Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Have a Sip of Margarita...

Blog EntryMay 6, '09 11:20 AM
for everyone

Ada cicak yang akan mati di rumah gue. Para cicak suka menjadikan kamar gue tempat peristirahatan terakhir. Dan tiga hari yang lalu, seekor cicak tua yang tak lagi lincah terseok-seok merayap masuk, lalu sembunyi di sudut dingin dalam kamar. Kadang di waktu malam, gue membiarkan cicak besar itu tidur dalam sendal bulu gue (ya...gue punya sendal bulu..)

 

Sesaat sebelum wafat, cicak menongolkan dirinya, seolah memberi ucapan perpisahan. Lalu gue memanggil bokap untuk mengambil badan cicak yang sudah memucat dan membengkak untuk dipindahkan ke tong sampah. Di sana cicak kan menutup mata untuk selama-lamanya.

 

Gue kadang bertanya, apakah perhatian gue pada seekor cicak yang akan mati membuat gue menjadi orang yang lebih baik. Bagaimana dengan orang yang rumahnya punya begitu banyak cicak sampai tak peduli lagi, lebih baik, atau jahatkah gue dibanding mereka? Lalu bagaimana dengan orang yang rumahnya tak pernah ada cicak? Haruskah mereka pindah ke rumah yang ada cicaknya supaya bisa jadi orang baik?

 

Lagi mellow aja.

 

Seumur hidup gue belum pernah merasakan jadi orang jahat. Gue anak pendiam dan tidak suka melawan orang tua. Ketika masuk sekolah, gue sering jadi juara kelas dan disayang ibu guru. Gue juga bukan teman yang suka membocorkan rahasia, atau klepto, atau sombong sampai membual.

 

Maka ketika ada rekan blogger yang begitu yakin akan kebusukan hati gue, gue merasa terganggu. Gue jauh lebih terganggu daripada yang gue perlihatkan. Gue lebih terganggu lagi ketika mengetahui isi essay pendek tentang gue yang ditulisnya, yang menyebutkan secara umum sifat gue yang dangkal dan jahat itu berasal dari latar belakang hidup gue sebagai perempuan keturunan Tionghoa dari keluarga kelas menengah di Jakarta.

 

Sama terganggunya ketika ada yang meminta gue berhenti menulis hal-hal yang ‘tidak penting’ dalam blog, semacam hubungan dan kehidupan metropolis. Sebaiknya gue mulai menulis hal-hal yang berbobot, seperti masalah kemiskinan dan ketahanan pangan. Gue tidak bisa menulis hal semacam itu. Apa sih yang gue tahu tentang pertanian?! Gue Cuma bisa sok tahu tentang apa yang gue lihat dalam hidup gue sendiri, dan ternyata...hidup gue itu tidak penting?

 

Apakah dilahirkan sebagai seorang Cina, middle-class, berpendidikan, di kota besar Jakarta menjadikan gue sebagai seseorang yang jahat, dangkal picik, sombong, palsu dan munafik? Sama seperti Hitler yang dilahirkan menjadi orang yang kejam dan pembantai?

 

Kalau begitu alangkah terkutuknya hidup gue! Tidak ada yang bisa gue lakukan untuk menghindari neraka karena gue terlahir jahat.  Kecuali kalau gue menyangkal seluruh hidup dan identitas gue lalu lari ke desa untuk kerja social. Padahal gue tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana, ras apa, dengan fisik seperti apa.

 

Dalam keadaan membenci diri sendiri, gue membaca buku Candace Bushnell, supaya merasa bersyukur bahwa ada yang lebih kaya dari gue, thus, lebih jahat dan lebih dangkal dari gue. Candace mungkin telah meraup sukses lewat cerita-cerita pendek Sex and the City dan menjadikan banyak wanita seperti gue pengikutnya. Tapi saat  menulis novel disinggung, she sucks.

