in my agendas. Thanks to Facebook, I never missed her birthday for the past four years. But she didn’t reply my last greeting. We lost contact when she spent the best moment with her mother. We only met again during the funeral. And the next meeting for our friend’s wedding. I had a driver ready and was ready to go. But when she suddenly offered me a ride, I thought , man, I missed this girl, who knows when I would see her again? I told my driver to drive my mum instead to the nearby mall and waiting for her to pick me up. We had a good time, a nice chat, just like old times. That was two months ago. It was the last time I saw her. We will never be neighbour. My kids will never see the kids that never be born. People make theories about death. They said good people are called because God wants to save them from this world’s wrath. Because they would then be able to reconcile with the people they loved. Because this is a fate we have to accept. But at the end of the day, nothing makes sense. Except that it brings out the reality about how fragile we are. That sometimes you just can’t control how your body behave. And one thing leads to another. And that there are some things that we cannot stop. We are mortals. There would come this one time, when the only thing that you could do is to surrend everything and believe in God. Nothing else matters. And that the people left should be grateful with their life and taken care of their health and life well. Such an expensive experience. Even that lesson of reality, I could not get it. It still feels unreal for me that my 25-year-old friend is now gone. Maybe because I have never gotten the chance to say goodbye. I am currently battling the same illness that took her away. I only saw her in my dream. Healthy and alive. We were travelling in the only place we’ve never been in close geographical proximity. She asked me which train to go, I showed her. We went to take the train together. But when I reached home, she was not there. When I woke up, she is not here. The chain has been broken. Terjadi kelangkaan Bacang jelang Ceng Beng tahun ini. Para tukang bacang biasanya suka memanfaatkan berbagai perayaan ke-cina-cina-an untuk berdagang makanan yang terdengar Cina, namun ketika dihubungi, mereka menolak membuat bacang kecuali harga dinaikkan dua kali lipat atau isinya diganti ayam. Hal ini disebabkan langkanya daging babi di pasar-pasar tradisional, setelah FPI seringkali melakukan razia babi. FPI telah mengancam, menyegel toko babi hingga menyita paksa barang dagangan (babi), sehingga menimbulkan rasa takut di kalangan pedagang babi. Akibatnya, para pedagang bacang harus membeli daging babi di supermarket yang harganya lebih mahal. Sedang bersungut-sungut hari itu karena tidak bisa Ceng-Beng-an dengan bacang, gue bertemu dengan si Uda yang baru pulang dari Mangga Dua. Wajahnya terlihat letih setengah kusut. Usut punya usut, ternyata si Uda baru saja mendapat bina rohani agama orang lain selama DUA JAM dari si koko yang punya toko komputer. Si koko ini rupanya baru pindah agama, dan seperti kebanyakan orang yang baru memeluk agama baru, sedang senang-senangnya menjadi garam dan terang dunia. Terlebih dia baru ikut kursus kitab suci, sehingga tambah semangat berbagi ilmu. “Si koko itu bisa masuk penjara! Menyebarkan agama pada orang yang telah memeluk itu dilarang undang-undang !” demikian si Uda berpendapat. “FPI juga harusnya masuk penjara! Menghalangi orang lain mengamalkan ajaran kepercayaannya dilarang undang-undang!” gue ikut menambahkan. Dua korban dakwah salah sasaran ini menghela nafas panjang. Bukannya gue menyalahkan usaha penyebaran agama. Sudah pasti, setiap orang fanatik terhadap agamanya masing-masing. Jika tidak menganggap agamanya sebagai yang paling oke, ngapain juga menganut? Maka jamak aja, kalau si koko atau FPI merasa begitu bangga dan yakin tiada jalan keselamatan selain dalam agama masing-masing. Terlebih setiap agamapun mengajarkan penganutnya untuk menyebarkan kebajikan yang diterima kepada siapa saja. Harus pantang malu dan harus ekstrim dalam menyatakan iman. Terkadang guepun bertanya-tanya jika sikap gue yang adem ayem ini telah melanggar berapa ayat-ayat yang mewajibkan gue menyebarkan hal yang gue yakini benar terhadap orang-orang di sekitar gue. Tapi yang gue tidak habis pikir mengapa di jaman social media marketing ini, masih ada aja yang percaya prinsip marketing tradisional jaman kolonial: pemaksaan. Memang gue sering mendengar betapa karya evangelisasi