 

Gue bukan pengamat kesusasteraan dan bukan penulis, hanya seorang pembaca yang tak bisa mengikuti gaya berbahasa novel-novel Candace. Kebanyakan menyinggung kehidupan tak jauh dari sex dan bintang film secara shallow, lewat detail-detail panjang dengan bahasa Inggris versi kamus, seolah sang penulis ingin menjadikan chicklit sebuah karya sastra.  Semua novelnya hanya sanggup gue baca hingga halaman 40, sebelum akhirnya gue menyerah dan menumpuknya dalam lemari buku.

 

Tapi seperti seorang pengikut setia, yang tak pernah pupus kepercayaan, gue kembali membeli dan membeli setiap buku Candace, dan menemukan, novel yang gue baca saat ini, One Fifth Avenue, gue baca sampai habis.

 

One Fifth Avenue sebenarnya masih berputar pada kehidupan maha dangkal dan maha ga penting ala socialite New York. Yang membedakan kali ini, Candace menjadi seorang penulis yang jujur. Ia menceritakan tentang sesuatu yang ia pahami dan dekat dengannya. Ia tidak lagi berpura-pura menjadi seorang ‘baik’ yang membela protagonis anti kapitalisme. Tujuannya hanya menceritakan sebuah New York, yang ia alami sehari-hari.

 

Hidup masyarakat modern di kota besar memang tidak dipenuhi oleh orang-orang berkepribadian ‘indah’. Ada gadis usia 20an yang begitu terobsesi pada status dan penampilan dan tak berdaya jika segala sesuatu yang artifisial itu diambil (=P). Ada juga yang rela mengumbar urusan rumah tangga lewat blog personal, yang berisiko menghancurkan hubungannya dengan orang tercinta PLUS menjadi bahan olok-olok sebagai wanita tak berotak, HANYA untuk menghidupkan karir jurnalismenya. (=P)

 

Tapi pengalaman Candace hidup dan jadi bagian dari masyarakat ini membuat para pembaca yang gak pernah tinggal di New York (let alone di fifth avenue!), bisa menerima bahwa para orang kota, yang sudah lupa dengan ribuan orang yang meninggal di peristiwa 9/11, dan punya apartmen seharga satu kompleks perumahan di Jakarta, pun juga manusia.

 

Lewat detail-detail panjang 10 baris (yang kini terasa perlu), Candace membawa kehidupan seorang penulis kolom gossip, seorang sutradara, seorang bintang film dan socialite sebagai hal yang nyata, tidak di awang awang macamnya Beverly Hill’s 90210.

 

Orang-orang sukses ini pun punya ketakutan, persoalan, perjuangkan perasaan yang tak beda dengan janda miskin dan anak terlantar. Kenyataan bahwa apa yang ditakutkan, yang disoalkan, yang diperjuangkan, dirasakan berbeda, disebabkan karena setting yang memang berbeda.

 

Candace sendiri lewat satu tokohnya mengakui bahwa apa yang ia diskusikan bukanlah persoalan ‘penting’. After all, this is just about a society, begitu kata Enid, sang jurnalis kolom gosip yang heran mengapa ia bisa begitu terhanyut dalam drama di apartemennya.

 

Tapi Enid kemudian menegaskan, bahwa komunitas sosial inilah awal sebuah peradaban, baik di desa, di kota, kaya, miskin, ada cicak, maupun ga ada cicaknya....Gue tidak berhak menuduh seseorang lebih tidak penting, atau tidak baik hanya semata karena lingkungan mereka berbeda.

 

Mungkin gue harus belajar untuk jujur akan hal-hal yang gue cintai dan mengungkapkannya seperti Candace. Gue akan lebih suka mencitrakan diri gue sebagai anak muda idealis yang punya hidup keras, membenci hidup kota besar dan rela meninggalkan segalanya bak murid Yesus untuk melayani sesama. Supaya menjadi orang baik. Sayangnya, itu bukan gue.

 

Gunung gemunung, hawa segar di pagi hari tanpa polusi di sudut pedesaan memang indah di mata gue. Tapi itu bukan sebuah realita bagi gue, hanya sebuah liburan. Kenyataannya, gue lahir dan dibesarkan di Jakarta. Sejak kecil terbiasa menghirup asap knalpot dan menjadikan rentetan klakson mikrolet musik di pagi hari. Gue menemukan nilai artistik dalam lekuk-lekuk mobil yang terlalu banyak, busway, mikrolet, dan seribu motor yang statis dalam macet total.

 

Gue tidak menutup mata akan betapa artifisialnya Pacific Place yang selalu sepi dengan barang-barang ber-tag tak rasional, atau betapa palsunya perempuan bermaskara waterproof di tempat fitness. Tapi itulah realita bagi gue. Segala yang begitu fake itu adalah kehidupan yang secara nyata gue lihat dengan mata kepala sendiri.

 

Di dalam universitas elite bermurid ambisius gue telah menemukan persahabatan sejati. Dalam kompleks perumahan yang rapi gue dihangatkan cinta keluarga yang utuh. Dan di hiruk pikuk Jakarta gue menemukan kebahagiaan yang tulus.

 

Mungkin memang nasib gue untuk dilahirkan anak perempuan manja malas yang mendapatkan segalanya terlalu mudah sehingga tidak pernah diasah lewat permasalahan yang berat. Dan kalau gue menyangkal identitas gue sendiri dan pura-pura tertarik akan hal yang tidak ada dalam hati gue, gue akan menjadi manusia yang sungguh-sungguh palsu. (dan palsu bersifat negatif).

 

Balik lagi ke One Fifth Avenue. Justru saat Candace tidak menjadi hakim untuk aturan Baik atau Buruk, dan Benar atau Salah, kritik sosialnya malah jadi semakin kena.Gue jadi bisa memahami betapa bergantungnya masyarakat dengan materi yang mendefinisikan status, bahkan ada yang sampai membunuh suaminya demi tetap tinggal di One Fifth Avenue, simbol kemapanan socialite New York. Bahwa dalam masyarakat seperti ini, hal yang tak krusial seperti absennya internet di pagi hari, bisa berbuntut penjara, kematian, dan krisis kejiawaan. Begitu rentan orang-orang kota itu!

 

Rupanya meski tinggal dalam masyarakat yang dangkal dan menggelikan, Candace masih bisa memberi sesuatu untuk gue. Lagipula, after all, we’re all somewhat a joke. Let’s hope we’re the funny ones....


41 Comments
kinkinippon wrote on May 6, '09
i love this post
innocentrose wrote on May 6, '09
*peluk*
skrg lagi saatnya mood turun karena kasus bulanan? hehehe...
sudahlah! yg tahu kamu gimana kan keluarga dan temen kamu.
sebrengsek2nya dan sebaik2nya lo kan kami yang tahu.
hidup lo kan ga bisa buat semua orang, gie...
masa sampe orang2 yg ga kenal, mau lo pikirin juga!?!
yah, kamu normal kok untuk lingkungan yang normal...
minus bagian ahli dalam sumpah serapah yak.. hahahha... :p
aifiandrice wrote on May 6, '09
akh...
keren mbak blog nya
salam kenaaalll
dramaticolour wrote on May 6, '09
he told everyone how shallow u were. .well, i think he's the one who's shallow.
relax. .just like what ur friend said. .u dont even know him and he doesnt even know u.
so don't let anyone unknown bugs ur life. he he