dan dakwah telah mengubah hidup seseorang. Yang pindah menjadi sungguh-sungguh bertakwa dan menjadi orang yang lebih baik. Seandainya tidak ada usaha pemindahan, bagaimana mereka bisa menemukan jalur yang paling pas? Tapi ada berapa yang kasusnya semacam ini? Berapa persen tingkat keberhasilan dibandingkan tingkat kegangguan? Membuat orang beragama lain menjadi tidak nyaman dan malah sebel? Alkisah ada seorang engkong kenalan yang kaya raya. DI usia tuanya, ia terserang strokes, sehingga menyadarkannya akan pentingnya melibatkan Tuhan dalam hidup. Maka ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu agama. Agar ia bisa memilih agama yang paling pas, ia mengundang pemuka empat agama ke rumah sakitnya. Secara bergiliran, para pemuka yang tersohor ini memberikan presentasinya. Masing-masing berbicara dengan berkobar-kobar dan penuh ilmu, hingga di setiap saat, gue yang nonton pun tergerak untuk pindah-pindah. Namun dasar si engkong ateis, setiap kali ia menyerang para pemuka dengan pertanyaan-pertanyaan dan tudingan yang kritis. Tiga agama lewat, tidak ada satupun yang berhasil menggerakkan hatinya. Ketika giliran yang terakhir, si pemuka agama sebenarnya sudah patah semangat. Baginya, ini tindakan buang-buang waktu. Si engkong jelas tidak tertarik dengan agama manapun, ia paling cuma pingin menyerang-nyerang filosofi keagamaan. Lagipula, toh yang ia jabarkan tidak akan jauh berbeda dari tiga agama sebelumnya. Kalau si engkong menyerang dan tidak percaya akan fakta yang ada di tiga agama tadi, apa yang bakal mengubahnya kali ini? Si pemuka agama memberi presentasi dengan ogah-ogahan dengan cara yang paling membosankan. Gue saja yang memeluk agama itu sudah hampir ketiduran mendengar dakwah yang tidak menarik. Kami sudah yakin 100% si engkong bakal tetap ateis hingga akhir hayatnya. Tapi keesokan harinya, si engkong memutuskan untuk memeluk agama yang terakhir. Bukan Cuma memeluk, ia mendonasikan banyak harta kekayaannya bagi pengembangan komunitas, tidak pernah absen beribadah hingga hari ini. Menjadi saksi mata kepindahaan ini menyadarkan gue satu hal: agama itu panggilan. Kalau nggak dipanggil ya nggak bakal beragama. Suatu hal yang biasa saja, dan tidak bermujijat bisa membuat seseorang tersungkur, bersembah sujud dan menjadi percaya. Sebaliknya, tidak peduli seberapa berkobar-kobarnya, seberapa menariknya, tidak ada ngaruhnya jika memang bukan itu jalannya. Memangnya dengan dilarangnya daging babi dijual, FPI bisa menyetop penganut kepercayaan dari merayakan tahun baru bagi leluhurnya yang telah meninggal? Memangnya kursus di toko komputer dua jam bisa menggerakkan hati si Uda sedikitpun untuk pindah agama? Buang-buang waktu dan kurang efektif. Lagipula, kalau benar akhirnya dengan paksaan bisa pindah agama, apa benar kepindahaan itu menjadi hal yang baik? Setelah insiden toko komputer, si Uda bertanya pada gue mengapa gue tidak pernah mencoba memindahkan dia. Gue mengerenyit heran mendengar pertanyaannya. « Emang loe pikir loe tuh siapa sih ? Situ Oke sampe harus dibujukin pindah agama ? Emang loe baik-baik banget ? Emang loe tajir-tajir banget bisa nyumbang agama gue ? Apa untungnya buat agama gue kalau loe pindah ? Nambah-nambah jumlah statistik pendosa doang palingan, bikin susah kerja pastor. » Si Uda bersungut-sungut keki mendengarnya. Tapi intinya, agama adalah sesuatu yang sangat personal. Jika seseorang pindah agama, orang yang paling terpengaruh adalah yang pindah tersebut. Satu orang pindah tidak akan mengubah susunan organisasi agama. Namun orang tersebut bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Yang paling diuntungkan jelas si orang yang menjadi lebih baik itu.Buat apa memaksa-maksa orang lain pindah jika tidak membuat orang tersebut menjadi orang yang lebih baik? Sekadar menambah jumlah anggota? Agar gaya, prestige dan terdengar besar? Bukannya Tuhan itu sudah besar darisononye? Mungkin daripada semangat yang berkobar itu dibagikan selalu pada orang yang berbeda agama, lebih baik disalurkan untuk orang yang seagama. Toh banyak orang-orang yang kurang mengenal agamanya masing-masing, sehingga bisa menjadi orang yang lebih baik jika dibimbing dan diajar. Seandainya gue yang datang ke tokonya si koko, mungkin gue bakal seneng karena bisa ikut pendalaman kitab suci tanpa perlu ke Gereja. Demikian juga seandainya FPI merazia pedagang babi di pasar kambing, tentunya para pedagang akan merasa senang karena berkurangnya saingan dari pedagang babi yang merusak pasaran. Bacang kambing, anyone?
|