*pardon my grammar, still learning! :)
Comment deleted at the request of the author.
citra wrote on May 6, '09
eorang pembaca yang tak bisa mengikuti gaya berbahasa novel-novel Candace. Kebanyakan menyinggung kehidupan tak jauh dari sex dan bintang film secara shallow, lewat detail-detail panjang dengan bahasa Inggris versi kamus, seolah sang penulis ingin menjadikan chicklit sebuah karya sastra.
hahahahaha ..
yeah, i feel exactly the same reading her book
even sex and the city novel wasn't actually that good ..
didut wrote on May 6, '09
hahaha~ ternyata punya pembaca yg berekspetasi tinggi bikin mumet juga ...wong namanya blog, blognya sendiri kok nulisnya disuruh suruh hihi~
astrimaretta wrote on May 6, '09
Ga usah dipikirin ...masih banyak kok yang seneng baca tulisan kamu..termasuk diriku..hehee
Emang melow gara2 bulanan dateng itu biasa aja..so enjoy aja...kaya gue nih sangking melownya bawaannya pengen nangis mulu...hahaha ya biarkan sajalah..semakin tinggi pohon semakin kenceng angin yang menerpa kan...anggep aja angin lewat..hehehe
yafeto wrote on May 6, '09
Of course you are the funny one Mar... I always laugh when come to ur blog... I learn something when I read ur note... Terus semalem pas lagi mau nulis post, aku baca postingan kamu dan ternyata menjadi pelengkap untuk materiku hahahahahaha....

http://japheto.blogspot.com/2009/05/peace-words.html
priese7en wrote on May 6, '09
Mba Margie, banyak yg suka blognya kok...apa salahnya jadi diri sendiri. keep writing ya =)
katumbiri wrote on May 6, '09
yang ganggu cuma satu, kan, gie?
citra wrote on May 6, '09
Orang-orang sukses ini pun punya ketakutan, persoalan, perjuangkan perasaan yang tak beda dengan janda miskin dan anak terlantar. Kenyataan bahwa apa yang ditakutkan, yang disoalkan, yang diperjuangkan, dirasakan berbeda, disebabkan karena setting yang memang berbeda.
yup!
setiap orang punya masalah masing-masing, meski mungkin dari luaran hidup yang satu terlihat lebih nyaman dari yang lain, NGGAK BERARTI masalah hidup yang satu lebih ringan dari yang lain ..
otaksimala wrote on May 7, '09
tidak perlu jadi orang lain mba untuk disukai semua orang. tulisan mba-pun sudah disukai orang, tanpa mba sok menjadi seorang yang idealis, menulis perekonomian atau kemiskinan.
biarkan semua pada jalurnya masing-masing. yang idealis akan punya pembaca sendiri, yang realistis juga akan punya pembacanya sendiri, tanpa perlu satu sama lain menjelek-jelekkan.
karena dunia tulis dan baca terlalu luas untuk dikotak-kotakkan menjadi baik dan buruk,
yafeto wrote on May 7, '09
betul we'love youuuuu :)
idepp wrote on May 7, '09
nice!!
i always love ur post

durii wrote on May 7, '09
Se-cinta-cinta-nya aku ke marg, tetap Disas yang nomor satu. *Karna apa ?* dia yang buat aku kenal kamu..
sofyar wrote on May 7, '09
Yeah, bagiku sih tulisan margie selalu enak dibaca dan biasanya isinya cocok di hati,
pendapat yang negatif yang destruktif lebih baik dibiarkan saja,
jika pendapat negatifnya konstruktif baru lah ditampung.

Btw,
kala mellow pun tulisannya enak dibaca,
luar biasaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!
biolatest wrote on May 7, '09
Keep writing Gie..!!!
Bravo ya!!!!
^_^
wsianlee wrote on May 7, '09
ah, jangan dengerin!! itu sih orang sirik. tetep nulis ya! aku seneng baca tulisan mu
allcandies89 wrote on May 7, '09
Biarin aja kak Margiee.. Dy sih gak ada hak protes2
Udah dikasih numpang baca gratis ini malah ngehina2 yg nulis
Nyuruh2 kak margie nulis ini itu segala pula
Klo punya ide, nulis aja sendiri dong gak usa nyuruh2 orang
Emang dy bayar gitu ke kak margie??
Klo mo baca ttg kemiskinan n ketahanan pangan, beli koran tempo aja!

Iya, aku galak kan??
Soalnya lagi berkasus bulanan juga, hahaha

Aku suka blognya kak margie apa adanya sekarang kok
Menurutku margarita gak fake, karena margarita jujur dan original.
Justru berkarakter. Simply entertaining.
Keep writing!

-allcandies89-
ednatarigan wrote on May 7, '09
aaah gue tau tu rasanya gie...giliran ada yg protes sama tulisan2 kita itu rasanya ga enak, pdhl biasanya kita kan nulis apa yang kita lihat dan rasakan di depan.

keren! lo bisa mencocokkan keadaan lo saat ini dgn buku yg lg lo baca ya...


iswahyudi1 wrote on May 7, '09
aku terjaga di dalam pilu
dia pergi mimpipun berlalu
semesra bisikkan dalam kalbu
sepedih hati disayat sembilu
*nyanyi mode on*
siseal wrote on May 8, '09
bilangin aja ke orang 'itu' kalo nggak suka nggak usah baca... beressss.....
Gw tetep jadi fans setia pembaca blog lo... ;)
but I know how you feel...its just happen to me...
margarittta wrote on May 9, '09
Teman-teman...trimakasih yah buat dukungannya...Bener juga, ga penting apa yang orang lain omongin, yang penting qta-nya hepi, tapi apa yang diomongin disini, oleh teman-teman multiply, sungguh penting buat akuh!hehehe...Thanks a bunch!!
margarittta wrote on May 9, '09
hidup lo kan ga bisa buat semua orang, gie...
masa sampe orang2 yg ga kenal, mau lo pikirin juga!?!
yah, kamu normal kok untuk lingkungan yang normal...
minus bagian ahli dalam sumpah serapah yak.. hahahha... :p
*peluk balik*
makasih ya cer...sedih ya jadi perempuan slalu ada siklusnya..uhuhu...tapi kalaw menurut kamuh yang kenal aku, aku baik kan?hehehe...Bagian sumpah serapah itu bukan minus dong cer...itu nilai plus yah...LOL!!
margarittta wrote on May 9, '09
Iya, aku galak kan??
Soalnya lagi berkasus bulanan juga, hahaha
Huehehehehe.,..iya nih, slaluuu ada jatahnya sebulan skali! LOL!! Thanks bu!!
margarittta wrote on May 9, '09
keren! lo bisa mencocokkan keadaan lo saat ini dgn buku yg lg lo baca ya...
Bahhh! Kbetulan aja! hahahaha...klo gw lg baca Bobo, gw juga ga nulis mungkin...hihihihi...
margarittta wrote on May 9, '09
citra said
yeah, i feel exactly the same reading her book
even sex and the city novel wasn't actually that good ..
SATC novel juga gak pernah gw baca sampe habis...hihihihi...buat koleksi ajah, sebagai fans..LOL!! Tapi coba One Fifth Avenue dhe, kalau buat gue, ini social commentary yang terselubung dalam btk novel, jadi ngena banget! Apaa...gue biased ya?hahahaha...
iwanpiliang wrote on May 9, '09, edited on May 9, '09
Salam kenal Magie,
Saya blogger di blog-presstalk.com. Cuma, mau sharing pengalaman kecil: ketika pernah ikut literary journalism workshop yang dipandu Prof. Janet Steele, dari George Washington Univ., dia bilang, menulis sesuatu yang dekat, suatu yang remah, untuk sebuah tulisan naratif, bisa menghasilkan suatu yang lain, berbeda sekaligus dalam. Senang membacanya. Saya tahu blog Margie dari Yuyun. Salam
dirawirawan wrote on May 10, '09
Aku seh dah lama baca blg kamu ini, Sampai-sampai blog kamu jadi tampilan pertama Opera-ku. Wat aku seh, km tuh kayak Gus Dur. Melakukan pembelaan dari sisi yang berbeda. Membuat satu anti-tesis dari pikiran yang simple dan pragmatis. Membaca tulisan kamu, sama halnya dengan menyelami satu filosofi dari sebuah hal atau kejadian. Itu membuat kita belajar memahami sesuati dari sisi yang berbeda, membuatnya lebih humanis, dan wise...

Saran aku seh, teruskan aja...
margarittta wrote on May 10, '09
dia bilang, menulis sesuatu yang dekat, suatu yang remah, untuk sebuah tulisan naratif, bisa menghasilkan suatu yang lain, berbeda sekaligus dalam.
Halo Pak Iwan! Terima kasih sudah berkunjung dan share tentang pengalamannya. Pastinya membuat saya dan teman-teman blogger yang lain tambah semangat dan tidak takut untuk mencoba menulis. Terimakasih juga atas perhatian untuk kasus David. Semoga kebenaran segera terungkap ya...Salam kenal juga, pak.
europa85 wrote on May 10, '09
aih aiihhhh.. sampe pangling dgr margie ngomongnya formal gini.
=P
margarittta wrote on May 10, '09
LOL!! Kalau lg marah2 jg formal kok..hihihi..
ednatarigan wrote on May 11, '09
Bahhh! Kbetulan aja! hahahaha...klo gw lg baca Bobo, gw juga ga nulis mungkin...hihihihi..
'Bah!!' ?? jadi batak ni skrg? bukan cina lagi? ahahahaha
beli Bobo aaah...
margarittta wrote on May 12, '09
'Bah!!' ?? jadi batak ni skrg? bukan cina lagi? ahahahaha
Klo kata temen gue yang Padang, suku itu bisa diganti, tergantung klien...hihihi..jadi aku ikutan, klo sama Batak, aku juga jadi batak ahhh...
margarittta wrote on May 12, '09
Wat aku seh, km tuh kayak Gus Dur.
Waduhh! berat amat perbandingannya sama Gus Dur!hehehehe...thanks buat supportnya yah...Semoga bisa jadi presiden juga kaya Gus Dur...*ngelunjak*
sofyar wrote on May 12, '09
Hmm.. Gus Dur emang bisa yah nulis blog kaya begini?
lelylunlan wrote on May 14, '09
Aq mlah tau blog ini dr blogny Dian Sastro. Dia muji blogny Margarita sbg blog yg nulis sstu dr sisi yg beda. Itu udh kejadian kira2 setaun yg lalu n g pnah absen baca. Br komen skrg krn br bkin account, ha5...
So, eniwe, i really love u'r post. Mdh2an bs dilirik penerbit macem mbot.multiply ;)
jellyjollyjo wrote on May 18, '09
SIAPA YANG BERANI-BERANI NGATAIN KMU JAHAT DAN BERPIKIRAN DANGKAL G????
SYAPA????????SURUH BERHADAPAN SAMA AKU.....GAMPAR YA!!!!
GW SILET2 NANTI SAMA MULUTKU YG SETAJAM PISAU INI......
he/she just pure jealous that she/he can't have what you have easily!!!!!!
and you know what, m sure...almost 100% sure that deep down inside he/she wanna be JUST LIKE YOU!!!!!!
tsk, susah d orang2 sirik ini.....
margarittta wrote on May 18, '09
SIAPA YANG BERANI-BERANI NGATAIN KMU JAHAT DAN BERPIKIRAN DANGKAL G????
SYAPA????????SURUH BERHADAPAN SAMA AKU.....GAMPAR YA!!!!
GW SILET2 NANTI SAMA MULUTKU YG SETAJAM PISAU INI......
LOL!!! Aku sampe menitikkan air mata Jo, terharu...ternyata...kaw adalah sahabat sejati..hihihihi...Aku kan melakukan hal yang sama untukmu...Kita saling meneguhkan dan membela diri ya?
margarittta wrote on May 18, '09
sofyar said
Hmm.. Gus Dur emang bisa yah nulis blog kaya begini?
Ehehehe..Gus Dur mediumnya beda...
Add a Comment